IMPLEMENTASI ILMU PENERJEMAHAAN DAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF DALAM PELAKSANAAN MAGANG DI MUSEUM BAHARI JAKARTA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Disusun oleh

Shepia Veronika

2221150040

 

PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS

FAKULTAS SASTRA DAN BAHASA

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

2026

 

 

 

HALAMAN PERSETUJUAN

Naskah laporan magang oleh mahasiswa:

Nama  : Shepia Veronika

NIM    : 2221150040

Judul  : Implementasi Keterampilan Bahasa dan komunikasi dalam kegiatan pelayanan publik   di museum bahari

 

Laporan magang telah diperiksa dan dikoreksi dengan baik. Oleh karena itu, pembimbing menyetujui mahasiswa tersebut untuk diuji.

 

Jakarta, 13 Januari 2026

Pembimbing Materi

 

 

 

Gunawan Tambunsaribu, SS., M.Sas

NIP.141167

 

 

 

 

HALAMAN PENGESAHAN

 

IMPLEMENTASI ILMU PENERJEMAHAAN DAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF DALAM PELAKSANAAN MAGANG DI MUSEUM BAHARI JAKARTA

 

Disusun oleh:

Shepia Veronika

2221150040

 

Disetujui dan Disahkan sebagai Laporan Magang oleh:

 

 

Mengetahui,

Pembimbing Materi                                                                                       Pembimbing Teknis

 

 

 

 

Gunawan Tambunsaribu, S.S., M.Sas                               Lisbet Juliana Sirait, S.S., M.Li.

NIP. 141167                                                                                    NIP. 101778

 

 

Mengetahui,

Ketua Program Studi Sastra Inggris

 

 

 

Mike Wijaya Saragih, S.S.,M.Hum.

NIP. 121861

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur penulis panjatkan atas ke-hadirat Tuhan Yesus Kristus serta atas berkat dan kasih karunia-Nya, sehingga penulis dapat melaksanakan magang di Museum Bahari Jakarta dan menyelesaikan Laporan Magang dengan baik. Laporan ini disusun sebagai tugas akhir untuk memenuhi tanggung jawab setelah menyelesaikan kegiatan magang selama tiga bulan. Dalam penyusunan Laporan Akhir Kegiatan Magang ini, tidak terlepas dari bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada:

1.   Susanne A.H. Sitohang, S.S., M.A., selaku Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia.

2.   Jannes Freddy Pardede, S.S., M.Hum., selaku Wakil Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia.

3.   Mike Wijaya Saragih, S.S., M.Hum., selaku dosen Kepala Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia, juga sekaligus dosen yang mengarahkan dari sebelum proses magang berlangsung.

4.   Gunawan Tambunsaribu, SS., M.Sas., Selaku pembimbing yang telah membimbing dan memberikan arahan dengan baik selama penulisan laporan magang ini.

5.   Bapak Iman yang telah menjadi mentor yang sangat membimbing selama melakukan magang kerja di Museum Bahari Jakarta.

6. Teman – teman angkatan 22, SZA, Muffin  yang telah bersedia membantu dan memberi semangat selama pengerjaan laporan magang ini.

     

Jakarta, 11 Januari 2026

 

Shepia Veronika

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN... iii

HALAMAN PENGESAHAN.. iv

I. PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang. 1

1.2 Maksud dan Tujuan Magang. 4

1.3 Sistematikan penulisan Laporan. 4

II. TINJAUAN PUSTAKA... 5

2.1 Konsep Pelayanan Publik di Lingkungan Museum... 5

2.2 Komunikasi Interpersonal dalam Pelayanan Museum... 5

2.3 Public Speaking dalam Kegiatan Pemanduan Museum... 6

2.4 Ilmu Penerjemahan dalam Konteks Pelayanan Museum... 7

2.5 Komunikasi Digital dan Media Sosial Museum... 8

III. METODE PELAKSANAAN... 10

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang Kerja. 10

3.2 Prosedur Pelaksanaan. 11

3.2.1 Persiapan. 11

3.2.2 Pelaksanaan.. 12

VI. Hasil Dan Pembahasan. 15

4.1.2 Struktur Organisasi dan Tata Kelola. 16

4.3 Pembahasan Hasil Kegiatan Magang. 21

4.3.2 Kegiatan Penerjemahan.. 23

4.3.3 Kegiatan Pemanduan (Guiding). 26

4.3.4 Kegiatan Mengoperasikan Bioskop Museum... 28

V. Kesimpulan dan Saran. 29

5.2 Saran. 30

5.2.1 Saran kepada Museum Bahari Jakarta. 30

5.2.2 Saran Kepada Program Studi Sastra Inggris. 31

5.2.3 Saran Kepada Mahasiswa Peserta Magang. 32

DAFTAR PUSTAKA... 33

 

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 maps letak Museum Bahari Jakarta. 10

Gambar 4.1.2 Struktur Organisasi 15

Gambar 4.3.1 konten harian. 23

Gambar 4.3.2  Kegiatan Penerjemahan. 24

Gambar 4.3.3 Kegiatan Pemanduan. 25

Gambar 4.3.4 Operator Bioskop Museum... 26

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegiatan magang merupakan salah satu bentuk pengalaman belajar yang bertujuan untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh di bangku perkuliahan ke dalam dunia kerja nyata. Melalui kegiatan magang, mahasiswa diharapkan mampu memahami dinamika kerja profesional sekaligus mengembangkan kompetensi yang relevan dengan bidang studinya. Bagi mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, magang tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga sebagai media untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dalam konteks profesional, khususnya pada sektor pelayanan publik.

Museum merupakan lembaga yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pelestarian benda-benda bersejarah, tetapi juga sebagai ruang edukasi publik yang berperan dalam menyampaikan informasi sejarah, budaya, dan nilai-nilai kebangsaan kepada masyarakat Ejournal. Unib (2024). Oleh karena itu, museum dituntut untuk mampu memberikan pelayanan publik yang berkualitas, komunikatif, dan informatif. Pelayanan yang baik akan membantu pengunjung memahami makna koleksi museum serta menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

Museum Bahari sebagai salah satu museum maritim di Indonesia memiliki peran penting dalam memperkenalkan sejarah dan budaya kemaritiman bangsa kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan mancanegara. Keberagaman latar belakang pengunjung, baik dari segi bahasa, budaya, maupun tingkat pengetahuan, menuntut adanya penggunaan bahasa yang tepat serta keterampilan komunikasi yang efektif dalam setiap bentuk pelayanan publik yang diberikan. Selama pelaksanaan program magang di Museum Bahari, penulis terlibat dalam beberapa bidang kerja, yaitu penerjemahan, pemanduan guiding, pembuatan konten digital, serta kegiatan operasional ruangan. Keempat bidang kerja tersebut menuntut penguasaan keterampilan bahasa serta pemahaman mengenai strategi komunikasi yang baik guna menunjang kualitas pelayanan kepada pengunjung.

Dalam kegiatan pemanduan, interaksi langsung antara pemandu dan pengunjung menjadi aspek utama dalam penyampaian informasi. Oleh karena itu, teori komunikasi interpersonal menjadi landasan penting dalam memahami bagaimana hubungan dua arah, kontak psikologis, serta efektivitas penyampaian pesan dapat memengaruhi keberhasilan komunikasi. DeVito (2013) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif ditandai oleh adanya keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan antara pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi. Prinsip-prinsip tersebut sangat relevan dalam konteks pelayanan museum, di mana petugas museum dituntut untuk bersikap ramah, responsif, dan menghargai pengunjung.

Selain komunikasi interpersonal, kegiatan pemanduan juga membutuhkan keterampilan berbicara di depan umum atau public speaking. Lucas (2019) menjelaskan bahwa public speaking mencakup kemampuan menyusun pesan secara sistematis, penggunaan teknik vokal yang baik, serta strategi membangun hubungan dengan audiens. Dalam konteks museum, keterampilan public speaking diperlukan agar informasi sejarah dan budaya dapat disampaikan secara menarik dan mudah dipahami oleh pengunjung.

Dalam bidang penerjemahan, kegiatan magang tidak hanya mengacu pada teori-teori klasik seperti kesepadanan dinamis dan kesetaraan makna, tetapi juga pada pendekatan kontemporer yang menekankan fungsi, konteks, dan keterbacaan teks bagi pembaca sasaran. Menurut Newmark (dalam Tambunsaribu, 2023), penerjemahan adalah proses menyampaikan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Di sisi lain, Catford (dalam Tambunsaribu, 2016) menggambarkan penerjemahan sebagai penggantian teks dari satu bahasa ke teks setara dalam bahasa lain. Dalam praktiknya, penerjemah sering menghadapi masalah dalam menentukan padanan kata yang tepat agar makna tetap tepat dan dapat dipahami oleh pembaca (Tambunsaribu, 2023), serta dilema antara menggunakan penerjemahan harafiah (literal translation) atau penerjemahan bebas (Newmark dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021). Untuk mencegah hal ini terjadi, penerjemah menggunakan berbagai metode penerjemahan. Menurut Molina dan Albir (dalam Tambunsaribu, 2022), teknik penerjemahan dapat digunakan untuk menghasilkan terjemahan yang akurat dan terdengar alami. Salah satu metode ini adalah teknik penerjemahan idiomatis, yang menggunakan bentuk gramatikal dan leksikal yang sesuai dengan kaidah bahasa yang dituju (Larson dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021). Jadi, agar informasi yang disampaikan tetap akurat, komunikatif, dan mudah dipahami oleh pengunjung asing, penerjemahan materi museum memerlukan penerapan teori dan teknik kontemporer.

Pembuatan konten digital untuk media sosial museum juga memerlukan strategi komunikasi yang tepat. Konsep komunikasi pemasaran digital menekankan pentingnya pemanfaatan media online untuk menyampaikan informasi, membangun citra lembaga, serta meningkatkan interaksi dengan publik  (Kotler & Keller, 2016). Dalam konteks museum, media sosial berperan sebagai sarana edukasi sekaligus promosi yang menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa keterampilan bahasa dan komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang kegiatan pelayanan publik di Museum Bahari. Oleh karena itu, laporan magang ini disusun untuk menggambarkan dan menganalisis penerapan keterampilan bahasa dan komunikasi dalam kegiatan pelayanan publik di Museum Bahari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.2 Maksud dan Tujuan Magang

Kegiatan magang kerja di Museum Bahari Jakarta dilaksanakan dengan beberapa tujuan sebagai berikut:

  1. Sebagai salah satu bagian dari perkuliahan yang wajib diikuti dan juga syarat kelulusan dari mata kuliah Intership
  2. Mengaplikasikan ilmu Penerjemahan Translation Theory dan Komunikasi yang efektif Effective Communication yang sudah dipelajari mahasiswa selama perkuliahan dalam dunia kerja secara profesional.
  3. Meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal dan antarbudaya melalui interaksi langsung dengan pengunjung.
  4. Memahami peran media sosial sebagai sarana promosi untuk meningkatkan daya tarik wisata.
  5. Sebagai sarana dalam mengaplikasikan ilmu softskill dan hardskill mahasiswa
  6. Menganalisis efektivitas penggunaan bahasa Inggris dalam meningkatkan kepuasan pengunjung asing.

 

1.3 Sistematikan penulisan Laporan

1.      Bab I  Pendahuluan  : Menjelaskan latar belakang, tujuan, dan sistematika laporan.

2.      Bab II Tinjauan Pustaka: Membahas teori terkait komunikasi publik, pelayanan museum, dan peran bahasa Inggris dalam konteks pelayanan.

3.      Bab III Metode Pelaksanaan: Memaparkan waktu, tempat, dan prosedur kegiatan magang.

4.      Bab IV Hasil dan Pembahasan: Menyajikan profil lokasi, deskripsi kegiatan, serta analisis hasil implementasi keterampilan bahasa dan komunikasi.

5.      Bab V :  Kesimpulan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pelayanan Publik di Lingkungan Museum

Pelayanan publik merupakan segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh institusi atau lembaga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dalam konteks museum, pelayanan publik tidak hanya berorientasi pada pemberian layanan administratif, tetapi juga pada penyampaian informasi edukatif dan pengalaman budaya kepada pengunjung. Museum berfungsi sebagai media komunikasi antara masa lalu dan masyarakat masa kini, sehingga kualitas pelayanan sangat menentukan keberhasilan fungsi edukatif tersebut.

Pelayanan publik di museum menuntut adanya interaksi yang intens antara petugas museum dan pengunjung. Interaksi ini mencakup pemberian informasi, pemanduan, penanganan pertanyaan, serta pendampingan pengunjung selama berada di area museum. Oleh karena itu, keterampilan bahasa dan komunikasi menjadi faktor utama dalam menciptakan pelayanan yang informatif, ramah, dan profesional.

2.2 Komunikasi Interpersonal dalam Pelayanan Museum

Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran pesan yang terjadi secara langsung antara individu dengan individu lain. DeVito (2013) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif ditandai oleh adanya keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan antara pihak-pihak yang berkomunikasi. Dalam pelayanan museum, komunikasi interpersonal menjadi landasan utama dalam membangun hubungan yang baik antara petugas dan pengunjung.

Dalam kegiatan pelayanan publik di museum, komunikasi interpersonal berperan penting dalam menciptakan suasana yang nyaman dan kondusif. Petugas museum dituntut untuk mampu mendengarkan kebutuhan dan pertanyaan pengunjung, memberikan respons yang jelas, serta menyesuaikan gaya komunikasi dengan karakteristik pengunjung. Kemampuan ini sangat dibutuhkan terutama ketika berhadapan dengan pengunjung dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda.

Selain itu, komunikasi interpersonal juga berfungsi sebagai sarana untuk membangun citra positif museum. Interaksi yang ramah, sopan, dan informatif dapat meningkatkan kepuasan pengunjung serta mendorong minat masyarakat untuk kembali berkunjung. Dengan demikian, komunikasi interpersonal tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga persuasif dan relasional.

Dalam kegiatan magang di Museum Bahari, komunikasi interpersonal menjadi keterampilan yang paling sering digunakan karena mahasiswa berinteraksi langsung dengan staf museum maupun pengunjung. Interaksi tersebut terjadi dalam berbagai situasi, seperti saat memberikan informasi dasar kepada pengunjung, membantu proses pemanduan, menangani pertanyaan, serta berkoordinasi dengan staf internal museum. Penerapan prinsip keterbukaan terlihat ketika mahasiswa menyampaikan informasi mengenai koleksi, alur kunjungan, dan peraturan museum secara jelas dan mudah dipahami. Keterbukaan juga tercermin dari kesiapan mahasiswa dalam menerima pertanyaan maupun klarifikasi dari pengunjung, baik pengunjung lokal maupun wisatawan mancanegara. Mahasiswa magang dituntut untuk mampu menyesuaikan gaya bahasa, intonasi, serta pilihan kosakata agar sesuai dengan kebutuhan pengunjung.

Sikap mendukung dan positif diterapkan melalui penggunaan bahasa yang sopan, ramah, dan tidak menghakimi. Dalam praktiknya, mahasiswa menjaga sikap profesional ketika menghadapi pertanyaan berulang atau situasi yang membutuhkan kesabaran ekstra. Sikap positif ini membantu menciptakan suasana interaksi yang nyaman dan kondusif selama pelayanan berlangsung.

2.3 Public Speaking dalam Kegiatan Pemanduan Museum

Public speaking merupakan keterampilan berbicara di depan audiens dengan tujuan menyampaikan pesan secara efektif. Lucas (2019) menjelaskan bahwa public speaking melibatkan kemampuan menyusun pesan secara sistematis, menguasai materi, menggunakan bahasa yang sesuai, serta membangun keterlibatan audiens. Dalam konteks museum, public speaking menjadi kompetensi utama dalam kegiatan pemanduan.

Teknik vokal tersebut meliputi pengaturan intonasi, kejelasan artikulasi, dan volume suara yang sesuai agar pesan terdengar jelas dan tidak monoton. Selain aspek vokal, komunikasi nonverbal juga memiliki peran penting dalam proses penyampaian informasi. DeVito (2013) menjelaskan bahwa bahasa tubuh, kontak mata, serta ekspresi wajah merupakan unsur komunikasi nonverbal yang membantu memperkuat pesan verbal dan menjaga perhatian audiens. Dengan demikian, keberhasilan kegiatan pemanduan museum sangat dipengaruhi oleh keterampilan public speaking dan komunikasi nonverbal yang dimiliki oleh pemandu.

Public speaking dalam pemanduan museum tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan. Oleh karena itu, pemandu perlu menyesuaikan gaya penyampaian dengan jenis audiens, baik pengunjung dewasa, anak-anak, maupun wisatawan asing. Kemampuan public speaking yang baik akan membantu pengunjung memahami informasi secara lebih mendalam dan meningkatkan kualitas pelayanan museum.

2.4 Ilmu Penerjemahan dalam Konteks Pelayanan Museum

Penerjemahan dalam konteks pelayanan museum merupakan kegiatan menyampaikan pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan tujuan mempertahankan makna serta fungsi informasi bagi pengunjung. Menurut Newmark (dalam Tambunsaribu, 2023), penerjemahan adalah kegiatan menyampaikan pesan dari suatu bahasa ke bahasa lain, sedangkan Catford (dalam Tambunsaribu, 2016) mendefinisikan penerjemahan sebagai penggantian bahan tekstual dari bahasa sumber dengan bahan tekstual setara dalam bahasa sasaran. Definisi ini menegaskan bahwa penerjemahan tidak hanya berfokus pada kesepadanan makna, tetapi juga pada keberterimaan pesan dalam konteks pembaca sasaran. Dalam menerjemahkan teks dari bahasa asing ke bahasa Indonesia, kadang kita  menemukan beberapa kesulitan khususnya mencari padanan kata yang tepat di bahasa Indonesia (Tambunsaribu, 2023). Newmark (dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021) menyatakan masalah utama yang sering dialami seorang penerjemah dalam menerjemahkan adalah pemilihan antara penerjemahan dengan teknik harafiah (literal translation) atau teknik penerjemahan bebas (free translation). Seorang penerjemah menggunakan teknik-teknik penerjemahan khusus sesuai dengan jenis permasalahan yang dialami pada proses menerjemahkan teks bahasa sumber ke bahasa sasaran. Molina & Albir (dalam Tambunsaribu, 2022) menyatakan ada beberapa teknik yang digunakan penerjemah dalam menghasilkan karya penerjemahan yang akurat dan terdengar alami. Menurut Larson (dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021), teknik penerjemahan idiomatis adalah teknik penerjemahan yang menggunakan bentuk gramatikal dan leksikal yang natural dari bahasa sasaran.

Penerjemahan materi museum sering menghadapi masalah, terutama dalam menentukan padanan kata yang tepat agar informasi sejarah dan kebudayaan tetap akurat namun mudah dipahami oleh pengunjung asing. Seperti yang dinyatakan oleh Tambunsaribu (2023), masalah utama dalam penerjemahan adalah menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa sasaran. Di sisi lain, Newmark (dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021) menyatakan bahwa penerjemah kerap dihadapkan pada pilihan antara penerjemahan harafiah (literal translation) dan penerjemahan bebas (free translation). Informasi dapat menjadi kaku, tidak alami, atau bahkan sulit dipahami oleh pembaca jika teknik yang salah digunakan.

Untuk mengatasi masalah ini, penerjemah menggunakan berbagai metode penerjemahan. Molina dan Albir (dalam Tambunsaribu, 2022) menyatakan bahwa metode penerjemahan dapat digunakan untuk membuat terjemahan yang tepat dan terdengar alami dalam bahasa sasaran. Penerjemahan idiomatis—yang berarti menggunakan bentuk gramatikal dan leksikal yang natural sesuai dengan kaidah bahasa sasaran—adalah salah satu pendekatan yang relevan dalam konteks museum (Larson dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021). Oleh karena itu, penggunaan teknik penerjemahan yang tepat merupakan landasan penting untuk membuat materi museum dapat diakses, informatif, dan dapat diterima oleh pengunjung dari berbagai latar belakang budaya.

2.5 Komunikasi Digital dan Media Sosial Museum

Perkembangan teknologi informasi telah mendorong museum untuk memanfaatkan media digital sebagai sarana komunikasi dengan masyarakat. Kotler dan Keller (2016) menyatakan bahwa komunikasi digital berperan penting dalam menyampaikan informasi, membangun citra institusi, serta menjangkau audiens yang lebih luas. Media sosial menjadi salah satu platform utama yang digunakan museum untuk berinteraksi dengan publik.

Dalam konteks museum, media sosial berfungsi sebagai sarana promosi, edukasi, dan komunikasi dua arah dengan audiens digital. Konten yang disajikan harus informatif, menarik, dan disesuaikan dengan karakteristik pengguna media sosial yang cenderung menyukai pesan singkat, visual, dan mudah dipahami. Oleh karena itu, pembuatan konten digital menuntut penguasaan keterampilan bahasa yang spesifik, seperti pemilihan kosakata yang sederhana dan persuasif, penyusunan kalimat yang ringkas dan komunikatif, kemampuan menyederhanakan istilah teknis atau sejarah, serta penggunaan gaya bahasa yang sesuai dengan target audiens. Selain itu, kemampuan menulis caption yang informatif, menyusun narasi singkat, dan menyesuaikan nada bahasa (formal atau semi-formal) juga menjadi keterampilan penting agar pesan museum dapat tersampaikan secara efektif dan menarik di media sosial.

Mahasiswa perlu memiliki keterampilan menulis (writing) dalam melakukan pekerjaan pembuatan konten digital.  Khususnya dalam menuliskan kalimat bahasa Inggris, seorang penulis harus memahami struktur bahasa Inggris yang dikenal orang banyak sebagai bahasa yang kaya akan penggunaan waktu (tenses) dalam kalimat-kalimatnya (Tambunsaribu, 2024). Sampai saat ini, bahasa Inggris masih menjadi bahasa komunikasi antar bangsa bagi banyak negara di dunia. Dalam dunia pendidikan, bahasa Inggris tentunya sangat dibutuhkan oleh para siswa dan mahasiswa untuk dapat memahami, mengembangkan, dan menyebarkan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang pendidikan. Banyak buku, artikel, dan informasi yang berhubungan dengan pendidikan dituliskan dalam bahasa Inggris (Tambunsaribu, 2022; Tambunsaribu, 2025).

Format konten seperti Instagram Reels, TikTok, dan YouTube Shorts dalam bahasa Inggris juga menunjukkan dampak positif dalam menarik pengunjung muda. Menurut survei yang dilakukan oleh Tourism Research Center (2023), 72% wisatawan millennial dan Gen-Z mengaku tertarik mengunjungi destinasi wisata setelah melihat konten video pendek yang informatif dan menghibur di media sosial. Museum Bahari dapat memanfaatkan trend ini dengan menghadirkan konten-konten singkat namun berdampak yang menampilkan isi dari museum, fun facts tentang koleksi maritim, atau virtual tour singkat dengan narasi bahasa Inggris yang menarik.

Untuk penyajian konten Museum Bahari dapat menggabungkan elemen sejarah dengan aspek-aspek yang relevan dengan masa kini. Misalnya, menghubungkan teknik pelayaran tradisional dengan perkembangan teknologi maritim modern, atau mengaitkan rute-rute perdagangan di jaman dahulu dengan jalur pelayaran kontemporer. Konten ini dapat menarik banyak pengunjung dari berbagai latar belakang.

Pemanfaatan media sosial juga memungkinkan museum untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, khususnya generasi muda. Melalui komunikasi digital yang strategis, museum dapat meningkatkan minat kunjungan serta memperluas jangkauan informasi mengenai koleksi dan kegiatan yang dimiliki. Dengan demikian, komunikasi digital menjadi bagian penting dari pelayanan publik modern di lingkungan museum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. METODE PELAKSANAAN

 

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang Kerja

 Kegiatan magang kerja ini dilaksanakan selama tiga bulan lamanya, yakni sejak tanggal 04 Agustus 2025 hingga 31 Oktober 2025. Dalam kurun waktu tiga bulan tersebut, penulis memulai untuk berkegiatan pada pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Museum Bahari Jakarta menerapkan kebijakan WFO (Work from Office) dengan adanya kebijakan tersebut, penulis datang ke kantor pada hari Selasa hingga Sabtu setiap minggunya. Museum Bahari Jakarta sendiri bertempat di Jl. Ps. Ikan No.1, RT.11/RW.4, Penjaringan, Kec. Penjaringan, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440, Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 3.1 maps letak Museum Bahari Jakarta

 

 

 

 

 

3.2 Prosedur Pelaksanaan                                                                                                     

3.2.1 Persiapan

Proses persiapan yang telah dilakukan penulis pada saat sebelum melaksanakan magang, yaitu:

1. Penulis melapor kepada  Kaprodi Sastra Inggris untuk menyampaikan rencana pelaksanaan magang di Museum Bahari Jakarta.

2. Pihak program studi memberikan surat pengantar magang yang ditujukan kepada Museum Bahari Jakarta.

3. Penulis menyampaikan surat pengantar magang kepada pihak Museum Bahari Jakarta sebagai permohonan resmi kerja sama magang dan menunggu persetujuan dari pihak instansi

4. Setelah memperoleh persetujuan awal, penulis mengikuti proses wawancara (interview) dengan pihak Museum Bahari Jakarta yaitu Bapak Iman selaku ketua Satuan koleksi, Edukasi dan Informasi  sekaligus mentor bagi peserta magang dengan menyerahkan curriculum vitae (CV) sebagai salah satu persyaratan seleksi.

5. Penulis mengkonfirmasi ulang mengenai kontrak magang yang telah disepakati antara Pak Iman dengan penulis.

6. mendapatkan informasi seputar perusahaan, serta arahan dan pembagian job desc oleh Pak Iman.

 

3.2.2 Pelaksanaan

Hal yang penulis laksanakan selama proses kegiatan magang dengan metode WFO (Work from office) diantraanya :

1.      Penulis melaksanakan kegiatan magang kerja setiap hari Selasa sampai dengan hari Sabtu dengan kurun waktu tiga bulan.

2.      Pak Iman selaku mentor memberikan tugas selama magang di Museum, memberikan katalog Museum ke dalam Whatsapp Komunitas khusus peserta magang. Kegiatan tersebut meliputi penerjemahan materi museum ke dalam bahasa Inggris, kegiatan pemanduan pengunjung, pembuatan konten digital untuk media sosial museum, serta membantu kegiatan operasional ruangan. Seluruh aktivitas dilaksanakan di bawah bimbingan pembimbing lapangan dan staf museum.

3.      Tugas-tugas yang diberikan memberikan pengalaman kepada penulis dalam menciptakan konten promosi berbahasa Inggris. Tugas ini melatih pemikiran kreatif dan manajemen waktu. Dalam proses pembuatan konten yang dilakukan, penulis dapat mengerjakan satu konten setiap harinya.

4.      Selama kegiatan magang berlangsung, mahasiswa melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap proses pelayanan publik, khususnya yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dan komunikasi. Data diperoleh melalui observasi langsung, diskusi dengan staf museum, serta dokumentasi kegiatan magang.

 

3.2.3 Pelaporan                                                                                           

 Pelaporan merupakan elemen krusial dalam proses pelaksanaan magang. Untuk memastikan bahwa semua aktivitas dan kemajuan  penulis terdokumentasi dengan baik, penulis mengambil beberapa langkah pelaporan sebagai berikut:

 Absensi Kehadiran

Selama pelaksanaan magang, mahasiswa diwajibkan melakukan absensi kehadiran setiap hari kerja sebagai bentuk bukti keikutsertaan dan kedisiplinan selama magang berlangsung. Sistem absensi dilakukan melalui dokumentasi foto kehadiran di lingkungan Museum Bahari yang kemudian dilaporkan sesuai dengan ketentuan pembimbing lapangan. Absensi foto dilakukan secara rutin setiap hari dan menjadi salah satu indikator penilaian kehadiran serta komitmen mahasiswa dalam menjalankan kegiatan magang.

 

 

   Tahap Evaluasi Diri

  seluruh kegiatan magang selesai dilaksanakan, mahasiswa melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil pelaksanaan magang. Evaluasi diri mencakup refleksi atas keterampilan bahasa dan komunikasi yang telah diterapkan, kendala yang dihadapi selama magang, serta upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut. Evaluasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi peningkatan kompetensi yang diperoleh, baik dalam aspek akademik hard skills maupun aspek personal soft skills, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama.

 

Tahap Penyusunan Laporan

1.      Pelaksanaanm kegiatan Magang tahap pertama dimulai saat penulis melaksanakan kegiatan magang di Museum Bahari. Selama masa magang, penulis terlibat langsung dalam berbagai aktivitas pelayanan publik, penerjemahan, pengelolaan konten media sosial, serta kegiatan pemanduan (guiding).

2.      Pendataan dan Pencatatan Kegiatan selama magang berlangsung, penulis melakukan pendataan dan pencatatan terhadap seluruh aktivitas kerja melalui catatan harian (logbook), dokumentasi foto, hasil terjemahan, konten media sosial, serta materi pemanduan. Data ini dikumpulkan sebagai bahan utama penyusunan laporan.

3.      Penetapan Dosen Pembimbing Setelah kegiatan magang selesai, penulis memperoleh penunjukan dosen pembimbing laporan magang dari program studi sebagai pihak yang memberikan arahan akademik.

4.      Pengajuan Judul dan Konsultasi Awal Penulis mengajukan judul laporan magang kepada dosen pembimbing, kemudian melakukan konsultasi awal untuk memperoleh persetujuan serta arahan mengenai fokus pembahasan dan sistematika laporan.

5.      Proses Bimbingan dan Revisi Penulis menyusun draft laporan secara bertahap dan mengonsultasikannya kepada dosen pembimbing. Setiap sesi bimbingan digunakan untuk menerima masukan, melakukan perbaikan, serta menyesuaikan isi laporan.

6. Setelah seluruh revisi disetujui, penulis menyusun laporan secara sistematis sesuai dengan pedoman penulisan laporan magang Prodi sastra inggris, mulai dari latar belakang, landasan teori, metode pelaksanaan, hingga hasil dan pembahasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Profil Lokasi Magang   

4.1.1Sejarah Singkat Museum Bahari Jakarta

Museum Bahari Jakarta secara resmi didirikan dan dibuka untuk umum pada tahun 1977. Peresmian museum ini dilakukan pada tanggal 7 Juli 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Letnan Jenderal (Marinir) Ali Sadikin (Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, 2023).

Museum Bahari mengangkat tema kebaharian dan kemaritiman Indonesia serta menempati bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang dahulu berfungsi sebagai gudang milik Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Bangunan tersebut dibangun secara bertahap sejak tahun 1652 hingga abad ke-18 dan digunakan sebagai tempat penyimpanan komoditas perdagangan seperti rempah-rempah dan kopi (Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, 2022).

Setelah masa kolonial berakhir, bangunan bekas gudang VOC ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan kemudian dimanfaatkan sebagai museum dengan fokus sejarah kemaritiman Indonesia (Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, 2023). Sejak diresmikan, Museum Bahari Jakarta dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan sebagai sarana edukasi publik untuk memperkenalkan identitas Indonesia sebagai negara maritim (Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, 2022).

 

 

 

 

 

 

 

4.1.2 Struktur Organisasi dan Tata Kelola

    Berikut adalah struktur organisasai Museum Kebahariaan

 

 

 


Gambar 4.1 Struktur Organisasi

 

 

 

 

 

Gambar 4.1.2 Struktur Organisasi

                                          

Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta merupakan satuan kerja yang berada di bawah naungan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan bertanggung jawab dalam pengelolaan serta penyelenggaraan pelayanan museum kebaharian. Struktur organisasi Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta disusun secara hierarkis untuk menunjang efektivitas pelaksanaan tugas, fungsi, dan pelayanan publik di bidang kebudayaan dan kemaritiman.

Pada tingkat pimpinan, Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta dipimpin oleh Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta, yaitu Mis’ari, M.Hum. Kepala Unit bertanggung jawab atas perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, serta evaluasi seluruh kegiatan pengelolaan museum, termasuk pengambilan kebijakan strategis dan koordinasi antarbidang dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan publik di museum.

Dalam menjalankan fungsi administratif dan manajerial, Kepala Unit dibantu oleh Kepala Subbagian Tata Usaha, yaitu M. Ismail Fahreza, S.T. Subbagian Tata Usaha memiliki peran penting dalam mengelola administrasi umum, kepegawaian, keuangan, serta urusan rumah tangga Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta. Subbagian ini didukung oleh beberapa jabatan fungsional, antara lain Verifikator Keuangan, Bendahara Penerimaan yang dijabat oleh Muchidin, A.Md., Bendahara Pengeluaran yang dijabat oleh Rohmat Hartanto, serta Pengurus Barang yang dijabat oleh Kasmadi. Keberadaan Subbagian Tata Usaha menjadi penopang utama kelancaran operasional museum dari sisi administratif dan keuangan.

Selain unsur pimpinan dan administrasi, Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta juga memiliki beberapa Satuan Pelaksana yang bertanggung jawab pada bidang teknis operasional museum. Satuan Pelaksana Koleksi, Edukasi, dan Informasi dikoordinatori oleh Nurul Iman, S.Hum. Satpel ini berperan dalam pengelolaan koleksi museum, penyusunan materi edukasi, serta penyampaian informasi kepada pengunjung sebagai bagian dari fungsi edukatif museum.  Satuan Pelaksana Prasarana dan Sarana dikoordinatori oleh Dody Siswanto, S.E. Satpel ini bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan pengelolaan sarana serta prasarana museum, termasuk gedung, ruang pamer, dan fasilitas pendukung lainnya, guna memastikan kenyamanan dan keamanan pengunjung serta staf museum.

Selanjutnya, Satuan Pelaksana Pelayanan Museum Bahari dikoordinatori oleh Ade Alamando H., S.S. Satpel ini merupakan garda terdepan dalam pelayanan publik museum, khususnya dalam kegiatan penerimaan pengunjung, pemanduan (guiding), serta pengelolaan aktivitas kunjungan museum. Satpel ini memiliki peran strategis dalam menciptakan pengalaman kunjungan yang informatif, komunikatif, dan profesional bagi pengunjung.

Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta juga menaungi satuan pelaksana pelayanan di lokasi museum dan situs sejarah lainnya, yaitu Satuan Pelaksana Pelayanan Museum Arkeologi Onrust yang dikoordinatori oleh Devi Sihotang, S.Ant. dan Teuku Muhammad Rizki Ramadhan, S.Ant. sebagai Pelaksana Harian (Plh.), serta Satuan Pelaksana Pelayanan Rumah Si Pitung yang dikoordinatori oleh Nurul Iman, S.Hum. Selain koordinator, satuan pelaksana tersebut juga didukung oleh staf pelaksana, antara lain Arfian Achmad Furqoni, A.Md., Basuki Janpan Saragih, A.Md., dan Ahmad Taufik, A.Md., yang membantu pelaksanaan tugas teknis pelayanan di lapangan.

Struktur organisasi Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta yang tersusun secara jelas dan terkoordinasi ini memungkinkan setiap bagian menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal. Dalam kegiatan magang, mahasiswa berinteraksi langsung dengan beberapa unsur dalam struktur organisasi tersebut, sehingga memperoleh pemahaman nyata mengenai alur kerja, pembagian tugas, serta pentingnya koordinasi antarbagian dalam menunjang kualitas pelayanan publik di Museum Bahari Jakarta

4.2 Deskripsi Kegiatan Magang

Setiap hari Selasa hingga Sabtu penulis mengerjakan tugas harian yaitu  membuat konten promosi dan juga konten dari dokumentasi acara-acara yang dilakukan, maupun konten edukatif yang ada di museum Bahari Jakarta. Kegiatan utama penulis adalah membuat konten promosi, baik berupa foto, video, maupun teks berbahasa Inggris yang digunakan untuk media sosial Museum. Dalam prosesnya, penulis terlibat dalam berbagai tahap pembuatan konten, mulai dari perencanaan, pengambilan gambar atau video, hingga penyuntingan konten untuk diunggah ke platform media sosial museum, seperti Instagram.

4.2.1 Kegiatan Menerjemahkan

            Salah satu kegiatan utama yang dilakukan penulis selama pelaksanaan magang di Museum Bahari Jakarta adalah kegiatan penerjemahan translation. Kegiatan ini meliputi penerjemahan buku panduan guide book museum serta teks pameran dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Penerjemahan dilakukan untuk mendukung kebutuhan informasi bagi pengunjung mancanegara serta meningkatkan kualitas pelayanan publik museum yang bersifat inklusif dan informatif.

Dalam proses penerjemahan, penulis bertugas mengalihkan isi teks yang berisi informasi sejarah, koleksi, dan narasi kemaritiman ke dalam bahasa Inggris dengan memperhatikan ketepatan makna, kejelasan informasi, serta keterbacaan bagi pembaca asing. Penerjemahan tidak dilakukan secara harfiah, melainkan disesuaikan dengan konteks budaya dan karakter pengunjung museum agar pesan yang disampaikan tetap mudah dipahami tanpa menghilangkan makna asli dari teks sumber.

Tidak hanya melakukan penerjemahan, penulis juga bertugas melakukan penyuntingan (editing) terhadap beberapa teks bahasa Inggris yang telah tersedia di museum. Penyuntingan ini meliputi perbaikan kesalahan penulisan (typo), tata bahasa (grammar), serta pemilihan kosakata yang kurang tepat. Perbaikan dilakukan pada papan informasi, teks pameran, maupun materi panduan berbahasa Inggris yang digunakan dalam kegiatan pelayanan museum. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas tampilan informasi museum serta menghindari kesalahpahaman bagi pengunjung internasional.

  4.2.2 Kegiatan Pemanduan (Guiding)

Penulis juga beberapa kali terlibat dalam kegiatan pemanduan (guiding) di Museum Bahari Jakarta. Kegiatan pemanduan merupakan salah satu bentuk pelayanan publik yang berperan penting dalam menyampaikan informasi sejarah dan kemaritiman Indonesia kepada pengunjung secara langsung.

Dalam kegiatan guiding, penulis bertugas membantu menjelaskan berbagai koleksi dan ruang pamer yang terdapat di Museum Bahari, seperti sejarah pelayaran Nusantara, jenis-jenis kapal tradisional Indonesia, peran laut dalam perdagangan dan pertahanan, serta perkembangan kebaharian Indonesia dari masa ke masa. Penjelasan disampaikan secara lisan dengan bahasa yang komunikatif, jelas, dan disesuaikan dengan karakteristik pengunjung.

Penulis melakukan pemanduan kepada berbagai jenis pengunjung, baik pengunjung individu, rombongan, maupun wisatawan asing. Oleh karena itu, penulis dituntut untuk mampu menyesuaikan gaya komunikasi, pilihan kosakata, serta tingkat kedalaman informasi yang disampaikan. Dalam beberapa kesempatan, penulis menggunakan bahasa Inggris untuk menjelaskan koleksi museum kepada pengunjung asing, sehingga keterampilan berbahasa Inggris yang diperoleh selama perkuliahan dapat diaplikasikan secara langsung.

Kegiatan pemanduan menuntut kemampuan komunikasi interpersonal dan public speaking yang baik. Penulis berupaya menjaga sikap ramah, sopan, serta menunjukkan antusiasme selama menjelaskan materi museum. Selain itu, penulis juga memperhatikan respons pengunjung, seperti ekspresi dan pertanyaan yang diajukan, sebagai bentuk umpan balik untuk menyesuaikan penyampaian informasi agar lebih mudah dipahami.

4.2.3  Kegiatan Mengoperasikan Bioskop Museum

Selain itu penulis juga melaksanakan kegiatan magang sebagai operator bioskop museum di Museum Bahari Jakarta. Bioskop museum merupakan salah satu fasilitas pendukung edukasi yang berfungsi sebagai media audio-visual untuk menyampaikan informasi sejarah dan kemaritiman kepada pengunjung. Peran operator bioskop museum sangat penting dalam mendukung kelancaran penyampaian informasi serta kenyamanan pengunjung selama mengikuti pemutaran film.

Dalam kegiatan ini, penulis bertanggung jawab dalam mengoperasikan perangkat pemutaran film, seperti sistem proyektor, komputer, serta perangkat audio yang digunakan di ruang bioskop museum. Sebelum pemutaran film dimulai, penulis melakukan pengecekan teknis terhadap peralatan guna memastikan bahwa gambar dan suara dapat ditampilkan dengan baik. Hal ini dilakukan untuk menghindari gangguan teknis yang dapat mengurangi kenyamanan dan pemahaman pengunjung terhadap materi yang disajikan.

 

 

Selain mengoperasikan peralatan, penulis juga mengatur jadwal pemutaran film sesuai dengan alur kunjungan pengunjung dan arahan dari pihak museum. Penulis berkoordinasi dengan petugas pelayanan museum dan pemandu untuk menyesuaikan waktu pemutaran film dengan jumlah serta karakteristik pengunjung, baik pengunjung umum, rombongan sekolah, maupun wisatawan asing. Koordinasi ini penting agar kegiatan pemutaran film dapat berjalan secara tertib dan efektif.

4.3 Pembahasan Hasil Kegiatan Magang

Kegiatan pembuatan konten harian merupakan salah satu bentuk implementasi komunikasi digital yang strategis dalam pelayanan museum modern. Melalui konten promosi dan edukatif yang diunggah ke media sosial. Dalam kegiatan ini, penulis menerapkan keterampilan bahasa Inggris dalam bentuk komunikasi tertulis yang ringkas, jelas. Penulisan teks konten menuntut ketepatan pemilihan kosakata serta kemampuan menyederhanakan informasi sejarah yang kompleks agar mudah dipahami oleh audiens media sosial.

Sub bab ini membahas secara meyeluruh hasil kegiatan magang yang telah penulis laksanakan selama berada di Museum Bahari. Pembahasan difokuskan pada bentuk kegiatan, proses pelaksanaan, serta konstribusi penulis dalam setiap tugas yang diberikan. Uaraian pada bagian ini juga menunjukan ketertarikan anatar teori yang diperoleh dibangku perkuliahan dengan praktik kerja yang dilakukan di lapangan.

4.3.1 Pembuatan Konten Harian

Kegiatan pembuatan konten harian merupakan salah satu bentuk implementasi komunikasi digital yang strategis dalam pelayanan museum modern. Melalui konten promosi dan edukatif yang diunggah ke media sosial. Dalam kegiatan ini, penulis menerapkan keterampilan bahasa Inggris dalam bentuk komunikasi tertulis yang ringkas, jelas. Penulisan teks konten menuntut ketepatan pemilihan kosakata serta kemampuan menyederhanakan informasi sejarah yang kompleks agar mudah dipahami oleh audiens media sosial.                                                          

Selain aspek kebahasaan, penulis juga belajar mengenai perencanaan pesan dan visualisasi informasi. Pemilihan foto dan video yang relevan dengan teks membantu memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Dengan demikian, hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa komunikasi digital di museum tidak hanya

Dalam pembuatan konten media sosial, penulis menerapkan prinsip komunikasi digital sebagaimana dikemukakan oleh Kotler dan Keller (2016), yaitu bahwa media digital berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi sekaligus pembentukan citra institusi. Konten yang dihasilkan bersifat edukatif dan promosi, menggunakan bahasa Inggris yang ringkas dan komunikatif untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

 

 

                                          Gambar 4.3.1 konten harian edukatif

 

 

4.3.2 Kegiatan Penerjemahan

Kegiatan penerjemahan yang dilakukan penulis memiliki peran penting dalam mendukung pelayanan publik museum yang inklusif dan ramah bagi pengunjung internasional. Penerjemahan guide book dan teks pameran memungkinkan pengunjung asing memperoleh akses informasi yang setara dengan pengunjung lokal, sehingga fungsi edukatif museum dapat tercapai secara optimal. Dalam praktiknya, penulis menerapkan pendekatan penerjemahan komunikatif dengan memperhatikan kesepadanan makna, konteks budaya, serta tingkat keterbacaan teks. Informasi sejarah dan kebaharian yang kompleks disajikan dalam bahasa Inggris yang sederhana namun tetap akurat. Hal ini menunjukkan bahwa penerjemahan di museum tidak hanya bersifat linguistik, tetapi juga komunikatif dan edukatif. Selain penerjemahan, kegiatan penyuntingan teks bahasa Inggris yang telah tersedia di museum menunjukkan pentingnya ketelitian dalam penggunaan bahasa sebagai bagian dari pelayanan publik. Kesalahan tata bahasa, ejaan, atau pemilihan kosakata dapat memengaruhi pemahaman pengunjung dan citra profesional museum.

Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa keterampilan penerjemahan dan penyuntingan bahasa memiliki dampak langsung terhadap kualitas pelayanan museum. Informasi yang disajikan menjadi lebih jelas, konsisten, dan mudah dipahami, sehingga pengunjung asing dapat menikmati pengalaman kunjungan yang lebih bermakna

Dapat dibuktikan bahwa teori penerjemahan yang digunakan tidak hanya bersifat konseptual, tetapi benar-benar diterapkan dalam praktik. Penulis tidak menggunakan penerjemahan harafiah secara kaku, melainkan menerapkan teknik komunikatif, idiomatis, dan parafrase sebagaimana dijelaskan oleh Molina dan Albir (dalam Tambunsaribu, 2022) serta Laeson (dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021). Hal ini tampak dari pemilihan kosakata yang alami, penyederhanaan struktur kalimat, serta penyesuaian makna agar dapat dipahami oleh pembaca bahasa Inggris. Dengan demikian, kegiatan penerjemahan selama magang telah mencerminkan penerapan teori secara nyata dan kontekstual.

No.

Teks Sumber (Indonesia)

Teks Sasaran (Inggris)

Korelasi dengan Teori

1.

Seekor burung merasakan duka yang sama akibat kebakaran Museum Bahari.

A bird shares in the collective sorrow following the Maritime Museum fire.

Menggunakan frasa “collective sorrow” sebagai padanan alami → sesuai teknik idiomatis (Laeson dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021) dan strategi komunikatif (Molina & Albir dalam Tambunsaribu, 2022).

2.

Bahan yang ia bawa jadi percuma karena sarangnya telah habis terbakar api.

The nesting materials it had gathered were rendered useless when its home was consumed by flames.

Kalimat tidak diterjemahkan literal, tetapi disesuaikan agar terdengar alami → teknik idiomatis & komunikatif.

3.

Museum memiliki kewajiban untuk melindungi koleksi...

Museums have the fundamental obligation to protect collections...

Struktur disederhanakan dan istilah dipilih agar mudah dipahami pembaca asing → sesuai Molina & Albir (2022).

4.

kebakaran merupakan api yang tidak terarah

fire—an uncontrolled flame

Tidak literal, tapi makna dipertahankan → Catford (dalam Tambunsaribu, 2016).

5.

Potret kejadian kebakaran direkam untuk menjadi pengingat

This photographic record has been preserved to serve as a memorial

Kalimat dipadatkan dan diperjelas agar alami → Molina & Albir (2022).

6.

kompas menjadi referensi cadangan

the compass served as a backup reference

Menjaga makna inti tetapi tetap natural → Newmark dalam Galingging & Tambunsaribu (2021).

7.

binnacle berasal dari bahasa latin habitaculum

comes from the Latin “habitaculum”

Istilah dipertahankan, dijelaskan secara komunikatif.

Tabel 4.3.2 Hasil kegiatan penerjemahan

 

 

4.3.3 Kegiatan Pemanduan (Guiding)

Kegiatan pemanduan (guiding) memberikan kesempatan bagi penulis untuk menerapkan secara langsung teori komunikasi interpersonal dan public speaking dalam konteks pelayanan publik. Interaksi langsung dengan pengunjung menuntut kemampuan menyampaikan informasi secara verbal dengan bahasa yang jelas, runtut, dan menarik, serta kemampuan membaca respons audiens sebagai bentuk umpan balik.

Dalam praktik pemanduan, penulis menerapkan prinsip komunikasi interpersonal, seperti keterbukaan, empati, sikap positif, dan kesetaraan. Prinsip tersebut membantu menciptakan suasana interaksi yang nyaman dan kondusif, sehingga pengunjung lebih mudah memahami informasi yang disampaikan. Penyesuaian gaya bahasa dan tingkat kedalaman materi dilakukan berdasarkan karakteristik pengunjung, baik pengunjung individu, rombongan, maupun wisatawan asing.

Dalam kegiatan pemanduan, penulis menerapkan prinsip komunikasi interpersonal dari DeVito (2013), seperti empati, keterbukaan, dan sikap positif, serta keterampilan public speaking dari Lucas (2019) melalui penyampaian informasi yang runtut, jelas, dan menarik. Hal ini terlihat dari interaksi langsung dengan pengunjung dan respons yang diberikan

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.3.3 Kegiatan Pemandua

 

4.3.4 Kegiatan Mengoperasikan Bioskop Museum

Tugas sebagai operator bioskop museum memperlihatkan bahwa pelayanan publik di museum tidak hanya berkaitan dengan komunikasi verbal, tetapi juga dengan dukungan teknis dan koordinasi yang baik. Pemutaran film edukatif menjadi salah satu sarana penting dalam menyampaikan informasi sejarah dan kebaharian kepada pengunjung secara audio-visual.

Dalam menjalankan tugas ini, penulis bertanggung jawab atas kesiapan teknis perangkat pemutaran film, sekaligus berkoordinasi dengan petugas museum dan pemandu untuk menyesuaikan jadwal pemutaran dengan alur kunjungan. Kemampuan komunikasi yang jelas dan efektif sangat diperlukan agar kegiatan pemutaran film dapat berjalan tertib dan sesuai dengan kebutuhan pengunjung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 4.3.4 Operator Bioskop Museum

 

V. Kesimpulan dan Saran

Program magang yang dilaksanakan di Museum Bahari Jakarta memberikan pengalaman berharga dalam mengaplikasikan kemampuan berbahasa Inggris untuk mendukung promosi pariwisata, kegiatan magang ini memberikan pengalaman belajar yang komprehensif bagi penulis dalam mengaplikasikan keterampilan bahasa dan komunikasi dalam konteks pelayanan publik. Program magang tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kewajiban akademik, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran nyata yang mempertemukan teori yang diperoleh di bangku perkuliahan dengan praktik kerja profesional.

Selama pelaksanaan magang, penulis terlibat dalam berbagai kegiatan utama, yaitu pembuatan konten digital, penerjemahan, pemanduan (guiding), serta bertugas sebagai operator bioskop museum. Keempat kegiatan tersebut menunjukkan bahwa keterampilan bahasa Inggris dan komunikasi memiliki peran penting dalam menunjang kualitas pelayanan publik di lingkungan museum. Penggunaan bahasa Inggris secara tepat dan komunikatif memungkinkan Museum Bahari memberikan pelayanan yang inklusif bagi pengunjung mancanegara serta memperluas jangkauan informasi kepada publik internasional.

Kegiatan penerjemahan guide book dan teks pameran menunjukkan bahwa penerapan teori penerjemahan, khususnya pendekatan komunikatif, sangat relevan dalam konteks museum. Penerjemahan yang tidak bersifat harfiah, melainkan memperhatikan konteks budaya dan keterbacaan, membantu pengunjung asing memahami informasi sejarah dan kemaritiman Indonesia secara lebih mudah dan akurat. Selain itu, kegiatan penyuntingan teks bahasa Inggris turut berkontribusi dalam meningkatkan profesionalitas penyajian informasi museum.

Dalam kegiatan pemanduan, penulis menerapkan teori komunikasi interpersonal dan public speaking secara langsung. Prinsip keterbukaan, empati, sikap positif, dan kesetaraan sebagaimana dikemukakan oleh DeVito terbukti mendukung terciptanya interaksi yang efektif antara pemandu dan pengunjung. Kemampuan berbicara di depan umum juga membantu penulis menyampaikan informasi secara runtut, jelas, dan menarik, sehingga pengalaman kunjungan pengunjung menjadi lebih bermakna.

Sementara itu, tugas sebagai operator bioskop museum menunjukkan bahwa pelayanan publik di museum tidak hanya bergantung pada komunikasi verbal, tetapi juga pada dukungan teknis dan koordinasi yang baik. Pemutaran film edukatif sebagai media audio-visual menjadi sarana penting dalam menyampaikan informasi sejarah dan kebaharian, serta melengkapi pengalaman belajar pengunjung. Secara keseluruhan, kegiatan magang di Museum Bahari Jakarta memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan hard skills dan soft skills penulis, seperti kemampuan bahasa Inggris, keterampilan komunikasi profesional, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja sama dalam lingkungan institusi publik. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi penulis dalam menghadapi dunia kerja, khususnya di bidang bahasa, komunikasi, dan pelayanan publik berbasis kebudayaan.

5.2 Saran                                                                                                                        

Berdasarkan hasil kegiatan magang dan refleksi terhadap pelaksanaan program, penulis menyampaikan beberapa saran yang diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dan berkelanjutan bagi berbagai pihak.

 5.2.1 Saran kepada Museum Bahari Jakarta

Museum Bahari Jakarta disarankan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik, khususnya dalam aspek komunikasi multibahasa. Penyediaan informasi berbahasa Inggris yang konsisten, akurat, dan terstandarisasi pada seluruh media—baik teks pameran, (guide book), maupun konten digital akan sangat membantu pengunjung mancanegara dalam memahami sejarah dan nilai kebaharian Indonesia.

Selain itu, museum dapat mempertimbangkan pengembangan program pelatihan bahasa dan komunikasi bagi staf dan pemandu, sehingga kualitas pelayanan dapat terjaga secara merata. Penguatan strategi komunikasi digital, seperti perencanaan konten yang lebih terstruktur dan berkelanjutan, juga dapat meningkatkan visibilitas Museum Bahari Jakarta sebagai destinasi edukasi dan wisata budaya.

Museum juga disarankan untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan mahasiswa magang, khususnya dalam bidang penerjemahan dan pembuatan konten edukatif, karena kontribusi mahasiswa dapat menjadi sumber inovasi sekaligus mendukung kebutuhan institusi.

 5.2.2 Saran Kepada Program Studi Sastra Inggris

Program Studi Sastra Inggris diharapkan dapat terus memperkuat keterkaitan antara teori dan praktik melalui kegiatan magang. Pembekalan yang lebih mendalam terkait penerjemahan kontekstual, komunikasi publik, dan komunikasi lintas budaya akan sangat membantu mahasiswa dalam menghadapi tantangan di lapangan. Selain itu, program studi dapat memperluas kerja sama dengan institusi budaya, museum, dan lembaga pelayanan publik lainnya agar mahasiswa memiliki lebih banyak pilihan tempat magang yang relevan dengan bidang keilmuan. Evaluasi dan pendampingan selama proses magang juga dapat ditingkatkan agar pengalaman mahasiswa lebih terarah dan optimal.

 5.2.3 Saran Kepada Mahasiswa Peserta Magang

Mahasiswa yang akan melaksanakan magang di Museum Bahari Jakarta disarankan untuk mempersiapkan diri tidak hanya dari segi kemampuan akademik, tetapi juga dari segi sikap profesional. Penguasaan dasar bahasa Inggris, kemampuan komunikasi interpersonal, serta kesiapan untuk bekerja dalam tim sangat diperlukan agar mahasiswa dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan museum.

Mahasiswa juga diharapkan bersikap aktif, memiliki inisiatif, dan terbuka terhadap berbagai tugas yang diberikan, karena setiap kegiatan magang merupakan kesempatan belajar yang berharga. Dengan sikap yang positif dan komitmen yang tinggi, mahasiswa dapat memperoleh manfaat maksimal dari program magang sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi institusi tempat magang.

Peserta magang sebaiknya juga berusaha memperluas jaringan profesional dengan bersikap ramah dan menjalin hubungan baik dengan staf maupun rekan magang lainnya. Dokumentasikan setiap pengalaman yang diperoleh, baik dalam bentuk laporan, portofolio, atau catatan pribadi, agar dapat menjadi referensi untuk pengembangan karier di masa depan. Terakhir, selalu terbuka terhadap kritik dan saran, karena feedback dari mentor atau rekan kerja merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan kemampuan dan memperbaiki kelemahan. Dengan sikap yang aktif, disiplin, dan terus belajar, peserta magang dapat memaksimalkan pengalaman ini untuk menjadi bekal dalam menghadapi dunia kerja yang sebenarny

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Center. (2023). Museum communication and digital engagement. Jakarta: Cultural Heritage Center.

DeVito, J. A. (2013). The interpersonal communication book (13th ed.). Boston, MA: Pearson Education.

Galingging, Y., & Tambunsaribu, G. (2021). Penerjemahan idiomatis Peter Newmark dan Mildred Larson. Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra dan Budaya, 8(1), 56–70.

Keller, K. L. (2016). Strategic brand management: Building, measuring, and managing brand equity (4th ed.). Harlow: Pearson Education.

Lucas, S. E. (2019). The art of public speaking (13th ed.). New York, NY: McGraw-Hill Education.

Tambunsaribu, G. (2016). Ketepatan terjemahan kolokasi bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia menggunakan Google Translate. Jurnal Dialektika, 7.

Tambunsaribu, G. (2022). Analisis Kesalahan Penulisan Kalimat dalam Skripsi dan Laporan Magang. Jurnal Ideas, 8(2), 447-454.

Tambunsaribu, G. (2022). Teknik penerjemahan kalimat bahasa Inggris berbasis 16 tenses. Penerbit Deepublish.

Tambunsaribu, G. (2023). Proses penerjemahan buku psikologi dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. In Seminar Nasional Linguistik dan Sastra (SEMNALISA III) 2023: Dinamika dan Tantangan Kajian Linguistik dan Sastra (Vol. 1, pp. 45–53). Denpasar: Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa Asing, Universitas Mahasaraswati.

Tambunsaribu, G. (2024). Dasar Pembentukan Kalimat Bahasa Inggris. Jakarta: UKI Press.

Tambunsaribu, G. (2025). English Grammar Keindahan Struktur Kalimat Bahasa Inggris. Jakarta: UKI Press.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Humanism...

"HEARTBREAKING, MAKES ME CRY "

Tugas Penelitian (Etnografi)