IMPLEMENTASI ILMU PENERJEMAHAAN DAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF DALAM PELAKSANAAN MAGANG DI MUSEUM BAHARI JAKARTA
![]() |
Disusun oleh
Shepia Veronika
2221150040
PROGRAM
STUDI SASTRA INGGRIS
FAKULTAS
SASTRA DAN BAHASA
UNIVERSITAS
KRISTEN INDONESIA
2026
HALAMAN PERSETUJUAN
Naskah
laporan magang oleh mahasiswa:
Nama : Shepia Veronika
NIM : 2221150040
Judul : Implementasi Keterampilan Bahasa dan
komunikasi dalam kegiatan pelayanan publik
di museum bahari
Laporan
magang telah diperiksa dan dikoreksi dengan baik. Oleh karena itu, pembimbing
menyetujui mahasiswa tersebut untuk diuji.
Jakarta, 13 Januari 2026
Pembimbing Materi
Gunawan Tambunsaribu, SS., M.Sas
NIP.141167
HALAMAN PENGESAHAN
IMPLEMENTASI ILMU PENERJEMAHAAN DAN
KOMUNIKASI YANG EFEKTIF DALAM PELAKSANAAN MAGANG DI MUSEUM BAHARI JAKARTA
Disusun oleh:
Shepia Veronika
2221150040
Disetujui dan Disahkan sebagai Laporan Magang
oleh:
Mengetahui,
Pembimbing Materi Pembimbing
Teknis
Gunawan Tambunsaribu, S.S., M.Sas Lisbet Juliana Sirait, S.S., M.Li.
NIP. 141167 NIP.
101778
Mengetahui,
Ketua Program Studi Sastra Inggris
Mike Wijaya Saragih, S.S.,M.Hum.
NIP. 121861
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan
atas ke-hadirat Tuhan Yesus Kristus serta atas berkat dan kasih karunia-Nya,
sehingga penulis dapat melaksanakan magang di Museum Bahari Jakarta dan
menyelesaikan Laporan Magang dengan baik. Laporan ini disusun sebagai tugas
akhir untuk memenuhi tanggung jawab setelah menyelesaikan kegiatan magang
selama tiga bulan. Dalam penyusunan Laporan Akhir Kegiatan Magang ini, tidak
terlepas dari bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada:
1.
Susanne A.H. Sitohang, S.S., M.A.,
selaku Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia.
2.
Jannes Freddy Pardede, S.S., M.Hum.,
selaku Wakil Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia.
3.
Mike Wijaya Saragih, S.S., M.Hum.,
selaku dosen Kepala Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Bahasa,
Universitas Kristen Indonesia, juga sekaligus dosen yang mengarahkan dari
sebelum proses magang berlangsung.
4.
Gunawan Tambunsaribu, SS., M.Sas., Selaku
pembimbing yang telah membimbing dan memberikan arahan dengan baik selama
penulisan laporan magang ini.
5.
Bapak Iman yang telah menjadi mentor
yang sangat membimbing selama melakukan magang kerja di Museum Bahari Jakarta.
6.
Teman – teman angkatan 22, SZA, Muffin yang telah bersedia membantu dan memberi
semangat selama pengerjaan laporan magang ini.
Jakarta, 11 Januari 2026
Shepia Veronika
DAFTAR ISI
1.3
Sistematikan penulisan Laporan
2.1 Konsep
Pelayanan Publik di Lingkungan Museum
2.2 Komunikasi
Interpersonal dalam Pelayanan Museum
2.3 Public
Speaking dalam Kegiatan Pemanduan Museum
2.4 Ilmu
Penerjemahan dalam Konteks Pelayanan Museum
2.5 Komunikasi
Digital dan Media Sosial Museum
3.1 Waktu
dan Tempat Pelaksanaan Magang Kerja
4.1.2 Struktur
Organisasi dan Tata Kelola
4.3
Pembahasan Hasil Kegiatan Magang
4.3.3 Kegiatan
Pemanduan (Guiding)
4.3.4 Kegiatan
Mengoperasikan Bioskop Museum
5.2.1
Saran kepada Museum Bahari Jakarta
5.2.2 Saran Kepada
Program Studi Sastra Inggris
5.2.3 Saran Kepada
Mahasiswa Peserta Magang
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 maps
letak Museum Bahari Jakarta
Gambar 4.1.2
Struktur Organisasi
Gambar 4.3.2 Kegiatan Penerjemahan
Gambar 4.3.3
Kegiatan Pemanduan
Gambar 4.3.4
Operator Bioskop Museum
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kegiatan magang merupakan salah satu bentuk pengalaman
belajar yang bertujuan untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan
yang telah diperoleh di bangku perkuliahan ke dalam dunia kerja nyata. Melalui
kegiatan magang, mahasiswa diharapkan mampu memahami dinamika kerja profesional
sekaligus mengembangkan kompetensi yang relevan dengan bidang studinya. Bagi
mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, magang tidak hanya menjadi sarana untuk
meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga sebagai media untuk
mengembangkan keterampilan komunikasi dalam konteks profesional, khususnya pada
sektor pelayanan publik.
Museum merupakan lembaga yang tidak hanya berfungsi sebagai
tempat penyimpanan dan pelestarian benda-benda bersejarah, tetapi juga sebagai
ruang edukasi publik yang berperan dalam menyampaikan informasi sejarah,
budaya, dan nilai-nilai kebangsaan kepada masyarakat Ejournal. Unib (2024).
Oleh karena itu, museum dituntut untuk mampu memberikan pelayanan publik yang
berkualitas, komunikatif, dan informatif. Pelayanan yang baik akan membantu
pengunjung memahami makna koleksi museum serta menciptakan pengalaman belajar
yang bermakna.
Museum Bahari sebagai salah satu museum maritim di Indonesia
memiliki peran penting dalam memperkenalkan sejarah dan budaya kemaritiman
bangsa kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan mancanegara. Keberagaman
latar belakang pengunjung, baik dari segi bahasa, budaya, maupun tingkat
pengetahuan, menuntut adanya penggunaan bahasa yang tepat serta keterampilan
komunikasi yang efektif dalam setiap bentuk pelayanan publik yang diberikan.
Selama pelaksanaan program magang di Museum Bahari, penulis terlibat dalam
beberapa bidang kerja, yaitu penerjemahan, pemanduan guiding, pembuatan
konten digital, serta kegiatan operasional ruangan. Keempat bidang kerja
tersebut menuntut penguasaan keterampilan bahasa serta pemahaman mengenai
strategi komunikasi yang baik guna menunjang kualitas pelayanan kepada
pengunjung.
Dalam kegiatan pemanduan, interaksi langsung antara pemandu
dan pengunjung menjadi aspek utama dalam penyampaian informasi. Oleh karena
itu, teori komunikasi interpersonal menjadi landasan penting dalam memahami
bagaimana hubungan dua arah, kontak psikologis, serta efektivitas penyampaian
pesan dapat memengaruhi keberhasilan komunikasi. DeVito (2013) menyatakan bahwa
komunikasi interpersonal yang efektif ditandai oleh adanya keterbukaan, empati,
sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan antara pihak-pihak yang terlibat
dalam komunikasi. Prinsip-prinsip tersebut sangat relevan dalam konteks
pelayanan museum, di mana petugas museum dituntut untuk bersikap ramah,
responsif, dan menghargai pengunjung.
Selain komunikasi interpersonal, kegiatan pemanduan juga
membutuhkan keterampilan berbicara di depan umum atau public speaking.
Lucas (2019) menjelaskan bahwa public speaking mencakup kemampuan
menyusun pesan secara sistematis, penggunaan teknik vokal yang baik, serta
strategi membangun hubungan dengan audiens. Dalam konteks museum, keterampilan public
speaking diperlukan agar informasi sejarah dan budaya dapat disampaikan
secara menarik dan mudah dipahami oleh pengunjung.
Dalam bidang penerjemahan, kegiatan magang tidak hanya
mengacu pada teori-teori klasik seperti kesepadanan dinamis dan kesetaraan
makna, tetapi juga pada pendekatan kontemporer yang menekankan fungsi, konteks,
dan keterbacaan teks bagi pembaca sasaran. Menurut Newmark (dalam Tambunsaribu,
2023), penerjemahan adalah proses menyampaikan pesan dari bahasa sumber ke
bahasa sasaran. Di sisi lain, Catford (dalam Tambunsaribu, 2016) menggambarkan
penerjemahan sebagai penggantian teks dari satu bahasa ke teks setara dalam
bahasa lain. Dalam praktiknya, penerjemah sering menghadapi masalah dalam
menentukan padanan kata yang tepat agar makna tetap tepat dan dapat dipahami
oleh pembaca (Tambunsaribu, 2023), serta dilema antara menggunakan penerjemahan
harafiah (literal translation) atau penerjemahan bebas (Newmark dalam
Galingging & Tambunsaribu, 2021). Untuk mencegah hal ini terjadi,
penerjemah menggunakan berbagai metode penerjemahan. Menurut Molina dan Albir
(dalam Tambunsaribu, 2022), teknik penerjemahan dapat digunakan untuk
menghasilkan terjemahan yang akurat dan terdengar alami. Salah satu metode ini
adalah teknik penerjemahan idiomatis, yang menggunakan bentuk gramatikal dan
leksikal yang sesuai dengan kaidah bahasa yang dituju (Larson dalam Galingging
& Tambunsaribu, 2021). Jadi, agar informasi yang disampaikan tetap akurat,
komunikatif, dan mudah dipahami oleh pengunjung asing, penerjemahan materi
museum memerlukan penerapan teori dan teknik kontemporer.
Pembuatan konten digital untuk media sosial museum juga
memerlukan strategi komunikasi yang tepat. Konsep komunikasi pemasaran digital
menekankan pentingnya pemanfaatan media online untuk menyampaikan informasi,
membangun citra lembaga, serta meningkatkan interaksi dengan publik (Kotler & Keller, 2016). Dalam konteks
museum, media sosial berperan sebagai sarana edukasi sekaligus promosi yang
menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
keterampilan bahasa dan komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam
menunjang kegiatan pelayanan publik di Museum Bahari. Oleh karena itu, laporan
magang ini disusun untuk menggambarkan dan menganalisis penerapan keterampilan
bahasa dan komunikasi dalam kegiatan pelayanan publik di Museum Bahari.
1.2 Maksud dan
Tujuan Magang
Kegiatan magang kerja di Museum
Bahari Jakarta dilaksanakan dengan beberapa tujuan sebagai berikut:
- Sebagai salah satu bagian dari
perkuliahan yang wajib diikuti dan juga syarat kelulusan dari mata kuliah Intership
- Mengaplikasikan ilmu Penerjemahan Translation
Theory dan Komunikasi yang efektif Effective Communication yang
sudah dipelajari mahasiswa selama perkuliahan dalam dunia kerja secara
profesional.
- Meningkatkan kemampuan komunikasi
interpersonal dan antarbudaya melalui interaksi langsung dengan
pengunjung.
- Memahami peran media sosial sebagai
sarana promosi untuk meningkatkan daya tarik wisata.
- Sebagai sarana dalam mengaplikasikan
ilmu softskill dan hardskill mahasiswa
- Menganalisis
efektivitas penggunaan bahasa Inggris dalam meningkatkan kepuasan
pengunjung asing.
1.3 Sistematikan penulisan Laporan
1.
Bab I Pendahuluan
: Menjelaskan latar belakang, tujuan, dan sistematika laporan.
2. Bab
II Tinjauan Pustaka: Membahas teori terkait komunikasi publik, pelayanan
museum, dan peran bahasa Inggris dalam konteks pelayanan.
3. Bab
III Metode Pelaksanaan: Memaparkan waktu, tempat, dan prosedur kegiatan magang.
4. Bab
IV Hasil dan Pembahasan: Menyajikan profil lokasi, deskripsi kegiatan, serta
analisis hasil implementasi keterampilan bahasa dan komunikasi.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Pelayanan Publik di Lingkungan Museum
Pelayanan publik merupakan segala bentuk kegiatan yang
dilakukan oleh institusi atau lembaga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dalam konteks museum, pelayanan publik
tidak hanya berorientasi pada pemberian layanan administratif, tetapi juga pada
penyampaian informasi edukatif dan pengalaman budaya kepada pengunjung. Museum
berfungsi sebagai media komunikasi antara masa lalu dan masyarakat masa kini,
sehingga kualitas pelayanan sangat menentukan keberhasilan fungsi edukatif
tersebut.
Pelayanan publik di museum menuntut adanya interaksi yang
intens antara petugas museum dan pengunjung. Interaksi ini mencakup pemberian
informasi, pemanduan, penanganan pertanyaan, serta pendampingan pengunjung
selama berada di area museum. Oleh karena itu, keterampilan bahasa dan
komunikasi menjadi faktor utama dalam menciptakan pelayanan yang informatif,
ramah, dan profesional.
2.2 Komunikasi Interpersonal dalam Pelayanan Museum
Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran pesan yang
terjadi secara langsung antara individu dengan individu lain. DeVito (2013)
menyatakan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif ditandai oleh adanya
keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan antara
pihak-pihak yang berkomunikasi. Dalam pelayanan museum, komunikasi
interpersonal menjadi landasan utama dalam membangun hubungan yang baik antara
petugas dan pengunjung.
Dalam kegiatan pelayanan publik di museum, komunikasi
interpersonal berperan penting dalam menciptakan suasana yang nyaman dan
kondusif. Petugas museum dituntut untuk mampu mendengarkan kebutuhan dan
pertanyaan pengunjung, memberikan respons yang jelas, serta menyesuaikan gaya
komunikasi dengan karakteristik pengunjung. Kemampuan ini sangat dibutuhkan
terutama ketika berhadapan dengan pengunjung dari latar belakang budaya dan
bahasa yang berbeda.
Selain itu, komunikasi interpersonal juga berfungsi sebagai
sarana untuk membangun citra positif museum. Interaksi yang ramah, sopan, dan
informatif dapat meningkatkan kepuasan pengunjung serta mendorong minat
masyarakat untuk kembali berkunjung. Dengan demikian, komunikasi interpersonal
tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga persuasif dan relasional.
Dalam kegiatan magang di Museum Bahari, komunikasi
interpersonal menjadi keterampilan yang paling sering digunakan karena
mahasiswa berinteraksi langsung dengan staf museum maupun pengunjung. Interaksi
tersebut terjadi dalam berbagai situasi, seperti saat memberikan informasi
dasar kepada pengunjung, membantu proses pemanduan, menangani pertanyaan, serta
berkoordinasi dengan staf internal museum. Penerapan prinsip keterbukaan
terlihat ketika mahasiswa menyampaikan informasi mengenai koleksi, alur
kunjungan, dan peraturan museum secara jelas dan mudah dipahami. Keterbukaan
juga tercermin dari kesiapan mahasiswa dalam menerima pertanyaan maupun
klarifikasi dari pengunjung, baik pengunjung lokal maupun wisatawan
mancanegara. Mahasiswa magang dituntut untuk mampu menyesuaikan gaya bahasa,
intonasi, serta pilihan kosakata agar sesuai dengan kebutuhan pengunjung.
Sikap mendukung dan positif diterapkan melalui penggunaan
bahasa yang sopan, ramah, dan tidak menghakimi. Dalam praktiknya, mahasiswa
menjaga sikap profesional ketika menghadapi pertanyaan berulang atau situasi
yang membutuhkan kesabaran ekstra. Sikap positif ini membantu menciptakan
suasana interaksi yang nyaman dan kondusif selama pelayanan berlangsung.
2.3 Public Speaking dalam Kegiatan Pemanduan Museum
Public speaking merupakan keterampilan berbicara di depan audiens dengan
tujuan menyampaikan pesan secara efektif. Lucas (2019) menjelaskan bahwa public
speaking melibatkan kemampuan menyusun pesan secara sistematis, menguasai
materi, menggunakan bahasa yang sesuai, serta membangun keterlibatan audiens.
Dalam konteks museum, public speaking menjadi kompetensi utama dalam
kegiatan pemanduan.
Teknik vokal tersebut meliputi
pengaturan intonasi, kejelasan artikulasi, dan volume suara yang sesuai agar
pesan terdengar jelas dan tidak monoton. Selain aspek vokal, komunikasi
nonverbal juga memiliki peran penting dalam proses penyampaian informasi. DeVito
(2013) menjelaskan bahwa bahasa tubuh, kontak mata, serta ekspresi wajah
merupakan unsur komunikasi nonverbal yang membantu memperkuat pesan verbal dan
menjaga perhatian audiens. Dengan demikian, keberhasilan kegiatan pemanduan
museum sangat dipengaruhi oleh keterampilan public speaking dan
komunikasi nonverbal yang dimiliki oleh pemandu.
Public speaking dalam pemanduan museum tidak hanya bertujuan menyampaikan
informasi, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan. Oleh
karena itu, pemandu perlu menyesuaikan gaya penyampaian dengan jenis audiens,
baik pengunjung dewasa, anak-anak, maupun wisatawan asing. Kemampuan public
speaking yang baik akan membantu pengunjung memahami informasi secara lebih
mendalam dan meningkatkan kualitas pelayanan museum.
2.4 Ilmu Penerjemahan dalam Konteks Pelayanan Museum
Penerjemahan
dalam konteks pelayanan museum merupakan kegiatan menyampaikan pesan dari
bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan tujuan mempertahankan makna serta
fungsi informasi bagi pengunjung. Menurut Newmark (dalam Tambunsaribu, 2023),
penerjemahan adalah kegiatan menyampaikan pesan dari suatu bahasa ke bahasa
lain, sedangkan Catford (dalam Tambunsaribu, 2016) mendefinisikan penerjemahan
sebagai penggantian bahan tekstual dari bahasa sumber dengan bahan tekstual
setara dalam bahasa sasaran. Definisi ini menegaskan bahwa penerjemahan tidak
hanya berfokus pada kesepadanan makna, tetapi juga pada keberterimaan pesan
dalam konteks pembaca sasaran. Dalam menerjemahkan teks
dari bahasa asing ke bahasa Indonesia, kadang kita menemukan beberapa kesulitan khususnya
mencari padanan kata yang tepat di bahasa Indonesia (Tambunsaribu, 2023).
Newmark (dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021) menyatakan masalah utama
yang sering dialami seorang penerjemah dalam menerjemahkan adalah pemilihan
antara penerjemahan dengan teknik harafiah (literal translation) atau teknik
penerjemahan bebas (free translation). Seorang penerjemah menggunakan
teknik-teknik penerjemahan khusus sesuai dengan jenis permasalahan yang dialami
pada proses menerjemahkan teks bahasa sumber ke bahasa sasaran. Molina &
Albir (dalam Tambunsaribu, 2022) menyatakan ada beberapa teknik yang digunakan
penerjemah dalam menghasilkan karya penerjemahan yang akurat dan terdengar
alami. Menurut Larson (dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021), teknik penerjemahan
idiomatis adalah teknik penerjemahan yang menggunakan bentuk gramatikal dan
leksikal yang natural dari bahasa sasaran.
Penerjemahan
materi museum sering menghadapi masalah, terutama dalam menentukan padanan kata
yang tepat agar informasi sejarah dan kebudayaan tetap akurat namun mudah
dipahami oleh pengunjung asing. Seperti yang dinyatakan oleh Tambunsaribu
(2023), masalah utama dalam penerjemahan adalah menemukan padanan kata yang
tepat dalam bahasa sasaran. Di sisi lain, Newmark (dalam Galingging &
Tambunsaribu, 2021) menyatakan bahwa penerjemah kerap dihadapkan pada pilihan
antara penerjemahan harafiah (literal translation) dan penerjemahan bebas (free
translation). Informasi dapat menjadi kaku, tidak alami, atau bahkan sulit
dipahami oleh pembaca jika teknik yang salah digunakan.
Untuk
mengatasi masalah ini, penerjemah menggunakan berbagai metode penerjemahan.
Molina dan Albir (dalam Tambunsaribu, 2022) menyatakan bahwa metode
penerjemahan dapat digunakan untuk membuat terjemahan yang tepat dan terdengar
alami dalam bahasa sasaran. Penerjemahan idiomatis—yang berarti menggunakan
bentuk gramatikal dan leksikal yang natural sesuai dengan kaidah bahasa
sasaran—adalah salah satu pendekatan yang relevan dalam konteks museum (Larson
dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021). Oleh karena itu, penggunaan teknik
penerjemahan yang tepat merupakan landasan penting untuk membuat materi museum
dapat diakses, informatif, dan dapat diterima oleh pengunjung dari berbagai
latar belakang budaya.
2.5 Komunikasi
Digital dan Media Sosial Museum
Perkembangan teknologi informasi telah mendorong
museum untuk memanfaatkan media digital sebagai sarana komunikasi dengan
masyarakat. Kotler dan Keller (2016) menyatakan bahwa komunikasi digital
berperan penting dalam menyampaikan informasi, membangun citra institusi, serta
menjangkau audiens yang lebih luas. Media sosial menjadi salah satu platform
utama yang digunakan museum untuk berinteraksi dengan publik.
Dalam konteks museum, media sosial berfungsi sebagai sarana
promosi, edukasi, dan komunikasi dua arah dengan audiens digital. Konten yang
disajikan harus informatif, menarik, dan disesuaikan dengan karakteristik
pengguna media sosial yang cenderung menyukai pesan singkat, visual, dan mudah
dipahami. Oleh karena itu, pembuatan konten digital menuntut penguasaan
keterampilan bahasa yang spesifik, seperti pemilihan kosakata yang sederhana
dan persuasif, penyusunan kalimat yang ringkas dan komunikatif, kemampuan
menyederhanakan istilah teknis atau sejarah, serta penggunaan gaya bahasa yang
sesuai dengan target audiens. Selain itu, kemampuan menulis caption yang
informatif, menyusun narasi singkat, dan menyesuaikan nada bahasa (formal atau
semi-formal) juga menjadi keterampilan penting agar pesan museum dapat
tersampaikan secara efektif dan menarik di media sosial.
Mahasiswa perlu memiliki keterampilan menulis (writing)
dalam melakukan pekerjaan pembuatan konten digital. Khususnya dalam menuliskan kalimat bahasa
Inggris, seorang penulis harus memahami struktur bahasa Inggris yang dikenal
orang banyak sebagai bahasa yang kaya akan penggunaan waktu (tenses) dalam
kalimat-kalimatnya (Tambunsaribu, 2024). Sampai saat ini, bahasa Inggris masih
menjadi bahasa komunikasi antar bangsa bagi banyak negara di dunia. Dalam dunia
pendidikan, bahasa Inggris tentunya sangat dibutuhkan oleh para siswa dan
mahasiswa untuk dapat memahami, mengembangkan, dan menyebarkan ilmu pengetahuan
khususnya dalam bidang pendidikan. Banyak buku, artikel, dan informasi yang
berhubungan dengan pendidikan dituliskan dalam bahasa Inggris (Tambunsaribu,
2022; Tambunsaribu, 2025).
Format konten seperti Instagram
Reels, TikTok, dan YouTube Shorts dalam bahasa Inggris juga
menunjukkan dampak positif dalam menarik pengunjung muda. Menurut survei yang
dilakukan oleh Tourism Research Center (2023), 72% wisatawan millennial dan
Gen-Z mengaku tertarik mengunjungi destinasi wisata setelah melihat konten
video pendek yang informatif dan menghibur di media sosial. Museum Bahari dapat
memanfaatkan trend ini dengan menghadirkan konten-konten singkat namun
berdampak yang menampilkan isi dari museum, fun facts tentang koleksi
maritim, atau virtual tour singkat dengan narasi bahasa Inggris yang
menarik.
Untuk penyajian konten Museum
Bahari dapat menggabungkan
elemen sejarah dengan aspek-aspek yang relevan dengan masa kini. Misalnya,
menghubungkan teknik pelayaran tradisional dengan perkembangan teknologi
maritim modern, atau mengaitkan rute-rute perdagangan di jaman dahulu dengan
jalur pelayaran kontemporer. Konten ini dapat menarik banyak pengunjung dari
berbagai latar belakang.
Pemanfaatan media sosial juga
memungkinkan museum untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, khususnya
generasi muda. Melalui komunikasi digital yang strategis, museum dapat
meningkatkan minat kunjungan serta memperluas jangkauan informasi mengenai koleksi
dan kegiatan yang dimiliki. Dengan demikian, komunikasi digital menjadi bagian
penting dari pelayanan publik modern di lingkungan museum.
III. METODE
PELAKSANAAN
3.1 Waktu dan
Tempat Pelaksanaan Magang Kerja
Kegiatan magang kerja
ini dilaksanakan selama tiga bulan lamanya, yakni sejak tanggal 04 Agustus 2025
hingga 31 Oktober 2025. Dalam kurun waktu tiga bulan tersebut, penulis memulai
untuk berkegiatan pada pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Museum Bahari Jakarta
menerapkan kebijakan WFO (Work from Office) dengan adanya kebijakan
tersebut, penulis datang ke kantor pada hari Selasa hingga Sabtu setiap
minggunya. Museum Bahari Jakarta sendiri bertempat di Jl. Ps. Ikan No.1,
RT.11/RW.4, Penjaringan, Kec. Penjaringan, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota
Jakarta 14440, Indonesia.
Gambar 3.1 maps
letak Museum Bahari Jakarta
3.2 Prosedur Pelaksanaan
3.2.1 Persiapan
Proses persiapan yang telah dilakukan penulis pada saat
sebelum melaksanakan magang, yaitu:
1. Penulis
melapor kepada Kaprodi Sastra Inggris
untuk menyampaikan rencana pelaksanaan magang di Museum Bahari Jakarta.
2. Pihak
program studi memberikan surat pengantar magang yang ditujukan kepada Museum
Bahari Jakarta.
3. Penulis menyampaikan surat pengantar
magang kepada pihak Museum Bahari Jakarta sebagai permohonan resmi kerja sama
magang dan menunggu persetujuan dari pihak instansi
4. Setelah memperoleh persetujuan
awal, penulis mengikuti proses wawancara (interview) dengan pihak Museum
Bahari Jakarta yaitu Bapak Iman selaku ketua Satuan koleksi, Edukasi dan
Informasi sekaligus mentor bagi peserta
magang dengan menyerahkan curriculum vitae (CV) sebagai salah satu
persyaratan seleksi.
5. Penulis mengkonfirmasi ulang mengenai kontrak magang yang
telah disepakati antara Pak Iman dengan penulis.
6. mendapatkan informasi seputar perusahaan, serta arahan
dan pembagian job desc oleh Pak Iman.
3.2.2 Pelaksanaan
Hal yang penulis laksanakan selama proses
kegiatan magang dengan metode WFO (Work from office) diantraanya :
1.
Penulis melaksanakan kegiatan magang kerja setiap hari Selasa
sampai dengan hari Sabtu dengan kurun waktu tiga bulan.
2.
Pak Iman selaku mentor memberikan tugas selama magang di
Museum, memberikan katalog Museum ke dalam Whatsapp Komunitas khusus
peserta magang. Kegiatan tersebut meliputi penerjemahan materi museum ke dalam
bahasa Inggris, kegiatan pemanduan pengunjung, pembuatan konten digital untuk
media sosial museum, serta membantu kegiatan operasional ruangan. Seluruh
aktivitas dilaksanakan di bawah bimbingan pembimbing lapangan dan staf museum.
3.
Tugas-tugas yang diberikan memberikan pengalaman kepada
penulis dalam menciptakan konten promosi berbahasa Inggris. Tugas ini melatih
pemikiran kreatif dan manajemen waktu. Dalam proses pembuatan konten yang
dilakukan, penulis dapat mengerjakan satu konten setiap harinya.
4.
Selama kegiatan magang berlangsung, mahasiswa melakukan
pengamatan dan pencatatan terhadap proses pelayanan publik, khususnya yang
berkaitan dengan penggunaan bahasa dan komunikasi. Data diperoleh melalui
observasi langsung, diskusi dengan staf museum, serta dokumentasi kegiatan
magang.
Pelaporan merupakan
elemen krusial dalam proses pelaksanaan magang. Untuk memastikan bahwa semua
aktivitas dan kemajuan penulis
terdokumentasi dengan baik, penulis mengambil beberapa langkah pelaporan
sebagai berikut:
Absensi
Kehadiran
Selama
pelaksanaan magang, mahasiswa diwajibkan melakukan absensi kehadiran setiap
hari kerja sebagai bentuk bukti keikutsertaan dan kedisiplinan
selama magang berlangsung. Sistem absensi dilakukan melalui dokumentasi foto
kehadiran di lingkungan Museum Bahari yang kemudian dilaporkan sesuai dengan
ketentuan pembimbing lapangan. Absensi foto dilakukan secara rutin setiap hari
dan menjadi salah satu indikator penilaian kehadiran serta komitmen mahasiswa
dalam menjalankan kegiatan magang.
Tahap Evaluasi Diri
seluruh kegiatan magang selesai dilaksanakan, mahasiswa
melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil pelaksanaan magang. Evaluasi
diri mencakup refleksi atas keterampilan bahasa dan komunikasi yang telah
diterapkan, kendala yang dihadapi selama magang, serta upaya yang dilakukan
untuk mengatasi kendala tersebut. Evaluasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi
peningkatan kompetensi yang diperoleh, baik dalam aspek akademik hard skills
maupun aspek personal soft skills, seperti kedisiplinan, tanggung jawab,
dan kemampuan bekerja sama.
Tahap Penyusunan Laporan
1.
Pelaksanaanm kegiatan Magang tahap pertama dimulai saat penulis
melaksanakan kegiatan magang di Museum Bahari. Selama masa magang, penulis
terlibat langsung dalam berbagai aktivitas pelayanan publik, penerjemahan,
pengelolaan konten media sosial, serta kegiatan pemanduan (guiding).
2.
Pendataan dan Pencatatan Kegiatan selama magang
berlangsung, penulis melakukan pendataan dan pencatatan terhadap seluruh
aktivitas kerja melalui catatan harian (logbook), dokumentasi foto, hasil
terjemahan, konten media sosial, serta materi pemanduan. Data ini dikumpulkan
sebagai bahan utama penyusunan laporan.
3.
Penetapan Dosen Pembimbing Setelah kegiatan magang
selesai, penulis memperoleh penunjukan dosen pembimbing laporan magang dari
program studi sebagai pihak yang memberikan arahan akademik.
4.
Pengajuan Judul dan Konsultasi Awal Penulis
mengajukan judul laporan magang kepada dosen pembimbing, kemudian
melakukan konsultasi awal untuk memperoleh persetujuan serta arahan mengenai
fokus pembahasan dan sistematika laporan.
5.
Proses Bimbingan dan Revisi Penulis menyusun draft
laporan secara bertahap dan mengonsultasikannya kepada dosen pembimbing. Setiap
sesi bimbingan digunakan untuk menerima masukan, melakukan perbaikan, serta
menyesuaikan isi laporan.
6. Setelah seluruh revisi disetujui, penulis menyusun
laporan secara sistematis sesuai dengan pedoman penulisan laporan magang Prodi
sastra inggris, mulai dari latar belakang, landasan teori, metode pelaksanaan,
hingga hasil dan pembahasan.
VI. HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1.1Sejarah Singkat Museum Bahari Jakarta
Museum Bahari Jakarta secara resmi
didirikan dan dibuka untuk umum pada tahun 1977. Peresmian museum ini dilakukan
pada tanggal 7 Juli 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Letnan Jenderal
(Marinir) Ali Sadikin (Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, 2023).
Museum Bahari mengangkat tema
kebaharian dan kemaritiman Indonesia serta menempati bangunan bersejarah
peninggalan kolonial Belanda yang dahulu berfungsi sebagai gudang milik
Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Bangunan tersebut dibangun secara bertahap
sejak tahun 1652 hingga abad ke-18 dan digunakan sebagai tempat penyimpanan
komoditas perdagangan seperti rempah-rempah dan kopi (Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta, 2022).
Setelah masa kolonial berakhir,
bangunan bekas gudang VOC ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan kemudian dimanfaatkan sebagai museum dengan
fokus sejarah kemaritiman Indonesia (Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta,
2023). Sejak diresmikan, Museum Bahari Jakarta dikelola oleh Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan sebagai sarana edukasi publik
untuk memperkenalkan identitas Indonesia sebagai negara maritim (Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta, 2022).
4.1.2 Struktur Organisasi dan Tata Kelola
Berikut adalah struktur organisasai Museum
Kebahariaan
Gambar 4.1 Struktur Organisasi
Gambar 4.1.2 Struktur Organisasi
Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta merupakan satuan
kerja yang berada di bawah naungan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan
bertanggung jawab dalam pengelolaan serta penyelenggaraan pelayanan museum
kebaharian. Struktur organisasi Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta
disusun secara hierarkis untuk menunjang efektivitas pelaksanaan tugas, fungsi,
dan pelayanan publik di bidang kebudayaan dan kemaritiman.
Pada tingkat pimpinan, Unit Pengelola Museum Kebaharian
Jakarta dipimpin oleh Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta, yaitu
Mis’ari, M.Hum. Kepala Unit bertanggung jawab atas perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan, serta evaluasi seluruh kegiatan pengelolaan museum, termasuk
pengambilan kebijakan strategis dan koordinasi antarbidang dalam rangka
meningkatkan kualitas pelayanan publik di museum.
Dalam menjalankan fungsi administratif dan manajerial,
Kepala Unit dibantu oleh Kepala Subbagian Tata Usaha, yaitu M. Ismail Fahreza,
S.T. Subbagian Tata Usaha memiliki peran penting dalam mengelola administrasi
umum, kepegawaian, keuangan, serta urusan rumah tangga Unit Pengelola Museum
Kebaharian Jakarta. Subbagian ini didukung oleh beberapa jabatan fungsional,
antara lain Verifikator Keuangan, Bendahara Penerimaan yang dijabat oleh
Muchidin, A.Md., Bendahara Pengeluaran yang dijabat oleh Rohmat Hartanto, serta
Pengurus Barang yang dijabat oleh Kasmadi. Keberadaan Subbagian Tata Usaha
menjadi penopang utama kelancaran operasional museum dari sisi administratif
dan keuangan.
Selain unsur pimpinan dan administrasi, Unit Pengelola
Museum Kebaharian Jakarta juga memiliki beberapa Satuan Pelaksana yang
bertanggung jawab pada bidang teknis operasional museum. Satuan Pelaksana
Koleksi, Edukasi, dan Informasi dikoordinatori oleh Nurul Iman, S.Hum. Satpel
ini berperan dalam pengelolaan koleksi museum, penyusunan materi edukasi, serta
penyampaian informasi kepada pengunjung sebagai bagian dari fungsi edukatif
museum. Satuan Pelaksana Prasarana dan
Sarana dikoordinatori oleh Dody Siswanto, S.E. Satpel ini bertanggung jawab
dalam pemeliharaan dan pengelolaan sarana serta prasarana museum, termasuk
gedung, ruang pamer, dan fasilitas pendukung lainnya, guna memastikan
kenyamanan dan keamanan pengunjung serta staf museum.
Selanjutnya, Satuan Pelaksana Pelayanan Museum Bahari
dikoordinatori oleh Ade Alamando H., S.S. Satpel ini merupakan garda terdepan
dalam pelayanan publik museum, khususnya dalam kegiatan penerimaan pengunjung,
pemanduan (guiding), serta pengelolaan aktivitas kunjungan museum. Satpel ini
memiliki peran strategis dalam menciptakan pengalaman kunjungan yang
informatif, komunikatif, dan profesional bagi pengunjung.
Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta juga menaungi
satuan pelaksana pelayanan di lokasi museum dan situs sejarah lainnya, yaitu
Satuan Pelaksana Pelayanan Museum Arkeologi Onrust yang dikoordinatori oleh
Devi Sihotang, S.Ant. dan Teuku Muhammad Rizki Ramadhan, S.Ant. sebagai
Pelaksana Harian (Plh.), serta Satuan Pelaksana Pelayanan Rumah Si Pitung yang
dikoordinatori oleh Nurul Iman, S.Hum. Selain koordinator, satuan pelaksana
tersebut juga didukung oleh staf pelaksana, antara lain Arfian Achmad Furqoni,
A.Md., Basuki Janpan Saragih, A.Md., dan Ahmad Taufik, A.Md., yang membantu
pelaksanaan tugas teknis pelayanan di lapangan.
Struktur organisasi Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta
yang tersusun secara jelas dan terkoordinasi ini memungkinkan setiap bagian
menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal. Dalam kegiatan magang,
mahasiswa berinteraksi langsung dengan beberapa unsur dalam struktur organisasi
tersebut, sehingga memperoleh pemahaman nyata mengenai alur kerja, pembagian
tugas, serta pentingnya koordinasi antarbagian dalam menunjang kualitas
pelayanan publik di Museum Bahari Jakarta
4.2
Deskripsi Kegiatan Magang
Setiap hari Selasa hingga Sabtu penulis mengerjakan tugas
harian yaitu membuat konten promosi dan
juga konten dari dokumentasi acara-acara yang dilakukan, maupun konten edukatif
yang ada di museum Bahari Jakarta. Kegiatan utama penulis adalah membuat konten
promosi, baik berupa foto, video, maupun teks berbahasa Inggris yang digunakan
untuk media sosial Museum. Dalam prosesnya, penulis terlibat dalam berbagai
tahap pembuatan konten, mulai dari perencanaan, pengambilan gambar atau video,
hingga penyuntingan konten untuk diunggah ke platform media sosial museum,
seperti Instagram.
4.2.1
Kegiatan Menerjemahkan
Salah
satu kegiatan utama yang dilakukan penulis selama pelaksanaan magang di Museum
Bahari Jakarta adalah kegiatan penerjemahan translation. Kegiatan ini
meliputi penerjemahan buku panduan guide book museum serta teks pameran
dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Penerjemahan dilakukan untuk
mendukung kebutuhan informasi bagi pengunjung mancanegara serta meningkatkan
kualitas pelayanan publik museum yang bersifat inklusif dan informatif.
Dalam proses penerjemahan, penulis bertugas mengalihkan isi
teks yang berisi informasi sejarah, koleksi, dan narasi kemaritiman ke dalam
bahasa Inggris dengan memperhatikan ketepatan makna, kejelasan informasi, serta
keterbacaan bagi pembaca asing. Penerjemahan tidak dilakukan secara harfiah,
melainkan disesuaikan dengan konteks budaya dan karakter pengunjung museum agar
pesan yang disampaikan tetap mudah dipahami tanpa menghilangkan makna asli dari
teks sumber.
Tidak hanya melakukan penerjemahan, penulis juga bertugas
melakukan penyuntingan (editing) terhadap beberapa teks bahasa Inggris
yang telah tersedia di museum. Penyuntingan ini meliputi perbaikan kesalahan
penulisan (typo), tata bahasa (grammar), serta pemilihan kosakata
yang kurang tepat. Perbaikan dilakukan pada papan informasi, teks pameran,
maupun materi panduan berbahasa Inggris yang digunakan dalam kegiatan pelayanan
museum. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas tampilan informasi
museum serta menghindari kesalahpahaman bagi pengunjung internasional.
4.2.2 Kegiatan Pemanduan (Guiding)
Penulis juga beberapa kali terlibat dalam kegiatan pemanduan
(guiding) di Museum Bahari Jakarta. Kegiatan pemanduan merupakan salah
satu bentuk pelayanan publik yang berperan penting dalam menyampaikan informasi
sejarah dan kemaritiman Indonesia kepada pengunjung secara langsung.
Dalam kegiatan guiding, penulis bertugas membantu
menjelaskan berbagai koleksi dan ruang pamer yang terdapat di Museum Bahari,
seperti sejarah pelayaran Nusantara, jenis-jenis kapal tradisional Indonesia,
peran laut dalam perdagangan dan pertahanan, serta perkembangan kebaharian
Indonesia dari masa ke masa. Penjelasan disampaikan secara lisan dengan bahasa
yang komunikatif, jelas, dan disesuaikan dengan karakteristik pengunjung.
Penulis melakukan pemanduan kepada berbagai jenis
pengunjung, baik pengunjung individu, rombongan, maupun wisatawan asing. Oleh
karena itu, penulis dituntut untuk mampu menyesuaikan gaya komunikasi, pilihan
kosakata, serta tingkat kedalaman informasi yang disampaikan. Dalam beberapa
kesempatan, penulis menggunakan bahasa Inggris untuk menjelaskan koleksi museum
kepada pengunjung asing, sehingga keterampilan berbahasa Inggris yang diperoleh
selama perkuliahan dapat diaplikasikan secara langsung.
Kegiatan pemanduan menuntut kemampuan komunikasi
interpersonal dan public speaking yang baik. Penulis berupaya menjaga
sikap ramah, sopan, serta menunjukkan antusiasme selama menjelaskan materi
museum. Selain itu, penulis juga memperhatikan respons pengunjung, seperti
ekspresi dan pertanyaan yang diajukan, sebagai bentuk umpan balik untuk
menyesuaikan penyampaian informasi agar lebih mudah dipahami.
4.2.3 Kegiatan Mengoperasikan Bioskop Museum
Selain itu penulis juga melaksanakan kegiatan magang sebagai
operator bioskop museum di Museum Bahari Jakarta. Bioskop museum merupakan
salah satu fasilitas pendukung edukasi yang berfungsi sebagai media
audio-visual untuk menyampaikan informasi sejarah dan kemaritiman kepada
pengunjung. Peran operator bioskop museum sangat penting dalam mendukung
kelancaran penyampaian informasi serta kenyamanan pengunjung selama mengikuti
pemutaran film.
Dalam kegiatan ini, penulis bertanggung jawab dalam
mengoperasikan perangkat pemutaran film, seperti sistem proyektor, komputer,
serta perangkat audio yang digunakan di ruang bioskop museum. Sebelum pemutaran
film dimulai, penulis melakukan pengecekan teknis terhadap peralatan guna
memastikan bahwa gambar dan suara dapat ditampilkan dengan baik. Hal ini
dilakukan untuk menghindari gangguan teknis yang dapat mengurangi kenyamanan
dan pemahaman pengunjung terhadap materi yang disajikan.
Selain mengoperasikan peralatan, penulis juga mengatur
jadwal pemutaran film sesuai dengan alur kunjungan pengunjung dan arahan dari
pihak museum. Penulis berkoordinasi dengan petugas pelayanan museum dan pemandu
untuk menyesuaikan waktu pemutaran film dengan jumlah serta karakteristik
pengunjung, baik pengunjung umum, rombongan sekolah, maupun wisatawan asing.
Koordinasi ini penting agar kegiatan pemutaran film dapat berjalan secara
tertib dan efektif.
4.3 Pembahasan Hasil Kegiatan Magang
Kegiatan pembuatan konten
harian merupakan salah satu bentuk implementasi komunikasi digital yang
strategis dalam pelayanan museum modern. Melalui konten promosi dan edukatif
yang diunggah ke media sosial. Dalam kegiatan ini, penulis menerapkan keterampilan
bahasa Inggris dalam bentuk komunikasi tertulis yang ringkas, jelas. Penulisan
teks konten menuntut ketepatan pemilihan kosakata serta kemampuan
menyederhanakan informasi sejarah yang kompleks agar mudah dipahami oleh
audiens media sosial.
Sub bab ini membahas
secara meyeluruh hasil kegiatan magang yang telah penulis laksanakan selama
berada di Museum Bahari. Pembahasan difokuskan pada bentuk kegiatan, proses
pelaksanaan, serta konstribusi penulis dalam setiap tugas yang diberikan.
Uaraian pada bagian ini juga menunjukan ketertarikan anatar teori yang
diperoleh dibangku perkuliahan dengan praktik kerja yang dilakukan di lapangan.
4.3.1
Pembuatan Konten Harian
Kegiatan pembuatan konten harian merupakan
salah satu bentuk implementasi komunikasi digital yang strategis dalam
pelayanan museum modern. Melalui konten promosi dan edukatif yang diunggah ke
media sosial. Dalam kegiatan ini, penulis menerapkan keterampilan bahasa
Inggris dalam bentuk komunikasi tertulis yang ringkas, jelas. Penulisan teks
konten menuntut ketepatan pemilihan kosakata serta kemampuan menyederhanakan
informasi sejarah yang kompleks agar mudah dipahami oleh audiens media sosial.
Selain aspek kebahasaan, penulis juga belajar mengenai
perencanaan pesan dan visualisasi informasi. Pemilihan foto dan video yang
relevan dengan teks membantu memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Dengan
demikian, hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa komunikasi digital di museum
tidak hanya
Dalam pembuatan konten
media sosial, penulis menerapkan prinsip komunikasi digital sebagaimana
dikemukakan oleh Kotler dan Keller (2016), yaitu bahwa media digital berfungsi
sebagai sarana penyampaian informasi sekaligus pembentukan citra institusi.
Konten yang dihasilkan bersifat edukatif dan promosi, menggunakan bahasa
Inggris yang ringkas dan komunikatif untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Gambar
4.3.1 konten harian edukatif
4.3.2 Kegiatan
Penerjemahan
Kegiatan penerjemahan yang
dilakukan penulis memiliki peran penting dalam mendukung pelayanan publik
museum yang inklusif dan ramah bagi pengunjung internasional. Penerjemahan
guide book dan teks pameran memungkinkan pengunjung asing memperoleh akses
informasi yang setara dengan pengunjung lokal, sehingga fungsi edukatif museum
dapat tercapai secara optimal. Dalam praktiknya, penulis menerapkan pendekatan
penerjemahan komunikatif dengan memperhatikan kesepadanan makna, konteks
budaya, serta tingkat keterbacaan teks. Informasi sejarah dan kebaharian yang
kompleks disajikan dalam bahasa Inggris yang sederhana namun tetap akurat. Hal
ini menunjukkan bahwa penerjemahan di museum tidak hanya bersifat linguistik,
tetapi juga komunikatif dan edukatif. Selain penerjemahan, kegiatan
penyuntingan teks bahasa Inggris yang telah tersedia di museum menunjukkan
pentingnya ketelitian dalam penggunaan bahasa sebagai bagian dari pelayanan
publik. Kesalahan tata bahasa, ejaan, atau pemilihan kosakata dapat memengaruhi
pemahaman pengunjung dan citra profesional museum.
Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa keterampilan
penerjemahan dan penyuntingan bahasa memiliki dampak langsung terhadap kualitas
pelayanan museum. Informasi yang disajikan menjadi lebih jelas, konsisten, dan
mudah dipahami, sehingga pengunjung asing dapat menikmati pengalaman kunjungan
yang lebih bermakna
Dapat dibuktikan bahwa teori penerjemahan yang digunakan
tidak hanya bersifat konseptual, tetapi benar-benar diterapkan dalam praktik.
Penulis tidak menggunakan penerjemahan harafiah secara kaku, melainkan
menerapkan teknik komunikatif, idiomatis, dan parafrase sebagaimana dijelaskan
oleh Molina dan Albir (dalam Tambunsaribu, 2022) serta Laeson (dalam Galingging
& Tambunsaribu, 2021). Hal ini tampak dari pemilihan kosakata yang alami,
penyederhanaan struktur kalimat, serta penyesuaian makna agar dapat dipahami
oleh pembaca bahasa Inggris. Dengan demikian, kegiatan penerjemahan selama
magang telah mencerminkan penerapan teori secara nyata dan kontekstual.
|
No. |
Teks
Sumber (Indonesia) |
Teks
Sasaran (Inggris) |
Korelasi
dengan Teori |
|
1. |
Seekor
burung merasakan duka yang sama akibat kebakaran Museum Bahari. |
A
bird shares in the collective sorrow following the Maritime Museum fire. |
Menggunakan
frasa “collective sorrow” sebagai padanan alami → sesuai teknik
idiomatis (Laeson dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021) dan strategi
komunikatif (Molina & Albir dalam Tambunsaribu, 2022). |
|
2. |
Bahan
yang ia bawa jadi percuma karena sarangnya telah habis terbakar api. |
The
nesting materials it had gathered were rendered useless when its home was
consumed by flames. |
Kalimat
tidak diterjemahkan literal, tetapi disesuaikan agar terdengar alami → teknik
idiomatis & komunikatif. |
|
3. |
Museum
memiliki kewajiban untuk melindungi koleksi... |
Museums
have the fundamental obligation to protect collections... |
Struktur
disederhanakan dan istilah dipilih agar mudah dipahami pembaca asing → sesuai
Molina & Albir (2022). |
|
4. |
kebakaran
merupakan api yang tidak terarah |
fire—an
uncontrolled flame |
Tidak
literal, tapi makna dipertahankan → Catford (dalam Tambunsaribu, 2016). |
|
5. |
Potret
kejadian kebakaran direkam untuk menjadi pengingat |
This
photographic record has been preserved to serve as a memorial |
Kalimat
dipadatkan dan diperjelas agar alami → Molina & Albir (2022). |
|
6. |
kompas
menjadi referensi cadangan |
the
compass served as a backup reference |
Menjaga
makna inti tetapi tetap natural → Newmark dalam Galingging & Tambunsaribu
(2021). |
|
7. |
binnacle
berasal dari bahasa latin habitaculum |
comes
from the Latin “habitaculum” |
Istilah
dipertahankan, dijelaskan secara komunikatif. |
Tabel
4.3.2 Hasil kegiatan penerjemahan
4.3.3 Kegiatan Pemanduan (Guiding)
Kegiatan pemanduan (guiding) memberikan kesempatan bagi
penulis untuk menerapkan secara langsung teori komunikasi interpersonal dan
public speaking dalam konteks pelayanan publik. Interaksi langsung dengan
pengunjung menuntut kemampuan menyampaikan informasi secara verbal dengan
bahasa yang jelas, runtut, dan menarik, serta kemampuan membaca respons audiens
sebagai bentuk umpan balik.
Dalam praktik pemanduan, penulis menerapkan prinsip
komunikasi interpersonal, seperti keterbukaan, empati, sikap positif, dan
kesetaraan. Prinsip tersebut membantu menciptakan suasana interaksi yang nyaman
dan kondusif, sehingga pengunjung lebih mudah memahami informasi yang
disampaikan. Penyesuaian gaya bahasa dan tingkat kedalaman materi dilakukan
berdasarkan karakteristik pengunjung, baik pengunjung individu, rombongan,
maupun wisatawan asing.
Dalam kegiatan pemanduan,
penulis menerapkan prinsip komunikasi interpersonal dari DeVito (2013), seperti
empati, keterbukaan, dan sikap positif, serta keterampilan public speaking dari
Lucas (2019) melalui penyampaian informasi yang runtut, jelas, dan menarik. Hal ini terlihat dari interaksi langsung dengan
pengunjung dan respons yang diberikan
Gambar 4.3.3 Kegiatan Pemandua
4.3.4 Kegiatan
Mengoperasikan Bioskop Museum
Tugas sebagai operator bioskop museum memperlihatkan bahwa
pelayanan publik di museum tidak hanya berkaitan dengan komunikasi verbal,
tetapi juga dengan dukungan teknis dan koordinasi yang baik. Pemutaran film
edukatif menjadi salah satu sarana penting dalam menyampaikan informasi sejarah
dan kebaharian kepada pengunjung secara audio-visual.
Dalam menjalankan tugas ini, penulis bertanggung jawab atas
kesiapan teknis perangkat pemutaran film, sekaligus berkoordinasi dengan
petugas museum dan pemandu untuk menyesuaikan jadwal pemutaran dengan alur
kunjungan. Kemampuan komunikasi yang jelas dan efektif sangat diperlukan agar
kegiatan pemutaran film dapat berjalan tertib dan sesuai dengan kebutuhan
pengunjung.
![]() |
Gambar 4.3.4 Operator Bioskop Museum
V. Kesimpulan dan
Saran
Program magang yang dilaksanakan di Museum Bahari Jakarta
memberikan pengalaman berharga dalam mengaplikasikan kemampuan berbahasa
Inggris untuk mendukung promosi pariwisata, kegiatan magang ini memberikan
pengalaman belajar yang komprehensif bagi penulis dalam mengaplikasikan
keterampilan bahasa dan komunikasi dalam konteks pelayanan publik. Program
magang tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kewajiban akademik, tetapi juga
sebagai sarana pembelajaran nyata yang mempertemukan teori yang diperoleh di
bangku perkuliahan dengan praktik kerja profesional.
Selama pelaksanaan magang, penulis terlibat dalam berbagai
kegiatan utama, yaitu pembuatan konten digital, penerjemahan, pemanduan (guiding),
serta bertugas sebagai operator bioskop museum. Keempat kegiatan tersebut
menunjukkan bahwa keterampilan bahasa Inggris dan komunikasi memiliki peran
penting dalam menunjang kualitas pelayanan publik di lingkungan museum.
Penggunaan bahasa Inggris secara tepat dan komunikatif memungkinkan Museum
Bahari memberikan pelayanan yang inklusif bagi pengunjung mancanegara serta
memperluas jangkauan informasi kepada publik internasional.
Kegiatan penerjemahan guide book dan teks pameran
menunjukkan bahwa penerapan teori penerjemahan, khususnya pendekatan
komunikatif, sangat relevan dalam konteks museum. Penerjemahan yang tidak
bersifat harfiah, melainkan memperhatikan konteks budaya dan keterbacaan,
membantu pengunjung asing memahami informasi sejarah dan kemaritiman Indonesia
secara lebih mudah dan akurat. Selain itu, kegiatan penyuntingan teks bahasa
Inggris turut berkontribusi dalam meningkatkan profesionalitas penyajian
informasi museum.
Dalam kegiatan pemanduan, penulis menerapkan teori
komunikasi interpersonal dan public speaking secara langsung. Prinsip
keterbukaan, empati, sikap positif, dan kesetaraan sebagaimana dikemukakan oleh
DeVito terbukti mendukung terciptanya interaksi yang efektif antara pemandu dan
pengunjung. Kemampuan berbicara di depan umum juga membantu penulis
menyampaikan informasi secara runtut, jelas, dan menarik, sehingga pengalaman
kunjungan pengunjung menjadi lebih bermakna.
Sementara itu, tugas sebagai operator bioskop museum
menunjukkan bahwa pelayanan publik di museum tidak hanya bergantung pada
komunikasi verbal, tetapi juga pada dukungan teknis dan koordinasi yang baik.
Pemutaran film edukatif sebagai media audio-visual menjadi sarana penting dalam
menyampaikan informasi sejarah dan kebaharian, serta melengkapi pengalaman
belajar pengunjung. Secara keseluruhan, kegiatan magang di Museum Bahari
Jakarta memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan hard skills dan
soft skills penulis, seperti kemampuan bahasa Inggris, keterampilan komunikasi
profesional, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja sama dalam
lingkungan institusi publik. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi penulis
dalam menghadapi dunia kerja, khususnya di bidang bahasa, komunikasi, dan
pelayanan publik berbasis kebudayaan.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil kegiatan magang dan refleksi terhadap
pelaksanaan program, penulis menyampaikan beberapa saran yang diharapkan dapat
memberikan kontribusi positif dan berkelanjutan bagi berbagai pihak.
5.2.1 Saran kepada
Museum Bahari Jakarta
Museum Bahari Jakarta disarankan untuk terus meningkatkan
kualitas pelayanan publik, khususnya dalam aspek komunikasi multibahasa.
Penyediaan informasi berbahasa Inggris yang konsisten, akurat, dan
terstandarisasi pada seluruh media—baik teks pameran, (guide book),
maupun konten digital akan sangat membantu pengunjung mancanegara dalam
memahami sejarah dan nilai kebaharian Indonesia.
Selain itu, museum dapat mempertimbangkan pengembangan
program pelatihan bahasa dan komunikasi bagi staf dan pemandu, sehingga
kualitas pelayanan dapat terjaga secara merata. Penguatan strategi komunikasi
digital, seperti perencanaan konten yang lebih terstruktur dan berkelanjutan,
juga dapat meningkatkan visibilitas Museum Bahari Jakarta sebagai destinasi
edukasi dan wisata budaya.
Museum juga disarankan untuk terus membuka ruang kolaborasi
dengan mahasiswa magang, khususnya dalam bidang penerjemahan dan pembuatan
konten edukatif, karena kontribusi mahasiswa dapat menjadi sumber inovasi
sekaligus mendukung kebutuhan institusi.
5.2.2 Saran Kepada
Program Studi Sastra Inggris
Program Studi Sastra Inggris diharapkan dapat terus
memperkuat keterkaitan antara teori dan praktik melalui kegiatan magang.
Pembekalan yang lebih mendalam terkait penerjemahan kontekstual, komunikasi
publik, dan komunikasi lintas budaya akan sangat membantu mahasiswa dalam
menghadapi tantangan di lapangan. Selain itu, program studi dapat memperluas
kerja sama dengan institusi budaya, museum, dan lembaga pelayanan publik
lainnya agar mahasiswa memiliki lebih banyak pilihan tempat magang yang relevan
dengan bidang keilmuan. Evaluasi dan pendampingan selama proses magang juga
dapat ditingkatkan agar pengalaman mahasiswa lebih terarah dan optimal.
5.2.3 Saran Kepada Mahasiswa Peserta Magang
Mahasiswa yang akan melaksanakan magang di Museum Bahari
Jakarta disarankan untuk mempersiapkan diri tidak hanya dari segi kemampuan
akademik, tetapi juga dari segi sikap profesional. Penguasaan dasar bahasa
Inggris, kemampuan komunikasi interpersonal, serta kesiapan untuk bekerja dalam
tim sangat diperlukan agar mahasiswa dapat beradaptasi dengan baik di
lingkungan museum.
Mahasiswa juga diharapkan bersikap aktif, memiliki
inisiatif, dan terbuka terhadap berbagai tugas yang diberikan, karena setiap
kegiatan magang merupakan kesempatan belajar yang berharga. Dengan sikap yang
positif dan komitmen yang tinggi, mahasiswa dapat memperoleh manfaat maksimal
dari program magang sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi institusi tempat
magang.
Peserta magang sebaiknya juga berusaha memperluas jaringan
profesional dengan bersikap ramah dan menjalin hubungan baik dengan staf maupun
rekan magang lainnya. Dokumentasikan setiap pengalaman yang diperoleh, baik
dalam bentuk laporan, portofolio, atau catatan pribadi, agar dapat menjadi
referensi untuk pengembangan karier di masa depan. Terakhir, selalu terbuka
terhadap kritik dan saran, karena feedback dari mentor atau rekan kerja
merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan kemampuan dan memperbaiki
kelemahan. Dengan sikap yang aktif, disiplin, dan terus belajar, peserta magang
dapat memaksimalkan pengalaman ini untuk menjadi bekal dalam menghadapi dunia
kerja yang sebenarny
DAFTAR PUSTAKA
Center. (2023). Museum communication and digital engagement.
Jakarta: Cultural Heritage Center.
DeVito, J. A. (2013). The interpersonal communication book (13th
ed.). Boston, MA: Pearson Education.
Galingging, Y., & Tambunsaribu, G. (2021). Penerjemahan idiomatis
Peter Newmark dan Mildred Larson. Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra dan
Budaya, 8(1), 56–70.
Keller, K. L. (2016). Strategic brand management: Building,
measuring, and managing brand equity (4th ed.). Harlow: Pearson Education.
Lucas, S. E. (2019). The art of public speaking (13th ed.). New
York, NY: McGraw-Hill Education.
Tambunsaribu, G. (2016). Ketepatan terjemahan kolokasi bahasa Inggris ke
dalam bahasa Indonesia menggunakan Google Translate. Jurnal Dialektika, 7.
Tambunsaribu, G.
(2022). Analisis Kesalahan Penulisan Kalimat dalam Skripsi dan Laporan Magang. Jurnal
Ideas, 8(2), 447-454.
Tambunsaribu, G. (2022). Teknik penerjemahan kalimat bahasa Inggris
berbasis 16 tenses. Penerbit Deepublish.
Tambunsaribu, G. (2023). Proses penerjemahan buku psikologi dari Bahasa
Inggris ke Bahasa Indonesia. In Seminar Nasional Linguistik dan Sastra
(SEMNALISA III) 2023: Dinamika dan Tantangan Kajian Linguistik dan Sastra
(Vol. 1, pp. 45–53). Denpasar: Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa
Asing, Universitas Mahasaraswati.
Tambunsaribu, G.
(2024). Dasar Pembentukan Kalimat Bahasa Inggris. Jakarta: UKI Press.
Tambunsaribu, G.
(2025). English Grammar Keindahan Struktur Kalimat Bahasa Inggris.
Jakarta: UKI Press.


Komentar