PENGEMBANGAN KOMPETENSI LINGUISTIK DAN PEMAHAMAN BUDAYA MAHASISWA

MELALUI KEGIATAN PEMANDUAN EDUKATIF

DI MUSEUM LEMBAGA ALKITAB INDONESIA

 

 

 

Disusun oleh:

Zachie Purba

2221150024

 

 

 

PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS

FAKULTAS SASTRA DAN BAHASA

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

JAKARTA

2026

 

 

 

 

HALAMAN PERSETUJUAN

 

Naskah laporan magang oleh mahasiswa:

Nama   : Zachie Purba

NIM    : 2221150024

Judul    : Pengembangan Kompetensi Linguistik dan Pemahaman Budaya Mahasiswa Melalui Kegiatan Pemanduan Edukatif Museum Lembaga Alkitab Indonesia

Laporan magang telah diperiksa dan dikoreksi dengan baik. Oleh karena itu, pembimbing menyetujui mahasiswa tersebut untuk diuji.

 

 

 

 

                                                                         Jakarta, 14 Januari 2026

                                                                         Pembimbing Materi,

 

 

 

Gunawan Tambunsaribu, S.S., M.Sas.

NIP. 141167.


HALAMAN PENGESAHAN

PENGEMBANGAN KOMPETENSI LINGUISTIK DAN BUDAYA MELALUI KEGIATAN PEMANDUAN EDUKATIF DI MUSEUM LEMBAGA ALKITAB INDONESIA

Disusun oleh:

Zachie Purba

2221150024

 

Disetujui dan Disahkan sebagai

Laporan Magang

 

Pembimbing Materi                                                    Pembimbing Teknis

 

 

Gunawan Tambunsaribu,S.S.,                                 Lisbeth Sirait, S.S., M.Li

NIP. 141167.                                                               NIP. 101778

 

Mengetahui

Ketua Program Studi Sastra Inggris

 

 

Mike Wijaya Saragih, S.S.,M.Hum.

NIP. 121861

 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan kasih karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Magang ini dengan baik. Laporan ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik atas pelaksanaan program magang.Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1.      Susanne A. H. Sitohang, S.S., M.A., selaku Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia.

2.      Jannes Freddy Pardede, S.S., M.Hum., selaku Wakil Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia.

3.      Mike Wijaya Saragih, S.S., M.Hum., selaku Kepala Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia.

4.      Gunawan Tambunsaribu, S.S., M.Sas., selaku dosen pembimbing magang yang telah membimbing dan memberikan arahan selama penulisan laporan ini.

5.      Lisbeth Sirait, S.S., M.Li., selaku dosen teknis magang yang telah memberikan bimbingan teknis.

6.      Bapak Albert Tambunan, selaku mentor selama kegiatan magang di Museum Lembaga Alkitab Indonesia.

7.      Keluarga tercinta, yang senantiasa memberikan doa, dukungan, dan semangat kepada penulis selama proses magang dan penyusunan laporan.

8.      Teman-teman penulis yang telah memberikan dukungan, kebersamaan, dan semangat selama masa magang.

                                                                                              Jakarta,14 Januari 2025

 

 

 

 

 

Zachie Purba

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN.. iii

HALAMAN PENGESAHAN.. iv

KATA PENGANTAR.. v

DAFTAR ISI vi

DAFTAR GAMBAR.. viii

BAB I  PENDAHULUAN.. 1

1.1. Latar Belakang. 1

1.2 Tujuan dan Manfaat 2

1.2.1 Tujuan. 2

1.2.2 Manfaat Bagi Mahasiswa. 3

1.2.3 Manfaat Magang bagi Museum Lembaga Alkitab Indonesia. 3

1.3 Sistematika Laporan. 4

BAB II  TINJAUAN PUSTAKA.. 6

2.1 Komunikasi dalam Pemanduan Pengunjung Museum.. 6

2.2 Teori Pemanduan Museum.. 7

2.3 Kompetensi Linguistik dalam Pemanduan Museum.. 8

2.4 Pemahaman Budaya dalam Pemanduan Museum.. 10

2.5 Strategi Pemanduan Museum.. 12

2.5.1 Persiapan. 13

2.5.2 Pelaksanaan. 13

2.5.3 Evaluasi dan Refleksi 14

BAB III  METODE PELAKSANAAN.. 15

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang. 15

3.2 Prosedur Pelaksanaan. 16

3.2.1 Persiapan. 16

3.2.2 Pelaksanaan. 17

3.2.3 Pelaporan. 17

BAB IV  HASIL DAN PEMBAHASAN.. 19

4.1 Profil Lokasi Magang. 19

4.1.1 Sejarah Museum Alkitab Indonesia. 20

4.1.2 Struktur Organisasi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) 21

4.2 Deskripsi Kegiatan Magang. 25

4.3 Pembahasan Hasil Magang. 28

4.3.1 Proses Pemanduan di Museum Lembaga Alkitab Indonesia. 30

4.3.1.1 Tahap Observasi 30

4.3.1.2 Tahap Perencanaan. 32

4.3.1.3 Tahap Pelaksanaan. 33

4.3.1.3.1 Pemanduan untuk Sekolah Internasional 34

4.3.1.3.2 Pemanduan untuk Sekolah Lokal 36

4.3.1.3.3 Pemanduan untuk Kelompok Gereja. 39

4.3.1.3.4 Pemanduan untuk Pengunjung Asing. 41

BAB V  KESIMPULAN.. 44

5.1. Kesimpulan. 44

5.2 Saran kepada Fakultas. 45

5.3 Saran kepada Lembaga Alkitab Indonesia. 46

DAFTAR PUSTAKA.. 48

LAMPIRAN.. 50

1.     Surat keterangan telah menyelesaikan proses magang/sertifikat. 50

2.     Daftar Hadir Magang 51

3.     Dokumentasi Kegiatan Magang. 54

4.     Lembar Evaluasi Magang dari Mentor 56

 

 

 

 


 

DAFTAR GAMBAR

 

Gambar 3. 1 Lembaga Alkitab Indonesia. 13

 

Gambar 4. 1 Struktur Organisasi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) 20

Gambar 4. 2 Penulis saat melakukan observasi koleksi di Museum LAI 28

Gambar 4. 3 Penulis saat memandu siswa sekolah internasional 32

Gambar 4. 4 Penulis saat memandu siswa sekolah local 34

Gambar 4. 5 Penulis saat memandu kelompok gereja. 36

Gambar 4. 6 Penulis saat memandu pengunjung asing. 37


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Praktik kerja lapangan atau internship merupakan salah satu komponen pendidikan yang bertujuan untuk menghubungkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik nyata di dunia kerja. Program ini memungkinkan mahasiswa untuk memahami dinamika profesional sekaligus mengembangkan keterampilan yang relevan dengan bidang studi masing-masing. Sebagaimana dikemukakan oleh Mustari (2021), magang adalah bentuk pelatihan sistematis yang dirancang untuk membekali individu dengan pengalaman dan keterampilan yang diperlukan di dunia kerja. Hal ini sejalan dengan pandangan Saputra dan Jalinus (2020), yang menekankan bahwa magang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan pengetahuan secara praktis, sekaligus mengasah kompetensi teknis dan sikap profesional. Dengan demikian, magang menjadi sarana strategis dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.

Dalam konteks pendidikan Sastra Inggris, kemampuan linguistik dan pemahaman lintas budaya menjadi kompetensi utama yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk dalam kegiatan pemanduan museum. Celce-Murcia (2017) menekankan bahwa kemampuan berbahasa tidak hanya berkaitan dengan penguasaan tata bahasa, tetapi juga kemampuan menggunakan bahasa secara tepat sesuai dengan konteks sosial dan budaya. Museum sebagai lembaga edukatif memiliki peran penting dalam menyampaikan nilai sejarah, sosial, dan budaya kepada masyarakat melalui pengalaman belajar yang bermakna (Falk & Dierking, 2016). Oleh karena itu, pemanduan museum tidak hanya menuntut kemampuan menjelaskan informasi secara jelas, tetapi juga keterampilan berkomunikasi dengan pengunjung yang memiliki latar belakang budaya yang beragam.

Museum Lembaga Alkitab Indonesia sebagai tempat magang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan kompetensi bahasa dan budaya dalam kegiatan pemanduan edukatif. Mahasiswa tidak hanya menyampaikan informasi mengenai koleksi museum, tetapi juga menyesuaikan cara penyampaian sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pengunjung, baik pengunjung lokal maupun asing. Aktivitas ini menuntut keterampilan komunikasi yang efektif, pemahaman konteks budaya, serta kemampuan beradaptasi terhadap berbagai jenis audiens.

Oleh karena itu, kegiatan magang di Museum Lembaga Alkitab Indonesia menjadi sarana pembelajaran yang menyeluruh bagi mahasiswa Sastra Inggris dalam meningkatkan kemampuan linguistik dan pemahaman budaya secara langsung. Dalam aspek kompetensi linguistik bahasa Inggris, sejumlah mahasiswa masih mengalami kendala dalam pengucapan kosakata secara lancar (Tambunsaribu, 2023). Kesulitan ini salah satunya disebabkan oleh karakteristik pelafalan bahasa Inggris yang khas dan berbeda secara signifikan dari bahasa Indonesia (Tambunsaribu, 2019; Tambunsaribu, 2022). Di samping itu, pembelajaran struktur atau tata bahasa Inggris juga kerap menjadi tantangan bagi mahasiswa (Galingging & Tambunsaribu, 2021; Tambunsaribu, 2025). Studi yang dilakukan oleh Galingging dan Tambunsaribu menunjukkan bahwa tingkat kesulitan materi bahasa Inggris yang dihadapi mahasiswa berturut-turut adalah Grammar (66%), Speaking (22%), Listening (7%), Writing (4%), dan Reading (1%).

Program magang ini memungkinkan mahasiswa menerapkan pengetahuan akademik dalam situasi kerja profesional, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang menuntut keterampilan komunikasi dan pemahaman lintas budaya. Berdasarkan uraian tersebut, fokus pembahasan dalam laporan magang ini mencakup penerapan kemampuan bahasa dalam kegiatan pemanduan museum, penyesuaian penyampaian informasi kepada pengunjung dengan latar belakang lokal maupun asing, serta manfaat kegiatan pemanduan museum terhadap pengembangan kompetensi linguistik dan budaya mahasiswa.

1.2 Tujuan dan Manfaat

1.2.1 Tujuan

Kegiatan magang ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mencapai beberapa capaian pembelajaran dan pengembangan keterampilan, yang dirumuskan sebagai berikut:

1.      Memperoleh pemahaman langsung mengenai peran pemandu museum serta cara mengelola interaksi dengan berbagai jenis pengunjung.

2.      Melatih keterampilan komunikasi, pemahaman lintas budaya, dan kemampuan menyampaikan informasi edukatif kepada audiens yang beragam.

3.      Memperluas jaringan profesional melalui interaksi dengan staf museum, mentor, dan pengunjung.

4.      Mengembangkan soft skills seperti kerja sama tim, manajemen waktu, dan sikap profesional dalam lingkungan kerja nyata.

5.      Menyusun laporan magang secara sistematis sebagai bentuk dokumentasi pengalaman sekaligus bahan pengembangan akademik.

1.2.2 Manfaat Bagi Mahasiswa

Setelah mengikuti kegiatan magang di Museum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), mahasiswa diharapkan dapat:

1.      Memahami secara langsung peran dan tanggung jawab pemandu museum dalam menyampaikan informasi edukatif kepada pengunjung

2.      Mengembangkan kemampuan komunikasi dan kompetensi linguistik, khususnya dalam penggunaan bahasa Inggris yang jelas, sederhana, dan sesuai dengan karakteristik pengunjung.

3.      Meningkatkan pemahaman lintas budaya melalui interaksi dengan pengunjung dari latar belakang sosial, budaya, dan bahasa yang beragam.

4.      Melatih soft skills seperti kerja sama tim, kedisiplinan, manajemen waktu, dan sikap profesional dalam lingkungan kerja nyata.

5.      Menerapkan pengetahuan teoritis yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam praktik pemanduan museum serta menyusunnya dalam bentuk laporan magang secara sistematis.

1.2.3 Manfaat Magang bagi Museum Lembaga Alkitab Indonesia

Pelaksanaan kegiatan magang ini memberikan berbagai manfaat bagi Museum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), yang dapat dijabarkan sebagai berikut:

1.      Mendapatkan dukungan tenaga magang yang memiliki keterampilan komunikasi dan pemanduan, sehingga dapat membantu kegiatan edukatif serta pelayanan kepada pengunjung.

2.      Memperoleh perspektif baru dan ide-ide kreatif dari mahasiswa yang dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pemanduan dan pengalaman pengunjung.

3.      Memperkuat hubungan kerja sama antara Museum Lembaga Alkitab Indonesia dengan institusi pendidikan, khususnya Universitas Kristen Indonesia, dalam rangka pengembangan akademik dan praktis.

4.      Meningkatkan efektivitas penyampaian informasi serta memperlancar kegiatan pemanduan, baik untuk pengunjung lokal maupun asing, sehingga museum dapat menjalankan perannya secara lebih optimal.

1.3 Sistematika Laporan

Laporan ini disusun dalam lima bab yang terstruktur secara sistematis agar memudahkan pembaca dalam memahami isi laporan, sebagai berikut:

1.      BAB I: Pendahuluan

Bab ini memuat latar belakang pelaksanaan magang, rumusan masalah, tujuan, manfaat magang bagi mahasiswa maupun Museum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), serta sistematika penulisan laporan..

2.      BAB II: Tinjaun Pustaka

Bab ini membahas teori-teori yang menjadi landasan pelaksanaan magang, seperti teori komunikasi, teori pemanduan museum, serta kompetensi linguistik dan budaya. Teori-teori tersebut digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan magang.

3.      BAB III: Metode Pelaksanaan

Bab ini menjelaskan metode dan prosedur pelaksanaan magang, yang mencakup lokasi dan durasi magang, deskripsi tugas dan tanggung jawab, serta teknik pemanduan yang digunakan dalam menyampaikan informasi edukatif kepada pengunjung, baik lokal maupun asing.

4.      BAB IV: Hasil dan Pembahasan

Bab ini menyajikan hasil kegiatan magang, yang meliputi profil Museum Lembaga Alkitab Indonesia, uraian pelaksanaan tugas pemanduan, serta pembahasan mengenai pencapaian, kendala, dan solusi yang ditemukan. Analisis difokuskan pada penerapan kompetensi mahasiswa dalam kegiatan pemanduan museum.

5.      BAB V: Penutup

Bab ini berisi kesimpulan dari keseluruhan proses magang serta saran atau rekomendasi untuk pengembangan program magang maupun peningkatan kualitas pemanduan di Museum Lembaga Alkitab Indonesia. Selain itu, bagian akhir laporan juga dilengkapi dengan daftar pustaka dan lampiran-lampiran, seperti surat keterangan magang, daftar hadir, dokumentasi kegiatan, dan hasil evaluasi dari pembimbing.

 

 


 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Komunikasi dalam Pemanduan Pengunjung Museum

Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari seseorang atau kelompok kepada pihak lain melalui saluran tertentu dengan tujuan mencapai pemahaman yang sama. Dalam konteks pemanduan museum, komunikasi menjadi unsur utama karena pemandu berperan sebagai perantara antara koleksi museum dan pengunjung. Informasi yang terdapat pada koleksi tidak akan bermakna secara maksimal apabila tidak disampaikan dengan cara yang jelas dan mudah dipahami oleh pengunjung. Oleh karena itu, kemampuan komunikasi yang baik sangat dibutuhkan dalam kegiatan pemanduan museum. Komunikasi dipahami sebagai proses penyampaian pesan dari pemandu kepada pengunjung dengan tujuan menciptakan pemahaman yang sama. Littlejohn dan Foss (2011) menjelaskan bahwa komunikasi tidak hanya berkaitan dengan pesan yang disampaikan, tetapi juga melibatkan pengirim pesan, saluran komunikasi, audiens, serta dampak yang dihasilkan dari proses tersebut. Dalam konteks pemanduan museum, pemandu perlu memperhatikan karakter pengunjung, cara penyampaian informasi, serta respons yang muncul selama proses pemanduan berlangsung.

Selain itu, proses komunikasi tidak selalu berjalan tanpa hambatan. West dan Turner (2018) menyatakan bahwa gangguan komunikasi (noise) dapat muncul dalam berbagai bentuk, baik gangguan fisik, psikologis, maupun linguistik, yang berpotensi menghambat pemahaman audiens terhadap pesan. Dalam pemanduan museum, gangguan tersebut dapat berupa kondisi ruang pamer yang ramai, perbedaan bahasa antara pemandu dan pengunjung, atau ketidakjelasan pengucapan. Oleh karena itu, pemandu dituntut untuk menyesuaikan strategi komunikasi, seperti memperlambat tempo bicara, mengulang informasi penting, atau menggunakan bahasa yang lebih sederhana agar pesan tetap dapat dipahami dengan baik. Selanjutnya, keberhasilan komunikasi juga dipengaruhi oleh pengelolaan unsur-unsur komunikasi secara menyeluruh. Verderber, Verderber, dan Sellnow (2016) menekankan bahwa komunikasi yang efektif bergantung pada kejelasan pesan, kemampuan komunikator, pemilihan media yang tepat, serta pemahaman terhadap audiens. Dalam pemanduan museum, pemandu berperan sebagai sumber pesan yang harus mampu menyampaikan informasi secara jelas, terstruktur, dan sesuai dengan kebutuhan pengunjung. Dengan demikian, komunikasi dalam pemanduan museum tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga pada upaya memastikan bahwa pengunjung memahami makna dan nilai dari koleksi yang dipamerkan.

2.2 Teori Pemanduan Museum

Pemanduan museum merupakan bagian dari kegiatan interpretasi, yaitu usaha untuk memberi makna pada koleksi museum agar dapat dipahami dan diapresiasi oleh pengunjung. Pemanduan tidak hanya bertujuan menyampaikan fakta sejarah, tetapi juga membantu pengunjung memahami konteks sosial, budaya, dan nilai yang terkandung dalam koleksi tersebut. Oleh karena itu, pemanduan museum memerlukan pendekatan yang terencana dan komunikatif.

Menurut Black (2016) menyatakan bahwa pemanduan yang efektif tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengaitkan koleksi dengan pengalaman dan pengetahuan pengunjung. Pendekatan ini membuat proses belajar di museum menjadi lebih relevan dan mudah dipahami. Selain itu, Simon (2016) menekankan bahwa pemanduan museum sebaiknya bersifat interaktif dan melibatkan pengunjung secara aktif. Penyampaian informasi yang disusun dalam satu alur cerita yang jelas membantu pengunjung melihat keterkaitan antar koleksi, sehingga informasi tidak diterima secara terpisah-pisah. Dengan demikian, pemanduan museum dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menarik bagi pengunjung.

Pada kegiatan pemanduan di Museum Lembaga Alkitab Indonesia, pemanduan dapat disusun berdasarkan tema perjalanan sejarah Alkitab, mulai dari perkembangan tulisan, proses penerjemahan, hingga perannya dalam kehidupan masyarakat. Penyampaian yang bersifat tematik membantu pengunjung memahami hubungan antar koleksi serta makna keseluruhan dari pameran yang disajikan. Black (2016) menjelaskan bahwa pemanduan museum tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi, tetapi juga sebagai pengalaman yang bersifat menarik dan menyenangkan bagi pengunjung. Pengunjung museum tidak hanya datang untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga untuk menikmati pengalaman belajar yang interaktif. Oleh karena itu, pemandu perlu menggunakan cara penyampaian yang menarik, seperti mengajukan pertanyaan, memberikan contoh sederhana, serta melibatkan pengunjung secara aktif. Dengan demikian, pemanduan museum dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan.

2.3 Kompetensi Linguistik dalam Pemanduan Museum

Kemampuan linguistik merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa secara tepat dan efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Dalam konteks pemanduan museum, kemampuan linguistik menjadi fondasi utama karena pemandu bertugas menyampaikan informasi, menjelaskan koleksi, serta berinteraksi langsung dengan pengunjung dari berbagai latar belakang. Brown (2014) menjelaskan bahwa kemampuan linguistik tidak hanya mencakup penguasaan struktur bahasa, tetapi juga kemampuan menggunakan bahasa secara fungsional sesuai dengan tujuan komunikasi dan konteks penggunaannya. Hal ini menunjukkan bahwa pemandu museum perlu memiliki kemampuan berbahasa yang tidak hanya benar secara tata bahasa, tetapi juga tepat secara situasional.

Pandangan tersebut sejalan dengan Celce-Murcia (2017) yang menekankan bahwa kompetensi berbahasa mencakup kemampuan menyesuaikan penggunaan bahasa dengan konteks sosial, audiens, dan tujuan komunikasi. Dalam pemanduan museum, kemampuan ini terlihat ketika pemandu menyesuaikan bahasa dengan karakter pengunjung, seperti menggunakan bahasa yang lebih sederhana untuk siswa sekolah, bahasa yang lebih formal untuk pengunjung dewasa, serta bahasa Inggris yang jelas dan terstruktur untuk pengunjung asing. Penyesuaian bahasa ini penting agar informasi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik dan proses komunikasi berjalan secara efektif.

Canale dan Swain (1980) mengembangkan konsep kompetensi komunikatif dengan membaginya ke dalam empat aspek utama, yaitu kompetensi gramatikal, kompetensi sosiolinguistik, kompetensi diskursus, dan kompetensi strategis. Kompetensi gramatikal berkaitan dengan penguasaan kosakata dan struktur kalimat yang benar. Dalam pemanduan museum, kompetensi ini diperlukan agar pemandu dapat menyampaikan informasi sejarah dan budaya secara tepat, misalnya dalam penggunaan istilah sejarah, penyebutan nama tokoh, periode waktu, serta penjelasan proses penerjemahan Alkitab, sehingga tidak menimbulkan kesalahan pemahaman bagi pengunjung.

Kompetensi diskursus merujuk pada kemampuan pemandu dalam menyusun dan menyampaikan informasi secara runtut serta saling berkaitan. Brown (2007) menjelaskan bahwa wacana yang tersusun dengan baik membantu pendengar memahami pesan secara menyeluruh, bukan secara terpisah-pisah. Dalam konteks pemanduan museum, pemandu perlu menyampaikan informasi secara sistematis, misalnya dengan menjelaskan latar belakang koleksi, proses sejarah, hingga makna koleksi tersebut secara berurutan. Penyampaian yang terstruktur membantu pengunjung mengikuti alur penjelasan dan memahami isi pemanduan dengan lebih jelas.

Kompetensi sosiolinguistik berkaitan dengan kemampuan pemandu dalam menyesuaikan penggunaan bahasa dengan situasi sosial dan latar belakang pengunjung (Wisnumurti & Puji, 2018). Perbedaan usia, tingkat pendidikan, budaya, dan latar keagamaan menuntut pemandu untuk memilih kata, gaya bahasa, dan cara penyampaian yang sesuai. Penyesuaian ini penting agar informasi dapat diterima dengan baik tanpa menimbulkan kesalahpahaman.

Kompetensi strategis berkaitan dengan kemampuan pemandu dalam mengatasi hambatan komunikasi selama proses pemanduan (Jumail & Hulfa, 2022). Hambatan tersebut dapat muncul ketika pengunjung tidak memahami istilah tertentu, mengalami perbedaan bahasa, atau kehilangan fokus. Untuk mengatasinya, pemandu dapat menggunakan strategi seperti pengulangan informasi, penyederhanaan kalimat, penggunaan sinonim, atau pemberian contoh tambahan agar pesan tetap tersampaikan secara efektif.

Dalam penerapan bahasa Inggris, sejumlah studi mengungkapkan bahwa unsur linguistik kerap menjadi hambatan bagi para pembelajar. Menurut Tambunsaribu (2023), banyak mahasiswa belum mampu mengucapkan kosakata bahasa Inggris dengan lancar. Kondisi ini dipengaruhi oleh perbedaan sistem fonologi antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, sehingga pelafalan bahasa Inggris cenderung tidak bersifat konsisten (Tambunsaribu, 2022). Selain aspek pengucapan, penguasaan struktur tata bahasa (grammar) juga dianggap sebagai komponen yang paling menantang bagi pembelajar bahasa Inggris. Hasil penelitian Galingging dan Tambunsaribu (2021) mengindikasikan bahwa grammar memiliki tingkat kesulitan tertinggi dibandingkan keterampilan berbicara, menyimak, menulis, dan membaca.

Kesulitan-kesulitan linguistik tersebut menjadi relevan dalam konteks pemanduan museum, terutama ketika pemandu harus menjelaskan informasi sejarah dan budaya kepada pengunjung asing atau pengunjung dengan latar bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, pemandu museum dituntut tidak hanya memahami kaidah bahasa Inggris secara teori, tetapi juga mampu menggunakan bahasa Inggris secara sederhana, jelas, dan komunikatif. Kemampuan menyederhanakan kalimat, memilih kosakata yang umum, serta menyampaikan informasi dengan struktur yang runtut merupakan bagian penting dari kompetensi linguistik dalam pemanduan museum.

Celce-Murcia (2007) menegaskan bahwa keempat aspek kompetensi linguistik tersebut saling berkaitan dan digunakan secara bersamaan dalam komunikasi nyata. Dalam kegiatan pemanduan museum, pemandu tidak mungkin hanya menggunakan satu kompetensi saja, melainkan harus mengombinasikan seluruh aspek kemampuan linguistik agar komunikasi berjalan efektif. Oleh karena itu, kemampuan linguistik menjadi landasan utama dalam pelaksanaan kegiatan pemanduan selama program magang, karena membantu pemandu menyampaikan informasi secara jelas, mengurangi hambatan komunikasi, serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi pengunjung museum.

2.4 Pemahaman Budaya dalam Pemanduan Museum

Pemahaman budaya merupakan kemampuan untuk mengenali, memahami, dan menghargai perbedaan nilai, kebiasaan, cara berpikir, serta latar belakang sosial budaya individu atau kelompok. Dalam kegiatan pemanduan museum, pemahaman budaya menjadi aspek yang sangat penting karena pengunjung tidak hanya berasal dari latar usia dan pendidikan yang berbeda, tetapi juga dari latar budaya, bahasa, dan keyakinan yang beragam. Tanpa pemahaman budaya yang memadai, proses penyampaian informasi berpotensi menimbulkan kesalahpahaman atau ketidaknyamanan bagi pengunjung.

Deardorff (2015) menjelaskan bahwa kompetensi lintas budaya mencakup sikap keterbukaan, rasa hormat terhadap perbedaan, pengetahuan tentang budaya sendiri dan budaya lain, serta keterampilan berkomunikasi secara tepat dalam konteks multikultural. Dalam pemanduan museum, kompetensi ini tampak ketika pemandu mampu menjelaskan koleksi bukan hanya sebagai objek sejarah, tetapi juga sebagai hasil dari konteks sosial, budaya, dan sejarah tertentu.

Selain itu, Falk dan Dierking (2016) menekankan bahwa pengalaman pengunjung museum sangat dipengaruhi oleh latar budaya dan pengalaman pribadi mereka. Setiap pengunjung memiliki cara berbeda dalam menerima dan menafsirkan informasi. Ada pengunjung yang menyukai penjelasan detail dan naratif, sementara yang lain lebih tertarik pada penjelasan singkat yang didukung visual. Oleh karena itu, pemandu perlu menyesuaikan gaya komunikasi agar informasi dapat diterima secara efektif oleh berbagai tipe pengunjung.

Ting-Toomey dan Dorjee (2019) menyatakan bahwa perbedaan budaya juga memengaruhi gaya komunikasi, seperti cara bertanya, menanggapi penjelasan, serta tingkat kenyamanan dalam berinteraksi. Pemahaman terhadap perbedaan ini membantu pemandu museum untuk bersikap lebih peka, sopan, dan netral, terutama ketika menjelaskan koleksi yang memiliki nilai sejarah dan keagamaan. Dengan demikian, pemandu dapat menjaga suasana pemanduan tetap inklusif dan menghargai perbedaan.

Dalam praktik pemanduan di Museum Lembaga Alkitab Indonesia, pemahaman budaya membantu penulis menyesuaikan cara menjelaskan koleksi kepada berbagai kelompok pengunjung, seperti sekolah lokal, sekolah internasional, rombongan gereja, dan pengunjung asing. Penulis belajar menggunakan bahasa yang lebih netral, memilih istilah yang mudah dipahami, serta menghindari penjelasan yang berpotensi disalahartikan. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman budaya berperan penting dalam mendukung kelancaran komunikasi dan menciptakan pengalaman pemanduan yang nyaman dan bermakna.

Secara keseluruhan, pemahaman budaya menjadi pelengkap penting dari kemampuan linguistik dalam kegiatan pemanduan museum. Jika kemampuan linguistik berfokus pada cara penggunaan bahasa, maka pemahaman budaya membantu pemandu memahami alasan dan konteks penyesuaian bahasa tersebut. Kedua aspek ini saling melengkapi dan menjadi dasar utama dalam pengembangan kompetensi mahasiswa selama menjalani program magang di Museum Lembaga Alkitab Indonesia.

2.5 Strategi Pemanduan Museum

Strategi pemanduan museum merujuk pada cara atau pendekatan yang digunakan pemandu dalam menyampaikan informasi agar bersifat menarik, edukatif, dan mudah dipahami oleh pengunjung. Falk dan Dierking (2016) menjelaskan bahwa pengalaman pengunjung museum dapat ditingkatkan melalui strategi komunikasi seperti storytelling, sesi tanya jawab, demonstrasi koleksi, serta penggunaan media visual. Strategi ini membantu pemandu menyampaikan informasi secara komunikatif dan mendorong keterlibatan aktif pengunjung selama kegiatan pemanduan.

Berbeda dengan strategi, proses pemanduan museum mengacu pada tahapan pelaksanaan kegiatan pemanduan secara sistematis. Menurut Ambrose dan Paine (2018), kegiatan edukasi museum, termasuk pemanduan, umumnya terdiri atas tiga tahap utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan meliputi penguasaan materi, pemahaman karakteristik pengunjung, serta perencanaan alur penjelasan. Tahap pelaksanaan berfokus pada penyampaian informasi dan interaksi langsung antara pemandu dan pengunjung dengan menerapkan strategi pemanduan yang sesuai. Selanjutnya, tahap evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas pemanduan, baik melalui respons pengunjung, refleksi pemandu, maupun masukan dari pihak museum.

Dengan demikian, strategi pemanduan berfungsi sebagai pendekatan komunikasi yang digunakan selama proses pemanduan berlangsung, sedangkan proses pemanduan merupakan rangkaian tahapan kerja yang terstruktur. Keduanya saling berkaitan dan berperan penting dalam mendukung tercapainya tujuan edukatif museum. Dalam konteks Museum Lembaga Alkitab Indonesia, penerapan strategi yang tepat pada setiap tahap pemanduan membantu pemandu menyampaikan informasi secara efektif sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi pengunjung.

2.5.1 Persiapan

Tahap persiapan merupakan langkah awal bagi pemandu. Pada tahap ini, pemandu mempelajari koleksi museum secara menyeluruh serta menyusun materi pemanduan dengan runtut dan mudah dipahami. Selain itu, pemandu juga perlu berlatih terlebih dahulu sebelum memandu pengunjung secara langsung. Latihan ini bertujuan untuk melatih kelancaran penyampaian, menyesuaikan intonasi suara, serta memastikan penguasaan materi. Persiapan yang matang memungkinkan pemandu menyampaikan informasi secara sistematis, jelas, dan sesuai dengan kebutuhan pengunjung.

2.5.2 Pelaksanaan

Mengenai koleksi museum kepada Pengunjung Wisata Alkitab (PWA). Pada tahap awal, mahasiswa magang memandu secara langsung, namun tetap didampingi oleh mentor. Pendampingan ini bukan berarti mentor yang menjelaskan, melainkan mendampingi di sisi mahasiswa untuk mengamati jalannya pemanduan, memastikan alur penjelasan berjalan baik, dan memberi rasa percaya diri. Mahasiswa tetap menjadi pihak utama yang menyampaikan informasi mengenai sejarah, fungsi, dan makna koleksi kepada pengunjung. Pemandu juga menjawab pertanyaan pengunjung dan menerapkan metode interaktif seperti storytelling agar penjelasan lebih mudah dipahami. Gaya penyampaian disesuaikan dengan karakter pengunjung, baik lokal maupun asing, sehingga pengalaman belajar menjadi lebih bermakna.Tahap pelaksanaan adalah proses di mana pemandu menyampaikan informasi

2.5.3 Evaluasi dan Refleksi

Tahap evaluasi dan refleksi dilakukan setelah pemanduan selesai. Mentor memberikan masukan mengenai cara penyampaian informasi, sikap tubuh, serta pengelolaan interaksi dengan pengunjung. Masukan ini membantu mahasiswa mengetahui hal-hal yang sudah berjalan baik serta aspek yang masih perlu ditingkatkan. Sebagai pengalaman pertama, mahasiswa berhasil menjalankan pemanduan dengan baik, menyampaikan informasi secara jelas, serta menyesuaikan gaya komunikasi sesuai karakter pengunjung. Pendampingan dari mentor pada tahap awal memberikan rasa aman sekaligus landasan untuk peningkatan kualitas pemanduan. Setelah sesi ini, mahasiswa dinilai sudah cukup mampu sehingga dapat memandu secara mandiri pada kesempatan berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang

Program magang dilaksanakan selama kurang lebih tiga bulan, yaitu mulai tanggal 8 September hingga 30 November 2025. Kegiatan magang berlangsung setiap hari kerja, dari hari Senin hingga Sabtu, dengan jam operasional pukul 07.30 sampai 16.15. Rentang waktu dan jadwal kerja tersebut memberikan kesempatan yang cukup bagi mahasiswa untuk memahami alur kerja di lingkungan museum secara menyeluruh, sekaligus melaksanakan berbagai tugas yang diberikan secara optimal.

Program magang ini dilaksanakan di Museum Lembaga Alkitab Indonesia yang berlokasi di Jl. Salemba Raya No. 12, Jakarta Pusat 10430. Museum ini merupakan lembaga edukatif yang menyimpan berbagai koleksi rohani, sejarah, dan budaya Kristen, khususnya yang berkaitan dengan perjalanan penerjemahan dan penyebaran Alkitab di Indonesia. Selain itu, museum ini juga memiliki koleksi benda-benda yang berkaitan dengan konteks Alkitab, seperti replika artefak, media penulisan kuno, serta benda pendukung yang membantu pengunjung memahami latar sejarah dan budaya Alkitab.

Melalui kegiatan magang di museum ini, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam kegiatan pemanduan museum, termasuk memandu pengunjung dari berbagai latar belakang, baik pengunjung lokal maupun asing. Mahasiswa juga terlibat dalam menjelaskan informasi mengenai koleksi museum secara edukatif, menjawab pertanyaan pengunjung, serta menyesuaikan cara penyampaian informasi sesuai dengan karakter pengunjung. Kegiatan ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan kompetensi linguistik dan pemahaman lintas budaya yang telah diperoleh selama perkuliahan ke dalam situasi kerja yang nyata dan kontekstual.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 3. 1 Lembaga Alkitab Indonesia

3.2 Prosedur Pelaksanaan

Dalam pelaksanaan program magang, terdapat beberapa prosedur yang harus diikuti. Prosedur ini mencakup tahapan persiapan, pelaksanaan magang, dan pelaporan kegiatan. Setiap tahapan dirancang untuk memastikan penulis dapat menjalankan tugas dengan baik dan memenuhi target yang telah ditetapkan.

3.2.1 Persiapan

Tahapan persiapan merupakan langkah awal yang penting untuk memastikan kelancaran program magang. Penulis melakukan beberapa langkah persiapan berikut:

1.      Penulis diberikan waktu untuk memilih tempat magang yang sesuai, dengan durasi program selama tiga bulan.

2.      Penulis mendapatkan arahan dan bantuan dari Ibu Mike Wijayah Saragih, S.S., M.Hum., selaku Kepala Program Studi Sastra Inggris, terkait penempatan magang di Museum Lembaga Alkitab Indonesia.

3.      Penulis menyiapkan dokumen pendukung seperti CV, Portofolio dan Transkrip nilai.

4.      Penulis mengikuti pertemuan awal dengan pihak museum untuk memahami tugas, aturan kerja, dan jadwal kegiatan magang.

5.      Penulis mendapatkan penjelasan mengenai tanggung jawab sebagai pemandu museum, termasuk teknik pemanduan, cara berinteraksi dengan pengunjung, dan standar penyampaian informasi.

3.2.2 Pelaksanaan

Selama program magang, penulis menjalankan berbagai tugas sebagai pemandu museum sesuai arahan mentor. Tahapan pelaksanaan meliputi:

1.      Penulis hadir tepat waktu sesuai jam operasional museum dan mengikuti briefing rutin setiap hari.

2.      Pada awal pemanduan, penulis didampingi oleh mentor sekitar satu minggu untuk memahami alur penyampaian materi dan interaksi dengan pengunjung.

3.      Setelah empat sesi pendampingan, penulis melakukan pemanduan secara mandiri, menjelaskan koleksi museum kepada pengunjung lokal maupun asing.

4.      Mentor selalu memberikan masukan langsung setelah pemanduan terkait penyampaian materi, penggunaan bahasa, dan interaksi dengan pengunjung. Penulis mencatat setiap masukan untuk memperbaiki kinerja pemanduan berikutnya.

3.2.3 Pelaporan

Tahapan pelaporan merupakan langkah akhir dalam program magang. Penulis melaksanakan pelaporan dengan rincian sebagai berikut:

1.      Setiap selesai melakukan pemanduan, mentor memberikan umpan balik secara langsung mengenai kinerja pemanduan.

2.      Penulis mencatat masukan yang diberikan oleh mentor untuk evaluasi dan perbaikan pemanduan selanjutnya.

3.      Penulis menyusun laporan mingguan yang berisi rangkuman kegiatan pemanduan, pengalaman, dan refleksi diri atas kinerja selama satu minggu.

4.      Setelah program magang selesai, penulis menyusun laporan akhir melalui beberapa tahapan, yaitu mengumpulkan seluruh laporan mingguan, catatan evaluasi dari mentor, serta dokumentasi kegiatan pemanduan. Data tersebut kemudian disusun secara sistematis sesuai dengan pedoman penulisan laporan magang, mulai dari pendahuluan, deskripsi kegiatan, pembahasan, hingga penutup. Selanjutnya, penulis melakukan revisi berdasarkan arahan dosen pembimbing dan dosen teknis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Lokasi Magang

Museum Lembaga Alkitab Indonesia merupakan salah satu unit edukatif yang berada di bawah naungan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Museum ini didirikan sebagai sarana pembelajaran yang bertujuan untuk memperkenalkan sejarah Alkitab kepada masyarakat luas, khususnya terkait proses penulisan, penerjemahan, pencetakan, dan penyebaran Alkitab dari masa ke masa. Keberadaan museum ini tidak hanya menempatkan Alkitab sebagai teks keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan sejarah, budaya, dan perkembangan peradaban manusia. Melalui koleksi dan informasi yang disajikan, museum berupaya membantu pengunjung memahami bagaimana Alkitab hadir dan berkembang dalam berbagai konteks sosial dan budaya, termasuk di Indonesia yang memiliki keragaman bahasa dan latar belakang budaya. Oleh karena itu, Museum Lembaga Alkitab Indonesia berperan sebagai media edukatif yang menjembatani pemahaman keagamaan, sejarah, dan budaya secara kontekstual dan mudah dipahami oleh masyarakat (Lembaga Alkitab Indonesia, 2023).

Museum Lembaga Alkitab Indonesia menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan berbagai koleksi, seperti Alkitab kuno, hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah, manuskrip, replika benda-benda Alkitabiah, serta artefak yang berkaitan dengan sejarah kekristenan. Melalui koleksi tersebut, pengunjung dapat memahami bagaimana Alkitab diterjemahkan dan disebarkan dari generasi ke generasi. Selain sebagai tempat penyimpanan koleksi, museum ini juga berfungsi sebagai ruang edukasi publik. Kegiatan pemanduan, diskusi, dan kunjungan edukatif menjadi bagian penting dalam penyampaian informasi kepada pengunjung. Museum Lembaga Alkitab Indonesia menerima pengunjung dari berbagai kalangan, seperti sekolah lokal, sekolah internasional, rombongan gereja, mahasiswa, peneliti, serta tamu asing. Kondisi ini menjadikan museum sebagai ruang pembelajaran yang bersifat inklusif dan terbuka bagi siapa saja.

Dengan berlandaskan visi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), yaitu “Firman Allah Menjangkau Semua Generasi,” serta misi LAI untuk menerjemahkan, menerbitkan, dan menghadirkan Firman Allah dalam kemitraan dengan semua pihak, Museum Lembaga Alkitab Indonesia berperan sebagai jembatan antara firman Allah dan masyarakat. Museum ini tidak hanya menyimpan dan memamerkan koleksi Alkitab, tetapi juga menghadirkan proses sejarah dan makna Alkitab secara edukatif agar dapat dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat. Melalui pendekatan edukatif dan komunikatif, museum membantu pengunjung memahami nilai-nilai iman, sejarah, dan budaya yang terkandung dalam Alkitab, mulai dari proses penulisan, penerjemahan, hingga penyebarannya di Indonesia. Pendekatan ini sejalan dengan misi LAI yang menekankan kerja sama dan keterbukaan, karena museum melayani pengunjung dari berbagai latar belakang usia, pendidikan, budaya, dan kebangsaan. Oleh karena itu, Museum Lembaga Alkitab Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai tempat kunjungan, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mendorong dialog, pemahaman lintas budaya, serta peningkatan literasi iman di tengah masyarakat.

4.1.1 Sejarah Museum Alkitab Indonesia

Sejarah Museum Lembaga Alkitab Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dalam menerjemahkan dan menyebarkan Alkitab di Indonesia. Upaya penyebaran Alkitab di wilayah Nusantara telah dimulai sejak masa kolonial, ditandai dengan berdirinya The Java Auxiliary Bible Society (JABS) di Batavia pada tanggal 4 Juni 1814 sebagai cabang dari British and Foreign Bible Society (Lembaga Alkitab Inggris) di bawah kepemimpinan Thomas Stamford Raffles. Setelah pemerintahan Inggris digantikan oleh Belanda pada tahun 1816, lembaga ini berubah menjadi Nederlands Oost-Indisch Bijbelgenootschap atau Lembaga Alkitab Hindia Belanda. Hingga tahun 1937, kegiatan penerjemahan dan distribusi Alkitab di Indonesia masih dikelola oleh lembaga-lembaga Alkitab asing. Perubahan penting terjadi pada masa Perang Dunia II ketika pengelolaan keagenan Alkitab mulai dialihkan kepada orang Indonesia pada tahun 1940. Kesadaran akan pentingnya lembaga Alkitab nasional yang mandiri akhirnya terwujud dengan berdirinya Lembaga Alkitab Indonesia secara resmi pada tanggal 9 Februari 1954, yang kemudian menjadi dasar bagi pengembangan layanan edukatif, termasuk pendirian Museum Lembaga Alkitab Indonesia (Lembaga Alkitab Indonesia, 2023).

Seiring dengan perkembangan pelayanan LAI, muncul kebutuhan untuk mendokumentasikan dan memperkenalkan sejarah panjang penerjemahan dan penyebaran Alkitab kepada masyarakat luas. Kebutuhan inilah yang melatarbelakangi pendirian Museum Lembaga Alkitab Indonesia. Museum ini didirikan sebagai bagian dari upaya edukasi publik dan secara resmi dibuka pada tahun 2002 di Gedung Pusat Alkitab, Jl. Salemba Raya No. 12, Jakarta Pusat. Museum ini menyimpan berbagai koleksi Alkitab kuno, hasil terjemahan dalam berbagai bahasa, artefak sejarah, serta replika benda-benda yang berkaitan dengan dunia Alkitab. Hingga saat ini, Museum Lembaga Alkitab Indonesia berfungsi sebagai ruang edukatif yang memperkenalkan perjalanan panjang firman Tuhan dari masa ke masa, sekaligus sebagai sarana pembelajaran sejarah, budaya, dan iman. Melalui pameran dan kegiatan pemanduan, museum ini membantu masyarakat memahami peran Alkitab dalam perkembangan bahasa, literasi, dan kehidupan sosial budaya di Indonesia.

4.1.2 Struktur Organisasi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)

Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memiliki struktur organisasi yang tersusun secara sistematis agar seluruh kegiatan lembaga dapat berjalan dengan baik dan terkoordinasi. Struktur ini bertujuan untuk memastikan setiap departemen menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya secara efektif dalam mendukung visi dan misi LAI, yaitu menghadirkan Firman Tuhan dalam berbagai bahasa dan bentuk yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Berdasarkan Lampiran SK Pengurus LAI No. 011/KPTS/PENGURUS/2024 tertanggal 7 Mei 2024, struktur organisasi LAI terdiri atas tiga unsur utama, yaitu :

1.      Pembina berperan memberikan arahan dan kebijakan strategis lembaga.

2.      Pengawas bertugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program dan tata kelola organisasi.

3.      Pengurus menjalankan fungsi operasional lembaga, yang di dalamnya terdapat Ketua Umum, Sekretaris Umum, dan Bendahara Umum.

Sekretaris Umum dibantu oleh Deputi Sekretaris Umum dan membawahi bagian Sekretariat serta Legal yang menangani administrasi umum dan aspek hukum lembaga. Di bawah struktur pengurus, terdapat beberapa departemen utama yang memiliki tanggung jawab spesifik, yaitu:

1.      Satuan Kerja Internal Audit, yang bertugas melakukan pemeriksaan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan lembaga.

2.      Departemen Penerjemahan, yang menangani penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia serta mengelola unit pendukung seperti Perpustakaan dan Museum Alkitab Indonesia.

3.      Departemen Produksi dan Percetakan, yang mengatur proses produksi dan percetakan Alkitab.

4.      Departemen Penyebaran dan Pemasaran, yang berfokus pada distribusi dan promosi Alkitab.

5.      Departemen Komunikasi dan Kemitraan, yang menjalin kerja sama dengan berbagai mitra dan lembaga.

6.      Departemen Pengembangan dan Pelayanan Digital, yang mengembangkan inovasi digital pelayanan Alkitab.

7.      Departemen Perencanaan, SDM, dan Sistem, yang mengelola perencanaan strategis serta pengembangan sumber daya manusia.

8.      Departemen Umum dan Pengadaan, yang menangani kebutuhan operasional lembaga.

9.      Departemen Keuangan dan Akuntansi, yang bertanggung jawab dalam pengelolaan dan pelaporan keuangan lembaga.

Selain itu, LAI memiliki Perwakilan LAI di berbagai wilayah Indonesia yang berperan memperluas jangkauan pelayanan serta mempererat hubungan dengan masyarakat di daerah. Salah satu unit penting di bawah Departemen Penerjemahan adalah Perpustakaan dan Museum Lembaga Alkitab Indonesia. Unit ini berfungsi sebagai pusat edukasi dan pelestarian sejarah penerjemahan Alkitab di Indonesia. Melalui berbagai koleksi naskah kuno, alat cetak, serta dokumentasi penerjemahan dari masa ke masa, museum berperan memperkenalkan perjalanan panjang pelayanan LAI kepada publik.

Gambar 4. 1 Struktur Organisasi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)

Selama pelaksanaan program magang, penulis ditempatkan di Museum Lembaga Alkitab Indonesia sebagai pemandu museum (guide). Museum ini memiliki struktur kerja yang mendukung kegiatan edukatif dan pelayanan pengunjung, khususnya dalam kegiatan pemanduan di ruang pamer tetap maupun ruang pamer temporer. Setiap pihak yang terlibat memiliki peran yang saling melengkapi agar proses pemanduan dapat berjalan dengan baik dan terarah.

Selama kegiatan magang, penulis berada di bawah bimbingan dan arahan beberapa pembimbing museum dengan pembagian tugas sebagai berikut:

1.      Albert Tambunan (Kepala Museum Lembaga Alkitab Indonesia)

Albert Tambunan bertanggung jawab atas pengelolaan dan pengawasan seluruh kegiatan Museum Lembaga Alkitab Indonesia. Beliau memberikan arahan umum terkait pelaksanaan kegiatan magang, khususnya mengenai peran mahasiswa sebagai pemandu museum, etika pelayanan pengunjung, serta pentingnya penyampaian informasi yang edukatif dan netral. Arahan tersebut menjadi dasar bagi penulis dalam menjalankan tugas pemanduan secara profesional dan sesuai dengan visi dan misi museum.

2.      Helfia (Pembimbing Pemanduan Ruang Pamer Tetap)

Helfia berperan sebagai pembimbing penulis dalam kegiatan pemanduan di ruang pamer tetap. Ia membimbing penulis dalam memahami isi koleksi yang dipamerkan secara permanen, termasuk sejarah komunikasi dan penulisan, sejarah penerjemahan Alkitab di Eropa, penerjemahan Alkitab di Indonesia, serta penerjemahan dalam berbagai bahasa daerah. Selain itu, Helfia memberikan arahan mengenai cara menyusun penjelasan yang runtut, penggunaan bahasa yang jelas, serta penyesuaian gaya penyampaian sesuai dengan karakter pengunjung.

3.      Galuh Ajeng (Pembimbing Pemanduan Ruang Pamer Temporer)

Galuh Ajeng membimbing penulis dalam kegiatan pemanduan di ruang pamer temporer. Ruang ini menampilkan koleksi tematik seperti replika Kemah Suci, Bahtera Nuh, pakaian Imam Besar, dan alat musik Israel kuno. Galuh Ajeng memberikan arahan mengenai cara menjelaskan koleksi secara menarik dan kontekstual, serta mengaitkan koleksi dengan latar sejarah dan budaya. Melalui bimbingan ini, penulis belajar menyampaikan informasi secara lebih visual dan interaktif agar mudah dipahami oleh pengunjung.

4.      Costaria (Pembimbing Alur Pemanduan Museum)

Costaria berperan membimbing penulis dalam memahami dan menerapkan alur pemanduan museum secara keseluruhan, mulai dari ruang awal hingga ruang akhir pameran. Ia memberikan arahan mengenai pengaturan urutan penjelasan, manajemen waktu selama pemanduan, serta cara menghubungkan satu ruang dengan ruang lainnya secara logis. Bimbingan ini membantu penulis menjaga kesinambungan penjelasan dan memastikan pengunjung dapat mengikuti alur sejarah yang disajikan museum dengan baik.

Melalui bimbingan dari Kepala Museum dan para pembimbing pemanduan dengan pembagian tugas yang jelas tersebut, penulis memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai teknik pemanduan museum yang efektif. Pendampingan ini membantu penulis meningkatkan kemampuan komunikasi, penguasaan materi, serta kepekaan dalam menyesuaikan bahasa dan pendekatan sesuai dengan latar belakang pengunjung. Struktur pembimbingan yang terarah ini sangat mendukung pengembangan kompetensi linguistik dan budaya penulis selama menjalani program magang di Museum Lembaga Alkitab Indonesia.

4.2 Deskripsi Kegiatan Magang

Selama menjalani program magang di Museum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), mahasiswa memperoleh kesempatan untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan pemanduan museum serta pelayanan kepada pengunjung. Kegiatan magang ini memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa dalam menjelaskan koleksi museum, memperkenalkan sejarah Alkitab, serta berinteraksi dengan pengunjung yang memiliki latar belakang usia, pendidikan, dan budaya yang beragam, baik pengunjung lokal maupun pengunjung asing. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari materi koleksi, tetapi juga memahami pentingnya komunikasi yang jelas, ramah, dan edukatif dalam konteks pemanduan museum.

Kegiatan magang diawali dengan pengenalan lingkungan kerja museum dan penjelasan tugas oleh mentor. Pada tahap awal ini, mahasiswa diperkenalkan dengan tata tertib museum, alur pemanduan, serta etika dalam melayani pengunjung. Mahasiswa juga diberi kesempatan untuk mengamati secara langsung cara pemanduan yang dilakukan oleh staf museum. Melalui proses observasi tersebut, mahasiswa dapat memahami cara menyampaikan informasi, mengatur alur penjelasan, serta menyesuaikan bahasa dan sikap dengan karakter pengunjung yang berbeda-beda. Setelah tahap observasi, mahasiswa mulai mempersiapkan diri untuk terlibat aktif dalam kegiatan pemanduan. Persiapan dilakukan dengan mempelajari materi koleksi museum, memahami sejarah singkat setiap artefak, serta menguasai informasi utama yang perlu disampaikan kepada pengunjung. Selain itu, mahasiswa juga berlatih menyampaikan penjelasan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bentuk persiapan menghadapi pengunjung asing. Tahap ini membantu mahasiswa meningkatkan penguasaan materi sekaligus melatih kepercayaan diri dalam berbicara di depan umum. Setelah dinilai cukup siap, mahasiswa mulai terlibat langsung dalam kegiatan pemanduan museum. Pada tahap awal, pemanduan dilakukan dengan pendampingan dari mentor. Dalam proses ini, mentor tidak mengambil alih penjelasan, melainkan memberikan arahan dan evaluasi setelah sesi pemanduan selesai. Melalui pendampingan tersebut, mahasiswa memperoleh masukan terkait kejelasan penyampaian, penguasaan materi, serta cara berinteraksi dengan pengunjung. Setelah beberapa kali menjalani pemanduan dengan pendampingan, mahasiswa kemudian diberikan kepercayaan untuk melakukan pemanduan secara mandiri.

Dalam kegiatan pemanduan mandiri, mahasiswa bertugas menjelaskan sejarah dan makna koleksi museum, menjawab pertanyaan pengunjung, serta menyesuaikan gaya penyampaian sesuai dengan usia dan latar belakang pengunjung. Mahasiswa dituntut untuk menggunakan bahasa yang mudah dipahami, menyusun penjelasan secara runtut, dan menjaga sikap yang sopan serta komunikatif. Melalui proses ini, mahasiswa belajar untuk lebih peka terhadap kebutuhan pengunjung dan mengembangkan kemampuan komunikasi yang efektif dalam situasi nyata. Selain kegiatan pemanduan, mahasiswa juga membantu menyiapkan ruang pamer sebelum kunjungan dimulai, menjaga kerapian area museum, serta mendampingi pengunjung dalam mengisi buku tamu atau memberikan umpan balik setelah kunjungan. Kegiatan pendukung ini membantu mahasiswa memahami bahwa pemanduan museum tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga mencakup pelayanan dan kenyamanan pengunjung secara keseluruhan. Pada akhir setiap sesi pemanduan, mahasiswa menerima umpan balik dari mentor mengenai cara penyampaian informasi, penggunaan bahasa tubuh, serta kualitas interaksi dengan pengunjung. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi mahasiswa untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan pada sesi berikutnya. Setelah melalui proses latihan dan evaluasi secara berkelanjutan, mahasiswa dinilai mampu menjalankan kegiatan pemanduan secara mandiri dengan baik. Secara keseluruhan, kegiatan magang ini menjadi pengalaman yang berharga dalam mengembangkan keterampilan komunikasi, rasa tanggung jawab, serta kepekaan dalam menyampaikan informasi secara profesional kepada masyarakat.

Selama menjalani program magang di Museum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), mahasiswa berkesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan pemanduan museum dan pelayanan pengunjung. Kegiatan magang ini memberikan pengalaman praktis dalam menjelaskan koleksi museum, memperkenalkan sejarah Alkitab, serta berinteraksi dengan pengunjung dari berbagai latar belakang, baik lokal maupun asing. Mahasiswa juga belajar mengenai tata cara pemanduan yang efektif, etika dalam melayani pengunjung, serta pentingnya komunikasi yang jelas dan ramah dalam memberikan informasi edukatif. Kegiatan magang diawali dengan pengenalan lingkungan kerja museum dan penjelasan tugas oleh mentor. Pada tahap awal, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengamati cara pemanduan yang dilakukan oleh staf museum agar memahami alur kegiatan dan cara penyampaian informasi kepada pengunjung. Setelah itu, mahasiswa mulai mempersiapkan diri dengan mempelajari materi koleksi museum, memahami sejarah singkat setiap artefak, serta berlatih menyampaikan penjelasan baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Setelah dirasa siap, mahasiswa mulai terlibat langsung dalam kegiatan pemanduan. Pada awalnya, mahasiswa melakukan pemanduan dengan pendampingan dari mentor. Dalam proses ini, mentor tidak mengambil alih penjelasan, tetapi memberikan bimbingan dan evaluasi setelah sesi selesai. Setelah beberapa kali mendampingi, mahasiswa mulai diberi kepercayaan untuk memandu secara mandiri. Mahasiswa menjelaskan sejarah dan makna koleksi, menjawab pertanyaan pengunjung, serta menyesuaikan gaya penyampaian sesuai usia dan latar belakang pengunjung.

Selain memandu, mahasiswa juga membantu menyiapkan ruang pameran sebelum kunjungan dimulai, menjaga kerapian area museum, serta mendampingi pengunjung dalam mengisi buku tamu atau memberikan umpan balik setelah kunjungan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar untuk lebih percaya diri dalam berbicara di depan umum, berlatih menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dan mengembangkan kemampuan komunikasi antarbudaya. Pada akhir setiap sesi pemanduan, mahasiswa menerima umpan balik dari mentor mengenai cara penyampaian informasi, bahasa tubuh, dan interaksi dengan pengunjung. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan di sesi berikutnya. Setelah beberapa kali evaluasi dan latihan, mahasiswa dinilai mampu menjalankan pemanduan secara mandiri dengan baik. Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga yang membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan komunikasi, rasa tanggung jawab, serta kepekaan dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat secara profesional.

4.3 Pembahasan Hasil Magang

Program magang di Museum Lembaga Alkitab Indonesia memberikan pengalaman praktis yang bermakna bagi penulis dalam mengembangkan kompetensi linguistik dan pemahaman budaya melalui kegiatan pemanduan museum. Kegiatan pemanduan menjadi ruang utama bagi penulis untuk menerapkan empat kompetensi linguistik, yaitu kompetensi gramatikal, kompetensi wacana, kompetensi sosiolinguistik, dan kompetensi strategis, secara langsung dalam situasi komunikasi nyata. Selama magang, penulis berinteraksi dengan berbagai kelompok pengunjung, seperti siswa sekolah lokal, siswa sekolah internasional, rombongan gereja, pengunjung umum, serta pengunjung asing. Keberagaman latar belakang ini menuntut penulis untuk menyesuaikan bahasa dan cara penyampaian agar informasi museum dapat dipahami dengan baik.

Dalam praktik pemanduan, kompetensi gramatikal terlihat dari kemampuan penulis menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris secara tepat dan jelas. Misalnya, teks koleksi museum menggunakan kalimat bahasa Inggris yang cukup kompleks, seperti “The Bible translation process reflects linguistic adaptation and cultural negotiation.” Saat menjelaskan kepada pengunjung asing, penulis menyederhanakan penjelasan tersebut menjadi: “This shows how the Bible was translated into local languages so people could understand it better.” Penyederhanaan ini menunjukkan kemampuan penulis memilih kosakata dan struktur kalimat yang benar tanpa mengubah makna utama. Kompetensi linguistik pada contoh ini tercermin dari ketepatan tata bahasa dan pilihan kata, sedangkan pemahaman budaya terlihat dari upaya penulis menyesuaikan bahasa dengan tingkat pemahaman pengunjung.

Selanjutnya kompetensi wacana terlihat dari kemampuan penulis menyusun penjelasan secara runtut dan saling berhubungan sehingga pengunjung dapat memahami informasi secara menyeluruh. Dalam kegiatan pemanduan, penulis memulai penjelasan dari sejarah komunikasi dan perkembangan tulisan sebagai dasar, kemudian mengaitkannya dengan koleksi museum yang ditampilkan. Misalnya, penulis menjelaskan bahwa manusia pada awalnya berkomunikasi melalui simbol dan tulisan tangan, lalu menghubungkannya dengan koleksi manuskrip dengan mengatakan, “This manuscript shows how people communicated through writing before modern printing.” Penjelasan tersebut kemudian dilanjutkan dengan hubungan ke proses penerjemahan Alkitab, seperti “Because writing developed, the Bible could be translated and shared with many communities.” Kompetensi linguistik pada aspek wacana tercermin dari kemampuan penulis menghubungkan ide secara logis dan berkesinambungan, sehingga pengunjung dapat melihat keterkaitan antara sejarah komunikasi, perkembangan tulisan, dan koleksi museum.

Kemudian kompetensi sosiolinguistik tampak jelas ketika penulis menyesuaikan gaya bahasa dengan latar belakang pengunjung. Saat memandu siswa sekolah, penulis menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan komunikatif, yaitu dengan kalimat pendek, kosakata umum, dan struktur yang mudah dipahami. Contohnya, penulis menjelaskan koleksi dengan mengatakan, “This book is very old. People wrote it by hand before there were machines.” Kalimat ini bersifat sederhana karena menggunakan kosakata dasar (old, book, hand, people) dan komunikatif karena langsung menghubungkan informasi dengan pemahaman anak-anak. Sebaliknya, ketika memandu rombongan gereja atau pengunjung dewasa, penulis menggunakan bahasa yang lebih formal dan informatif, misalnya, “This manuscript dates back to the early period of Bible translation and was handwritten before the invention of the printing press.” Contoh tersebut bersifat formal karena menggunakan istilah akademik seperti dates back dan invention of the printing press, serta informatif karena memberikan konteks sejarah yang lebih lengkap. Variasi register bahasa ini menunjukkan penerapan kompetensi sosiolinguistik, sedangkan pemahaman budaya tercermin dari kemampuan penulis menyesuaikan cara bertutur dengan usia, latar belakang, dan suasana religius pengunjung.

Sementara itu, kompetensi strategis berkembang ketika penulis menghadapi hambatan komunikasi. Misalnya, ketika pengunjung asing tidak memahami istilah “manuscript”, penulis tidak sekadar mengulang istilah tersebut, melainkan menjelaskan maknanya dengan strategi parafrase dan contoh konkret. Penulis mengatakan, “A manuscript is an old book written by hand, before printing machines existed,” sambil menunjuk langsung pada koleksi yang dimaksud. Strategi ini membantu pengunjung memahami konsep tanpa merasa kesulitan atau malu karena tidak memahami istilah akademik. Kompetensi linguistik terlihat dari kemampuan penulis menggunakan penjelasan alternatif dengan bahasa yang lebih sederhana, sedangkan pemahaman budaya tercermin dari sikap sabar dan peka terhadap keterbatasan bahasa pengunjung.

Dengan demikian, kegiatan pemanduan selama magang tidak hanya berfungsi sebagai pelayanan kepada pengunjung, tetapi juga menjadi proses pembelajaran yang aktif bagi penulis. Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa kompetensi linguistik tercermin melalui penggunaan bahasa yang tepat, runtut, dan strategis, sedangkan pemahaman budaya tercermin melalui kemampuan penulis membaca situasi, menyesuaikan gaya komunikasi, dan menghargai latar belakang pengunjung. Secara keseluruhan, pengalaman magang ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk kemampuan komunikasi penulis yang adaptif, efektif, dan berwawasan budaya sebagai mahasiswa Sastra Inggris.

4.3.1 Proses Pemanduan di Museum Lembaga Alkitab Indonesia

4.3.1.1 Tahap Observasi

Tahap awal dalam proses pemanduan di Museum Lembaga Alkitab Indonesia adalah tahap observasi. Pada tahap ini, penulis tidak hanya mempelajari koleksi museum secara umum, tetapi juga mulai mempersiapkan diri sebagai pemandu dengan mengamati secara langsung materi dan cara penyampaian informasi yang akan digunakan dalam pemanduan edukatif. Dalam kegiatan observasi, penulis membaca panel informasi koleksi dan mencatat istilah-istilah penting yang sering muncul, seperti manuscript, Bible translation, dan local languages. Salah satu contoh yang penulis temukan adalah penjelasan pada panel koleksi yang menggunakan kalimat bahasa Inggris formal dan cukup panjang. Dari kegiatan ini, penulis mulai menyusun versi penjelasan yang lebih sederhana, misalnya dengan mengubah istilah manuscript menjadi “an old handwritten book”. Contoh ini menunjukkan pengembangan kompetensi linguistik, khususnya pada aspek gramatikal, karena penulis belajar memahami makna istilah dan menyusunnya kembali dalam kalimat yang lebih sederhana dan jelas. Selain itu, penulis juga mengamati alur penyajian informasi di setiap ruang pamer. Penulis memperhatikan bahwa penjelasan koleksi disusun secara kronologis, mulai dari sejarah awal penerjemahan Alkitab hingga penyebarannya ke berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan pengamatan tersebut, penulis mulai merancang alur penjelasan pemanduan dengan urutan yang sama, misalnya dengan membuka penjelasan menggunakan kalimat “First, I will explain the history of Bible translation”, lalu melanjutkannya ke koleksi berikutnya. Kegiatan ini menunjukkan pengembangan kompetensi wacana, karena penulis belajar menyusun penjelasan yang runtut dan mudah diikuti oleh pengunjung.

Dari sisi pemahaman budaya, tahap observasi membantu penulis memahami bahwa koleksi museum tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga berkaitan erat dengan keberagaman budaya masyarakat Indonesia. Penulis mempelajari bagaimana Alkitab diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa daerah dan bagaimana proses tersebut melibatkan latar budaya yang berbeda-beda. Pemahaman ini membuat penulis menyadari pentingnya menyampaikan informasi dengan sikap yang sensitif dan menghargai perbedaan budaya, terutama saat menghadapi pengunjung dari latar belakang agama dan budaya yang beragam.

Dengan demikian, tahap observasi tidak hanya berfungsi sebagai pengenalan materi museum, tetapi juga menjadi tahap awal pengembangan kompetensi linguistik dan pemahaman budaya penulis. Melalui contoh-contoh kegiatan observasi tersebut, penulis mulai membangun kemampuan berbahasa yang lebih jelas dan terstruktur, sekaligus mengembangkan kepekaan budaya sebagai bekal dalam kegiatan pemanduan edukatif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 4. 2 Penulis saat melakukan observasi koleksi di Museum LAI

4.3.1.2 Tahap Perencanaan

Tahap ini dilakukan setelah menyelesaikan tahap observasi, penulis memasuki tahap perencanaan sebelum melakukan pemanduan secara langsung. Pada tahap ini, penulis menyusun urutan penjelasan yang akan disampaikan kepada pengunjung, dimulai dari ruang pamer pertama hingga ruang pamer terakhir. Penyusunan alur ini bertujuan agar informasi yang diberikan tidak terkesan terpisah-pisah, melainkan membentuk satu narasi sejarah yang utuh dan mudah dipahami oleh pengunjung.

Selain menyusun alur penjelasan, penulis juga mempersiapkan berbagai perlengkapan yang diperlukan selama proses pemanduan, seperti pengeras suara (HT), laser penunjuk, serta materi pendukung lainnya yang tersedia di museum. Persiapan teknis ini penting untuk mendukung kejelasan penyampaian informasi, terutama ketika memandu rombongan besar atau pengunjung dengan jumlah banyak. Pada tahap perencanaan, penulis juga mulai mempertimbangkan karakteristik pengunjung yang akan dihadapi. Penulis menyesuaikan gaya bahasa, pilihan kosakata, dan tingkat kompleksitas penjelasan sesuai dengan kelompok pengunjung, seperti siswa sekolah, pengunjung dewasa, rombongan gereja, maupun pengunjung internasional. Penyesuaian ini dilakukan agar penjelasan yang diberikan tetap relevan dan dapat diterima dengan baik oleh setiap kelompok.

Dari sisi kompetensi linguistik, tahap perencanaan sangat berkaitan dengan discourse competence, yaitu kemampuan menyusun penjelasan yang terstruktur, runtut, dan koheren. Selain itu, tahap ini juga mengembangkan sociolinguistic competence, karena penulis belajar menyesuaikan bahasa dan gaya komunikasi dengan konteks sosial, usia, latar pendidikan, serta latar budaya pengunjung. Kedua kompetensi ini berperan penting dalam memastikan bahwa proses pemanduan dapat berlangsung secara efektif dan komunikatif.

4.3.1.3 Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan merupakan tahap inti dalam proses pemanduan dan menjadi sarana utama pengembangan kompetensi linguistik penulis selama magang. Pada tahap ini, penulis berinteraksi secara langsung dengan berbagai kelompok pengunjung yang memiliki perbedaan bahasa, budaya, tingkat pengetahuan, dan gaya komunikasi. Interaksi langsung ini menuntut penulis untuk menerapkan kemampuan berbahasa secara fleksibel dan kontekstual.

Dalam tahap pelaksanaan, penulis mengaplikasikan empat kompetensi linguistik, yaitu grammatical competence, discourse competence, sociolinguistic competence, dan strategic competence. Grammatical competence terlihat ketika penulis menggunakan struktur kalimat bahasa Inggris yang sederhana dan benar saat menjelaskan koleksi museum, misalnya dengan kalimat “This Bible was printed in the 19th century” agar mudah dipahami oleh pengunjung asing.

Discourse competence terlihat dari kemampuan penulis menyusun penjelasan secara runtut dan saling berhubungan selama pemanduan. Sebagai contoh, penulis memulai penjelasan dari sejarah komunikasi dan tulisan, kemudian mengaitkannya dengan koleksi manuskrip Alkitab, dan diakhiri dengan penjelasan mengenai pentingnya penerjemahan Alkitab bagi masyarakat. Dalam pemanduan, penulis menyampaikan penjelasan seperti, “In the past, people wrote texts by hand. This is called a manuscript. Because of this, copying the Bible took a long time.” Urutan penjelasan tersebut menunjukkan bahwa informasi disampaikan secara berkesinambungan, sehingga pengunjung dapat memahami hubungan antara latar sejarah, koleksi, dan makna budaya yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, discourse competence tercermin dari kemampuan penulis mengelola alur penjelasan agar tidak terputus dan mudah diikuti oleh pengunjung.

Sementara itu, strategic competence tampak ketika penulis menghadapi hambatan komunikasi selama pemanduan. Misalnya, ketika pengunjung asing tidak memahami istilah “manuscript”, penulis tidak hanya mengulang istilah tersebut, tetapi menjelaskan kembali dengan cara yang lebih sederhana, seperti “Manuscript means an old book written by hand, before printing machines.” Selain itu, penulis juga menunjuk langsung pada koleksi untuk memperkuat pemahaman pengunjung. Strategi ini menunjukkan kemampuan penulis menyesuaikan cara berkomunikasi agar pesan tetap tersampaikan dengan jelas meskipun terdapat perbedaan kemampuan bahasa atau pemahaman pengunjung.

Oleh karena itu, untuk menggambarkan penerapan kompetensi linguistik secara lebih konkret, pembahasan tahap pelaksanaan ini selanjutnya diuraikan berdasarkan jenis kelompok pengunjung, yang meliputi sekolah internasional, sekolah lokal, kelompok gereja, dan pengunjung asing (non-Indonesia).

4.3.1.3.1 Pemanduan untuk Sekolah Internasional

Dalam kegiatan pemanduan untuk sekolah internasional, penulis menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam menyampaikan informasi. Penggunaan bahasa Inggris ini menuntut penulis untuk menjelaskan koleksi dan sejarah museum secara jelas, sederhana, dan mudah dipahami oleh siswa yang berasal dari berbagai negara dan latar budaya. Oleh karena itu, penulis menyesuaikan pilihan kata, kecepatan berbicara, serta cara menjelaskan materi agar sesuai dengan tingkat pemahaman siswa.

Grammatical competence terlihat ketika penulis menggunakan kosakata dan struktur kalimat bahasa Inggris yang sederhana dan tepat. Misalnya, pada panel koleksi tertulis kalimat: “The translation of the Bible into local languages reflects cultural diversity in Indonesia.” Saat menjelaskan kepada siswa, penulis menyederhanakannya menjadi: “This shows that the Bible was translated into many local languages in Indonesia.” Penyederhanaan ini menunjukkan kemampuan penulis memilih struktur kalimat yang benar dan kosakata yang mudah dipahami tanpa mengubah makna utama. Kompetensi linguistik pada bagian ini tercermin dari ketepatan tata bahasa dan pilihan kata.

Discourse competence tampak dari kemampuan penulis menyusun penjelasan secara runtut dan terstruktur. Dalam satu sesi pemanduan, penulis memulai penjelasan dari sejarah komunikasi dan penulisan, kemudian berlanjut ke penerjemahan Alkitab di Eropa, dan diakhiri dengan proses penerjemahan di Indonesia. Penulis menggunakan penghubung sederhana seperti “First, we talk about the history of writing,” lalu “Next, we move to Bible translation in Europe,” dan “Finally, this is the translation in Indonesia.” Alur ini membantu siswa memahami hubungan antarbagian secara logis dan tidak terputus.

Sociolinguistic competence terlihat ketika penulis menyesuaikan gaya bahasa dengan latar belakang siswa sekolah internasional yang berasal dari budaya dan agama yang beragam. Penulis menggunakan bahasa yang netral dan informatif, serta menghindari istilah yang bersifat teologis atau doktrinal. Misalnya, penulis menjelaskan Alkitab sebagai “an important historical and cultural book” tanpa menekankan aspek keimanan tertentu. Penyesuaian ini menunjukkan pemahaman budaya penulis dalam menjaga kenyamanan siswa dari berbagai latar belakang.

Sementara itu, strategic competence muncul ketika penulis menghadapi perbedaan tingkat pemahaman siswa. Saat beberapa siswa tidak memahami istilah “manuscript,” penulis tidak hanya mengulang kata tersebut, tetapi menjelaskan ulang dengan strategi lain, seperti: “Manuscript means an old book written by hand, before printing machines.” Penulis juga menunjuk langsung pada koleksi untuk membantu visualisasi. Strategi ini menunjukkan kemampuan penulis mengatasi hambatan komunikasi secara efektif.

Melalui pemanduan untuk sekolah internasional, penulis tidak hanya melatih kemampuan berbahasa Inggris secara praktis, tetapi juga mengembangkan pemahaman budaya dalam komunikasi lintas budaya. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pemanduan bergantung pada kemampuan penulis menggabungkan kompetensi linguistik dan kepekaan budaya sesuai dengan karakter pengunjung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. 3 Penulis saat memandu siswa sekolah internasional

4.3.1.3.2 Pemanduan untuk Sekolah Lokal

Dalam pemanduan untuk sekolah lokal, penulis menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dengan kalimat yang sederhana dan mudah dipahami. Penggunaan bahasa yang lebih sederhana ini penting karena siswa sekolah lokal memiliki usia, latar pendidikan, dan tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Melalui kegiatan ini, penulis belajar menyesuaikan cara berbicara agar informasi dapat diterima dengan baik oleh seluruh siswa.

Penerapan kompetensi gramatikal terlihat ketika penulis menyederhanakan kosakata dan struktur kalimat saat menjelaskan koleksi museum kepada siswa sekolah lokal. Misalnya, ketika menjelaskan manuskrip Alkitab, penulis tidak langsung menggunakan istilah teknis, tetapi menyampaikan dengan kalimat sederhana seperti, “Buku ini ditulis tangan, karena dulu belum ada mesin cetak.” Kalimat tersebut menggunakan struktur yang jelas dan kosakata sehari-hari sehingga mudah dipahami oleh siswa. Hal ini menunjukkan kemampuan penulis menggunakan bahasa yang tepat dan benar sesuai dengan tingkat pemahaman pengunjung.

Selanjutnya, kompetensi wacana tampak dari kemampuan penulis menyusun penjelasan secara runtut dan berurutan. Penulis memulai pemanduan dengan menjelaskan sejarah penulisan Alkitab pada zaman dahulu, kemudian melanjutkan ke proses penerjemahan, dan diakhiri dengan penjelasan tentang Alkitab dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia. Urutan ini membantu siswa memahami hubungan antar informasi secara logis, sehingga penjelasan tidak terputus dan mudah diikuti dari awal hingga akhir.

Pengembangan kompetensi sosiolinguistik terlihat dari cara penulis menyesuaikan gaya bahasa dan cara berkomunikasi dengan karakter siswa sekolah lokal. Penulis menggunakan bahasa yang santai dan komunikatif, serta sesekali mengajukan pertanyaan sederhana seperti, “Siapa yang di rumahnya punya Alkitab?” atau “Menurut kalian, kenapa Alkitab perlu diterjemahkan ke bahasa daerah?” Penyesuaian ini menunjukkan pemahaman penulis terhadap situasi sosial dan usia pengunjung, sehingga tercipta suasana pemanduan yang akrab dan nyaman.

Sementara itu, kompetensi strategis diterapkan ketika penulis menghadapi hambatan komunikasi, seperti siswa yang terlihat kurang fokus atau tidak memahami penjelasan. Dalam kondisi tersebut, penulis mengulang penjelasan dengan kata-kata yang lebih sederhana, menunjuk langsung pada koleksi seperti replika Kemah Suci atau Bahtera Nuh, serta mengaitkan penjelasan dengan pengalaman siswa di sekolah. Strategi ini membantu memastikan bahwa informasi tetap dapat dipahami dengan baik oleh seluruh siswa.

Melalui kegiatan pemanduan untuk sekolah lokal, penulis juga memperoleh pemahaman budaya secara langsung. Penulis menyadari bahwa siswa sekolah lokal cenderung memahami koleksi museum dari sudut pandang pengalaman dan identitas mereka sebagai masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat ketika penulis menjelaskan penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa daerah dan

mengaitkannya dengan bahasa yang digunakan siswa di rumah atau di daerah asal mereka. Penjelasan tersebut menumbuhkan rasa kedekatan karena siswa merasa bahwa koleksi museum memiliki hubungan dengan kehidupan dan budaya mereka sendiri.

Di sisi lain, melalui pemanduan ini siswa memperoleh pemahaman tentang keberagaman bahasa dan budaya di Indonesia, serta menyadari bahwa proses penerjemahan Alkitab tidak terlepas dari konteks budaya masyarakat Nusantara. Dengan demikian, kegiatan pemanduan untuk sekolah lokal tidak hanya membantu penulis mengembangkan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi secara efektif, tetapi juga meningkatkan kepekaan budaya dalam menyampaikan informasi kepada audiens yang beragam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 4. 4 Penulis saat memandu siswa sekolah local

 

 

 

4.3.1.3.3 Pemanduan untuk Kelompok Gereja

Pada kegiatan pemanduan bagi kelompok gereja, penulis menerapkan pendekatan komunikasi yang lebih reflektif dan terarah dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Berbeda dengan pemanduan untuk sekolah, kelompok gereja umumnya datang dengan motivasi spiritual serta ketertarikan yang lebih mendalam terhadap sejarah Alkitab dan proses penerjemahannya. Oleh karena itu, penulis menyesuaikan gaya penyampaian dengan nada yang lebih tenang, pilihan kata yang lebih hati-hati, serta struktur penjelasan yang lebih mendalam agar sesuai dengan karakter dan ekspektasi pengunjung.

Grammatical competence terlihat dari ketelitian penulis dalam menggunakan kosakata dan istilah yang berkaitan dengan sejarah penerjemahan Alkitab. Penulis memastikan penggunaan istilah sejarah, nama tokoh, serta periode waktu disampaikan secara tepat dan konsisten. Sebagai contoh, saat menjelaskan koleksi Alkitab berbahasa Melayu, penulis menyebutkan: “Alkitab ini diterjemahkan oleh Melchior Leijdecker pada abad ke-18 dan menjadi salah satu dasar perkembangan penerjemahan Alkitab di Nusantara.” Penggunaan istilah, nama tokoh, dan keterangan waktu yang jelas menunjukkan penguasaan tata bahasa dan kosakata yang akurat, yang penting karena kelompok gereja umumnya memiliki pengetahuan awal tentang sejarah Alkitab.

Discourse competence tampak dari kemampuan penulis menyusun penjelasan secara runtut dan menjaga fokus pembahasan. Dalam pemanduan kelompok gereja, pengunjung sering mengajukan pertanyaan lanjutan yang bersifat reflektif atau teologis. Penulis mengelola alur penjelasan dengan mengaitkan pertanyaan tersebut kembali pada konteks sejarah dan koleksi museum. Sebagai contoh, ketika pengunjung bertanya tentang keaslian teks Alkitab, penulis menjawab dengan menghubungkannya pada koleksi naskah dan proses penyalinan yang dipamerkan, tanpa keluar dari konteks sejarah museum. Dengan demikian, alur pemanduan tetap sistematis dan tidak melebar ke arah pengajaran doktrinal.

Sociolinguistic competence terlihat dari kepekaan penulis dalam menyesuaikan penggunaan bahasa dengan norma sosial dan budaya kelompok gereja. Karena pengunjung berasal dari latar denominasi yang beragam, penulis menghindari istilah yang bersifat eksklusif atau menonjolkan pandangan teologis tertentu. Sebagai contoh, penulis menggunakan ungkapan netral seperti: “Dalam sejarah gereja, proses penerjemahan Alkitab dilakukan untuk membantu jemaat memahami firman Tuhan dalam bahasa yang mereka gunakan sehari-hari,” tanpa merujuk pada doktrin atau praktik denominasi tertentu. Penyesuaian ini menjaga suasana pemanduan tetap inklusif dan menghormati keberagaman pengunjung.

Strategic competence diterapkan ketika penulis menghadapi pertanyaan atau tanggapan yang melampaui konteks sejarah museum. Dalam situasi tersebut, penulis menggunakan strategi klarifikasi dan pengalihan fokus. Sebagai contoh, ketika pengunjung mengajukan pertanyaan teologis mendalam, penulis menanggapi dengan mengatakan bahwa museum berfokus pada aspek sejarah dan budaya penerjemahan Alkitab, lalu mengaitkan kembali jawaban dengan artefak yang sedang dijelaskan. Strategi ini membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pengunjung untuk refleksi dan tujuan pemanduan sebagai kegiatan edukatif.

Melalui pemanduan kelompok gereja, penulis memperoleh pemahaman budaya bahwa pengunjung gereja memandang museum sebagai ruang yang menghubungkan iman dengan sejarah. Hal ini terlihat dari respons pengunjung yang sering mengaitkan koleksi dengan pengalaman iman mereka. Di sisi lain, pengunjung juga memperoleh wawasan mengenai peran bahasa daerah dalam menjaga keberlangsungan iman dan identitas budaya masyarakat Kristen di berbagai wilayah Nusantara. Dengan demikian, pemanduan kelompok gereja tidak hanya mengembangkan kompetensi linguistik penulis secara menyeluruh, tetapi juga memperkuat kepekaan budaya dan kemampuan komunikasi kontekstual dalam situasi nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 4. 5 Penulis saat memandu kelompok gereja

4.3.1.3.4 Pemanduan untuk Pengunjung Asing

Pemanduan untuk pengunjung asing (non-Indonesia) mengharuskan penulis menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam menyampaikan informasi. Dalam kegiatan ini, penulis menyesuaikan cara berkomunikasi dengan latar belakang budaya, tingkat pengetahuan, dan tujuan kunjungan pengunjung. Sebagian besar pengunjung asing datang untuk mengenal budaya Indonesia, sehingga pemanduan tidak hanya membahas aspek keagamaan, tetapi juga menekankan nilai sejarah dan budaya yang tercermin dalam koleksi museum.

Penerapan grammatical competence terlihat ketika penulis menggunakan struktur kalimat bahasa Inggris yang sederhana, jelas, dan mudah dipahami. Penulis menghindari kalimat kompleks serta istilah akademik yang sulit. Sebagai contoh, teks koleksi museum menjelaskan: “The translation of the Bible into Malay played a crucial role in linguistic development during the colonial period.” Dalam pemanduan, penulis menyederhanakannya menjadi: “This Bible was translated into Malay so local people could understand it better.” Penyederhanaan ini menunjukkan kemampuan penulis memilih kosakata dan struktur kalimat yang tepat tanpa mengubah makna utama, sehingga informasi dapat diterima dengan baik oleh pengunjung asing.

Discourse competence tampak dari kemampuan penulis menyusun penjelasan secara runtut dan bertahap. Penulis memulai pemanduan dengan memberikan gambaran umum tentang sejarah Indonesia, kemudian mengaitkannya dengan proses penerjemahan Alkitab dan perkembangan bahasa. Sebagai contoh, penulis membuka penjelasan dengan: “First, I will explain a little about Indonesia’s history.” Kemudian dilanjutkan dengan: “After that, I will explain how the Bible was translated into Malay and local languages.” Urutan ini membantu pengunjung asing memahami hubungan antara sejarah kolonial, bahasa, dan budaya Indonesia secara logis dan tidak membingungkan.

Sociolinguistic competence terlihat ketika penulis menyesuaikan gaya berbicara dan pilihan bahasa dengan latar belakang budaya pengunjung asing. Penulis menggunakan bahasa yang netral dan tidak mengasumsikan latar belakang agama pengunjung. Sebagai contoh, penulis menggunakan ungkapan: “This museum shows how language and culture developed in Indonesia,” alih-alih menekankan aspek religius secara langsung. Penyesuaian ini menciptakan suasana pemanduan yang nyaman dan menghargai perbedaan budaya serta keyakinan pengunjung. Sementara itu, strategic competence diterapkan ketika penulis menghadapi pertanyaan atau perbedaan cara pandang dari pengunjung asing. Dalam situasi tersebut, penulis menggunakan strategi penjelasan tambahan dan perbandingan sederhana. Sebagai contoh, ketika pengunjung asing belum memahami konsep bahasa daerah, penulis menjelaskan dengan perbandingan:

“In Indonesia, local languages are like regional languages in Europe, such as Spanish, French, or German.” Strategi ini membantu pengunjung memahami konsep budaya Indonesia melalui perbandingan yang dekat dengan pengalaman mereka.

Melalui kegiatan pemanduan ini, penulis menyadari bahwa pengunjung asing melihat koleksi museum sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Hal ini terlihat dari pertanyaan pengunjung yang tidak hanya berkaitan dengan Alkitab, tetapi juga dengan sejarah bahasa dan masyarakat Indonesia. Di sisi lain, pengunjung asing memperoleh pemahaman tentang sejarah bahasa Indonesia, keberagaman bahasa daerah, serta peran penerjemahan Alkitab dalam perkembangan budaya Nusantara. Dengan demikian, pemanduan untuk pengunjung asing tidak hanya mengembangkan kemampuan bahasa Inggris penulis, tetapi juga meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya secara nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 4. 6 Penulis saat memandu pengunjung asing

Secara keseluruhan, kegiatan pemanduan kepada empat kelompok pengunjung, yaitu sekolah internasional, sekolah lokal, kelompok gereja, dan pengunjung asing (non-Indonesia), menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi linguistik tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan budaya audiens. Penulis menyadari bahwa penggunaan bahasa yang tepat dalam pemanduan museum tidak hanya berkaitan dengan ketepatan tata bahasa, tetapi juga dengan kemampuan menyusun penjelasan secara runtut, menyesuaikan pilihan kata, serta memahami latar belakang dan kebutuhan masing-masing kelompok pengunjung. Melalui pengalaman pemanduan tersebut, penulis belajar bahwa setiap kelompok pengunjung memerlukan pendekatan komunikasi yang berbeda. Penyesuaian bahasa, gaya berbicara, dan strategi penyampaian menjadi kunci agar informasi dapat diterima dengan baik. Proses ini membantu penulis mengembangkan kompetensi tata bahasa, kompetensi wacana, kompetensi sosiolinguistik, dan kompetensi strategis secara terpadu dalam situasi komunikasi nyata.

Dengan demikian, kegiatan pemanduan selama program magang tidak hanya berfungsi sebagai tugas kerja, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran yang menyeluruh dalam mengembangkan kemampuan berbahasa dan kepekaan komunikasi lintas budaya. Pengalaman ini mendukung tujuan pembahasan dalam bab ini, yaitu menunjukkan penerapan kompetensi linguistik penulis secara kontekstual dalam lingkungan kerja museum.

BAB V
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan

Program magang yang dilaksanakan di Museum Lembaga Alkitab Indonesia memberikan pengalaman yang bermakna bagi penulis, khususnya dalam mengembangkan kompetensi linguistik dan pemahaman budaya melalui kegiatan pemanduan museum. Selama hampir tiga bulan pelaksanaan magang, penulis terlibat langsung dalam interaksi dengan berbagai kelompok pengunjung, seperti siswa sekolah lokal, sekolah internasional, kelompok gereja, serta pengunjung asing. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan pemanduan museum merupakan praktik komunikasi yang kompleks dan menuntut kemampuan berbahasa serta kepekaan budaya secara bersamaan.

Hasil pelaksanaan magang menunjukkan bahwa kegiatan pemanduan berkontribusi secara signifikan terhadap pengembangan kompetensi linguistik penulis. Kompetensi tata bahasa berkembang melalui penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam menjelaskan koleksi museum secara akurat dan terstruktur. Kompetensi wacana terlihat dalam kemampuan penulis menyusun alur penjelasan sejarah secara runtut, mulai dari perkembangan sistem komunikasi dan tulisan hingga proses penerjemahan Alkitab ke berbagai bahasa daerah. Kompetensi sosiolinguistik tercermin dari kemampuan penulis menyesuaikan gaya bahasa, tingkat formalitas, serta pilihan kata sesuai dengan karakter dan latar belakang pengunjung. Sementara itu, kompetensi strategis berkembang ketika penulis menghadapi perbedaan tingkat pemahaman pengunjung dan harus menggunakan strategi komunikasi seperti parafrase, contoh visual, maupun penjelasan tambahan agar informasi dapat dipahami dengan baik. Selain pengembangan kemampuan linguistik, kegiatan magang ini juga memperkuat pemahaman budaya penulis. Melalui interaksi langsung dengan pengunjung dari latar belakang sosial, budaya, dan kebangsaan yang beragam, penulis belajar bahwa budaya sangat memengaruhi cara seseorang menerima, menafsirkan, dan merespons informasi. Penulis memahami bahwa siswa lokal cenderung memaknai koleksi museum dari perspektif keindonesiaan, terutama terkait keberagaman bahasa daerah, sementara siswa internasional dan pengunjung asing melihat koleksi museum dari sudut pandang global dan perbandingan lintas budaya. Kelompok gereja, di sisi lain, memandang museum sebagai ruang edukasi iman dan sejarah, sehingga membutuhkan pendekatan komunikasi yang lebih reflektif dan sensitif.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pemanduan selama magang di Museum Lembaga Alkitab Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai bentuk pelayanan kepada pengunjung, tetapi juga sebagai proses pembelajaran aktif bagi penulis. Melalui kegiatan ini, penulis mampu mengintegrasikan kemampuan linguistik dengan pemahaman budaya dalam situasi komunikasi nyata. Pengalaman magang ini menjadi bekal penting bagi penulis dalam mengembangkan keterampilan komunikasi profesional, khususnya dalam konteks lintas budaya, serta relevan dengan bidang studi yang ditekuni.

5.2 Saran kepada Fakultas

Berdasarkan hasil pelaksanaan program magang di Museum Lembaga Alkitab Indonesia, penulis memberikan beberapa saran kepada Fakultas sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan kurikulum dan pelaksanaan program magang ke depannya. Program magang terbukti memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam menerapkan teori yang diperoleh selama perkuliahan, khususnya dalam bidang kebahasaan dan komunikasi lintas budaya.

Fakultas disarankan untuk semakin memperkuat pembekalan mahasiswa sebelum terjun ke dunia magang, terutama terkait keterampilan komunikasi praktis. Pembekalan tersebut dapat berupa pelatihan public speaking, simulasi pemanduan, serta latihan penggunaan bahasa Inggris dalam konteks profesional. Dengan adanya persiapan yang lebih matang, mahasiswa akan lebih percaya diri dan siap menghadapi situasi kerja yang beragam.

Selain itu, fakultas diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk mengembangkan sensitivitas budaya sebagai bagian dari kompetensi akademik. Mengingat mahasiswa sering berinteraksi dengan individu dari latar belakang budaya, bahasa, dan kebangsaan yang berbeda, pemahaman mengenai komunikasi lintas budaya menjadi sangat penting. Materi ini dapat diintegrasikan dalam mata kuliah atau kegiatan pendukung sebelum magang.

Fakultas juga disarankan untuk terus menjalin dan memperluas kerja sama dengan institusi-institusi edukatif seperti museum, lembaga kebudayaan, dan organisasi sosial. Kerja sama tersebut tidak hanya membuka lebih banyak peluang magang bagi mahasiswa, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar yang relevan dengan bidang studi. Dengan demikian, program magang dapat menjadi sarana yang efektif untuk menghubungkan teori akademik dengan praktik di lapangan secara berkelanjutan.

5.3 Saran kepada Lembaga Alkitab Indonesia

Berdasarkan pengalaman pelaksanaan program magang di Museum Lembaga Alkitab Indonesia, penulis menyarankan agar museum terus mengembangkan sistem pemanduan yang adaptif terhadap keberagaman pengunjung. Mengingat pengunjung museum berasal dari berbagai latar belakang usia, pendidikan, bahasa, dan budaya, penyusunan materi pemanduan yang terstruktur dan fleksibel sangat diperlukan. Materi tersebut sebaiknya disesuaikan dengan kategori pengunjung, seperti sekolah lokal, sekolah internasional, kelompok gereja, dan pengunjung asing, sehingga informasi yang disampaikan dapat lebih mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan audiens. Selain itu, penulis menyarankan agar Lembaga Alkitab Indonesia terus memperkuat pembinaan dan pendampingan bagi pemandu museum serta mahasiswa magang. Pembinaan ini dapat difokuskan pada peningkatan keterampilan komunikasi, penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang efektif, serta pemahaman komunikasi lintas budaya. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, pemandu diharapkan mampu menyampaikan informasi sejarah dan budaya Alkitab secara akurat, netral, dan inklusif tanpa mengabaikan sensitivitas latar belakang pengunjung. Penulis juga menyarankan agar Museum Lembaga Alkitab Indonesia mempertahankan perannya sebagai ruang edukasi yang terbuka dan dialogis. Museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mendorong pemahaman sejarah, budaya, dan literasi iman. Dengan pengelolaan pemanduan yang baik dan peningkatan kualitas komunikasi, museum dapat semakin memperkuat kontribusinya dalam menjembatani firman Allah dengan masyarakat luas dari berbagai generasi dan latar budaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ambrose, T., & Paine, C. (2018). Museum basics (4th ed.). London: Routledge.

Black, G. (2016). The engaging museum: Developing museums for visitor involvement. Routledge.

Brown, H. D. (2007). Principles of language learning and teaching (5th ed.). Pearson Education.

Brown, H. D. (2014). Teaching by principles: An interactive approach to language pedagogy (4th ed.). Pearson Education.

Canale, M., & Swain, M. (1980). Theoretical bases of communicative approaches to second language teaching and testing. Applied Linguistics, 1(1), 1–47.

Celce-Murcia, M. (2007). Rethinking the role of communicative competence in language teaching. In E. Alcón Soler & M. P. Safont Jordà (Eds.), Intercultural language use and language learning (pp. 41–57). Springer.

Celce-Murcia, M. (2017). Teaching English as a second or foreign language (4th ed.). Cengage Learning.

Deardorff, D. K. (2015). Demystifying outcomes assessment for international educators: A practical approach. Stylus Publishing.

Falk, J. H., & Dierking, L. D. (2016). The museum experience revisited. Routledge.

Galingging, Y., & Tambunsaribu, G. (2021). Penerjemahan Idiomatis Peter Newmark dan Mildred Larson. Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra dan Budaya, 8(1), 56-70.

Lembaga Alkitab Indonesia. (2023). Profil Museum Lembaga Alkitab Indonesia. Lembaga Alkitab Indonesia. https://www.lai.or.id/museum

Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2011). Theories of human communication (10th ed.). Waveland Press.

Mustari, M. (2021). Manajemen pendidikan. Depok: RajaGrafindo Persada.

Pratama, G. S., Jumail, M., & Hulfa, I. (2022). Strategi peningkatan kompetensi teknis pemandu wisata lokal di dusun pandanan desa malaka. Journal Of Responsible Tourism2(1), 101-108.

Saputra, H., & Jalinus, N. (2020). Pengembangan program magang mahasiswa dalam meningkatkan kompetensi kerja. Jurnal Pendidikan Vokasi, 10(2), 123–132.

Sarwono, A. W., & Lestari, F. P. (2018). Penerapan task-based language teaching dalam meningkatkan kompetensi bahasa Inggris pemandu wisata Goa Pindul, Gunungkidul, Yogyakarta.

Simon, N. (2016). The art of relevance. Santa Cruz, CA: Museum 2.0.

Tambunsaribu, G. (2019). Analisis Pelafalan Mahasiswa Dalam Melafalkan Irregular Verbs Bahasa Inggris. Journal of Language a nd Literature, 7(2), 99-112.

Tambunsaribu, G., & Galingging, Y. (2021). Masalah yang dihadapi pelajar bahasa Inggris dalam memahami pelajaran bahasa Inggris. Jurnal Dialetika, 8(1), 30-41.

Tambunsaribu, G. (2022). Ketidakkonsistenan Beberapa Huruf Konsonan Dalam Bahasa Inggris. Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra Dan Budaya, 9(2), 156-171.

Tambunsaribu, G. (2023). A Brief View of Barriers Faced by College Students in Speaking Subject: English Vowel Pronunciation.

Tambunsaribu, G. (2023). Permasalahan Dan Solusi Yang Dilakukan Mahasiswa Peserta Program Kampus Mengajar. Jurnal Abdi Insani, 10(2), 1124-1136.

Tambunsaribu, G. (2025). English Grammar Keindahan Struktur Kalimat Bahasa Inggris. UKI Press.

Ting-Toomey, S., & Dorjee, T. (2019). Communicating across cultures (2nd ed.). Guilford Press.

Verderber, R. F., Verderber, K. S., & Sellnow, D. D. (2016). Communicate! (14th ed.). Cengage Learning.

West, R., & Turner, L. H. (2018). Introducing communication theory: Analysis and application (6th ed.). McGraw-Hill Education.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Humanism...

"HEARTBREAKING, MAKES ME CRY "

Tugas Penelitian (Etnografi)