PENGGUNAAN MEDIA DIGITAL YOUTUBE DAN QUIZIZ
DALAM
PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INGGRIS
BAGI GENERASI
DIGITAL DI SMA 1 PSKD JAKARTA
![]() |
Disusun oleh:
Musral
Rikky Saputra Sakatsilak
2221150045
PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS
FAKULTAS
SASTRA DAN BAHASA
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
2026
HALAMAN PERSETUJUAN
Naskah laporan magang
oleh mahasiswa:
Nama : Musral
Rikky Saputra Sakatsilak NIM : 2221150045
Judul : Penggunaan Media
Digital YouTube dan Quiziz dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris bagi
Generasi Digital di SMA 1 PSKD Jakarta
.
Telah diperiksa dan dikoreksi dengan baik dan cermat. Oleh karena itu pembimbing menyetujui mahasiswa tersebut untuk
diuji.
Jakarta, 15 Januari 2025 Pembimbing
Materi,
Lisbeth Juliana Sirait, S.S., M. Li
NIP UKI. 101778
Penggunaan Media Digital YouTube dan Quiziz dalam
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris bagi Generasi Digital di SMA 1 PSKD
Jakarta
Disusun oleh:
Musral Rikky Saputra
Sakatsilak 2221150045
Disetujui dan Disahkan Sebagai
Laporan Magang
Pembimbing
Materi, Pembimbing Teknik,
Lisbeth Sirait, S.S., M. Li Gunawan Tambunsaribu,
S,S., M.Sas
NIP. 101778 NIP.
141167
Mengetahui,
Ketua Program Studi Sastra Inggris,
Mike Wijava Saragih,
S.S., M.Hum
KATA PENGANTAR
Puji Syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-nya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan pembuatan Laporan Magang
ini dengan baik sesuai waktu yang telah ditentukan. Tujuan dari laporan
magang ini ialah untuk memenuhi salah satu persyaratan pertanggungjawaban dari
Universitas Kristen Indonesia untuk memenuhi satuan kredit semester magang.
Penulis menyadari bahwa proses penyusunan proposal ini membutuhkan dukungan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada:
1. Ibu Susanne A.H. Sitohang,
S.S, M.A., selaku Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen
Indonesia.
2. Bapak Jannes Freddy Pardede,
S.S., M.Hum., selaku Wakil Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas
Kristen Indonesia.
3. Ibu Mike Wijaya Saragih,
S.S., M.Hum., selaku Ketua Program Studi Sastra Inggris.
4. Ibu Lisbeth Sirait, S.S.,
M.Li., selaku Dosen Pembimbing Akademik, Laporan Kerja Magang.
5. Ibu Mustika Indah J Sinaga,
S.S., MMSI., S.H., M.H., dan Ibu S. E. Veronica Hutapea S.S., selaku Donatur
dan Pengurus Yayasan Lentera Nusa Bangsa (YLNB)
6. Bapak Dandy Sendayu Noron,
S.Sos., selaku Donatur Beasiswa.
7. Bapak Armud Sakatsilak dan
Syabila Nurlaini ( Bapak dan Adik , atas doa dan dukungan yang tidak pernah
berhenti.
8. Semua pihak di SMA 1 PSKD,
khususnya Bapak Yohannes P. Siagian, S.Psi., M.M., M.BA sebagai Kepala Sekolah
dan Ibu Rotua Simanullang, S.Pd selaku supervisor, yang telah banyak membantu
dan mendukung selama masa kerja magang.
Penulis menyadari bahwa laporan ini
masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan
demi kesempurnaan laporan ini. Penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat
bagi semua pihak yang membaca. Terima kasih.
Jakarta, 11 Oktober 2021
Musral Rikky Saputra
Sakatsilak
DAFTAR ISI
1.1 Pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris
1.2 Peran Guru dalam Pengajaran Bahasa Inggris
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pada era globalisasi dan kemajuan
teknologi informasi saat ini, kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu
kompetensi penting yang harus dimiliki oleh peserta didik di tingkat Sekolah
Menengah Atas (SMA). Bahasa Inggris tidak hanya berfungsi sebagai alat
komunikasi internasional, tetapi juga sebagai sarana untuk mengakses
pengetahuan, memperluas wawasan budaya, serta mempersiapkan siswa dalam
menghadapi tantangan dunia kerja maupun pendidikan tinggi. Namun demikian,
pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris di tingkat SMA masih menghadapi sejumlah
tantangan, seperti rendahnya motivasi belajar siswa dan kurangnya penerapan
pendekatan komunikatif. Kondisi ini menunjukkan bahwa guru masih jarang
menerapkan strategi pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif berbicara,
berdiskusi, dan berinteraksi menggunakan bahasa Inggris, sehingga siswa lebih
sering mendengarkan penjelasan daripada berlatih berkomunikasi secara langsung.
Sehubungan dengan permasalahan tersebut,
kegiatan magang menjadi salah satu sarana penting bagi mahasiswa untuk
memperoleh pengalaman nyata di dunia pendidikan. Menurut Sudjana (dalam
Tocharman, 2019), magang merupakan proses penyebaran informasi yang dilakukan
secara terorganisasi untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada
mahasiswa. Melalui kegiatan magang, mahasiswa tidak hanya memperoleh kesempatan
untuk mempraktikkan teori yang telah dipelajari selama perkuliahan, tetapi juga
belajar menyesuaikan diri dengan dinamika lingkungan kerja nyata di sekolah.
Dengan demikian, kegiatan magang diharapkan dapat membekali mahasiswa,
khususnya calon guru, dengan kompetensi profesional yang dibutuhkan untuk
menghadapi tantangan pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris di tingkat SMA.
Urgensi topik ini terletak pada kebutuhan
akan inovasi dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris melalui pemanfaatan
media digital, khususnya YouTube dan Quizizz, guna mengembangkan kemampuan
berpikir kritis, apresiasi sastra, serta keterampilan berbahasa siswa secara
seimbang antara aspek reseptif (mendengarkan dan membaca) dan produktif
(menulis dan berbicara). Penggunaan YouTube memungkinkan penyajian materi
bahasa dan sastra dalam bentuk audio-visual yang kontekstual, sementara Quizizz
berfungsi sebagai media evaluasi interaktif yang mendorong partisipasi aktif
siswa.
Di era digital saat ini, proses
pembelajaran tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi serta
karakteristik peserta didik generasi digital yang cenderung memiliki gaya
belajar cepat, visual, dan interaktif. Kondisi tersebut menuntut guru untuk beradaptasi
dan mengembangkan strategi pembelajaran yang kreatif dan relevan dengan
kehidupan siswa yang akrab dengan teknologi digital. Oleh karena itu,
penggunaan media YouTube dan Quizizz dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra
Inggris menjadi penting untuk menciptakan pembelajaran yang menarik, efektif,
dan sesuai dengan kebutuhan generasi digital di SMA 1 PSKD Jakarta.
Dalam konteks pembelajaran Bahasa
dan Sastra Inggris di SMA 1 PSKD Jakarta, inovasi menjadi kebutuhan penting
karena sekolah ini berada di lingkungan urban dengan karakter siswa yang
dinamis, kritis, dan terbiasa menggunakan teknologi dalam aktivitas
sehari-hari. Pembelajaran yang monoton dan berorientasi pada hafalan cenderung
kurang menarik bagi siswa generasi digital. Oleh karena itu, diperlukan
pendekatan yang mengintegrasikan teknologi, media digital, dan metode
pembelajaran kolaboratif agar kegiatan belajar lebih bermakna dan kontekstual.
Selain itu, pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris tidak hanya bertujuan
meningkatkan kemampuan linguistik, tetapi juga berperan penting dalam membentuk
karakter, empati, dan apresiasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan melalui karya
sastra (Kanzunnudin 2012, Kosasi 2013, Sukirman 2021 dalam Nurcholis &
Imran 2024). Dengan memanfaatkan media digital seperti video pembelajaran
daring, siswa dapat lebih mudah memahami dan mengekspresikan makna karya sastra
secara kreatif. Upaya pembelajaran seperti ini diharapkan dapat menumbuhkan
kemampuan berpikir kritis, meningkatkan minat baca, serta menyeimbangkan
keterampilan berbahasa siswa di era digital.
Sementara itu, melalui pembelajaran
sastra, siswa dilatih untuk berpikir reflektif dan empatik karena mereka diajak
memahami berbagai pengalaman manusia yang tercermin dalam karya sastra. Saat
menganalisis tokoh, konflik, dan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita,
siswa belajar menilai situasi dari berbagai sudut pandang serta merefleksikan
maknanya terhadap kehidupan nyata. Kemampuan reflektif ini penting dalam
membentuk kepekaan sosial dan moral siswa di tengah tantangan kehidupan modern.
Dengan demikian, laporan magang ini
disusun untuk mendeskripsikan dan melaporkan pelaksanaan kegiatan magang di SMA
1 PSKD Jakarta, khususnya dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris dengan
menggunakan You Tube dan Quiziz. Laporan ini memuat kegiatan-kegiatan yang
dilakukan selama magang serta penerapan teori dan konsep pembelajaran Bahasa
Inggris yang telah diperoleh selama perkuliahan. Hasilnya diharapkan dapat
memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi pembelajaran inovatif yang
adaptif, komunikatif, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini.Di samping itu, kurikulum
Merdeka yang saat ini diterapkan di SMA menuntut guru untuk mengembangkan
pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning)
seperti kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital.
Selain itu, Bahasa dan Sastra Inggris
membuka wawasan global karena memperkenalkan siswa pada beragam budaya, nilai,
dan cara pandang masyarakat dunia. Melalui teks sastra, media digital, dan
interaksi lintas budaya, siswa dapat memahami perbedaan dan persamaan
antarbangsa, menumbuhkan sikap toleran, serta menghargai keberagaman. Dengan
demikian, pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris bukan hanya bertujuan
meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga berperan strategis dalam membentuk
karakter siswa yang komunikatif dalam berinteraksi, reflektif dalam berpikir,
dan berwawasan global dalam menghadapi dunia yang semakin terhubung.
Lebih jauh, Pembelajaran bahasa pada dasarnya
tidak hanya berfokus pada penguasaan aspek kebahasaan, tetapi juga berperan
dalam menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Bahasa menjadi alat utama bagi
peserta didik untuk menyampaikan pikiran, perasaan, serta membangun rasa empati
dan kebersamaan dengan orang lain. Melalui kemampuan berbahasa, siswa dapat
mengemukakan pandangan terhadap berbagai persoalan sosial, mengekspresikan
kepedulian, serta berpartisipasi dalam upaya menciptakan keadilan dan keharmonisan
sosial. Dengan demikian, pembelajaran bahasa yang dirancang secara inovatif dan
komunikatif tidak semata-mata bertujuan meningkatkan keterampilan linguistik,
melainkan juga membentuk karakter, menumbuhkan kepekaan sosial, dan memperluas
pemahaman siswa terhadap keberagaman manusia dalam konteks kehidupan global.
Pembelajaran
sastra, khususnya, dapat menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan empati,
nilai kemanusiaan, dan pemahaman lintas budaya. Karya sastra merepresentasikan
kehidupan manusia beserta dinamika sosial, budaya, dan emosional yang
menyertainya. Melalui kegiatan membaca dan mengkaji karya sastra, siswa diajak
memahami pengalaman serta sudut pandang tokoh yang beragam, sehingga kepekaan
dan empati terhadap orang lain dapat berkembang. Selain itu, nilai-nilai
universal seperti keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab yang terkandung
dalam karya sastra berkontribusi pada pembentukan karakter dan kesadaran
kemanusiaan siswa.
1.2 Tujuan Magang
Adapun tujuan magang kerja
ini dapat dirinci sebagai berikut:
1. Agar bisa mengembangkan pemahaman dan
keterampilan dalam merancang serta menerapkan inovasi pembelajaran Bahasa dan
Sastra Inggris yang relevan dengan karakteristik generasi digital di SMA 1 PSKD
Jakarta.
2. Agar bisa memberikan kontribusi nyata dalam
proses pembelajaran melalui penerapan metode, media, atau strategi pengajaran
yang kreatif, interaktif, dan berbasis teknologi untuk meningkatkan minat serta
partisipasi siswa.
3. Agar dapat memperoleh pengalaman langsung dalam
menganalisis efektivitas penerapan inovasi pembelajaran Bahasa dan Sastra
Inggris, termasuk dalam menghadapi tantangan dan menemukan solusi praktis di
lingkungan sekolah.
1.3 Sistematika Laporan
Laporan magang ini disusun dalam beberapa bab
dengan sistematika sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Bab ini berisi latar belakang pelaksanaan magang,
tujuan dan manfaat magang bagi mahasiswa, institusi, dan program studi, serta
sistematika penulisan laporan magang.
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab ini memuat kajian teori dan konsep yang
relevan dengan topik magang, khususnya teori-teori yang berkaitan dengan
inovasi pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris serta karakteristik peserta
didik di era digital.
Bab III Metode Penelitian
Bab ini menjelaskan pendekatan penelitian yang
digunakan, lokasi dan waktu pelaksanaan magang, subjek kegiatan magang, serta
tahapan dan prosedur pelaksanaan magang di SMA 1 PSKD Jakarta.
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab ini menguraikan hasil pelaksanaan magang,
meliputi pengalaman mengajar, bentuk-bentuk inovasi pembelajaran Bahasa dan
Sastra Inggris yang diterapkan, serta pembahasan mengenai efektivitas penerapan
inovasi tersebut dalam proses pembelajaran.
Bab V Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi kesimpulan yang diperoleh dari
hasil kegiatan magang serta saran yang ditujukan bagi sekolah tempat magang,
program studi, dan mahasiswa selanjutnya terkait pengembangan pembelajaran
Bahasa dan Sastra Inggris.
Lampiran
Bagian ini berisi+ dokumen pendukung, seperti
surat keterangan pelaksanaan magang, daftar hadir, dokumentasi kegiatan magang,
serta lembar evaluasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris
Pengajaran Bahasa Inggris menghadapi banyak
masalah selain penguasaan strategi dan alat pembelajaran. Yang paling penting
adalah aspek pelafalan (pronunciation) dan struktur bahasa (Tambunsaribu, 2023).
Banyak siswa mengalami kesulitan dalam melafalkan kosa kata Bahasa Inggris
secara fasih. Ini karena perbedaan sistem bunyi antara Bahasa Inggris dan
Bahasa Indonesia, di mana pola pelafalan Bahasa Inggris berbeda dan tidak
selalu sesuai dengan ejaan tertulisnya (Tambunsaribu, 2022). Agar siswa dapat
mendengar dan meniru pengucapan yang tepat, guru harus menggunakan media audio-visual
dan memberikan latihan pelafalan yang berkelanjutan.
Permasalahan lain yang sering dihadapi dalam pembelajaran Bahasa Inggris
adalah penguasaan struktur atau grammar. Penelitian Galingging dan Tambunsaribu
(2021) serta Tambunsaribu (2025) menunjukkan bahwa grammar merupakan aspek yang
paling sulit dipahami oleh siswa dibandingkan keterampilan bahasa lainnya.
Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa tingkat kesulitan pembelajaran
Bahasa Inggris berturut-turut adalah grammar (66%), speaking (22%), listening
(7%), writing (4%), dan reading (1%). Temuan ini menunjukkan bahwa pengajaran
Bahasa dan Sastra Inggris memerlukan strategi pembelajaran yang variatif,
kontekstual, serta didukung oleh media digital agar siswa lebih mudah memahami
materi dan terlibat aktif dalam pembelajaran.
Sejalan dengan pandangan
tersebut, selama pelaksanaan kegiatan magang di SMA 1 PSKD Jakarta, penulis
terlibat secara langsung dalam proses pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris yang
memanfaatkan media digital sebagai sarana pendukung pembelajaran, khususnya
penggunaan YouTube dan kuis berbasis daring seperti Quizizz. Keterlibatan ini
memberikan pengalaman langsung kepada penulis dalam menerapkan pembelajaran
berbasis teknologi yang menekankan keterlibatan aktif siswa, membantu mengatasi
kesulitan pelafalan dan pemahaman grammar, serta menciptakan variasi metode
pembelajaran yang lebih menarik dan efektif di kelas.
2.2 Penggunaan You Tube Sebagai Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra
Inggris
YouTube merupakan situs
berbagi video berbasis internet (video-sharing platform) yang memungkinkan
pengguna untuk mengunggah, menonton, membagikan, dan mendiskusikan video secara
daring serta dapat diakses secara gratis oleh berbagai kalangan usia, sehingga
memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran berbasis teknologi digital
(Rasman, 2021). Dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris, YouTube berfungsi
sebagai media pendukung yang efektif karena menyajikan materi dalam bentuk
audio-visual yang mampu menarik perhatian siswa, mengurangi pembelajaran yang
bersifat monoton, serta membantu siswa memahami materi secara lebih konkret dan
kontekstual.
Berdasarkan kajian Rasman
(2021), penggunaan YouTube terbukti mampu meningkatkan minat, motivasi, dan
pemahaman siswa terhadap keterampilan berbahasa Inggris yang meliputi
listening, speaking, reading, writing, grammar, dan vocabulary. Selain itu,
dalam pembelajaran sastra Inggris, YouTube dimanfaatkan untuk menyajikan
pembacaan puisi, drama, cerpen, adaptasi film karya sastra, serta video
analisis sastra, sehingga siswa tidak hanya memahami teks secara linguistik,
tetapi juga secara emosional dan kontekstual. Media pembelajaran sendiri
dipahami sebagai sarana komunikasi yang berfungsi menyampaikan pesan
pembelajaran dari pendidik kepada peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat
tercapai secara efektif dan efisien (Sudjana & Rivai, 2011).
Untuk mendukung efektivitas pembelajaran berbasis YouTube, diperlukan
evaluasi pembelajaran yang sistematis melalui penggunaan quiz sebagai alat
penilaian. Quiz merupakan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur tingkat
pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran sekaligus memberikan umpan balik
secara langsung dalam proses belajar, sehingga berfungsi sebagai assessment for
learning, bukan sekadar assessment of learning (Brown, 2004). Dalam pelaksanaan
magang, penulis turut berperan dalam penyusunan dan pelaksanaan evaluasi
pembelajaran menggunakan quiz berbasis daring, seperti Quizizz, dengan
soal-soal yang mencakup materi grammar, vocabulary, reading comprehension,
listening, serta pemahaman unsur-unsur sastra Inggris seperti tema, tokoh,
alur, dan amanat.
2.3 Penggunaan
Quiziz Sebagai Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris
Untuk mendukung efektivitas pembelajaran berbasis YouTube, diperlukan
evaluasi pembelajaran yang sistematis melalui penggunaan quiz sebagai alat
penilaian. Quiz merupakan evaluasi yang digunakan untuk mengukur tingkat
pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran sekaligus memberikan umpan balik
secara langsung dalam proses belajar, sehingga berfungsi sebagai assessment for learning, bukan sekadar assessment of learning
(Brown, 2004). Dalam pelaksanaan magang, penulis turut berperan dalam penyusunan
dan pelaksanaan evaluasi pembelajaran menggunakan quiz berbasis daring, seperti
Quiziz, dengan soal-soal yang mencakup materi grammar, vocabulary, reading
comprehension, listening, serta pemahaman unsur-unsur sastra Inggris
seperti tema, tokoh, alur, dan amanat.
Penggunaan quiz berbasis
digital menunjukkan antusiasme siswa yang tinggi serta mendorong keterlibatan
aktif dalam kegiatan evaluasi karena suasana pembelajaran yang interaktif dan
menyenangkan. Dengan demikian, sinergi antara YouTube sebagai media penyampaian
materi dan quiz sebagai alat evaluasi pembelajaran tidak hanya menciptakan
proses pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris yang lebih aktif, interaktif, dan
berpusat pada siswa, tetapi juga memberikan pengalaman berharga bagi penulis
sebagai mahasiswa magang dalam mengembangkan kompetensi mengajar berbasis
teknologi di SMA 1 PSKD Jakarta.
2.4 Peran Guru dalam Pengajaran
Bahasa Inggris
Peran
guru dalam pengajaran Bahasa Inggris sangat penting karena guru menjadi faktor
utama dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Menurut Oktaviana,
Emzir, dan Rasyid (2020), guru memiliki berbagai peran dalam pembelajaran
Bahasa Inggris, terutama dalam konteks berbasis teknologi informasi dan
komunikasi (ICT), yaitu sebagai fasilitator, motivator, creator/programmer,
pembimbing, evaluator, partner belajar, dan teladan bagi siswa. Dalam hal ini,
guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai
pengarah dan pembimbing yang menciptakan suasana belajar yang aktif,
interaktif, dan bermakna.
Dalam kompetensi linguistik bahasa
Inggris, banyak para siswa merasa kesulitan dalam melafalkan kosakata bahasa
Inggris dengan fasih (Tambunsaribu, 2023). Salah satu faktor penyebab kesulitan
tersebut adalah karena bahasa Inggris memiliki pelafalan yang sangat unik
dan berbeda dengan bahasa Indonesia
(Tambunsaribu, 2022; Tambunsaribu, 2019). Selain itu, pelajaran mengenai
struktur (grammar) bahasa Inggris juga menjadi salah satu kesulitan para siswa
(Galingging & Tambunsaribu, 2021; Tambunsaribu, 2025). Penelitian
Galingging dan Tambunsaribu mendapati bahwa materi pelajaran bahasa Inggris
yang sulit dipelajari oleh mahasiswa mulai dari tingkat paling sulit
diantaranya; Grammar (66%), Speaking (22%), Listening (7%), Writing (4%), dan
Reading (1%).
Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, guru
memiliki peran yang kompleks dan strategis untuk menunjang keberhasilan proses
belajar siswa. Sebagai fasilitator, guru menyiapkan segala sesuatu yang
dibutuhkan dalam pembelajaran, mulai dari materi, media, hingga pengelolaan
kelas yang kondusif. Selain itu, guru berperan sebagai motivator yang
menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri siswa untuk menggunakan Bahasa
Inggris dalam komunikasi sehari-hari. Dalam konteks pembelajaran modern, guru
juga dituntut berperan sebagai creator atau programmer dengan mengembangkan
media dan bahan ajar berbasis ICT agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan
efektif. Selanjutnya, guru bertindak sebagai pembimbing dan evaluator dengan
memberikan arahan serta menilai perkembangan siswa secara menyeluruh, baik pada
aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Guru juga berfungsi sebagai partner
belajar yang menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman, dekat, dan
partisipatif. Pada akhirnya, guru harus menjadi teladan bagi siswa dalam hal
kedisiplinan, etika, serta penggunaan Bahasa Inggris yang baik dan benar.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
peran guru dalam pengajaran Bahasa Inggris bukan hanya sebatas sebagai
penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai perancang, pelaksana, penilai, dan
panutan bagi siswa dalam proses pembelajaran yang dinamis dan berpusat pada
peserta didik. Sebagaimana dinyatakan oleh Oktaviana, Emzir, dan Rasyid (2020),
“Secara umum, peran guru dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris berbasis ICT
meliputi perannya sebagai fasilitator, motivator, creator/programmer,
pembimbing, evaluator, partner belajar, dan teladan bagi siswa” (hlm. 97).
2.5 Fase Capaian Pembelajaran
Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
(Kemendikbud, 2022), capaian pembelajaran Bahasa Inggris di jenjang Sekolah
Menengah Atas (SMA) termasuk dalam Fase F, yaitu fase yang ditempuh oleh
peserta didik pada kelas X, XI, dan XII.
Pada akhir
Fase F, peserta didik diharapkan mampu:
1.
Memahami dan menanggapi berbagai jenis teks lisan,
tulis, dan visual yang bersifat informatif, interaksional, dan transaksional
dalam konteks akademik maupun sosial-budaya.
2.
Menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi secara
efektif, baik secara lisan maupun tulisan, dalam situasi formal maupun informal
yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, dunia kerja, dan dunia akademik.
3.
Mendemonstrasikan keterampilan berpikir kritis,
kreatif, dan reflektif dalam memahami serta mengekspresikan makna melalui teks
naratif, deskriptif, prosedural, dan fungsional.
4.
Mengembangkan kesadaran lintas budaya (intercultural
awareness) dengan memahami bahwa penggunaan bahasa Inggris mencerminkan nilai,
norma, dan kebiasaan penuturnya.
5.
Berpartisipasi aktif dalam kegiatan komunikasi
kolaboratif, seperti diskusi, debat, presentasi, dan proyek berbasis masalah
(project-based learning), dengan menggunakan bahasa Inggris yang komunikatif
dan sopan.
Dengan
capaian tersebut, pembelajaran Bahasa Inggris di SMA diarahkan untuk membentuk
peserta didik yang komunikatif, reflektif, dan berwawasan global, sejalan
dengan kebutuhan generasi digital yang hidup di era keterhubungan global dan
kemajuan teknologi informasi.
2.6 Metode Pengajaran
Metode
pembelajaran merupakan cara atau pola khas yang digunakan dalam proses
pendidikan untuk mencapai tujuan tertentu. Istilah metode berasal dari
bahasa Yunani metodos, yang terdiri atas dua kata, yaitu metha
yang berarti “melalui” dan hodos yang berarti “jalan” atau “cara”.
Dalam konteks pendidikan, metode diartikan sebagai cara yang sistematis dan
terencana untuk menyampaikan bahan pelajaran agar tujuan pembelajaran dapat
tercapai secara efektif (Syharsono & Retnoningsih, 2009, hlm. 574).
Pembelajaran digital merupakan salah satu bentuk inovasi dalam dunia pendidikan
yang memanfaatkan teknologi sebagai media utama dalam proses belajar mengajar.
Suciati (2018, hlm. 152) menyatakan bahwa “pembelajaran digital adalah alat
yang dapat mengaktifkan mahasiswa untuk mengasah kemampuan sesuai dengan
tuntutan zaman serta dirancang untuk memberikan kesempatan dalam mengembangkan
daya nalar kritis dan kemampuan pemecahan masalah melalui kolaborasi dan
komunikasi.”
Selanjutnya, Nanang Hidayat dkk.
(2019, hlm. 10) menambahkan bahwa “Pembelajaran digital dapat diartikan sebagai
sistem pemrosesan digital yang mendorong pembelajaran aktif, konstruksi
pengetahuan, inkuiri, dan eksplorasi pada diri peserta didik, serta
memungkinkan komunikasi jarak jauh dan berbagi data antara guru dan peserta
didik di lokasi yang berbeda.” Artinya, pembelajaran digital tidak hanya
sekadar penggunaan teknologi, tetapi juga merupakan pendekatan sistematis yang
mengintegrasikan aktivitas belajar berbasis kolaboratif, interaktif, dan
fleksibel.
Selain itu, Fitriani dkk. (2017, hlm. 145) menegaskan bahwa
“pembelajaran digital merupakan peluang bagi siswa untuk mencari sumber
informasi yang lebih luas melalui akses internet seperti mesin pencarian Google
dan YouTube.” Sedangkan menurut Kaiful Umam (2013, hlm. 101), “media
pembelajaran digital dapat menyajikan materi pembelajaran secara kontekstual,
audio maupun visual secara menarik dan interaktif.” Dengan demikian,
pembelajaran digital mampu menciptakan lingkungan belajar yang dinamis, menarik,
serta relevan dengan perkembangan teknologi informasi saat ini.
Riri Okra (2019, hlm. 122) juga
menegaskan bahwa “media pembelajaran digital dapat diartikan sebagai segala
bentuk peralatan fisik komunikasi berupa perangkat lunak dan perangkat keras
yang diciptakan atau dikembangkan, digunakan, dan dikelola untuk kebutuhan
pembelajaran dalam mencapai efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.”
Definisi ini memperluas makna pembelajaran digital sebagai sistem yang mencakup
seluruh infrastruktur teknologi pendidikan, bukan hanya media digital itu
sendiri.
Berdasarkan berbagai pendapat tersebut,
dapat disimpulkan bahwa pembelajaran digital adalah sistem pembelajaran yang
menggunakan teknologi informasi sebagai sarana utama untuk mendukung interaksi
belajar yang aktif, kolaboratif, dan fleksibel, serta bertujuan meningkatkan
efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.
BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Waktu dan Tempat
Magang dilaksanakan setiap hari Senin
hingga Jumat, dari 21 Juli – 31 Oktober 2025, mulai pukul 07.00 hingga 16.00
WIB. Lokasi magang berada di SMA 1 PSKD Jakarta, yang terletak di Jl. Pangeran
Diponegoro No. 80 2, RT.2/RW.6, Kenari, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dengan kode pos 10430.
3.2 Prosedur Pelaksanaan
3.2.1 Tahap Persiapan
Pelaksanaan magang diawali dengan
komunikasi langsung antara saya dan pihak sekolah. Sebelumnya, saya memang
telah bekerja di SMA 1 PSKD Jakarta sebagai guru bidang studi Bahasa dan Sastra
Inggris sejak saya menempuh Semester 5. Dalam menjalankan peran tersebut, saya
telah dipercaya oleh pihak sekolah untuk mengajar secara mandiri di beberapa
kelas sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.
Ketika memasuki Semester 7, di mana mata
kuliah Internship atau Magang mulai dilaksanakan, saya secara resmi mengajukan
diri kepada Kepala Sekolah untuk melaksanakan kegiatan magang di sekolah tempat
saya bekerja. Pengajuan tersebut disetujui oleh Kepala Sekolah, dengan
pertimbangan bahwa kegiatan mengajar yang saya lakukan dapat disesuaikan dengan
kebutuhan dan tujuan dari mata kuliah magang. Sesudah itu penulis
mengkonfirmasikan kepada Kepala Program Studi Sastra Inggris, Ibu Mike Wijaya
Saragih, S.S., M.Hum terkait rencana pelaksanaan magang di SMA 1 PSKD Jakarta.
Dalam tahap persiapan ini, sistem
pengajaran dan pembagian kelas yang saya jalankan berdasarkan pada jadwal
mengajar yang telah saya pegang selama bekerja. Sebagai bentuk penyesuaian
dengan kegiatan magang, jam mengajar saya ditambah dengan cara memperluas
cakupan kelas yang saya ajar, yaitu pada kelas X dari kelompok belajar A hingga
D. Dengan demikian, tahap persiapan magang ini berlangsung secara lancar dan
terarah, karena sudah sesuai dengan rutinitas mengajar saya di sekolah
sekaligus memenuhi ketentuan akademik dari program magang.
3.2.2 Tahap Pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan magang, saya
melaksanakan kegiatan mengajar sesuai dengan tanggung jawab saya sebagai guru
Bahasa dan Sastra Inggris di SMA 1 PSKD Jakarta. Kegiatan ini mencakup
pengajaran pada kelas X, XI, dan XII, yang masing-masing memiliki pembagian
kelompok belajar dan jadwal yang telah ditentukan oleh pihak sekolah. Kelas X
terbagi menjadi empat kelompok belajar, sedangkan kelas XI dan kelas XII
masing-masing terbagi menjadi dua kelompok belajar. Setiap kelompok belajar
memiliki jadwal pembelajaran dua kali dalam seminggu, dengan durasi dan waktu
yang telah disesuaikan berdasarkan jadwal resmi sekolah. Dalam pelaksanaan
pembelajaran, saya mengajar dua jenis mata pelajaran, yaitu Bahasa Inggris
Wajib dan Bahasa Inggris Tingkat Lanjut (Sastra Inggris).
•
Bahasa Inggris Wajib merupakan mata pelajaran utama
yang wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas X. Materi yang diajarkan meliputi
berbagai jenis teks dan keterampilan berbahasa seperti Descriptive Text,
Recount Text, Procedure Text, Analytical Exposition Text, serta bentuk teks
lainnya yang sesuai dengan kurikulum pembelajaran Bahasa Inggris tingkat SMA.
•
Bahasa Inggris Tingkat Lanjut merupakan mata pelajaran
pilihan yang diikuti oleh siswa kelas XI dan XII. Pada mata pelajaran ini,
fokus pembelajaran lebih diarahkan pada pengantar materi sastra Inggris,
meliputi novel, drama, dan poetry (puisi). Meskipun bersifat pengenalan,
pembelajaran ini bertujuan untuk membangun minat dan pemahaman dasar siswa
terhadap karya sastra berbahasa Inggris serta mengembangkan kemampuan berpikir
kritis dan apresiasi sastra mereka.
Secara keseluruhan, tahap pelaksanaan
magang ini tidak hanya memberikan pengalaman profesional dalam mengajar di
berbagai tingkat kelas, tetapi juga memperkuat kemampuan saya dalam mengelola
kelas, menyusun rencana pembelajaran, serta menyesuaikan strategi mengajar
sesuai dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan siswa di masing-masing jenjang.
Adapun jadwal pelaksanaan magang di SMA 1 PSKD sebagai mana terlihat dalam
Tabel 1 dibawah:
Tabel 1.1 Jadwal dan Jam Mengajar
Selama Pelaksanaan Magang
|
Hari |
Waktu (WIB) |
Kelas |
Kelompok |
Mata
Pelajaran |
|
Senin |
07.50-09.40 |
XI |
C |
Bahasa
Inggris Tingkat Lanjut |
|
11.20-12.35 |
XI |
A |
||
|
13.25-15.15 |
XII |
A |
||
|
Selasa |
11.45-13.00 |
X |
A |
Bahasa
Inggris |
|
13.05-14.00 |
XI |
B |
Bahasa
Inggris Tingkat Lanjut |
|
|
Rabu |
07.15-08.30 |
X |
A |
Bahasa
Inggris |
|
08.55-10.30 |
XI
|
C
|
Bahasa
Inggris Tingkat Lanjut |
|
|
10.30-12.30 |
XII |
B |
Bahasa
Inggris |
|
|
14.15-15.30 |
X |
B |
Tingkat
Lanjut Bahasa
Inggris |
|
|
Kamis |
08.00-10.00 |
X |
C |
Bahasa
Inggris |
|
11.50-13.35
|
XI |
A |
Bahasa
Inggris Tingkat Lanjut |
|
|
14.20-15.30 |
XI
|
B |
||
|
Jumat |
07.15-09.10
|
XII
|
B |
Bahasa
Inggris Tingkat Lanjut |
|
10.20-12.15 |
XI |
B |
Bahasa
Inggris Tingkat Lanjut |
3.2.3 Tahap
Laporan
Dalam proses penyusunan laporan, penulis
mengumpulkan dan mengolah data yang diperoleh selama kegiatan magang, seperti
hasil observasi, catatan kegiatan harian, dokumentasi, serta arahan yang
diberikan oleh pembimbing lapangan. Selama periode magang, penulis secara aktif
mengikuti kegiatan diskusi dan koordinasi yang diselenggarakan oleh pihak
sekolah dan pembimbing lapangan, khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan
tugas mengajar Bahasa dan Sastra Inggris. Arahan dan bimbingan tersebut menjadi
acuan dalam menyusun laporan agar sesuai dengan pelaksanaan magang yang
sebenarnya.
Selain memuat kegiatan
akademik di kelas, laporan magang ini juga mendeskripsikan keterlibatan penulis
dalam kegiatan non-akademik di lingkungan sekolah. Salah satu bentuk
keterlibatan tersebut adalah peran penulis sebagai guru pendamping siswa dalam
kegiatan perlombaan antar sekolah. Dalam kegiatan tersebut, penulis turut
membantu proses persiapan, pendampingan, serta pelaksanaan kegiatan kompetisi.
Pengalaman ini dicantumkan dalam laporan sebagai bagian dari pembelajaran
profesional yang diperoleh selama magang.
Melalui tahap laporan ini,
penulis juga melakukan refleksi terhadap seluruh pengalaman magang yang telah
dilaksanakan, baik dalam kegiatan akademik maupun non-akademik. Refleksi
tersebut mencakup pengembangan kemampuan mengajar, peningkatan keterampilan komunikasi,
serta pembentukan sikap tanggung jawab dan kerja sama di lingkungan sekolah.
Dengan demikian, laporan magang ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi
kegiatan, tetapi juga sebagai sarana evaluasi diri dan pembelajaran bagi
penulis sebagai mahasiswa semester tujuh yang sedang mempersiapkan diri untuk
memasuki dunia kerja, khususnya di bidang pendidikan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Lokasi Magang
4.1.1 Sejarah
Singkat Lokasi Magang
Perkumpulan Sekolah Kristen
Djakarta (PSKD) didirikan tanggal 20 mei 1942 oleh Ds Isak Siagian dan beberapa
rekannya. Pada saat itu dasar pelayanan PSKD diletakkan dengan mendirikan
sekolah-sekolah Kristen yang berlandaskan iman Kristiani tetapi melayani
seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang agama, tingkat sosial, dan suku
bangsa. Sekolah-sekolah PSKD berjalan dengan baik karena dukungan masyarakat
jakarta dan pengabdian tulus guru dan staf. Sekolah-sekolah PSKD berkembang
terus dan banyak diminati masyarakat. Usaha meningkatkan dan mengembangkan
pendidikan dilaksanakan dengan menyediakan tenaga pengajar profesional dan
sarana prasarana serta berbagai jenis kegiatan yang membangun kreativitas,
ketangkasan fisik, dan penguasaan pengetahuan. PSKD menerapkan sistem belajar
secara aktif sehingga siswa terbiasa berpikir kritis dan konstruktif. Dengan
berlandaskan iman Kristiani, PSKD mempersiapkan generasi muda untuk siap
berkompetisi dalam era globalisasi.
Gambar 4.1. Area sekolah
4.1.2
Struktur Organisasi SMA 1 PSKD Jakarta
Gambar 4.2. Struktur Organisasi SMA 1 PSKD
Jakarta
4.2 Deskripsi Kegiatan Magang
A. Tugas
Akademik
Mengajar Bahasa dan Sastra Inggris
Dalam menunjang pelaksanaan tugas magang sebagai pengajar Bahasa dan
Sastra Inggris, mahasiswa telah dibekali dengan berbagai mata kuliah yang
relevan selama perkuliahan. Salah satu mata kuliah yang berperan penting adalah
Indonesian Language for Foreign Speaker (BIPA). Mata kuliah ini
membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang strategi pengajaran bahasa yang
komunikatif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan pembelajar dengan
latar belakang bahasa yang berbeda.
Melalui mata kuliah tersebut, mahasiswa mempelajari teknik penyampaian
materi bahasa secara sistematis, penggunaan media pembelajaran yang variatif,
serta pendekatan pembelajaran yang menekankan pada keterampilan berbahasa,
seperti membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Kompetensi ini sangat
mendukung pelaksanaan kegiatan mengajar Bahasa Inggris di SMA 1 PSKD Jakarta,
khususnya dalam menjelaskan materi secara jelas, menyesuaikan metode pengajaran
dengan tingkat kemampuan peserta didik, serta menciptakan suasana pembelajaran
yang interaktif dan efektif.
Mahasiswa
melaksanakan kegiatan mengajar Bahasa dan Sastra Inggris setiap hari Senin
hingga Jumat, dimulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB di SMA 1 PSKD Jakarta.
Materi yang diajarkan meliputi dua jenis mata pelajaran, yaitu Bahasa Inggris
Wajib untuk kelas X dan Bahasa Inggris Tingkat Lanjut untuk kelas XI dan XII.
Pada mata
pelajaran Bahasa Inggris Wajib, materi yang diajarkan mencakup berbagai jenis
teks seperti Descriptive Text, Recount Text, Procedure Text, dan Analytical
Exposition Text, serta keterampilan berbahasa lainnya yang berfokus pada
peningkatan kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan. Sementara
itu, pada mata pelajaran Bahasa Inggris Tingkat Lanjut, pembelajaran difokuskan
pada pengenalan dasar sastra Inggris, seperti novel, drama, dan poetry (puisi),
yang bertujuan untuk menumbuhkan minat dan pemahaman siswa terhadap karya
sastra berbahasa Inggris.
Kegiatan
mengajar dilaksanakan secara terjadwal dan terstruktur di setiap kelompok
belajar, dengan penyesuaian metode pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkat
kemampuan dan kebutuhan siswa di masing-masing jenjang.
Gambar 4.3.
Bahasa Inggris Wajib
Dalam gambar 4.3 diatas adalah Penggunaan YouTube sebagai media
pembelajaran digital dalam menonton
film tentang Rome and Juliet https://youtu.be/SDNK8lT0lxs?si=_7cURFkm1hjSaxhs YouTube sebagai media
pembelajaran digital digunakan sebagai sarana penyampaian materi belajar
melalui video yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja dengan bantuan
internet. Guru dapat memanfaatkan YouTube untuk menyajikan penjelasan materi
secara audio-visual, sehingga peserta didik tidak hanya membaca atau mendengar
penjelasan, tetapi juga melihat contoh konkret melalui gambar, animasi, dan
demonstrasi.
Dalam
praktik pembelajaran, guru dapat mengunggah video pembelajaran sendiri
(misalnya penjelasan materi, analisis teks sastra, atau latihan pengucapan
bahasa Inggris) atau memilih video edukatif yang relevan dari kanal terpercaya.
Video tersebut kemudian dibagikan kepada siswa sebagai bahan belajar mandiri,
tugas menonton (watching assignment),
atau bahan diskusi di kelas. Hal ini mendukung pembelajaran asinkron, karena
siswa dapat memutar ulang video sesuai kebutuhan dan kecepatan belajar
masing-masing. Pertama, kami memutar video Romeo
and Juliet. Sesudah itu kami retelling
(menceritakan kembali) serta
memberikan pendapat mereka terhadap film tersebut.
Selain
itu, YouTube memungkinkan terjadinya pembelajaran interaktif melalui fitur
komentar, like, dan live streaming. Guru dapat mengadakan sesi pembelajaran
langsung (live) untuk tanya jawab, sementara siswa dapat menuliskan pertanyaan
atau pendapat mereka di kolom komentar. Dalam pembelajaran bahasa, YouTube
sangat efektif untuk melatih listening, pronunciation, dan vocabulary,
sedangkan dalam pembelajaran sastra, YouTube dapat digunakan untuk menampilkan
pembacaan puisi, drama, film pendek, dan analisis karya sastra.
Secara
keseluruhan, YouTube berfungsi sebagai media pembelajaran digital yang
fleksibel, menarik, dan kontekstual, karena menggabungkan teknologi,
kreativitas guru, dan kemandirian belajar siswa dalam satu platform yang mudah
diakses.
Gambar 4.4. Diskusi
Dalam
gambar 4.4 diatas adalah pelaksanaan evaluasi menggunakan Quiziz tentang puisi
berjudul Still I Rise karya Maya
Angelou.Hari ini di kelas, kita melakukan diskusi tentang puisi "Still I
Rise" karya Maya Angelou. Guru memulai dengan memberikan konteks tentang
latar belakang puisi ini, yaitu perjuangan hak-hak sipil di Amerika Serikat.
Kemudian, kita diminta membaca puisi tersebut dan menganalisis makna serta tema
yang terkandung di dalamnya.
Quiziz diberikan sesudah guru menjelaskan sekilas tentang puisi
tersebut. Jumlah soal yang diberikan adalah 5 soal, salah satu contoh soal yang
diberikan adalah: But still (……), I’ll
rise. Sesudah murid-murid
menyelesaikan Quiziz tersebut, baru diskusipun dimulai dengan pertanyaan
tentang tema utama puisi. Beberapa siswa menjawab bahwa tema tersebut adalah
tentang perjuangan melawan rasisme dan diskriminasi. Guru kemudian meminta
siswa untuk mencari contoh-contoh baris puisi yang mendukung tema tersebut, dan
kita menemukan beberapa contoh seperti "You may trod me in the very dirt /
But still, like dust, I'll rise".
Kita
juga membahas tentang penggunaan bahasa dan gaya penulisan Maya Angelou,
seperti penggunaan metafora dan repetisi. Guru meminta siswa untuk berpikir
kritis tentang bagaimana puisi ini masih relevan dengan kehidupan sehari-hari,
dan siswa membahas tentang bagaimana perjuangan melawan diskriminasi masih
berlanjut hingga hari ini.
Metafora (1 contoh)
“But still, like dust, I’ll rise.”
→ Kata dust (debu) digunakan sebagai
metafora untuk sesuatu yang dianggap rendah, tidak bernilai, dan mudah
diinjak-injak. Namun, debu memiliki sifat tidak dapat dimusnahkan dan selalu
bangkit kembali meskipun ditekan. Metafora ini melambangkan keteguhan, daya
tahan, dan kekuatan penutur yang tetap bangkit dan bertahan walaupun mengalami
penindasan, diskriminasi, dan peremehan.
Repetisi (1 contoh)
“Still I’ll rise.”
→ Frasa Still I’ll rise memiliki makna
metafora sebagai simbol perlawanan dan kebangkitan diri penutur. Pengulangan
frasa ini menegaskan tekad penutur untuk terus bangkit melampaui penderitaan
dan ketidakadilan yang dialaminya. Repetisi tersebut memperkuat gambaran
metaforis tentang kemenangan moral, kepercayaan diri, dan penolakan untuk
tunduk terhadap penindasan.
Diskusi
berlangsung sangat interaktif, dengan banyak siswa yang berpartisipasi dan
berbagi pendapat. Guru juga memberikan umpan balik dan bimbingan untuk membantu
kita memahami puisi dengan lebih baik
B. Tugas Non-Akademik
Dalam pelaksanaan tugas non-akademik sebagai guru pendamping siswa pada
kegiatan perlombaan, mahasiswa didukung oleh kompetensi yang diperoleh melalui
mata kuliah Effective Communication. Mata kuliah ini membekali mahasiswa
dengan keterampilan berkomunikasi secara efektif, persuasif, dan interpersonal,
yang sangat dibutuhkan dalam mendampingi siswa selama mengikuti perlombaan.
Melalui mata kuliah tersebut, mahasiswa mempelajari teknik komunikasi
verbal dan nonverbal, kemampuan menyampaikan arahan secara jelas, memberikan
motivasi, serta membangun kepercayaan diri peserta didik. Kompetensi ini sangat
menunjang peran mahasiswa dalam membimbing siswa pada Lomba Debat Bahasa
Inggris, mendampingi proses presentasi pada Lomba Penelitian IPA, serta
memberikan masukan konstruktif dalam Lomba Film Pendek. Dengan penguasaan
komunikasi yang efektif, mahasiswa mampu menjalin interaksi yang positif,
menciptakan suasana pendampingan yang kondusif, serta membantu siswa tampil
lebih percaya diri dan optimal dalam setiap perlombaan yang diikuti.
Pada hari
Kamis dan Jumat, tanggal 16 dan 17 Oktober 2025, saya melaksanakan tugas
non-akademik sebagai guru pendamping siswa dalam kegiatan perlombaan yang
diselenggarakan di SMA Santa Laurensia, Tangerang Selatan. Dalam kegiatan
tersebut, saya mendampingi siswa yang berpartisipasi dalam beberapa cabang
lomba, yaitu Lomba Debat Bahasa Inggris, Lomba Penelitian IPA, dan Lomba Film
Pendek.
![]() |
Selama
kegiatan berlangsung, saya turut membantu dalam proses pendampingan,
koordinasi, dan pembimbingan siswa, baik sebelum maupun selama perlombaan.
Keterlibatan ini memberikan pengalaman berharga dalam mendukung pengembangan
potensi siswa di bidang non akademik dan kreativitas, serta memperkuat peran
saya sebagai pendidik yang tidak hanya berfokus pada kegiatan belajar mengajar
di kelas, tetapi juga pada pengembangan kemampuan siswa di luar kegiatan
akademik formal.
Gambar 4.5
Lomba Penelitian dan Film Pendek (Kalya, Timothy Panjaitan, Axl Rose, dan
Daniel)
4.6. Debat
Bahasa Inggris (Andrew & Jasmine)
Implementasi Kreatif dalam
Pembelajaran Bahasa dan Inggris
Dalam upaya
meningkatkan keterampilan siswa dalam belajar Bahasa dan Sastra Inggris,
penulis menerapkan beberapa metode kreatif berbasis media digital dan aktivitas
interaktif.
1.
Media Film Animasi sebagai Sumber Pembelajaran
Dalam
pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris, penulis menggunakan media YouTube dan
Quiziz sebagai sarana utama untuk mendukung proses belajar. Melalui media ini,
siswa diajak untuk melakukan presentasi secara mandiri maupun berkelompok
dengan menampilkan karya sastra berbahasa Inggris seperti film Romeo and Juliet
dan puisi karya Maya Angelou. Penggunaan media digital baik You Tube dan Quiz
bertujuan untuk membantu siswa memahami unsur-unsur sastra, memperluas
kosakata, serta meningkatkan keterampilan berbicara dan apresiasi terhadap
karya sastra Inggris. Selain itu, metode ini mendorong siswa untuk berpikir
kritis, berkreasi, serta mengekspresikan pendapat mereka tentang tema, makna,
dan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra tersebut.
Kelebihan:
Penggunaan
media You Tube dan Quiziz dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris membuat
siswa terlihat lebih bersemangat dan antusias dalam mengikuti kegiatan belajar.
Hal ini terutama terlihat saat mereka melakukan presentasi mandiri maupun
kelompok. Media yang menarik membantu menciptakan suasana belajar yang lebih
interaktif dan menyenangkan, sehingga siswa menjadi lebih percaya diri dalam
menampilkan hasil karyanya. Selain itu, kegiatan presentasi menggunakan film
dan puisi membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup dan kontekstual.
Kelemahan:
Meskipun demikian, penggunaan media You
Tube dan Quiz juga memiliki beberapa kelemahan. Beberapa siswa masih kurang
memahami cara penggunaan dan pengoperasian media dengan baik, sehingga
membutuhkan bimbingan lebih lanjut dari guru. Selain itu, keterbatasan
kemampuan teknis ini terkadang menyebabkan hambatan dalam kelancaran presentasi
dan mengurangi efektivitas waktu pembelajaran.
4.7. Media
digital (You Tube dan Quiziz) sarana Pembelajaran
4.3 Hasil Permasalahan
Berdasarkan
hasil observasi selama kegiatan magang dalam pembelajaran bahasa dan sastra iv nggris,
terdapat beberapa permasalahan yang muncul dari sisi siswa, antara lain:
1.
Sebagian siswa masih kesulitan memahami materi Bahasa
dan Sastra Inggris.
2.
Beberapa siswa belum mampu menangkap makna teks sastra
maupun memahami struktur bahasa dengan baik. Hal ini disebabkan oleh
keterbatasan penguasaan kosakata dan kurangnya kebiasaan membaca atau berlatih
menggunakan bahasa Inggris di luar kelas.
3.
Motivasi belajar siswa masih tergolong rendah.
4.
Sebagian siswa terlihat pasif selama proses
pembelajaran berlangsung. Mereka kurang berani mengemukakan pendapat, menjawab
pertanyaan, atau terlibat aktif dalam diskusi dan kegiatan apresiasi sastra
seperti pembacaan puisi dan drama.
5.
Kreativitas siswa dalam mengekspresikan diri masih
terbatas.
6.
Saat diminta melakukan presentasi atau menampilkan
karya sastra, hanya sebagian siswa yang tampil percaya diri. Banyak siswa masih
ragu untuk mengekspresikan pemikiran atau interpretasi mereka terhadap karya
sastra berbahasa Inggris.
7.
Pemahaman terhadap media pembelajaran masih rendah.
8.
Ketika media seperti You Tube dan Quiziz digunakan
dalam pembelajaran, beberapa siswa belum terbiasa memanfaatkan media tersebut
secara efektif. Mereka lebih fokus pada tayangan dibandingkan isi atau pesan
pembelajaran yang ingin disampaikan.
Secara
keseluruhan, permasalahan yang muncul menunjukkan bahwa siswa masih memerlukan
pendekatan pembelajaran yang lebih menarik, komunikatif, dan kreatif, agar
mereka lebih termotivasi, percaya diri, serta aktif dalam mempelajari Bahasa
dan Sastra Inggris.
Upaya
Mengatasi Permasalahan :
Untuk
mengatasi berbagai permasalahan yang muncul dari sisi siswa dalam pembelajaran
Bahasa dan Sastra Inggris, penulis sebagai guru melakukan beberapa upaya
sebagai berikut:
1.
Meningkatkan Motivasi dan Keaktifan Siswa
Guru dan mahasiswa
magang berupaya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif,
seperti melalui permainan bahasa (language games), kegiatan kelompok, dan
pembelajaran berbasis proyek. Dengan metode ini, siswa lebih termotivasi untuk
berbicara, berdiskusi, dan berpartisipasi aktif selama proses belajar.
2.
Menggunakan Media Pembelajaran yang Menarik
Pemanfaatan
media seperti You Tube dan Quiziz dilakukan untuk menarik perhatian siswa serta
membantu mereka memahami konteks bahasa dan budaya dalam karya sastra Inggris.
Melalui media visual, siswa dapat lebih mudah menginterpretasikan makna dan
pesan karya sastra.
3.
Mendorong Kreativitas dan Kepercayaan Diri Siswa
Siswa diberi
kesempatan untuk melakukan presentasi mandiri maupun berkelompok, seperti
menampilkan puisi karya Maya Angelou atau mementaskan adegan dari Romeo and
Juliet. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan
kemampuan berbicara, serta mengasah kreativitas dalam mengekspresikan gagasan.
4.
Memberikan Pendampingan dalam Penggunaan Media dan
Bahasa
Mahasiswa
magang memberikan bimbingan teknis sederhana kepada siswa dalam menggunakan
media pembelajaran, contohnya menyiapkan
tayangan atau menggunakan alat presentasi. Selain itu, pendampingan juga
dilakukan dalam hal pengucapan (pronunciation) dan pemahaman makna teks,
agar siswa lebih terarah dalam mengembangkan kemampuan bahasa dan apresiasi
sastra mereka.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Hasil pelaksanaan magang menunjukkan bahwa penggunaan media digital,
seperti youtube dan quiziz berbasis daring, berperan penting dalam mendukung
pembelajaran bahasa dan sastra Inggris yang lebih menarik, interaktif, dan
sesuai dengan karakteristik generasi digital. Pemanfaatan media audio-visual
membantu siswa dalam memahami materi bahasa maupun sastra secara lebih
kontekstual, sedangkan penggunaan quiz digital berfungsi sebagai sarana
evaluasi yang mendorong keterlibatan aktif siswa. Namun demikian, selama
pelaksanaan pembelajaran masih ditemukan beberapa permasalahan, seperti
keterbatasan penguasaan kosakata, rendahnya kepercayaan diri siswa dalam
berbicara, serta belum optimalnya pemanfaatan media pembelajaran digital oleh
sebagian siswa.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, mahasiswa menerapkan metode
pembelajaran yang lebih kreatif dan interaktif, seperti diskusi kelompok,
permainan bahasa, presentasi, serta pembelajaran berbasis media digital. Upaya
ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang variatif dan berpusat pada
siswa dapat meningkatkan motivasi, partisipasi, serta kepercayaan diri siswa
dalam mempelajari Bahasa dan Sastra Inggris. Selain itu, keterlibatan mahasiswa
dalam kegiatan non-akademik, seperti pendampingan siswa dalam perlombaan antar
sekolah, turut memperkaya pengalaman profesional dan memperluas pemahaman
mengenai peran pendidik di luar kegiatan pembelajaran di kelas.
Secara keseluruhan, kegiatan magang ini tidak hanya berkontribusi
terhadap peningkatan kompetensi mahasiswa dalam mengajar bahasa dan sastra inggris,
tetapi juga membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan komunikasi, tanggung
jawab, kerja sama, dan adaptasi di lingkungan sekolah. Pengalaman magang ini
menjadi bekal penting bagi mahasiswa semester tujuh dalam mempersiapkan diri
memasuki dunia kerja, khususnya sebagai calon pendidik yang mampu memanfaatkan
teknologi dan menerapkan pembelajaran yang inovatif, komunikatif, dan relevan
dengan kebutuhan pendidikan di era digital.
5.2 Saran
Setelah seluruh rangkaian
kegiatan magang selesai dilaksanakan, penulis menyampaikan beberapa saran
sebagai bentuk evaluasi dan refleksi atas pelaksanaan program magang.
Saran-saran ini disusun berdasarkan pengalaman langsung penulis selama
menjalani kegiatan praktik di sekolah, hasil observasi terhadap proses
pembelajaran, serta interaksi dengan guru, siswa, dan pihak terkait lainnya.
Diharapkan saran ini dapat menjadi bahan pertimbangan yang konstruktif bagi
sekolah, universitas, dan mahasiswa magang selanjutnya dalam upaya meningkatkan
kualitas pembelajaran dan efektivitas pelaksanaan program magang di masa
mendatang.
A.
Untuk Sekolah:
-
Sebaiknya sekolah terus mengembangkan metode belajar
yang lebih menarik dengan menggunakan media digital, permainan edukatif, dan
proyek kreatif.
-
Sekolah dapat mengadakan pelatihan bagi guru agar
lebih mahir dalam menggunakan teknologi untuk pembelajaran.
-
Diharapkan guru dan siswa dapat lebih sering
berkolaborasi dalam kegiatan kreatif, seperti membuat video pendek atau drama
berbahasa Inggris.
B.
Untuk Universitas Kristen Indonesia
-
Universitas sebaiknya memperkuat kerja sama dengan
sekolah mitra agar mahasiswa mendapatkan bimbingan yang jelas selama magang.
-
Perlu ada evaluasi rutin antara pihak universitas dan
sekolah agar program magang bisa berjalan lebih baik.
-
Mahasiswa juga dapat dibekali pelatihan tambahan
tentang penggunaan media digital dan metode mengajar yang inovatif sebelum
turun ke sekolah.
C.
Untuk Mahasiswa Magang Berikutnya
-
Mahasiswa diharapkan lebih kreatif dalam mengajar dan
bisa menyesuaikan metode dengan karakter siswa.
-
Perlu meningkatkan kemampuan berbicara di depan kelas
dan mengelola waktu serta kegiatan belajar dengan baik.
-
Gunakan kesempatan magang sebagai pengalaman untuk
belajar menjadi guru yang profesional dan bersemangat dalam mengajar Bahasa
Inggris.
DAFTAR PUSTAKA
Brown, H. D.
(2004). Language assessment: Principles and classroom practices. Pearson
Education.
Fitriani, dkk.
(2017). Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Proses Pembelajaran. Jakarta:
Depdikbud.
Hidayat, N.,
dkk. (2019). Model Pembelajaran Digital di Era Revolusi Industri 4.0. Bandung:
Alfabeta.
Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022). Fase
capaian pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar. Diakses dari https://www.kemdikbud.go.id.
Nurcholis & Imran (2024) Peran
Apresiasi Sastra dalam Pembentukan Katakter Siswa. Wahana Literasi: Journal of
Language, Literature, and Linguistics Vol. 4, No. 2, 2024
Nursiniah, N.,
& Putri, R. A. (2021). Strategi pengajaran Bahasa Inggris dalam
meningkatkan keterlibatan siswa. Jurnal Pendidikan Bahasa, 11(2), 85–94.
Nursiniah, S.,
& Putri, D. A. (2021). Kreativitas guru dalam pembelajaran bahasa Inggris
melalui berbagai metode pengajaran. Karimah Tauhid: Jurnal Pendidikan Islam,
1(2), 55-63.
Okra, R.
(2019). Media Pembelajaran Digital dan Efektivitasnya dalam Pendidikan
Modern. Yogyakarta: Deepublish.
Oktaviana, F.,
Emzir, & Rasyid, Y. (2020). Analisis peran guru dalam pembelajaran Bahasa
Inggris berbasis Information, Communication, and Technology (ICT). Arkhais:
Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajarannya, 11(2), 97–104.
Rasman. (2021).
Penggunaan YouTube sebagai media pembelajaran Bahasa Inggris pada masa pandemi
Covid-19. EDUTECH: Jurnal Inovasi Pendidikan Berbantuan Teknologi, 1(2),
118–126.
Suciati.
(2018). Inovasi Pembelajaran Digital di Perguruan Tinggi. Surabaya:
Unesa Press.
Sudjana, N.,
& Rivai, A. (2011). Media pengajaran. Sinar Baru Algensindo.
Sudjana. (dalam Tocharman). (2019).
Program pengalaman lapangan (magang) terhadap kepercayaan diri mahasiswa
pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi. Jurnal Penjaskesrek, 6(2),
211–221. Universitas Serambi Mekkah.
Syharsono, & Retnoningsih, A.
(2009). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang: Widya Karya.
Tambunsaribu, G. (2019). Analisis
Pelafalan Mahasiswa Dalam Melafalkan Irregular Verbs Bahasa Inggris. Journal
of Language a nd Literature, 7(2), 99-112.
Tambunsaribu, G., & Galingging, Y. (2021). Masalah yang
dihadapi pelajar bahasa Inggris dalam memahami pelajaran bahasa Inggris. Jurnal
Dialetika, 8(1), 30-41.
Tambunsaribu,
G. (2022). Ketidakkonsistenan Beberapa Huruf Konsonan Dalam Bahasa Inggris. Dialektika:
Jurnal Bahasa, Sastra Dan Budaya, 9(2), 156-171.
Tambunsaribu,
G. (2023). A Brief View of Barriers Faced by College Students in Speaking
Subject: English Vowel Pronunciation.
Tambunsaribu,
G. (2023). Permasalahan Dan Solusi Yang Dilakukan Mahasiswa Peserta Program
Kampus Mengajar. Jurnal Abdi Insani, 10(2), 1124-113
Tambunsaribu,
G. (2025). English Grammar Keindahan Struktur Kalimat Bahasa Inggris.
Tocharman,
(2019). Program pengalaman lapangan (magang) terhadap kepercayaan diri
Mahasiswa Pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi. Jurnal Penjaskesrek,
6(2), 211-221. Universitas Serambi Mekkah.
Umam, K.
(2013). Media Pembelajaran Interaktif. Malang: UMM Press.


Komentar