PENGGUNAAN MEDIA DIGITAL YOUTUBE DAN QUIZIZ

DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INGGRIS

BAGI GENERASI DIGITAL DI SMA 1 PSKD JAKARTA

 

 


 

 

 

Disusun oleh:

Musral Rikky Saputra Sakatsilak

2221150045


 

 

PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS

FAKULTAS SASTRA DAN BAHASA

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

2026


HALAMAN PERSETUJUAN

 

Naskah laporan magang oleh mahasiswa:

 

Nama               : Musral Rikky Saputra Sakatsilak NIM                        : 2221150045

Judul                : Penggunaan Media Digital YouTube dan Quiziz dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris bagi Generasi Digital di SMA 1 PSKD Jakarta

.

Telah diperiksa dan dikoreksi dengan baik dan cermat. Oleh karena itu pembimbing menyetujui mahasiswa tersebut untuk diuji.

 

 

 

 

Jakarta, 15 Januari 2025 Pembimbing Materi,

 

 

Lisbeth Juliana Sirait, S.S., M. Li

 

NIP UKI. 101778


HALAMAN PENGESAHAN

 

Penggunaan Media Digital YouTube dan Quiziz dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris bagi Generasi Digital di SMA 1 PSKD Jakarta

 

Disusun oleh:

 

Musral Rikky Saputra Sakatsilak 2221150045

 

Disetujui dan Disahkan Sebagai Laporan Magang

 

 

Pembimbing Materi,                                       Pembimbing Teknik,

 

 

 

 

        

Lisbeth Sirait, S.S., M. Li                       Gunawan Tambunsaribu, S,S., M.Sas

                         NIP. 101778                                        NIP. 141167

 

 

Mengetahui,

 

Ketua Program Studi Sastra Inggris,

 

 

 

 

Mike Wijava Saragih, S.S., M.Hum


KATA PENGANTAR

 

 

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan Laporan Magang  ini dengan baik sesuai waktu yang telah ditentukan. Tujuan dari laporan magang ini ialah untuk memenuhi salah satu persyaratan pertanggungjawaban dari Universitas Kristen Indonesia untuk memenuhi satuan kredit semester magang. Penulis menyadari bahwa proses penyusunan proposal ini membutuhkan dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

1.      Ibu Susanne A.H. Sitohang, S.S, M.A., selaku Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia.

2.      Bapak Jannes Freddy Pardede, S.S., M.Hum., selaku Wakil Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia.

3.      Ibu Mike Wijaya Saragih, S.S., M.Hum., selaku Ketua Program Studi Sastra Inggris.

4.      Ibu Lisbeth Sirait, S.S., M.Li., selaku Dosen Pembimbing Akademik, Laporan Kerja Magang.

5.      Ibu Mustika Indah J Sinaga, S.S., MMSI., S.H., M.H., dan Ibu S. E. Veronica Hutapea S.S., selaku Donatur dan Pengurus Yayasan Lentera Nusa Bangsa (YLNB)

6.      Bapak Dandy Sendayu Noron, S.Sos., selaku Donatur Beasiswa.

7.      Bapak Armud Sakatsilak dan Syabila Nurlaini ( Bapak dan Adik , atas doa dan dukungan yang tidak pernah berhenti.

8.      Semua pihak di SMA 1 PSKD, khususnya Bapak Yohannes P. Siagian, S.Psi., M.M., M.BA sebagai Kepala Sekolah dan Ibu Rotua Simanullang, S.Pd selaku supervisor, yang telah banyak membantu dan mendukung selama masa kerja magang.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan demi kesempurnaan laporan ini. Penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca. Terima kasih.

             

Jakarta, 11 Oktober 2021

Musral Rikky Saputra Sakatsilak

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. 4

DAFTAR ISI. 5

BAB I PENDAHULUAN.. 6

1.1 Latar Belakang. 6

1.2 Tujuan Magang. 9

1.3 Sistematika Laporan. 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.. 11

1.1 Pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris. 11

1.2 Peran Guru dalam Pengajaran Bahasa Inggris. 11

1.3 Fase Capaian Pembelajaran. 12

1.4 Metode Pengajaran. 13

BAB III METODE PELAKSANAAN.. 15

3.1 Waktu dan Tempat 15

3.2 Prosedur Pelaksanaan. 15

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.. 18

4.1 Profil Lokasi Magang. 18

4.2 Deskripsi Kegiatan Magang. 19

4.3 Hasil Permasalahan. 24

BAB V PENUTUP. 26

5.1 Kesimpulan. 26

5.2 Saran. 26

DAFTAR PUSTAKA.. 28

LAMPIRAN.. 29

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

           Pada era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi saat ini, kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki oleh peserta didik di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Bahasa Inggris tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi internasional, tetapi juga sebagai sarana untuk mengakses pengetahuan, memperluas wawasan budaya, serta mempersiapkan siswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja maupun pendidikan tinggi. Namun demikian, pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris di tingkat SMA masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti rendahnya motivasi belajar siswa dan kurangnya penerapan pendekatan komunikatif. Kondisi ini menunjukkan bahwa guru masih jarang menerapkan strategi pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif berbicara, berdiskusi, dan berinteraksi menggunakan bahasa Inggris, sehingga siswa lebih sering mendengarkan penjelasan daripada berlatih berkomunikasi secara langsung.

           Sehubungan dengan permasalahan tersebut, kegiatan magang menjadi salah satu sarana penting bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman nyata di dunia pendidikan. Menurut Sudjana (dalam Tocharman, 2019), magang merupakan proses penyebaran informasi yang dilakukan secara terorganisasi untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada mahasiswa. Melalui kegiatan magang, mahasiswa tidak hanya memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan teori yang telah dipelajari selama perkuliahan, tetapi juga belajar menyesuaikan diri dengan dinamika lingkungan kerja nyata di sekolah. Dengan demikian, kegiatan magang diharapkan dapat membekali mahasiswa, khususnya calon guru, dengan kompetensi profesional yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris di tingkat SMA.

            Urgensi topik ini terletak pada kebutuhan akan inovasi dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris melalui pemanfaatan media digital, khususnya YouTube dan Quizizz, guna mengembangkan kemampuan berpikir kritis, apresiasi sastra, serta keterampilan berbahasa siswa secara seimbang antara aspek reseptif (mendengarkan dan membaca) dan produktif (menulis dan berbicara). Penggunaan YouTube memungkinkan penyajian materi bahasa dan sastra dalam bentuk audio-visual yang kontekstual, sementara Quizizz berfungsi sebagai media evaluasi interaktif yang mendorong partisipasi aktif siswa.

            Di era digital saat ini, proses pembelajaran tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi serta karakteristik peserta didik generasi digital yang cenderung memiliki gaya belajar cepat, visual, dan interaktif. Kondisi tersebut menuntut guru untuk beradaptasi dan mengembangkan strategi pembelajaran yang kreatif dan relevan dengan kehidupan siswa yang akrab dengan teknologi digital. Oleh karena itu, penggunaan media YouTube dan Quizizz dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris menjadi penting untuk menciptakan pembelajaran yang menarik, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan generasi digital di SMA 1 PSKD Jakarta.

              Dalam konteks pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris di SMA 1 PSKD Jakarta, inovasi menjadi kebutuhan penting karena sekolah ini berada di lingkungan urban dengan karakter siswa yang dinamis, kritis, dan terbiasa menggunakan teknologi dalam aktivitas sehari-hari. Pembelajaran yang monoton dan berorientasi pada hafalan cenderung kurang menarik bagi siswa generasi digital. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang mengintegrasikan teknologi, media digital, dan metode pembelajaran kolaboratif agar kegiatan belajar lebih bermakna dan kontekstual.

      Selain itu, pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan linguistik, tetapi juga berperan penting dalam membentuk karakter, empati, dan apresiasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan melalui karya sastra (Kanzunnudin 2012, Kosasi 2013, Sukirman 2021 dalam Nurcholis & Imran 2024). Dengan memanfaatkan media digital seperti video pembelajaran daring, siswa dapat lebih mudah memahami dan mengekspresikan makna karya sastra secara kreatif. Upaya pembelajaran seperti ini diharapkan dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, meningkatkan minat baca, serta menyeimbangkan keterampilan berbahasa siswa di era digital.

            Sementara itu, melalui pembelajaran sastra, siswa dilatih untuk berpikir reflektif dan empatik karena mereka diajak memahami berbagai pengalaman manusia yang tercermin dalam karya sastra. Saat menganalisis tokoh, konflik, dan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita, siswa belajar menilai situasi dari berbagai sudut pandang serta merefleksikan maknanya terhadap kehidupan nyata. Kemampuan reflektif ini penting dalam membentuk kepekaan sosial dan moral siswa di tengah tantangan kehidupan modern.

           Dengan demikian, laporan magang ini disusun untuk mendeskripsikan dan melaporkan pelaksanaan kegiatan magang di SMA 1 PSKD Jakarta, khususnya dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris dengan menggunakan You Tube dan Quiziz. Laporan ini memuat kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama magang serta penerapan teori dan konsep pembelajaran Bahasa Inggris yang telah diperoleh selama perkuliahan. Hasilnya diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi pembelajaran inovatif yang adaptif, komunikatif, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini.Di samping itu, kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan di SMA menuntut guru untuk mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning) seperti kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital.

          Selain itu, Bahasa dan Sastra Inggris membuka wawasan global karena memperkenalkan siswa pada beragam budaya, nilai, dan cara pandang masyarakat dunia. Melalui teks sastra, media digital, dan interaksi lintas budaya, siswa dapat memahami perbedaan dan persamaan antarbangsa, menumbuhkan sikap toleran, serta menghargai keberagaman. Dengan demikian, pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris bukan hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga berperan strategis dalam membentuk karakter siswa yang komunikatif dalam berinteraksi, reflektif dalam berpikir, dan berwawasan global dalam menghadapi dunia yang semakin terhubung.

           Lebih jauh, Pembelajaran bahasa pada dasarnya tidak hanya berfokus pada penguasaan aspek kebahasaan, tetapi juga berperan dalam menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Bahasa menjadi alat utama bagi peserta didik untuk menyampaikan pikiran, perasaan, serta membangun rasa empati dan kebersamaan dengan orang lain. Melalui kemampuan berbahasa, siswa dapat mengemukakan pandangan terhadap berbagai persoalan sosial, mengekspresikan kepedulian, serta berpartisipasi dalam upaya menciptakan keadilan dan keharmonisan sosial. Dengan demikian, pembelajaran bahasa yang dirancang secara inovatif dan komunikatif tidak semata-mata bertujuan meningkatkan keterampilan linguistik, melainkan juga membentuk karakter, menumbuhkan kepekaan sosial, dan memperluas pemahaman siswa terhadap keberagaman manusia dalam konteks kehidupan global.

           Pembelajaran sastra, khususnya, dapat menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan empati, nilai kemanusiaan, dan pemahaman lintas budaya. Karya sastra merepresentasikan kehidupan manusia beserta dinamika sosial, budaya, dan emosional yang menyertainya. Melalui kegiatan membaca dan mengkaji karya sastra, siswa diajak memahami pengalaman serta sudut pandang tokoh yang beragam, sehingga kepekaan dan empati terhadap orang lain dapat berkembang. Selain itu, nilai-nilai universal seperti keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab yang terkandung dalam karya sastra berkontribusi pada pembentukan karakter dan kesadaran kemanusiaan siswa.

1.2 Tujuan Magang

 Adapun tujuan magang kerja ini dapat dirinci sebagai berikut:

1.      Agar bisa mengembangkan pemahaman dan keterampilan dalam merancang serta menerapkan inovasi pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris yang relevan dengan karakteristik generasi digital di SMA 1 PSKD Jakarta.

2.      Agar bisa memberikan kontribusi nyata dalam proses pembelajaran melalui penerapan metode, media, atau strategi pengajaran yang kreatif, interaktif, dan berbasis teknologi untuk meningkatkan minat serta partisipasi siswa.

3.      Agar dapat memperoleh pengalaman langsung dalam menganalisis efektivitas penerapan inovasi pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris, termasuk dalam menghadapi tantangan dan menemukan solusi praktis di lingkungan sekolah.

 

1.3 Sistematika Laporan

Laporan magang ini disusun dalam beberapa bab dengan sistematika sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan

Bab ini berisi latar belakang pelaksanaan magang, tujuan dan manfaat magang bagi mahasiswa, institusi, dan program studi, serta sistematika penulisan laporan magang.

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab ini memuat kajian teori dan konsep yang relevan dengan topik magang, khususnya teori-teori yang berkaitan dengan inovasi pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris serta karakteristik peserta didik di era digital.

Bab III Metode Penelitian

Bab ini menjelaskan pendekatan penelitian yang digunakan, lokasi dan waktu pelaksanaan magang, subjek kegiatan magang, serta tahapan dan prosedur pelaksanaan magang di SMA 1 PSKD Jakarta.

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab ini menguraikan hasil pelaksanaan magang, meliputi pengalaman mengajar, bentuk-bentuk inovasi pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris yang diterapkan, serta pembahasan mengenai efektivitas penerapan inovasi tersebut dalam proses pembelajaran.

Bab V Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil kegiatan magang serta saran yang ditujukan bagi sekolah tempat magang, program studi, dan mahasiswa selanjutnya terkait pengembangan pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris.

Lampiran

Bagian ini berisi+ dokumen pendukung, seperti surat keterangan pelaksanaan magang, daftar hadir, dokumentasi kegiatan magang, serta lembar evaluasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris

      Pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris merupakan proses pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan berbahasa sekaligus meningkatkan apresiasi sastra siswa melalui penerapan strategi, metode, dan media pembelajaran yang tepat serta inovatif. Nursiniah dan Putri (2021) menyatakan bahwa pengajaran Bahasa Inggris menuntut guru untuk merancang metode, media, dan aktivitas pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara aktif agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Oleh karena itu, pengintegrasian media digital menjadi salah satu solusi pembelajaran yang relevan dengan karakteristik generasi digital saat ini. Pembelajaran dengan menggunakan aplikasi digital sebagai bentuk adaptasi teknologi, seperti Canva dan Quizizz, terbukti dapat menumbuhkan minat belajar siswa serta meningkatkan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris (Tambunsaribu, 2023).

Pengajaran Bahasa Inggris menghadapi banyak masalah selain penguasaan strategi dan alat pembelajaran. Yang paling penting adalah aspek pelafalan (pronunciation) dan struktur bahasa (Tambunsaribu, 2023). Banyak siswa mengalami kesulitan dalam melafalkan kosa kata Bahasa Inggris secara fasih. Ini karena perbedaan sistem bunyi antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, di mana pola pelafalan Bahasa Inggris berbeda dan tidak selalu sesuai dengan ejaan tertulisnya (Tambunsaribu, 2022). Agar siswa dapat mendengar dan meniru pengucapan yang tepat, guru harus menggunakan media audio-visual dan memberikan latihan pelafalan yang berkelanjutan.

              Permasalahan lain yang sering dihadapi dalam pembelajaran Bahasa Inggris adalah penguasaan struktur atau grammar. Penelitian Galingging dan Tambunsaribu (2021) serta Tambunsaribu (2025) menunjukkan bahwa grammar merupakan aspek yang paling sulit dipahami oleh siswa dibandingkan keterampilan bahasa lainnya. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa tingkat kesulitan pembelajaran Bahasa Inggris berturut-turut adalah grammar (66%), speaking (22%), listening (7%), writing (4%), dan reading (1%). Temuan ini menunjukkan bahwa pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris memerlukan strategi pembelajaran yang variatif, kontekstual, serta didukung oleh media digital agar siswa lebih mudah memahami materi dan terlibat aktif dalam pembelajaran.

      Sejalan dengan pandangan tersebut, selama pelaksanaan kegiatan magang di SMA 1 PSKD Jakarta, penulis terlibat secara langsung dalam proses pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris yang memanfaatkan media digital sebagai sarana pendukung pembelajaran, khususnya penggunaan YouTube dan kuis berbasis daring seperti Quizizz. Keterlibatan ini memberikan pengalaman langsung kepada penulis dalam menerapkan pembelajaran berbasis teknologi yang menekankan keterlibatan aktif siswa, membantu mengatasi kesulitan pelafalan dan pemahaman grammar, serta menciptakan variasi metode pembelajaran yang lebih menarik dan efektif di kelas.

      2.2 Penggunaan You Tube Sebagai Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris

      YouTube merupakan situs berbagi video berbasis internet (video-sharing platform) yang memungkinkan pengguna untuk mengunggah, menonton, membagikan, dan mendiskusikan video secara daring serta dapat diakses secara gratis oleh berbagai kalangan usia, sehingga memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran berbasis teknologi digital (Rasman, 2021). Dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris, YouTube berfungsi sebagai media pendukung yang efektif karena menyajikan materi dalam bentuk audio-visual yang mampu menarik perhatian siswa, mengurangi pembelajaran yang bersifat monoton, serta membantu siswa memahami materi secara lebih konkret dan kontekstual.

      Berdasarkan kajian Rasman (2021), penggunaan YouTube terbukti mampu meningkatkan minat, motivasi, dan pemahaman siswa terhadap keterampilan berbahasa Inggris yang meliputi listening, speaking, reading, writing, grammar, dan vocabulary. Selain itu, dalam pembelajaran sastra Inggris, YouTube dimanfaatkan untuk menyajikan pembacaan puisi, drama, cerpen, adaptasi film karya sastra, serta video analisis sastra, sehingga siswa tidak hanya memahami teks secara linguistik, tetapi juga secara emosional dan kontekstual. Media pembelajaran sendiri dipahami sebagai sarana komunikasi yang berfungsi menyampaikan pesan pembelajaran dari pendidik kepada peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien (Sudjana & Rivai, 2011).

            Untuk mendukung efektivitas pembelajaran berbasis YouTube, diperlukan evaluasi pembelajaran yang sistematis melalui penggunaan quiz sebagai alat penilaian. Quiz merupakan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran sekaligus memberikan umpan balik secara langsung dalam proses belajar, sehingga berfungsi sebagai assessment for learning, bukan sekadar assessment of learning (Brown, 2004). Dalam pelaksanaan magang, penulis turut berperan dalam penyusunan dan pelaksanaan evaluasi pembelajaran menggunakan quiz berbasis daring, seperti Quizizz, dengan soal-soal yang mencakup materi grammar, vocabulary, reading comprehension, listening, serta pemahaman unsur-unsur sastra Inggris seperti tema, tokoh, alur, dan amanat.

      2.3 Penggunaan Quiziz Sebagai Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris

            Untuk mendukung efektivitas pembelajaran berbasis YouTube, diperlukan evaluasi pembelajaran yang sistematis melalui penggunaan quiz sebagai alat penilaian. Quiz merupakan evaluasi yang digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran sekaligus memberikan umpan balik secara langsung dalam proses belajar, sehingga berfungsi sebagai assessment for learning, bukan sekadar assessment of learning (Brown, 2004). Dalam pelaksanaan magang, penulis turut berperan dalam penyusunan dan pelaksanaan evaluasi pembelajaran menggunakan quiz berbasis daring, seperti Quiziz, dengan soal-soal yang mencakup materi grammar, vocabulary, reading comprehension, listening, serta pemahaman unsur-unsur sastra Inggris seperti tema, tokoh, alur, dan amanat.

      Penggunaan quiz berbasis digital menunjukkan antusiasme siswa yang tinggi serta mendorong keterlibatan aktif dalam kegiatan evaluasi karena suasana pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan. Dengan demikian, sinergi antara YouTube sebagai media penyampaian materi dan quiz sebagai alat evaluasi pembelajaran tidak hanya menciptakan proses pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris yang lebih aktif, interaktif, dan berpusat pada siswa, tetapi juga memberikan pengalaman berharga bagi penulis sebagai mahasiswa magang dalam mengembangkan kompetensi mengajar berbasis teknologi di SMA 1 PSKD Jakarta.

2.4 Peran Guru dalam Pengajaran Bahasa Inggris

      Peran guru dalam pengajaran Bahasa Inggris sangat penting karena guru menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Menurut Oktaviana, Emzir, dan Rasyid (2020), guru memiliki berbagai peran dalam pembelajaran Bahasa Inggris, terutama dalam konteks berbasis teknologi informasi dan komunikasi (ICT), yaitu sebagai fasilitator, motivator, creator/programmer, pembimbing, evaluator, partner belajar, dan teladan bagi siswa. Dalam hal ini, guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pengarah dan pembimbing yang menciptakan suasana belajar yang aktif, interaktif, dan bermakna.

Dalam kompetensi linguistik bahasa Inggris, banyak para siswa merasa kesulitan dalam melafalkan kosakata bahasa Inggris dengan fasih (Tambunsaribu, 2023). Salah satu faktor penyebab kesulitan tersebut adalah karena bahasa Inggris memiliki pelafalan yang sangat unik dan  berbeda dengan bahasa Indonesia (Tambunsaribu, 2022; Tambunsaribu, 2019). Selain itu, pelajaran mengenai struktur (grammar) bahasa Inggris juga menjadi salah satu kesulitan para siswa (Galingging & Tambunsaribu, 2021; Tambunsaribu, 2025). Penelitian Galingging dan Tambunsaribu mendapati bahwa materi pelajaran bahasa Inggris yang sulit dipelajari oleh mahasiswa mulai dari tingkat paling sulit diantaranya; Grammar (66%), Speaking (22%), Listening (7%), Writing (4%), dan Reading (1%).

            Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, guru memiliki peran yang kompleks dan strategis untuk menunjang keberhasilan proses belajar siswa. Sebagai fasilitator, guru menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pembelajaran, mulai dari materi, media, hingga pengelolaan kelas yang kondusif. Selain itu, guru berperan sebagai motivator yang menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri siswa untuk menggunakan Bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari. Dalam konteks pembelajaran modern, guru juga dituntut berperan sebagai creator atau programmer dengan mengembangkan media dan bahan ajar berbasis ICT agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif. Selanjutnya, guru bertindak sebagai pembimbing dan evaluator dengan memberikan arahan serta menilai perkembangan siswa secara menyeluruh, baik pada aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Guru juga berfungsi sebagai partner belajar yang menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman, dekat, dan partisipatif. Pada akhirnya, guru harus menjadi teladan bagi siswa dalam hal kedisiplinan, etika, serta penggunaan Bahasa Inggris yang baik dan benar.

      Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peran guru dalam pengajaran Bahasa Inggris bukan hanya sebatas sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai perancang, pelaksana, penilai, dan panutan bagi siswa dalam proses pembelajaran yang dinamis dan berpusat pada peserta didik. Sebagaimana dinyatakan oleh Oktaviana, Emzir, dan Rasyid (2020), “Secara umum, peran guru dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris berbasis ICT meliputi perannya sebagai fasilitator, motivator, creator/programmer, pembimbing, evaluator, partner belajar, dan teladan bagi siswa” (hlm. 97).

 

2.5 Fase Capaian Pembelajaran

      Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud, 2022), capaian pembelajaran Bahasa Inggris di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) termasuk dalam Fase F, yaitu fase yang ditempuh oleh peserta didik pada kelas X, XI, dan XII.

Pada akhir Fase F, peserta didik diharapkan mampu:

1.      Memahami dan menanggapi berbagai jenis teks lisan, tulis, dan visual yang bersifat informatif, interaksional, dan transaksional dalam konteks akademik maupun sosial-budaya.

2.      Menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan, dalam situasi formal maupun informal yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, dunia kerja, dan dunia akademik.

3.      Mendemonstrasikan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif dalam memahami serta mengekspresikan makna melalui teks naratif, deskriptif, prosedural, dan fungsional.

4.      Mengembangkan kesadaran lintas budaya (intercultural awareness) dengan memahami bahwa penggunaan bahasa Inggris mencerminkan nilai, norma, dan kebiasaan penuturnya.

5.      Berpartisipasi aktif dalam kegiatan komunikasi kolaboratif, seperti diskusi, debat, presentasi, dan proyek berbasis masalah (project-based learning), dengan menggunakan bahasa Inggris yang komunikatif dan sopan.

Dengan capaian tersebut, pembelajaran Bahasa Inggris di SMA diarahkan untuk membentuk peserta didik yang komunikatif, reflektif, dan berwawasan global, sejalan dengan kebutuhan generasi digital yang hidup di era keterhubungan global dan kemajuan teknologi informasi.

 

2.6 Metode Pengajaran

            Metode pembelajaran merupakan cara atau pola khas yang digunakan dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan tertentu. Istilah metode berasal dari bahasa Yunani metodos, yang terdiri atas dua kata, yaitu metha yang berarti “melalui” dan hodos yang berarti “jalan” atau “cara”. Dalam konteks pendidikan, metode diartikan sebagai cara yang sistematis dan terencana untuk menyampaikan bahan pelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif (Syharsono & Retnoningsih, 2009, hlm. 574). Pembelajaran digital merupakan salah satu bentuk inovasi dalam dunia pendidikan yang memanfaatkan teknologi sebagai media utama dalam proses belajar mengajar. Suciati (2018, hlm. 152) menyatakan bahwa “pembelajaran digital adalah alat yang dapat mengaktifkan mahasiswa untuk mengasah kemampuan sesuai dengan tuntutan zaman serta dirancang untuk memberikan kesempatan dalam mengembangkan daya nalar kritis dan kemampuan pemecahan masalah melalui kolaborasi dan komunikasi.”

            Selanjutnya, Nanang Hidayat dkk. (2019, hlm. 10) menambahkan bahwa “Pembelajaran digital dapat diartikan sebagai sistem pemrosesan digital yang mendorong pembelajaran aktif, konstruksi pengetahuan, inkuiri, dan eksplorasi pada diri peserta didik, serta memungkinkan komunikasi jarak jauh dan berbagi data antara guru dan peserta didik di lokasi yang berbeda.” Artinya, pembelajaran digital tidak hanya sekadar penggunaan teknologi, tetapi juga merupakan pendekatan sistematis yang mengintegrasikan aktivitas belajar berbasis kolaboratif, interaktif, dan fleksibel.

            Selain itu, Fitriani dkk. (2017, hlm. 145) menegaskan bahwa “pembelajaran digital merupakan peluang bagi siswa untuk mencari sumber informasi yang lebih luas melalui akses internet seperti mesin pencarian Google dan YouTube.” Sedangkan menurut Kaiful Umam (2013, hlm. 101), “media pembelajaran digital dapat menyajikan materi pembelajaran secara kontekstual, audio maupun visual secara menarik dan interaktif.” Dengan demikian, pembelajaran digital mampu menciptakan lingkungan belajar yang dinamis, menarik, serta relevan dengan perkembangan teknologi informasi saat ini.

      Riri Okra (2019, hlm. 122) juga menegaskan bahwa “media pembelajaran digital dapat diartikan sebagai segala bentuk peralatan fisik komunikasi berupa perangkat lunak dan perangkat keras yang diciptakan atau dikembangkan, digunakan, dan dikelola untuk kebutuhan pembelajaran dalam mencapai efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.” Definisi ini memperluas makna pembelajaran digital sebagai sistem yang mencakup seluruh infrastruktur teknologi pendidikan, bukan hanya media digital itu sendiri.

      Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran digital adalah sistem pembelajaran yang menggunakan teknologi informasi sebagai sarana utama untuk mendukung interaksi belajar yang aktif, kolaboratif, dan fleksibel, serta bertujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.

 

 

 

 

BAB III

METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat

Magang dilaksanakan setiap hari Senin hingga Jumat, dari 21 Juli – 31 Oktober 2025, mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB. Lokasi magang berada di SMA 1 PSKD Jakarta, yang terletak di Jl. Pangeran Diponegoro No. 80 2, RT.2/RW.6, Kenari, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dengan kode pos 10430.

3.2 Prosedur Pelaksanaan

3.2.1 Tahap Persiapan

      Pelaksanaan magang diawali dengan komunikasi langsung antara saya dan pihak sekolah. Sebelumnya, saya memang telah bekerja di SMA 1 PSKD Jakarta sebagai guru bidang studi Bahasa dan Sastra Inggris sejak saya menempuh Semester 5. Dalam menjalankan peran tersebut, saya telah dipercaya oleh pihak sekolah untuk mengajar secara mandiri di beberapa kelas sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.

      Ketika memasuki Semester 7, di mana mata kuliah Internship atau Magang mulai dilaksanakan, saya secara resmi mengajukan diri kepada Kepala Sekolah untuk melaksanakan kegiatan magang di sekolah tempat saya bekerja. Pengajuan tersebut disetujui oleh Kepala Sekolah, dengan pertimbangan bahwa kegiatan mengajar yang saya lakukan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan dari mata kuliah magang. Sesudah itu penulis mengkonfirmasikan kepada Kepala Program Studi Sastra Inggris, Ibu Mike Wijaya Saragih, S.S., M.Hum terkait rencana pelaksanaan magang di SMA 1 PSKD Jakarta.

      Dalam tahap persiapan ini, sistem pengajaran dan pembagian kelas yang saya jalankan berdasarkan pada jadwal mengajar yang telah saya pegang selama bekerja. Sebagai bentuk penyesuaian dengan kegiatan magang, jam mengajar saya ditambah dengan cara memperluas cakupan kelas yang saya ajar, yaitu pada kelas X dari kelompok belajar A hingga D. Dengan demikian, tahap persiapan magang ini berlangsung secara lancar dan terarah, karena sudah sesuai dengan rutinitas mengajar saya di sekolah sekaligus memenuhi ketentuan akademik dari program magang.

3.2.2 Tahap Pelaksanaan

      Dalam tahap pelaksanaan magang, saya melaksanakan kegiatan mengajar sesuai dengan tanggung jawab saya sebagai guru Bahasa dan Sastra Inggris di SMA 1 PSKD Jakarta. Kegiatan ini mencakup pengajaran pada kelas X, XI, dan XII, yang masing-masing memiliki pembagian kelompok belajar dan jadwal yang telah ditentukan oleh pihak sekolah. Kelas X terbagi menjadi empat kelompok belajar, sedangkan kelas XI dan kelas XII masing-masing terbagi menjadi dua kelompok belajar. Setiap kelompok belajar memiliki jadwal pembelajaran dua kali dalam seminggu, dengan durasi dan waktu yang telah disesuaikan berdasarkan jadwal resmi sekolah. Dalam pelaksanaan pembelajaran, saya mengajar dua jenis mata pelajaran, yaitu Bahasa Inggris Wajib dan Bahasa Inggris Tingkat Lanjut (Sastra Inggris).

         Bahasa Inggris Wajib merupakan mata pelajaran utama yang wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas X. Materi yang diajarkan meliputi berbagai jenis teks dan keterampilan berbahasa seperti Descriptive Text, Recount Text, Procedure Text, Analytical Exposition Text, serta bentuk teks lainnya yang sesuai dengan kurikulum pembelajaran Bahasa Inggris tingkat SMA.

         Bahasa Inggris Tingkat Lanjut merupakan mata pelajaran pilihan yang diikuti oleh siswa kelas XI dan XII. Pada mata pelajaran ini, fokus pembelajaran lebih diarahkan pada pengantar materi sastra Inggris, meliputi novel, drama, dan poetry (puisi). Meskipun bersifat pengenalan, pembelajaran ini bertujuan untuk membangun minat dan pemahaman dasar siswa terhadap karya sastra berbahasa Inggris serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan apresiasi sastra mereka.

      Secara keseluruhan, tahap pelaksanaan magang ini tidak hanya memberikan pengalaman profesional dalam mengajar di berbagai tingkat kelas, tetapi juga memperkuat kemampuan saya dalam mengelola kelas, menyusun rencana pembelajaran, serta menyesuaikan strategi mengajar sesuai dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan siswa di masing-masing jenjang. Adapun jadwal pelaksanaan magang di SMA 1 PSKD sebagai mana terlihat dalam Tabel 1 dibawah:

Tabel 1.1 Jadwal dan Jam Mengajar Selama Pelaksanaan Magang

Hari

Waktu (WIB)

Kelas

Kelompok

Mata Pelajaran

 

Senin

07.50-09.40

XI

C

Bahasa Inggris Tingkat Lanjut

11.20-12.35

XI

A

13.25-15.15

XII

A

Selasa

11.45-13.00

X

A

Bahasa Inggris

13.05-14.00

XI

B

Bahasa Inggris Tingkat Lanjut

 

 

Rabu

07.15-08.30

X

A

Bahasa Inggris

08.55-10.30

XI

 

C

 

Bahasa Inggris Tingkat Lanjut

10.30-12.30

XII

B

Bahasa Inggris

14.15-15.30

X

B

Tingkat Lanjut

Bahasa Inggris

 

 

Kamis

08.00-10.00

X

C

Bahasa Inggris

11.50-13.35

 

XI

A

 

Bahasa Inggris Tingkat Lanjut

14.20-15.30

XI

 

B

 

 

Jumat

07.15-09.10

 

XII

 

B

Bahasa Inggris Tingkat Lanjut

10.20-12.15

XI

B

Bahasa Inggris Tingkat Lanjut

 

3.2.3 Tahap Laporan

      Tahap laporan merupakan tahap akhir dari seluruh rangkaian kegiatan magang yang dilaksanakan di SMA 1 PSKD Jakarta. Pada tahap ini, penulis melaporkan ke Kepala Program Studi (Kaprodi) bahwa pelaksanaan magang sudah selesai. Lalu, Kaprodi menentukan Dosen pembimbing penulisan laporan magang. Penulis kemudian bertemu Dosen pembimbing laporan magang untuk mendiskusikan judul dan topik laporan magang. Setelah itu penulis menyusun laporan magang sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik atas kegiatan magang yang telah dijalani. Penyusunan laporan dilakukan secara sistematis dan terstruktur sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh program studi, dengan tujuan mendokumentasikan seluruh kegiatan serta pengalaman yang diperoleh selama pelaksanaan magang. Adapun jadwal bimbingan penulisan laporan magang sebanyak minimal 8 kali pertemuan.

      Dalam proses penyusunan laporan, penulis mengumpulkan dan mengolah data yang diperoleh selama kegiatan magang, seperti hasil observasi, catatan kegiatan harian, dokumentasi, serta arahan yang diberikan oleh pembimbing lapangan. Selama periode magang, penulis secara aktif mengikuti kegiatan diskusi dan koordinasi yang diselenggarakan oleh pihak sekolah dan pembimbing lapangan, khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas mengajar Bahasa dan Sastra Inggris. Arahan dan bimbingan tersebut menjadi acuan dalam menyusun laporan agar sesuai dengan pelaksanaan magang yang sebenarnya.

      Selain memuat kegiatan akademik di kelas, laporan magang ini juga mendeskripsikan keterlibatan penulis dalam kegiatan non-akademik di lingkungan sekolah. Salah satu bentuk keterlibatan tersebut adalah peran penulis sebagai guru pendamping siswa dalam kegiatan perlombaan antar sekolah. Dalam kegiatan tersebut, penulis turut membantu proses persiapan, pendampingan, serta pelaksanaan kegiatan kompetisi. Pengalaman ini dicantumkan dalam laporan sebagai bagian dari pembelajaran profesional yang diperoleh selama magang.

      Melalui tahap laporan ini, penulis juga melakukan refleksi terhadap seluruh pengalaman magang yang telah dilaksanakan, baik dalam kegiatan akademik maupun non-akademik. Refleksi tersebut mencakup pengembangan kemampuan mengajar, peningkatan keterampilan komunikasi, serta pembentukan sikap tanggung jawab dan kerja sama di lingkungan sekolah. Dengan demikian, laporan magang ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi kegiatan, tetapi juga sebagai sarana evaluasi diri dan pembelajaran bagi penulis sebagai mahasiswa semester tujuh yang sedang mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja, khususnya di bidang pendidikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Profil Lokasi Magang

4.1.1    Sejarah Singkat Lokasi Magang

Perkumpulan Sekolah Kristen Djakarta (PSKD) didirikan tanggal 20 mei 1942 oleh Ds Isak Siagian dan beberapa rekannya. Pada saat itu dasar pelayanan PSKD diletakkan dengan mendirikan sekolah-sekolah Kristen yang berlandaskan iman Kristiani tetapi melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang agama, tingkat sosial, dan suku bangsa. Sekolah-sekolah PSKD berjalan dengan baik karena dukungan masyarakat jakarta dan pengabdian tulus guru dan staf. Sekolah-sekolah PSKD berkembang terus dan banyak diminati masyarakat. Usaha meningkatkan dan mengembangkan pendidikan dilaksanakan dengan menyediakan tenaga pengajar profesional dan sarana prasarana serta berbagai jenis kegiatan yang membangun kreativitas, ketangkasan fisik, dan penguasaan pengetahuan. PSKD menerapkan sistem belajar secara aktif sehingga siswa terbiasa berpikir kritis dan konstruktif. Dengan berlandaskan iman Kristiani, PSKD mempersiapkan generasi muda untuk siap berkompetisi dalam era globalisasi.

Gambar 4.1. Area sekolah

 

 

4.1.2 Struktur Organisasi SMA 1 PSKD Jakarta

Gambar 4.2. Struktur Organisasi SMA 1 PSKD Jakarta

4.2 Deskripsi Kegiatan Magang

A. Tugas Akademik

Mengajar Bahasa dan Sastra Inggris

      Dalam menunjang pelaksanaan tugas magang sebagai pengajar Bahasa dan Sastra Inggris, mahasiswa telah dibekali dengan berbagai mata kuliah yang relevan selama perkuliahan. Salah satu mata kuliah yang berperan penting adalah Indonesian Language for Foreign Speaker (BIPA). Mata kuliah ini membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang strategi pengajaran bahasa yang komunikatif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan pembelajar dengan latar belakang bahasa yang berbeda.

      Melalui mata kuliah tersebut, mahasiswa mempelajari teknik penyampaian materi bahasa secara sistematis, penggunaan media pembelajaran yang variatif, serta pendekatan pembelajaran yang menekankan pada keterampilan berbahasa, seperti membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Kompetensi ini sangat mendukung pelaksanaan kegiatan mengajar Bahasa Inggris di SMA 1 PSKD Jakarta, khususnya dalam menjelaskan materi secara jelas, menyesuaikan metode pengajaran dengan tingkat kemampuan peserta didik, serta menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan efektif.

Mahasiswa melaksanakan kegiatan mengajar Bahasa dan Sastra Inggris setiap hari Senin hingga Jumat, dimulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB di SMA 1 PSKD Jakarta. Materi yang diajarkan meliputi dua jenis mata pelajaran, yaitu Bahasa Inggris Wajib untuk kelas X dan Bahasa Inggris Tingkat Lanjut untuk kelas XI dan XII.

Pada mata pelajaran Bahasa Inggris Wajib, materi yang diajarkan mencakup berbagai jenis teks seperti Descriptive Text, Recount Text, Procedure Text, dan Analytical Exposition Text, serta keterampilan berbahasa lainnya yang berfokus pada peningkatan kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan. Sementara itu, pada mata pelajaran Bahasa Inggris Tingkat Lanjut, pembelajaran difokuskan pada pengenalan dasar sastra Inggris, seperti novel, drama, dan poetry (puisi), yang bertujuan untuk menumbuhkan minat dan pemahaman siswa terhadap karya sastra berbahasa Inggris.

Kegiatan mengajar dilaksanakan secara terjadwal dan terstruktur di setiap kelompok belajar, dengan penyesuaian metode pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan siswa di masing-masing jenjang.      

Gambar 4.3. Bahasa Inggris Wajib

Dalam gambar 4.3 diatas adalah Penggunaan YouTube sebagai media pembelajaran digital dalam  menonton film tentang Rome and Juliet https://youtu.be/SDNK8lT0lxs?si=_7cURFkm1hjSaxhs YouTube sebagai media pembelajaran digital digunakan sebagai sarana penyampaian materi belajar melalui video yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja dengan bantuan internet. Guru dapat memanfaatkan YouTube untuk menyajikan penjelasan materi secara audio-visual, sehingga peserta didik tidak hanya membaca atau mendengar penjelasan, tetapi juga melihat contoh konkret melalui gambar, animasi, dan demonstrasi.

      Dalam praktik pembelajaran, guru dapat mengunggah video pembelajaran sendiri (misalnya penjelasan materi, analisis teks sastra, atau latihan pengucapan bahasa Inggris) atau memilih video edukatif yang relevan dari kanal terpercaya. Video tersebut kemudian dibagikan kepada siswa sebagai bahan belajar mandiri, tugas menonton (watching assignment), atau bahan diskusi di kelas. Hal ini mendukung pembelajaran asinkron, karena siswa dapat memutar ulang video sesuai kebutuhan dan kecepatan belajar masing-masing. Pertama, kami memutar video Romeo and Juliet. Sesudah itu kami retelling (menceritakan kembali) serta memberikan pendapat mereka terhadap film tersebut.

      Selain itu, YouTube memungkinkan terjadinya pembelajaran interaktif melalui fitur komentar, like, dan live streaming. Guru dapat mengadakan sesi pembelajaran langsung (live) untuk tanya jawab, sementara siswa dapat menuliskan pertanyaan atau pendapat mereka di kolom komentar. Dalam pembelajaran bahasa, YouTube sangat efektif untuk melatih listening, pronunciation, dan vocabulary, sedangkan dalam pembelajaran sastra, YouTube dapat digunakan untuk menampilkan pembacaan puisi, drama, film pendek, dan analisis karya sastra.

     Secara keseluruhan, YouTube berfungsi sebagai media pembelajaran digital yang fleksibel, menarik, dan kontekstual, karena menggabungkan teknologi, kreativitas guru, dan kemandirian belajar siswa dalam satu platform yang mudah diakses.

Gambar 4.4. Diskusi

    Dalam gambar 4.4 diatas adalah pelaksanaan evaluasi menggunakan Quiziz tentang puisi berjudul Still I Rise karya Maya Angelou.Hari ini di kelas, kita melakukan diskusi tentang puisi "Still I Rise" karya Maya Angelou. Guru memulai dengan memberikan konteks tentang latar belakang puisi ini, yaitu perjuangan hak-hak sipil di Amerika Serikat. Kemudian, kita diminta membaca puisi tersebut dan menganalisis makna serta tema yang terkandung di dalamnya.

      Quiziz diberikan sesudah guru menjelaskan sekilas tentang puisi tersebut. Jumlah soal yang diberikan adalah 5 soal, salah satu contoh soal yang diberikan adalah: But still (……), I’ll rise.          Sesudah murid-murid menyelesaikan Quiziz tersebut, baru diskusipun dimulai dengan pertanyaan tentang tema utama puisi. Beberapa siswa menjawab bahwa tema tersebut adalah tentang perjuangan melawan rasisme dan diskriminasi. Guru kemudian meminta siswa untuk mencari contoh-contoh baris puisi yang mendukung tema tersebut, dan kita menemukan beberapa contoh seperti "You may trod me in the very dirt / But still, like dust, I'll rise".

      Kita juga membahas tentang penggunaan bahasa dan gaya penulisan Maya Angelou, seperti penggunaan metafora dan repetisi. Guru meminta siswa untuk berpikir kritis tentang bagaimana puisi ini masih relevan dengan kehidupan sehari-hari, dan siswa membahas tentang bagaimana perjuangan melawan diskriminasi masih berlanjut hingga hari ini.

Metafora (1 contoh)

“But still, like dust, I’ll rise.”

→ Kata dust (debu) digunakan sebagai metafora untuk sesuatu yang dianggap rendah, tidak bernilai, dan mudah diinjak-injak. Namun, debu memiliki sifat tidak dapat dimusnahkan dan selalu bangkit kembali meskipun ditekan. Metafora ini melambangkan keteguhan, daya tahan, dan kekuatan penutur yang tetap bangkit dan bertahan walaupun mengalami penindasan, diskriminasi, dan peremehan.

Repetisi (1 contoh)

“Still I’ll rise.”

→ Frasa Still I’ll rise memiliki makna metafora sebagai simbol perlawanan dan kebangkitan diri penutur. Pengulangan frasa ini menegaskan tekad penutur untuk terus bangkit melampaui penderitaan dan ketidakadilan yang dialaminya. Repetisi tersebut memperkuat gambaran metaforis tentang kemenangan moral, kepercayaan diri, dan penolakan untuk tunduk terhadap penindasan.

      Diskusi berlangsung sangat interaktif, dengan banyak siswa yang berpartisipasi dan berbagi pendapat. Guru juga memberikan umpan balik dan bimbingan untuk membantu kita memahami puisi dengan lebih baik

B. Tugas Non-Akademik

      Dalam pelaksanaan tugas non-akademik sebagai guru pendamping siswa pada kegiatan perlombaan, mahasiswa didukung oleh kompetensi yang diperoleh melalui mata kuliah Effective Communication. Mata kuliah ini membekali mahasiswa dengan keterampilan berkomunikasi secara efektif, persuasif, dan interpersonal, yang sangat dibutuhkan dalam mendampingi siswa selama mengikuti perlombaan.

      Melalui mata kuliah tersebut, mahasiswa mempelajari teknik komunikasi verbal dan nonverbal, kemampuan menyampaikan arahan secara jelas, memberikan motivasi, serta membangun kepercayaan diri peserta didik. Kompetensi ini sangat menunjang peran mahasiswa dalam membimbing siswa pada Lomba Debat Bahasa Inggris, mendampingi proses presentasi pada Lomba Penelitian IPA, serta memberikan masukan konstruktif dalam Lomba Film Pendek. Dengan penguasaan komunikasi yang efektif, mahasiswa mampu menjalin interaksi yang positif, menciptakan suasana pendampingan yang kondusif, serta membantu siswa tampil lebih percaya diri dan optimal dalam setiap perlombaan yang diikuti.

Pada hari Kamis dan Jumat, tanggal 16 dan 17 Oktober 2025, saya melaksanakan tugas non-akademik sebagai guru pendamping siswa dalam kegiatan perlombaan yang diselenggarakan di SMA Santa Laurensia, Tangerang Selatan. Dalam kegiatan tersebut, saya mendampingi siswa yang berpartisipasi dalam beberapa cabang lomba, yaitu Lomba Debat Bahasa Inggris, Lomba Penelitian IPA, dan Lomba Film Pendek.


Selama kegiatan berlangsung, saya turut membantu dalam proses pendampingan, koordinasi, dan pembimbingan siswa, baik sebelum maupun selama perlombaan. Keterlibatan ini memberikan pengalaman berharga dalam mendukung pengembangan potensi siswa di bidang non akademik dan kreativitas, serta memperkuat peran saya sebagai pendidik yang tidak hanya berfokus pada kegiatan belajar mengajar di kelas, tetapi juga pada pengembangan kemampuan siswa di luar kegiatan akademik formal.

Gambar 4.5 Lomba Penelitian dan Film Pendek (Kalya, Timothy Panjaitan, Axl Rose, dan Daniel)

 

 

 

4.6. Debat Bahasa Inggris (Andrew & Jasmine)

Implementasi Kreatif dalam Pembelajaran Bahasa dan Inggris

Dalam upaya meningkatkan keterampilan siswa dalam belajar Bahasa dan Sastra Inggris, penulis menerapkan beberapa metode kreatif berbasis media digital dan aktivitas interaktif.

1.      Media Film Animasi sebagai Sumber Pembelajaran

Dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris, penulis menggunakan media YouTube dan Quiziz sebagai sarana utama untuk mendukung proses belajar. Melalui media ini, siswa diajak untuk melakukan presentasi secara mandiri maupun berkelompok dengan menampilkan karya sastra berbahasa Inggris seperti film Romeo and Juliet dan puisi karya Maya Angelou. Penggunaan media digital baik You Tube dan Quiz bertujuan untuk membantu siswa memahami unsur-unsur sastra, memperluas kosakata, serta meningkatkan keterampilan berbicara dan apresiasi terhadap karya sastra Inggris. Selain itu, metode ini mendorong siswa untuk berpikir kritis, berkreasi, serta mengekspresikan pendapat mereka tentang tema, makna, dan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra tersebut.

Kelebihan:

Penggunaan media You Tube dan Quiziz dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris membuat siswa terlihat lebih bersemangat dan antusias dalam mengikuti kegiatan belajar. Hal ini terutama terlihat saat mereka melakukan presentasi mandiri maupun kelompok. Media yang menarik membantu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan, sehingga siswa menjadi lebih percaya diri dalam menampilkan hasil karyanya. Selain itu, kegiatan presentasi menggunakan film dan puisi membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup dan kontekstual.

Kelemahan:

Meskipun demikian, penggunaan media You Tube dan Quiz juga memiliki beberapa kelemahan. Beberapa siswa masih kurang memahami cara penggunaan dan pengoperasian media dengan baik, sehingga membutuhkan bimbingan lebih lanjut dari guru. Selain itu, keterbatasan kemampuan teknis ini terkadang menyebabkan hambatan dalam kelancaran presentasi dan mengurangi efektivitas waktu pembelajaran.

4.7. Media digital (You Tube dan Quiziz) sarana Pembelajaran

4.3 Hasil Permasalahan

Berdasarkan hasil observasi selama kegiatan magang dalam pembelajaran bahasa dan sastra iv nggris, terdapat beberapa permasalahan yang muncul dari sisi siswa, antara lain:

1.      Sebagian siswa masih kesulitan memahami materi Bahasa dan Sastra Inggris.

2.      Beberapa siswa belum mampu menangkap makna teks sastra maupun memahami struktur bahasa dengan baik. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan penguasaan kosakata dan kurangnya kebiasaan membaca atau berlatih menggunakan bahasa Inggris di luar kelas.

3.      Motivasi belajar siswa masih tergolong rendah.

4.      Sebagian siswa terlihat pasif selama proses pembelajaran berlangsung. Mereka kurang berani mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan, atau terlibat aktif dalam diskusi dan kegiatan apresiasi sastra seperti pembacaan puisi dan drama.

5.      Kreativitas siswa dalam mengekspresikan diri masih terbatas.

6.      Saat diminta melakukan presentasi atau menampilkan karya sastra, hanya sebagian siswa yang tampil percaya diri. Banyak siswa masih ragu untuk mengekspresikan pemikiran atau interpretasi mereka terhadap karya sastra berbahasa Inggris.

7.      Pemahaman terhadap media pembelajaran masih rendah.

8.      Ketika media seperti You Tube dan Quiziz digunakan dalam pembelajaran, beberapa siswa belum terbiasa memanfaatkan media tersebut secara efektif. Mereka lebih fokus pada tayangan dibandingkan isi atau pesan pembelajaran yang ingin disampaikan.

Secara keseluruhan, permasalahan yang muncul menunjukkan bahwa siswa masih memerlukan pendekatan pembelajaran yang lebih menarik, komunikatif, dan kreatif, agar mereka lebih termotivasi, percaya diri, serta aktif dalam mempelajari Bahasa dan Sastra Inggris.

 

Upaya Mengatasi Permasalahan :

Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul dari sisi siswa dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris, penulis sebagai guru melakukan beberapa upaya sebagai berikut:

1.      Meningkatkan Motivasi dan Keaktifan Siswa

Guru dan mahasiswa magang berupaya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif, seperti melalui permainan bahasa (language games), kegiatan kelompok, dan pembelajaran berbasis proyek. Dengan metode ini, siswa lebih termotivasi untuk berbicara, berdiskusi, dan berpartisipasi aktif selama proses belajar.

2.      Menggunakan Media Pembelajaran yang Menarik

Pemanfaatan media seperti You Tube dan Quiziz dilakukan untuk menarik perhatian siswa serta membantu mereka memahami konteks bahasa dan budaya dalam karya sastra Inggris. Melalui media visual, siswa dapat lebih mudah menginterpretasikan makna dan pesan karya sastra.

3.      Mendorong Kreativitas dan Kepercayaan Diri Siswa

Siswa diberi kesempatan untuk melakukan presentasi mandiri maupun berkelompok, seperti menampilkan puisi karya Maya Angelou atau mementaskan adegan dari Romeo and Juliet. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan kemampuan berbicara, serta mengasah kreativitas dalam mengekspresikan gagasan.

4.      Memberikan Pendampingan dalam Penggunaan Media dan Bahasa

Mahasiswa magang memberikan bimbingan teknis sederhana kepada siswa dalam menggunakan media pembelajaran,  contohnya menyiapkan tayangan atau menggunakan alat presentasi. Selain itu, pendampingan juga dilakukan dalam hal pengucapan (pronunciation) dan pemahaman makna teks, agar siswa lebih terarah dalam mengembangkan kemampuan bahasa dan apresiasi sastra mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

            Berdasarkan pelaksanaan kegiatan magang yang telah dilakukan di SMA 1 PSKD Jakarta, dapat disimpulkan bahwa kegiatan magang memberikan pengalaman akademik dan profesionalitas yang bermakna bagi mahasiswa, khususnya dalam konteks pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris di tingkat Sekolah Menengah Atas. Kegiatan magang ini membuat mahasiswa untuk menerapkan teori dan konsep pembelajaran yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam praktik nyata di lingkungan sekolah, sekaligus memahami dinamika pembelajaran yang sesungguhnya.

            Hasil pelaksanaan magang menunjukkan bahwa penggunaan media digital, seperti youtube dan quiziz berbasis daring, berperan penting dalam mendukung pembelajaran bahasa dan sastra Inggris yang lebih menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik generasi digital. Pemanfaatan media audio-visual membantu siswa dalam memahami materi bahasa maupun sastra secara lebih kontekstual, sedangkan penggunaan quiz digital berfungsi sebagai sarana evaluasi yang mendorong keterlibatan aktif siswa. Namun demikian, selama pelaksanaan pembelajaran masih ditemukan beberapa permasalahan, seperti keterbatasan penguasaan kosakata, rendahnya kepercayaan diri siswa dalam berbicara, serta belum optimalnya pemanfaatan media pembelajaran digital oleh sebagian siswa.

            Untuk mengatasi permasalahan tersebut, mahasiswa menerapkan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan bahasa, presentasi, serta pembelajaran berbasis media digital. Upaya ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang variatif dan berpusat pada siswa dapat meningkatkan motivasi, partisipasi, serta kepercayaan diri siswa dalam mempelajari Bahasa dan Sastra Inggris. Selain itu, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan non-akademik, seperti pendampingan siswa dalam perlombaan antar sekolah, turut memperkaya pengalaman profesional dan memperluas pemahaman mengenai peran pendidik di luar kegiatan pembelajaran di kelas.

            Secara keseluruhan, kegiatan magang ini tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi mahasiswa dalam mengajar bahasa dan sastra inggris, tetapi juga membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan komunikasi, tanggung jawab, kerja sama, dan adaptasi di lingkungan sekolah. Pengalaman magang ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa semester tujuh dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, khususnya sebagai calon pendidik yang mampu memanfaatkan teknologi dan menerapkan pembelajaran yang inovatif, komunikatif, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan di era digital.

5.2  Saran

      Setelah seluruh rangkaian kegiatan magang selesai dilaksanakan, penulis menyampaikan beberapa saran sebagai bentuk evaluasi dan refleksi atas pelaksanaan program magang. Saran-saran ini disusun berdasarkan pengalaman langsung penulis selama menjalani kegiatan praktik di sekolah, hasil observasi terhadap proses pembelajaran, serta interaksi dengan guru, siswa, dan pihak terkait lainnya. Diharapkan saran ini dapat menjadi bahan pertimbangan yang konstruktif bagi sekolah, universitas, dan mahasiswa magang selanjutnya dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan efektivitas pelaksanaan program magang di masa mendatang.

A.    Untuk Sekolah:

-          Sebaiknya sekolah terus mengembangkan metode belajar yang lebih menarik dengan menggunakan media digital, permainan edukatif, dan proyek kreatif.

-          Sekolah dapat mengadakan pelatihan bagi guru agar lebih mahir dalam menggunakan teknologi untuk pembelajaran.

-          Diharapkan guru dan siswa dapat lebih sering berkolaborasi dalam kegiatan kreatif, seperti membuat video pendek atau drama berbahasa Inggris.

B.     Untuk Universitas Kristen Indonesia

-          Universitas sebaiknya memperkuat kerja sama dengan sekolah mitra agar mahasiswa mendapatkan bimbingan yang jelas selama magang.

-          Perlu ada evaluasi rutin antara pihak universitas dan sekolah agar program magang bisa berjalan lebih baik.

-          Mahasiswa juga dapat dibekali pelatihan tambahan tentang penggunaan media digital dan metode mengajar yang inovatif sebelum turun ke sekolah.

C.     Untuk Mahasiswa Magang Berikutnya

-          Mahasiswa diharapkan lebih kreatif dalam mengajar dan bisa menyesuaikan metode dengan karakter siswa.

-          Perlu meningkatkan kemampuan berbicara di depan kelas dan mengelola waktu serta kegiatan belajar dengan baik.

-          Gunakan kesempatan magang sebagai pengalaman untuk belajar menjadi guru yang profesional dan bersemangat dalam mengajar Bahasa Inggris.

DAFTAR PUSTAKA

Brown, H. D. (2004). Language assessment: Principles and classroom practices. Pearson Education.

Fitriani, dkk. (2017). Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Proses Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.

Hidayat, N., dkk. (2019). Model Pembelajaran Digital di Era Revolusi Industri 4.0. Bandung: Alfabeta.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022). Fase capaian pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar. Diakses dari https://www.kemdikbud.go.id.

Nurcholis & Imran (2024) Peran Apresiasi  Sastra dalam  Pembentukan Katakter Siswa. Wahana Literasi: Journal of Language, Literature, and Linguistics Vol. 4, No. 2, 2024

Nursiniah, N., & Putri, R. A. (2021). Strategi pengajaran Bahasa Inggris dalam meningkatkan keterlibatan siswa. Jurnal Pendidikan Bahasa, 11(2), 85–94.

Nursiniah, S., & Putri, D. A. (2021). Kreativitas guru dalam pembelajaran bahasa Inggris melalui berbagai metode pengajaran. Karimah Tauhid: Jurnal Pendidikan Islam, 1(2), 55-63.

Okra, R. (2019). Media Pembelajaran Digital dan Efektivitasnya dalam Pendidikan Modern. Yogyakarta: Deepublish.

Oktaviana, F., Emzir, & Rasyid, Y. (2020). Analisis peran guru dalam pembelajaran Bahasa Inggris berbasis Information, Communication, and Technology (ICT). Arkhais: Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajarannya, 11(2), 97–104.

Rasman. (2021). Penggunaan YouTube sebagai media pembelajaran Bahasa Inggris pada masa pandemi Covid-19. EDUTECH: Jurnal Inovasi Pendidikan Berbantuan Teknologi, 1(2), 118–126.

Suciati. (2018). Inovasi Pembelajaran Digital di Perguruan Tinggi. Surabaya: Unesa Press.

Sudjana, N., & Rivai, A. (2011). Media pengajaran. Sinar Baru Algensindo.

Sudjana. (dalam Tocharman). (2019). Program pengalaman lapangan (magang) terhadap kepercayaan diri mahasiswa pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi. Jurnal Penjaskesrek, 6(2), 211–221. Universitas Serambi Mekkah.

Syharsono, & Retnoningsih, A. (2009). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang: Widya Karya.

Tambunsaribu, G. (2019). Analisis Pelafalan Mahasiswa Dalam Melafalkan Irregular Verbs Bahasa Inggris. Journal of Language a nd Literature, 7(2), 99-112.

Tambunsaribu, G., & Galingging, Y. (2021). Masalah yang dihadapi pelajar bahasa Inggris dalam memahami pelajaran bahasa Inggris. Jurnal Dialetika, 8(1), 30-41.

Tambunsaribu, G. (2022). Ketidakkonsistenan Beberapa Huruf Konsonan Dalam Bahasa Inggris. Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra Dan Budaya, 9(2), 156-171.

Tambunsaribu, G. (2023). A Brief View of Barriers Faced by College Students in Speaking Subject: English Vowel Pronunciation.

Tambunsaribu, G. (2023). Permasalahan Dan Solusi Yang Dilakukan Mahasiswa Peserta Program Kampus Mengajar. Jurnal Abdi Insani, 10(2), 1124-113

Tambunsaribu, G. (2025). English Grammar Keindahan Struktur Kalimat Bahasa Inggris.

Tocharman, (2019). Program pengalaman lapangan (magang) terhadap kepercayaan diri Mahasiswa Pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi. Jurnal Penjaskesrek, 6(2), 211-221. Universitas Serambi Mekkah.

Umam, K. (2013). Media Pembelajaran Interaktif. Malang: UMM Press.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Humanism...

"HEARTBREAKING, MAKES ME CRY "

Tugas Penelitian (Etnografi)