PENERJEMAHAN LABEL KOLEKSI MUSEUM BAHARI DARI BAHASA INDONESIA KE BAHASA INGGRIS SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN AKSESIBILITAS INFORMASI BAGI PENGUNJUNG
Disusun oleh
Natalie Anting Sabungan
2221150041
PROGRAM
STUDI SASTRA INGGRIS
FAKULTAS
SASTRA DAN BAHASA
UNIVERSITAS
KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
2026
HALAMAN PERSETUJUAN
Naskah laporan magang oleh
mahasiswa:
Nama : Natalie Anting Sabungan
NIM : 2221150041
Judul : Penerjemahan Label
Koleksi Museum Bahari dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris sebagai Upaya
Peningkatan Aksesibilitas Informasi bagi Pengunjung
Laporan magang telah diperiksa
dan dikoreksi dengan baik. Oleh karena itu, pembimbing menyetujui mahasiswa
tersebut untuk diuji.
Jakarta, 5 Desember 2025
Pembimbing Materi
Gunawan Tambunsaribu, SS., M.Sas
NIP.141167
HALAMAN PENGESAHAN
PENERJEMAHAN LABEL KOLEKSI MUSEUM BAHARI DARI BAHASA
INDONESIA KE BAHASA INGGRIS SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN AKSESIBILITAS INFORMASI
BAGI PENGUNJUNG
Disusun oleh:
Natalie Anting Sabungan
2221150041
Disetujui dan Disahkan sebagai Laporan Magang oleh:
Mengetahui,
Pembimbing Materi Pembimbing Teknis
Gunawan Tambunsaribu, SS., M.Sas Mike Wijaya
Saragih, S.S., M.Hum.
NIP.141167
NIP. 121861
Mengetahui,
Ketua Program Studi Sastra Inggris
Mike Wijaya Saragih,
S.S., M.Hum.
NIP.
121861
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan
atas kehadirat Tuhan Yesus Kristus serta atas berkat dan kasih karunia-Nya,
sehingga penulis dapat melaksanakan magang di Museum Bahari Jakarta dan
menyelesaikan Laporan Magang dengan baik. Laporan ini disusun sebagai tugas
akhir untuk memenuhi tanggung jawab setelah menyelesaikan kegiatan magang
selama tiga bulan. Dalam penyusunan Laporan Akhir Kegiatan Magang ini, tidak
terlepas dari bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada:
- Susanne
A.H. Sitohang, S.S., M.A., selaku Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa,
Universitas Kristen Indonesia.
- Jannes
Freddy Pardede, S.S., M.Hum., selaku Wakil Dekan Fakultas Sastra dan
Bahasa, Universitas Kristen Indonesia.
- Mike
Wijaya Saragih, S.S., M.Hum., selaku dosen Kepala Program Studi Sastra
Inggris, Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia, juga
sekaligus dosen yang mengarahkan dari sebelum proses magang berlangsung.
- Gunawan
Tambunsaribu, S.S., M.Sas., selaku pembimbing yang telah membimbing dan
memberikan arahan dengan baik selama penulisan laporan magang ini.
- Bapak
Iman yang telah menjadi mentor yang sangat membimbing selama melakukan
magang kerja di Museum Bahari Jakarta.
- Orang
tua, Adel, Vol, Intox, dan Racha yang telah bersedia membantu dan memberi
semangat selama pengerjaan laporan magang ini.
- Rekan-rekan
magang yang sama-sama berjuang dari awal penugasan hingga selesai.
Jakarta, 5 Desember 2025
Natalie Anting Sabungan
DAFTAR ISI
2.1 Pengertian dan Teori Dasar
Penerjemahan
2.2 Pentingnya Informasi Bahasa
Inggris untuk Turis Asing dalam Aksesibilitas Informasi
2.3.1 Pengertian Komunikasi yang
Efektif
2.3.2 Fungsi Komunikasi yang Efektif
di Lingkungan Museum
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang Kerja
4.1.1 Sejarah Singkat Lokasi Magang
4.1.2 Struktur Organisasi dan Tata Kelola
4.3
Pembahasan Hasil Kegiatan Magang
4.3.4 Implementasi Ilmu Program Studi dalam Program Magang
4.3.5 Pengembangan Soft Skill dan Refleksi Diri
5.1.1 Saran Kepada Museum Bahari
Jakarta
5.1.2 Saran Kepada Mahasiswa Magang
1..... Surat keterangan magang
3..... Daftar Hadir Mahasiswa Selama Melakukan Magang Kerja
4. Lembar Hasil Evaluasi Magang
5. Dokumentasi Kegiatan Magang
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3
1 maps letak Museum Bahari Jakarta
Gambar 4
1 Struktur Organisasi
Gambar 4 2 Dokumentasi Booth Pameran
Museum Bahari
Gambar 4 3 Contoh Label Koleksi dalam
Bahasa Indonesia
I PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Latihan kerja
praktik atau magang itu merupakan bagian dari skema pelatihan di mana
pembelajaran di lembaga pendidikan digabungkan serasi dengan pengalaman
langsung di tempat kerja. Proses magang ini dipantau dan dibimbing oleh para
pekerja atau pelatih yang sudah berpengalaman. Tujuannya adalah supaya para
peserta magang betul-betul merasakan suasana kerja nyata, sehingga mereka bisa
memakai ilmu serta keahlian yang sudah mereka pelajari selama kuliah.
Penyelenggaraan
kegiatan magang di Indonesia ini diatur oleh beberapa peraturan, contohnya
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan yang mencakup hak
dan juga tanggung jawab bagi yang ikut magang serta memberikan perlindungan
hukum. Kemudian, ada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2020
tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri yang mengatur tata cara
pelaksanaan magang, acuan kompetensi, dan juga hak para peserta magang. Selain
itu, Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2006 tentang Sistem Pelatihan Kerja
Nasional juga memasukkan magang ke dalam kerangka pelatihan kerja nasional dan
menentukan standar kompetensi beserta tata cara sertifikasi kerja.
Mahasiswa Fakultas Sastra dan Bahasa
Universitas Kristen Indonesia diwajibkan mengikuti kegiatan magang sebagai
bagian dari proses pembelajaran akademik. Kegiatan ini bertujuan untuk
memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa agar tidak hanya memahami teori
yang diperoleh di bangku perkuliahan, tetapi juga mampu menerapkannya secara
langsung dalam lingkungan kerja. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menunjang
kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan
pendidikan pada jenjang sarjana.
Kegiatan magang yang dilaksanakan di
Museum Bahari Jakarta merupakan bagian dari pemenuhan mata kuliah Internship
yang wajib ditempuh oleh mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, Fakultas
Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia. Mata kuliah Internship
memiliki bobot 6 SKS dan merupakan salah satu persyaratan akademik yang harus
dipenuhi untuk menyelesaikan studi pada jenjang sarjana.
Seiring dengan perkembangan
pariwisata budaya di Indonesia, museum tidak hanya berfungsi sebagai sarana
edukasi, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang dapat menarik pengunjung
lokal maupun mancanegara. Museum Bahari Jakarta, yang menyajikan koleksi dan
informasi mengenai sejarah serta kekayaan maritim Indonesia, memiliki potensi
besar untuk menjangkau pengunjung dari berbagai latar belakang bahasa. Salah
satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan aksesibilitas informasi
tersebut adalah melalui penerjemahan label koleksi museum ke dalam bahasa
Inggris.
Permasalahan yang diangkat dalam
laporan magang ini adalah penerjemahan label koleksi Museum Bahari Jakarta dari
bahasa Indonesia ke bahasa Inggris sebagai upaya peningkatan aksesibilitas
informasi bagi pengunjung. Label koleksi museum berfungsi sebagai media utama
dalam menyampaikan informasi mengenai latar belakang, fungsi, dan nilai
historis suatu koleksi. Oleh karena itu, terjemahan label dituntut untuk
menyampaikan makna secara akurat, jelas, dan mudah dipahami oleh pengunjung
asing.
Menurut Newmark (1988), penerjemahan
merupakan proses pengalihan makna dari teks bahasa sumber ke dalam bahasa
sasaran dengan mempertahankan pesan yang dimaksud oleh penulis asli. Dalam
konteks museum, penerjemahan label tidak hanya menekankan pada ketepatan
bahasa, tetapi juga kejelasan informasi serta kesesuaian konteks agar pesan
dapat diterima dengan baik oleh pengunjung dari latar belakang budaya yang
berbeda. Penerjemahan label koleksi yang baik diharapkan dapat membantu
pengunjung memahami informasi secara lebih efektif serta meningkatkan kualitas
pengalaman berkunjung di museum.
Penerjemahan label koleksi museum
memiliki tantangan tersendiri, seperti keterbatasan ruang teks, penggunaan
istilah khusus di bidang kemaritiman, serta kebutuhan untuk menyampaikan
informasi secara ringkas namun informatif. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan
bahasa yang memadai serta pemahaman terhadap konteks budaya dan historis dari
koleksi yang diterjemahkan.
Pelaksanaan magang di Museum Bahari
Jakarta diharapkan dapat memberikan pengalaman praktis dalam bidang
penerjemahan, khususnya penerjemahan teks informatif dari bahasa Indonesia ke
bahasa Inggris. Melalui kegiatan magang ini, mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan
keterampilan penerjemahan serta memahami peran penerjemahan dalam meningkatkan
aksesibilitas informasi bagi pengunjung museum, khususnya pengunjung
mancanegara.
1.2 Tujuan Magang
Kegiatan
magang kerja di Museum Bahari Jakarta dilaksanakan dengan beberapa tujuan
sebagai berikut:
-
Mengaplikasikan
kemampuan penerjemahan teks sejarah dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris
pada label koleksi museum untuk memastikan penyampaian informasi yang akurat
bagi wisatawan mancanegara.
-
Mempelajari
penggunaan terminologi khusus di bidang sejarah kemaritiman guna menghasilkan
terjemahan yang kontekstual, komunikatif, dan sesuai dengan standar informasi
publik.
-
Berkontribusi
dalam meningkatkan kualitas pelayanan informasi multibahasa di Museum Bahari
Jakarta sebagai upaya mendukung promosi destinasi wisata sejarah di tingkat
internasional.
1.3 Sistematika Laporan
Laporan magang kerja ini disusun dengan sistematika sebagai
berikut:
I: Pendahuluan
Di dalam bab
ini, penulis menguraikan latar belakang pelaksanaan magang, tujuan magang
kerja, dan sistematika laporan. Bagian ini memberikan gambaran umum mengenai
pentingnya kegiatan magang dalam konteks penerjemahan teks informasi pariwisata
dan peningkatan aksesibilitas bagi pengunjung mancanegara di Museum
Bahari Jakarta.
II: Tinjauan Pustaka
Isinya teori tentang cara
menerjemahkan yang benar dan pentingnya bahasa Inggris sebagai alat bantu
informasi di tempat wisata.
III: Metode Pelaksanaan
Menjelaskan
kapan dan di mana magang dilakukan, serta langkah-langkah kerja dari mulai
pilih label sampai selesai diterjemahkan.
IV: Hasil dan Pembahasan
Dalam bab ini
penulis memberikan profil lokasi magang, sejarah singkat lokasi magang, dan
struktur organisasi dan tata kelola, deskripsi kegiatan magang, dan pembahasan
dari hasil permasalahan yang diamati dalam kegiatan magang kerja.
V: Penutup
Berisi
kesimpulan dan saran.
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian dan Teori Dasar
Penerjemahan
Penerjemahan bukan sekadar aktivitas
mekanis mengganti kata-kata dari satu bahasa ke bahasa lain, melainkan sebuah kegiatan
intelektual kompleks yang mengalihkan pesan, amanat, dan nuansa dari Bahasa
Sumber (BSu) ke Bahasa Sasaran (BSa) tanpa mendistorsi makna orisinal yang
ingin disampaikan oleh penulis. Dalam disiplin ilmu linguistik terapan,
penerjemahan dipandang sebagai jembatan komunikasi antarbudaya yang memindahkan
tidak hanya aspek leksikal, tetapi juga beban emosional, gaya bahasa, dan
konteks situasional agar pembaca pada bahasa sasaran dapat memperoleh
pengalaman kognitif yang setara dengan pembaca asli.
Banyak siswa yang memiliki kemampuan linguistik
bahasa Inggris merasa kesulitan melafalkan kosa kata bahasa Inggris dengan
fasih (Tambunsaribu, 2023). Salah satu penyebab kesulitan tersebut adalah
pelafalan bahasa Inggris yang sangat berbeda dari bahasa Indonesia
(Tambunsaribu, 2022; Tambunsaribu, 2019). Selain itu, penelitian Galingging dan
Tambunsaribu menemukan bahwa materi pelajaran bahasa Inggris yang paling sulit
dipelajari oleh siswa adalah struktur (grammar) bahasa Inggris (Galingging
& Tambunsaribu, 2021; Tambunsaribu, 2025). Materi yang paling sulit adalah
grammar (66%), bicara (22%), mendengarkan (7%), menulis (4%), dan membaca (1%).
Menurut Newmark (dalam Tambunsaribu,
2023), penerjemahan pada dasarnya adalah proses menyampaikan pesan dari satu
bahasa (bahasa sumber) ke bahasa lain (bahasa target). Penekanan pada elemen
"pesan" menunjukkan bahwa keberhasilan seorang penerjemah dapat
diukur dengan menilai seberapa baik informasi sampai kepada pembaca tanpa
menghilangkan maknanya. Dengan demikian, Catford (dalam Tambunsaribu, 2016)
mendefinisikan penerjemahan sebagai pengganti bahan teks dari satu bahasa,
yaitu bahasa sumber, oleh bahan teks setara dalam bahasa sasaran. Untuk
memastikan teks yang diterjemahkan tetap asli, konsep kesetaraan, yang
ditekankan oleh Catford, sangat penting.
Lebih lanjut, Newmark (1988)
memberikan penegasan bahwa penerjemahan merupakan suatu usaha sistematis untuk
mengganti pesan tertulis dari satu bahasa ke bahasa lain dengan tetap memegang
teguh prinsip kesetiaan (fidelity) terhadap maksud penulis asli. Prinsip
ini beriringan dengan pemikiran Nida dan Taber (1982) yang menekankan aspek
fungsional dalam penerjemahan; terjemahan yang ideal adalah terjemahan yang
mampu menghasilkan "padanan dinamis", di mana reaksi dan pemahaman
pembaca bahasa sasaran kurang lebih identik dengan apa yang dirasakan oleh
pembaca bahasa sumber.
Dalam konteks kegiatan magang di
Museum Bahari, teori-teori ini menjadi landasan krusial. Penerjemahan label
koleksi bukan hanya tentang menerjemahkan teks sejarah kemaritiman Indonesia ke
dalam Bahasa Inggris secara harafiah, melainkan proses mengontekstualisasikan
nilai sejarah, teknologi perkapalan kuno, dan kekayaan bahari Nusantara. Dengan
merujuk pada definisi di atas, penulis berupaya menyajikan teks sasaran yang
setara secara tekstual namun tetap mampu menyampaikan pesan sejarah secara
efektif agar informasi tersebut menjadi aksesibel, akurat, dan berterima bagi
audiens internasional yang memiliki latar belakang budaya berbeda.
2.1.1 Proses Penerjemahan
Proses penerjemahan
merupakan serangkaian tahapan kognitif yang logis dan berkesinambungan. Untuk
memastikan kualitas hasil terjemahan pada label museum, penulis mengikuti skema
proses penerjemahan menurut Nida dan Taber (1982) yang terdiri dari tiga fase
utama:
1.
Tahap
Analisis (Analysis):
Pada fase ini, penerjemah melakukan
pembedahan mendalam terhadap teks bahasa sumber secara menyeluruh. Proses ini
melibatkan analisis pada level gramatikal (struktur kalimat), semantik (makna
kata), serta aspek sosiolinguistik (konteks sejarah). Di Museum Bahari, penulis
harus memahami istilah-istilah arkais atau teknis kemaritiman, seperti
nama-nama bagian kapal tradisional atau jabatan dalam pelayaran kuno, guna
memastikan bahwa pemahaman penulis terhadap teks sumber sudah mencapai taraf
paripurna sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
2.
Tahap
Transfer (Transfer):
Setelah teks dipahami secara utuh,
makna tersebut kemudian dipindahkan atau "ditransfer" dari bahasa
sumber ke dalam bahasa sasaran di dalam benak penerjemah. Tantangan terbesar
pada tahap ini adalah menemukan konsep yang setara dalam Bahasa Inggris untuk
istilah yang bersifat unik (culture-specific items). Penulis dituntut
untuk memilih padanan yang paling mendekati agar esensi informasi sejarah tidak
hilang meski terjadi perubahan bentuk bahasa.
3.
Tahap
Restrukturisasi (Restructuring):
Fase ini merupakan tahap penyusunan
kembali gagasan yang telah ditransfer ke dalam struktur bahasa sasaran yang
baku dan alami. Dalam menerjemahkan label museum, restrukturisasi harus
memperhatikan aspek ekonomi bahasa menggunakan kalimat yang padat, ringkas (concise),
namun tetap elegan. Tujuannya adalah agar teks dalam Bahasa Inggris memiliki
kelancaran (fluency) yang tinggi sehingga pengunjung mancanegara dapat
menyerap informasi dengan cepat saat berkeliling museum.
2.1.2 Teknik Penerjemahan
Untuk menjamin
keakuratan dan keterbacaan label koleksi, penulis mengaplikasikan berbagai
teknik penerjemahan berdasarkan klasifikasi dari Molina dan Albir (2002).
Teknik-teknik ini berfungsi sebagai instrumen untuk memecahkan hambatan
linguistik yang ditemukan selama proses magang:
·
Penerjemahan
Harfiah (Literal Translation): Digunakan ketika struktur bahasa sumber
dan bahasa sasaran memiliki kesamaan fungsi dan bentuk tanpa mengubah makna.
Contohnya adalah penerjemahan istilah institusional seperti “Maritime Museum”
untuk “Museum Bahari”.
·
Peminjaman
(Borrowing): Teknik ini dilakukan dengan mengambil kata atau istilah
dari bahasa sumber secara langsung. Penulis menerapkan teknik ini untuk
nama-nama kapal tradisional (seperti Pinisi atau Padewakang) atau
istilah budaya yang tidak memiliki padanan di dunia Barat, guna mempertahankan
nilai otentisitas sejarah.
·
Deskripsi
(Description): Mengganti istilah atau istilah dengan deskripsi mengenai
fungsi atau penampilannya. Teknik ini sangat efektif untuk label museum; ketika
sebuah alat navigasi kuno tidak memiliki istilah teknis dalam Bahasa Inggris,
penulis memberikan penjelasan deskriptif singkat agar pengunjung memahami
kegunaan benda tersebut.
·
Amplifikasi
(Amplification): Teknik ini memberikan informasi tambahan yang tidak
terdapat pada teks sumber untuk memperjelas konteks. Dalam label koleksi,
penulis terkadang menambahkan keterangan tahun atau lokasi geografis di
Indonesia untuk membantu turis asing yang mungkin tidak familiar dengan peta
sejarah Nusantara.
·
Reduksi
(Reduction): Bertujuan untuk menyederhanakan teks tanpa membuang
informasi inti. Mengingat ruang pada label koleksi sangat terbatas, teknik ini
diaplikasikan untuk menghindari pengulangan kata yang tidak perlu atau
penghilangan kata tugas yang tidak relevan dalam struktur Bahasa Inggris,
sehingga informasi tetap to-the-point.
2.2 Pentingnya Informasi Bahasa
Inggris untuk Turis Asing dalam Aksesibilitas Informasi
Dalam industri pariwisata global,
informasi adalah komoditas utama yang menentukan kualitas pengalaman wisatawan.
Buhalis (2000) menyatakan bahwa kemudahan akses terhadap informasi merupakan
salah satu pilar utama yang menentukan daya saing suatu destinasi wisata di
kancah internasional. Museum Bahari Jakarta, sebagai penjaga narasi sejarah
maritim Indonesia, memikul tanggung jawab untuk menyediakan informasi yang
inklusif bagi audiens global.
Tanpa adanya terjemahan label yang
memadai, koleksi museum yang bernilai sejarah tinggi hanya akan berakhir
sebagai artefak bisu bagi pengunjung mancanegara. Keberadaan teks dalam Bahasa
Inggris sebagai lingua franca internasional berfungsi untuk meruntuhkan
hambatan bahasa (language barrier). Hal ini selaras dengan pandangan
Kotler dkk. (2008), yang menekankan bahwa pelayanan informasi yang berkualitas
merupakan bentuk penghargaan terhadap pengunjung (visitor-centric) yang
secara langsung akan meningkatkan kepuasan dan loyalitas wisatawan. Dengan
menyediakan aksesibilitas informasi yang baik, Museum Bahari tidak hanya
mengedukasi, tetapi juga memperkuat citra profesionalisme pariwisata Indonesia
di mata dunia.
2.3 Komunikasi yang Efektif
2.3.1 Pengertian Komunikasi yang Efektif
Komunikasi yang
efektif adalah sebuah proses pertukaran pesan yang menghasilkan pemahaman yang
sama antara pengirim dan penerima, sehingga tujuan dari pesan tersebut tercapai
tanpa adanya distorsi atau ambiguitas. DeVito (2013) menggarisbawahi bahwa efektivitas
komunikasi diukur dari sejauh mana makna yang ditangkap oleh penerima selaras
dengan intensi yang dimiliki oleh pengirim.
Dalam lingkungan
museum, komunikasi efektif tercapai apabila narasi sejarah yang disusun oleh
kurator dapat "berbicara" kepada pengunjung melalui media label.
Effendy (2003) menambahkan bahwa indikator efektivitas komunikasi mencakup
timbulnya pengertian, perubahan sikap (dalam hal ini meningkatnya apresiasi
terhadap sejarah), serta terciptanya hubungan yang harmonis. Penerjemahan label
koleksi yang dilakukan penulis adalah upaya untuk menciptakan komunikasi
efektif tersebut bagi audiens internasional agar mereka tidak sekadar melihat,
tetapi juga memahami signifikansi setiap artefak.
2.3.2 Fungsi Komunikasi yang Efektif di Lingkungan Museum
Secara lebih spesifik,
komunikasi yang efektif dalam bentuk label dwibahasa di Museum Bahari
menjalankan empat fungsi fundamental:
1. Fungsi Informatif: Menyediakan data faktual mengenai
objek koleksi, mulai dari asal-usul, material, hingga periode waktu secara
akurat.
2. Fungsi Edukatif: Transformasi museum sebagai ruang
belajar luar sekolah. Informasi yang diterjemahkan dengan baik membantu
wisatawan asing menyerap pengetahuan baru mengenai peran strategis Indonesia
dalam jalur perdagangan maritim dunia.
3. Fungsi Persuasif: Membangun kesadaran dan kecintaan
pengunjung terhadap pentingnya pelestarian budaya maritim. Teks yang menggugah
dapat mengubah cara pandang pengunjung terhadap sejarah bahari Nusantara.
4.
Fungsi Membangun Hubungan (Relationship Building): Ketersediaan informasi dalam
Bahasa Inggris yang ramah dan jelas menunjukkan bahwa Museum Bahari adalah
institusi yang inklusif, menghargai keberagaman budaya pengunjung, dan siap
bersaing dalam standar pelayanan museum internasional.
III METODE PELAKSANAAN
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang Kerja
Kegiatan
magang kerja ini dilaksanakan selama kurang lebih tiga bulan, terhitung sejak
tanggal 4 Agustus 2025 hingga 31 Oktober 2025. Selama periode tersebut, penulis
menjalankan aktivitas magang mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Museum
Bahari Jakarta menerapkan kebijakan bekerja dari kantor atau Work from
Office (WFO), sehingga penulis hadir secara langsung di lokasi setiap hari
Selasa hingga Sabtu. Museum Bahari Jakarta sendiri berlokasi di Jl. Ps. Ikan
No.1, RT.11/RW.4, Penjaringan, Kec. Penjaringan, Jakarta Utara, DKI Jakarta
14440.

Gambar 3 1 maps letak Museum Bahari Jakarta
3.2 Prosedur Pelaksanaan
Terdapat beberapa tahapan sistematis yang
dilakukan penulis dalam melaksanakan kegiatan magang kerja
3.2.1 Persiapan
Sebelum memulai kegiatan magang, penulis melakukan beberapa langkah
persiapan sebagai berikut:
1. Penulis mengirimkan dokumen berupa Curriculum
Vitae (CV) dan surat pernyataan magang secara resmi kepada Bapak Iman
selaku Ketua Satuan Pelaksana Koleksi, Edukasi, dan Informasi, yang juga
bertindak sebagai mentor lapangan di Museum Bahari Jakarta.
2. Melakukan konfirmasi ulang mengenai
kesepakatan kontrak magang dan durasi pelaksanaan yang telah disetujui oleh
pihak museum dan penulis.
3. Mengikuti sesi pengarahan awal
bersama Bapak Iman untuk mendapatkan informasi mendalam mengenai profil museum,
serta memahami pembagian tugas (job description) yang berfokus pada
bidang penerjemahan.
3.2.2 Pelaksanaan
Selama
masa magang dengan metode WFO, penulis melaksanakan serangkaian kegiatan sebagai berikut:
1.
Menjalankan
tugas rutin sesuai jadwal operasional museum dari hari Selasa hingga Sabtu
selama tiga bulan penuh.
2.
Menerima
materi katalog koleksi dan teks label dalam Bahasa Indonesia dari Bapak Iman
melalui grup komunikasi khusus untuk peserta magang.
3.
Melaksanakan
tugas utama yaitu menerjemahkan label koleksi dari Bahasa Indonesia ke Bahasa
Inggris. Proses ini memberikan pengalaman nyata bagi penulis dalam mengolah
istilah-istilah teknis sejarah dan maritim agar lebih mudah dipahami pengunjung
mancanegara. Dalam pelaksanaannya, penulis secara konsisten menyelesaikan
target penerjemahan label yang telah ditentukan setiap minggunya.
4.
Mendiskusikan
hasil terjemahan dengan mentor untuk mendapatkan masukan atau saran perbaikan.
Penulis kemudian mempelajari setiap evaluasi tersebut guna meningkatkan
kualitas akurasi bahasa dan kesesuaian konteks pada label koleksi.
3.2.3 Pelaporan
Pelaporan dilakukan untuk mendokumentasikan setiap kemajuan dan
aktivitas yang telah dikerjakan penulis:
1.
Absensi
Harian: Penulis secara rutin mengisi daftar kehadiran datang dan pulang sebagai
bukti kedisiplinan dan pemenuhan jam kerja.
2.
Logbook
Kegiatan: Setiap harinya penulis merangkum daftar label koleksi yang telah
diterjemahkan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada program studi mengenai
aktivitas magang yang dilakukan.
3.
Evaluasi
Mandiri: Di penghujung periode magang, penulis melakukan evaluasi diri
untuk menilai kemajuan dan pencapaian yang telah diraih selama bertugas di
Museum Bahari. Penulis merenungkan berbagai keterampilan yang telah
dikembangkan, terutama dalam kemampuan menerjemahkan teks sejarah, ketelitian
dalam pemilihan istilah teknis (maritim), serta manajemen waktu dalam
menyelesaikan target label.
4.
Penyusunan
Laporan Akhir: Sebagai tahap penutup, penulis menyusun laporan akhir secara
komprehensif yang berisi seluruh pengalaman dan hasil kerja mengenai
penerjemahan label sebagai upaya peningkatan aksesibilitas informasi di Museum
Bahari Jakarta
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Profil Lokasi Magang
4.1.1 Sejarah Singkat
Lokasi Magang
Museum Bahari Jakarta
merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki nilai penting dalam
perkembangan sejarah maritim dan perkotaan Jakarta. Bangunan Museum Bahari
beserta Menara Syahbandar ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang
dilindungi oleh Monumenten Ordonnantie Tahun 1931 (Staatsblad Nomor 238
Tahun 1931) serta diperkuat melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor
CB. 11/1/12/72 tanggal 10 Januari 1972. Penetapan ini menunjukkan adanya
perhatian serius dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap upaya
pelestarian bangunan bersejarah yang memiliki nilai budaya dan sejarah tinggi.
Pada masa kepemimpinan
Gubernur Ali Sadikin, perhatian terhadap pelestarian bangunan tua dan
bersejarah semakin ditingkatkan. Hal ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan
terhadap kondisi bangunan-bangunan bersejarah di Jakarta yang banyak mengalami
kerusakan dan terancam hilang akibat perkembangan kota. Oleh karena itu,
penetapan Museum Bahari sebagai bangunan bersejarah tidak hanya bertujuan untuk
melindungi fisik bangunan, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
akan pentingnya sejarah nasional, khususnya sejarah maritim dan perkembangan
Kota Jakarta.
Pada tahun 1976,
bangunan Museum Bahari mengalami proses pemugaran sebagai langkah awal
penyesuaian fungsi bangunan dari gudang penyimpanan menjadi museum. Pemugaran
tersebut dilakukan dengan tetap mempertahankan bentuk arsitektur asli bangunan
agar nilai historisnya tetap terjaga. Selanjutnya, pada tanggal 30 Juni 1977,
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjalin kerja sama dengan Departemen
Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut untuk menjadikan
bangunan tersebut sebagai Museum Bahari Jakarta.
Kerja sama ini
bertujuan untuk memelihara, meneliti, mengembangkan, serta memperkaya koleksi
benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan dunia kemaritiman Indonesia.
Koleksi yang dihimpun mencakup berbagai objek, peralatan, serta naskah yang
berhubungan dengan pelayaran, perkapalan, dan angkutan laut, baik ditinjau dari
aspek historis maupun teknis. Museum Bahari Jakarta kemudian diresmikan pada
tanggal 7 Juli 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sebagai museum yang
berfokus pada sejarah dan budaya maritim Indonesia.
Pada tahun 1993,
melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Nomor
475 Tahun 1993, Museum Bahari Jakarta secara resmi ditetapkan sebagai bangunan
cagar budaya. Penetapan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian
bangunan-bangunan bersejarah di wilayah DKI Jakarta agar tetap terjaga
keberadaannya dan dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat.
Secara geografis,
Museum Bahari Jakarta terletak di kawasan Pasar Ikan, Kecamatan Penjaringan,
Jakarta Utara. Kawasan ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan
aktivitas perdagangan dan pelayaran sejak masa kolonial Belanda. Sejak era Vereenigde
Oostindische Compagnie (VOC), kawasan ini telah berkembang sebagai pusat
distribusi hasil laut. Dalam catatan sejarah, kawasan Pasar Ikan dikenal dengan
sebutan Vishmarkt, yang berfungsi sebagai tempat utama penjualan ikan di
Batavia.
Pasar Ikan pertama
kali dibangun pada tahun 1631 oleh pemerintah kolonial Belanda dengan bangunan
awal berbentuk heksagon yang terletak di sebelah timur Sungai Ciliwung. Seiring
dengan perkembangan kota dan kebutuhan pelabuhan, lokasi pasar kemudian dipindahkan
ke area dermaga yang hingga kini masih digunakan. Meskipun pusat perkembangan
Kota Jakarta mengalami pergeseran dari kawasan Sunda Kelapa menuju pusat kota
modern, kawasan Pasar Ikan tetap bertahan sebagai bagian penting dari sejarah
maritim Jakarta. Keberadaan Museum Bahari di kawasan ini semakin memperkuat
identitas Jakarta sebagai kota pelabuhan yang memiliki sejarah panjang dalam
bidang kemaritiman.
4.1.2 Struktur Organisasi
dan Tata Kelola
Berikut adalah struktur organisasi Museum Bahari Jakarta.
Gambar
4 1 Struktur
Organisasi
Museum Bahari Jakarta
dikelola di bawah Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta yang memiliki
struktur organisasi tersusun secara hierarkis guna mendukung kelancaran
operasional dan tata kelola museum. Struktur organisasi ini dirancang untuk
memastikan setiap unit memiliki tugas dan tanggung jawab yang jelas sesuai
dengan fungsinya masing-masing.
Pada tingkat
tertinggi, Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta berada di bawah koordinasi
Kepala Dinas yang bertanggung jawab dalam perumusan kebijakan strategis serta
pengawasan pengelolaan unit secara menyeluruh. Di bawah Kepala Dinas, Kepala
Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta memegang peran penting dalam
mengoordinasikan seluruh kegiatan operasional museum serta menjembatani
komunikasi antara pimpinan dan unit pelaksana. Jabatan Kepala Unit Pengelola
Museum Kebaharian Jakarta saat ini diemban oleh Mis’ari, S.Pd., M.Hum.
Dalam mendukung
kelancaran administrasi, terdapat Subbagian Tata Usaha yang bertugas menangani
urusan administratif dan manajerial. Subbagian ini dipimpin oleh M. Ismail
Fahreza, S.T., M.T., Tr.IP., dengan tanggung jawab meliputi pengelolaan
keuangan, inventaris aset, verifikasi administrasi keuangan, pengelolaan data,
serta pengarsipan dokumen.
Pelaksanaan
operasional museum dibagi ke dalam beberapa satuan pelaksana sesuai dengan
bidang tugasnya. Satuan Pelaksana Koleksi, Edukasi, dan Informasi dipimpin oleh
Nurul Iman, S.Hum., yang bertanggung jawab atas pengelolaan koleksi museum,
pengembangan kegiatan edukasi, serta penyediaan informasi kepada pengunjung.
Satuan ini didukung oleh tenaga Pamong Budaya Ahli Pertama serta Pengolah Cagar
Budaya yang berperan dalam pelestarian dan pengelolaan koleksi.
Satuan Pelaksana
Prasarana dan Sarana berada di bawah kepemimpinan Dody Siswanto, S.E., dan
bertugas mengelola fasilitas serta infrastruktur museum agar tetap berfungsi
dengan baik. Dalam menjalankan tugasnya, satuan ini didukung oleh staf Pengolah
Penataan Sarana dan Prasarana yang memastikan kesiapan fasilitas pendukung
operasional museum.
Selanjutnya, Satuan
Pelaksana Pelayanan Museum Bahari dipimpin oleh Devi Sihotang, S.Ant., yang
bertanggung jawab terhadap pelayanan pengunjung serta pengelolaan koleksi di
Museum Bahari. Selain itu, terdapat Satuan Pelaksana Pelayanan Museum Arkeologi
Onrust yang dikepalai oleh Teuku Muhammad Rizki Ramadhan, S.Ant., dengan tugas
utama mengelola pelayanan dan koleksi museum, didukung oleh tenaga Pamong
Budaya Terampil.
Unit lainnya adalah
Satuan Pelaksana Pelayanan Situs Marunda yang dipimpin oleh Sumardi, S.Sos.
Satuan ini bertanggung jawab atas pengelolaan dan pelayanan koleksi di Situs
Marunda serta didukung oleh Pamong Budaya Terampil dalam pelaksanaan tugasnya.
Struktur organisasi
Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta juga dilengkapi dengan indikator
pengelolaan sumber daya manusia, seperti kompetensi lainnya, beban kerja,
kompetensi jabatan, dan selisih kebutuhan. Indikator-indikator tersebut
digunakan untuk menilai efektivitas serta kesesuaian jumlah dan kompetensi
tenaga kerja dengan kebutuhan organisasi. Dengan pembagian tugas dan tanggung
jawab yang jelas, struktur organisasi ini mendukung koordinasi yang efektif
dalam menjalankan operasional Museum Bahari Jakarta secara keseluruhan.
4.2 Deskripsi Kegiatan Magang
Selama melaksanakan
kegiatan magang di Museum Bahari, penulis terlibat aktif dalam berbagai unit
kerja yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan aksesibilitas
informasi bagi pengunjung, terutama wisatawan mancanegara. Berdasarkan
pelaksanaan tugas di lapangan, kegiatan magang penulis dikategorikan ke dalam
lima bidang pekerjaan utama sebagai berikut:
1. Penerjemahan dan
Aksesibilitas Informasi (Core Task)
Kegiatan utama penulis berfokus pada
penerjemahan label koleksi dan materi katalog museum dari Bahasa Indonesia ke
Bahasa Inggris. Tugas ini sangat krusial dalam upaya peningkatan aksesibilitas
informasi di Museum Bahari. Dalam prosesnya, penulis melakukan analisis teks
sumber, riset istilah sejarah maritim, hingga restrukturisasi kalimat agar
informasi dapat tersampaikan secara akurat dan mudah dipahami oleh pembaca
internasional.
2. Pemanduan
Pengunjung Berbasis Bahasa Inggris (Guiding)
Penulis berkontribusi langsung
sebagai pemandu (tour guide) bagi pengunjung mancanegara. Dalam kegiatan
ini, penulis menggunakan kemampuan bahasa Inggris lisan untuk menjelaskan
nilai-nilai sejarah gedung, koleksi rempah, hingga kejayaan maritim Nusantara.
Aktivitas ini menjadi sarana penulis untuk mempraktikkan komunikasi lintas
budaya dan menjawab pertanyaan pengunjung secara spontan.
3. Manajemen Konten dan Promosi
Digital Penulis
membantu dalam pembuatan konten media sosial (Instagram) Museum Bahari dengan
menyusun takarir (caption) dan deskripsi informatif dalam bahasa
Inggris. Melalui kategori pekerjaan ini, penulis mendukung strategi promosi
digital museum agar mampu menjangkau audiens global dan meningkatkan minat
wisatawan asing untuk berkunjung.
4. Pengelolaan
Fasilitas dan Pelayanan Publik
Penulis memiliki tanggung jawab
dalam menjaga dan mengelola pelayanan publik di area khusus, yaitu
Perpustakaan, Bioseum, dan Menara Syahbandar. Tugas ini mencakup pemberian
informasi operasional kepada pengunjung, memastikan kenyamanan fasilitas, dan
memahami alur pelayanan administrasi museum secara langsung.
5. Manajemen Acara
dan Workshop Edukatif
Penulis terlibat secara
aktif dalam tim pendukung acara besar seperti JITEX 2025 serta pelaksanaan
berbagai workshop edukatif bagi anak-anak. Keterlibatan ini meliputi
bantuan teknis lapangan, koordinasi peserta, hingga mendampingi instruktur
dalam memberikan arahan kreatif kepada pengunjung.
Selain kegiatan harian di museum, penulis juga berpartisipasi aktif
dalam kegiatan eksternal berskala besar, salah satunya adalah ajang Jakarta
International Expo (JITEX) 2025. Dalam kegiatan ini, penulis bertugas
memberikan informasi mengenai profil Museum Bahari kepada calon pengunjung dan
membantu koordinasi teknis di lapangan. Dokumentasi keterlibatan penulis dalam
acara tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar
4 2 Dokumentasi
Booth Pameran Museum Bahari
Sebagaimana terlihat pada Gambar 4.2,
partisipasi penulis dalam JITEX 2025 merupakan implementasi nyata dari
kemampuan komunikasi publik dan kerja sama tim. Melalui acara ini, penulis
belajar bagaimana merepresentasikan institusi secara profesional dan menjalin
interaksi dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) di
industri pariwisata. Hal ini sejalan dengan tujuan magang untuk mengasah
kesiapan mental dan adaptabilitas di luar lingkungan kantor biasanya.
4.3 Pembahasan Hasil Kegiatan Magang
Pada bagian ini, penulis akan
menguraikan hasil kerja utama selama masa magang di Museum Bahari, yaitu
penerjemahan label koleksi, serta bagaimana ilmu yang didapat selama
perkuliahan di program studi Sastra Inggris diimplementasikan dalam praktik
kerja nyata.
4.3.1 Alur Kerja Penugasan
Dalam menyelesaikan
tugas penerjemahan 13 label koleksi, penulis mengikuti alur kerja sistematis
sebagai berikut:
1.
Penerimaan Materi (Penugasan): Materi teks label koleksi museum dalam Bahasa
Indonesia diterima oleh penulis melalui grup koordinasi digital dari mentor
lapangan, Bapak Iman. Pada tahap ini, penulis melakukan identifikasi awal
terhadap jenis teks dan tingkat kesulitan istilah maritim yang ada.
2.
Proses Kerja (Analisis, Transfer, dan Restrukturisasi): Sejalan dengan teori Nida dan Taber
(1982), penulis memulai dengan tahap analisis untuk memahami konteks historis
artefak. Kemudian, dilakukan transfer makna ke dalam bahasa Inggris di mana
penulis sering kali menghadapi tantangan istilah culture-specific.
Proses ini diakhiri dengan restrukturisasi, yaitu menyusun kembali kalimat agar
sesuai dengan karakteristik label museum yang harus ringkas, padat (concise),
dan komunikatif.
3.
Evaluasi dan Finalisasi: Setelah draf terjemahan selesai, penulis melakukan diskusi dan
konsultasi kembali dengan mentor untuk mengevaluasi akurasi istilah sejarah.
Setelah mendapatkan persetujuan, hasil final diserahkan secara resmi kepada
pihak Museum Bahari untuk kemudian diimplementasikan pada label koleksi atau
katalog museum.
4.3.2 Cara
Menerjemahkan Label
Koleksi Museum
Dalam pelaksanaan
magang di Museum Bahari Jakarta, penulis menemukan bahwa penerjemahan label
koleksi memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan penerjemahan teks
tertulis lainnya. Label museum merupakan teks informatif yang menuntut
kepadatan informasi, namun tetap harus mudah dipahami dalam waktu singkat
karena dibaca oleh pengunjung sambil mengamati objek pameran. Oleh karena itu,
penerjemahan label koleksi memerlukan strategi yang tidak hanya berorientasi
pada keakuratan makna, tetapi juga pada efektivitas penyampaian informasi.
Sejalan dengan teori
Reiss (1989) yang telah dibahas pada Bab II, label museum diklasifikasikan
sebagai teks informatif yang berfungsi menyampaikan fakta, data, dan
pengetahuan secara objektif. Dalam praktiknya, tantangan utama yang dihadapi
penulis adalah bagaimana menyampaikan latar belakak artefak yang luas dan
kompleks ke dalam Bahasa Inggris yang singkat, padat, tetap sarat makna. Untuk
menjawab tantangan tersebut, penulis menerapkan proses penyaringan informasi (information
filtering), yaitu merangkum teks sejarah yang panjang dengan memilih
informasi yang paling relevan bagi pengunjung, seperti fungsi artefak, periode
sejarah, serta nilai signifikansinya.
Selain menghadapi
masalah ruang, penulis juga mengalami tantangan dalam menerjemahkan istilah
teknis di bidang perkapalan serta budaya lokal yang sulit ditemukan artinya
dalam Bahasa Inggris. Mengacu pada prinsip ketidakekuivalenan dalam
penerjemahan menurut Mona Baker (2018), penulis menggunakan beberapa strategi
seperti generalisasi, deskripsi, dan amplifikasi agar makna tetap tersampaikan
dengan jelas. Contohnya, istilah “ABK (Anak Buah Kapal)” diterjemahkan menjadi
“crew members”, kemudian diikuti dengan penjelasan deskriptif untuk kata
“binnacle”, serta penambahan ungkapan budaya “rumah kompas”. Selain itu,
istilah “kuda-kuda pilar” diterjemahkan secara lebih umum menjadi “roof
pillars” untuk menghindari kesalahpahaman antar budaya. Penggunaan strategi
ini menunjukkan usaha penulis dalam menjaga akurasi istilah sekaligus memenuhi
kebutuhan pembaca asing yang mengakses tulisan ini.
Ketepatan dalam
pemilihan kata menjadi faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan
penerjemahan label koleksi.
Kesalahan dalam menerjemahkan
istilah teknis atau budaya dapat menyebabkan pengunjung salah memahami fungsi
atau nilai sejarah artefak yang dipamerkan. Oleh karena itu, penulis melakukan
riset mendalam dengan memanfaatkan kamus khusus maritim, literatur sejarah,
serta jurnal dan sumber akademik yang relevan guna memastikan bahwa istilah
yang digunakan akurat secara linguistik dan ilmiah.
Melalui penerapan
strategi penerjemahan yang selektif, kontekstual, dan berbasis teori, penulis
berupaya menghasilkan terjemahan label koleksi yang tidak hanya setia pada teks
sumber, tetapi juga komunikatif dan mudah dipahami oleh pengunjung mancanegara.
Dengan demikian, cara penerjemahan label koleksi yang dilakukan selama magang
ini merupakan wujud implementasi langsung dari teori penerjemahan informatif
dan prinsip komunikasi efektif yang telah dipelajari di perkuliahan.
Gambar
4 3 Contoh Label
Koleksi dalam Bahasa Indonesia
Gambar 4.3 menunjukkan kondisi salah satu label
koleksi di Museum Bahari sebelum dilakukannya proses penerjemahan. Terlihat
bahwa informasi sejarah pada label tersebut hanya tersedia dalam Bahasa
Indonesia, yang membatasi aksesibilitas informasi bagi pengunjung mancanegara.
Foto ini menjadi dasar atau "teks sumber" yang penulis gunakan dalam
melakukan analisis kontekstual sebelum memulai tahapan penerjemahan. Melalui
dokumentasi ini, penulis ingin menunjukkan urgensi dari penugasan magang ini,
yaitu untuk mentransformasi label yang sebelumnya monolingual menjadi
bilingual. Penulis memastikan bahwa hasil final (sebagaimana tercantum dalam
Tabel 4.1) tetap menjaga akurasi informasi sejarah namun disajikan dengan
terminologi Inggris yang tepat, guna memberikan pengalaman edukatif yang
inklusif bagi wisatawan internasional.
4.3.3 Hasil Penerjemahan Label
Koleksi
Berikut adalah hasil kerja
penerjemahan label koleksi yang telah diselesaikan oleh penulis selama masa
magang:
Tabel 4 1 Daftar Penerjemahan Label Koleksi
|
No. |
Judul Koleksi |
Teks Asli (Bahasa Indonesia) |
Hasil Terjemahan (Bahasa Inggris) |
|
1. |
Duka Bersama (Shared Grief) |
Seekor burung merasakan duka
yang sama akibat kebakaran Museum Bahari. Bahan yang ia bawa jadi percuma
karena sarangnya telah habis terbakar api.
|
A bird shares in the
collective sorrow following the Maritime Museum fire. The nesting materials
it had gathered were rendered useless when its home was consumed by flames.
|
|
2. |
Pencegahan Kebakaran Museum
dan Cagar Budaya (Fire Prevention in Museums
and Cultural Heritage Sites)
|
Sejatinya, Museum memiliki kewajiban untuk
melindungi koleksi dari kehilangan, kerusakan, dan juga berkewajiban
melindungi pengunjung dari bahaya yang terjadi di ruang pamer. Salah satunya
resiko kebakaran, kebakaran merupakan api yang tidak terarah artinya diluar
kemampuan manusia. Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja
Republik Indonesia No.Kep.186/men/1999 tentang unit penanggulangan kebakaran
ditempat kerja, museum masuk kedalam klasifikasi bahaya kebakaran ringan
tetapi, karena kepadatan koleksinya klasifikasi tingkat risiko kebakaran pada
museum pun bisa naik satu tingkat ke atas. Maka, pencegahan resiko kebakaran perlu
ditingkatkan. Hal ini dilakukan oleh Museum Bahari dengan cara : 1. Memperhitungkan jumlah satpam dengan luas
areal Museum Bahari dan memperkuat sistem disiplin penjagaan. 2. Pelatihan pengamanan dilakukan secara
rutin. 3. Program penanggulangan bencana meliputi
bangunan, koleksi museum, staf, pengunjung dari bencana alam, gangguan
manusia atau lainnya. 4. Pemeriksaan barang-barang yang keluarmasuk
museum, prosedur masuk dan keluar museum, patroli yang tetap pada waktu jam
buka dan tutup di dalam areal museum. 5. Pengontrolan dan pemeriksaan peralatan
pengamanan (elektronik) dan peralatan pemadam kebakaran (tabung pemadam,
hidran, dan lain-lain). 6. Penyediaan alat pengamanan gedung seperti
smoke detector dan fire alarm pada sebagian gedung yang telah direstorasi
paska kebakaran. 7. Penyediaan CCTV sebagai bagian dari
pengontrolan Museum Bahari dan penyediaan hidran disetiap ruangan Museum
Bahari. |
Museums have the fundamental
obligation to protect collections from loss and damage, as well as to
safeguard visitors from potential hazards in exhibition spaces. One such risk
is fire an uncontrolled flame that exceeds human capability to manage. According to the Decree of
the Minister of Manpower of the Republic of Indonesia No. Kep.186/men/1999
regarding workplace fire response units, museums are classified as having a
light fire hazard risk. However, due to the density of collections, the fire
risk classification level in museums can increase by one level. Therefore, fire prevention
measures must be enhanced. The Maritime Museum implements these measures
through: 1. Calculating the
appropriate number of security guards relative to the Maritime Museum’s area
and strengthening disciplinary security systems. 2. Conducting regular
security training programs. 3. Implementing disaster
management programs covering buildings, museum collections, staff, and
visitors from natural disasters, human interference, or other threats. 4. Inspecting items entering
and leaving the museum, establishing entry and exit procedures, and
maintaining regular patrols during opening and closing hours throughout the
museum premises. 5. Controlling and
inspecting security equipment (electronic) and firefighting equipment (fire
extinguishers, hydrants, and others). 6. Installing building
security systems such as smoke detectors and fire alarms in sections of
buildings that have been restored following the fire. 7. Providing CCTV systems as
part of Maritime Museum monitoring and installing hydrants in every Maritime
Museum room.
|
|
3. |
Kisah Bangunan Cagar Budaya
yang terbakar: Museum Brazil
(The Story of a Heritage Building Fire:
Brazil's National Museum)
|
Pada tanggal 2 September
2018,di tahun yang sama dengan musibah kebakaran di salah satu museum tertua
di Brazil yaitu National Brazil yang berada di Rio de Janeiro. Museum
Nasional Brazil juga merupakan bangunan cagar budaya bekas kediaman keluarga
kerajaan Portugis yang diubah menjadi museum pada akhir abad ke-19. Museum Nasional Brazil
merupakan museum sejarah alam terbesar di Amerika Latin mulai terbakar
sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Api menghanguskan rusng pameran, arsip,
perpustakaan, koleksi-koleksi dari berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti
antropologi, arkeologi, geologi, biologi, linguistik, dan lainnya. Bahkan
fosil manusia tertua yang pernah ditemukan di Amerika (“Luzia” yang berumur
12.000 tahun) ikut terbakar. Terbakarnya Museum Nasional
Brazil merupakan kehilangan yang sangat besar bagi pemerintah Brazildan juga
komunitas Museum Internasional. Perlu perhatian serius dan perawatan khusus
bagi museum-museum yang menempati bangunan cagar budaya. Sebab bagi pengelola
museum, mereka memiliki dua tanggung jawab selain mengembangkan museumnya
mereka harus dapat menjaga dan melestarikan bangunan cagar budaya. Hilangnya
museum sama dengan hilangnya pengetahuan dan memori kolektif.
|
On September 2, 2018, the same year as the
fire incident at one of Brazil's oldest museums, the National Museum of
Brazil located in Rio de Janeiro was destroyed by fire. Brazil's National
Museum was also a cultural heritage building, formerly the residence of the
Portuguese royal family, which was converted into a museum in the late 19th
century. Brazil's National Museum, the largest natural
history museum in Latin America, began burning around 7:30 PM local time. The
fire consumed exhibition halls, archives, the library, and collections from
various fields of science including anthropology, archaeology, geology,
biology, linguistics, and others. Even the oldest human fossil ever
discovered in the Americas ("Luzia," dating back 12,000 years) was
destroyed in the blaze. The burning of Brazil's National Museum
represents an enormous loss for the Brazilian government and the
international museum community. Serious attention and special care are
required for museums housed in cultural heritage buildings. Museum managers
bear dual responsibilities: beyond developing their museums, they must
preserve and maintain cultural heritage buildings. The loss of a museum
equals the loss of knowledge and collective memory.
|
|
4. |
Potret Museum Bahari
Terbakar
(Photographic Documentation of the Maritime
Museum Fire)
|
Potret kejadian kebakaran
Museum Bahari direkam untuk menjadi pengingat dan menjadi memori kolektif
bersama terkait perah terjadinya musibah yang menimpa museum dan juga
bangunan cagar budaya. Sebagai pembelajaran utnuk kedepannya agar hal serupa
tidak terjadi lagi di museum maupun bangunan budaya manapun di dunia.
Kumpulan potret terbakarnya Museum Bahari ini merupakan hasil dari kumpulan
dokumentasi berbagai pihak ada dari pihak Museum Bahari, media-media yang
meliput, komunitas, dan warga sekitar museum.
|
This photographic capture the fire incident
at Museum Bahari, has been preserved to serve as both a memorial and
collective memory of the devastating incident that struck this museum and
cultural heritage site. These images provide valuable lessons for future
prevention efforts, helping to ensure that similar tragedies do not befall
museums or cultural buildings anywhere in the world. This photographic
collection represents collaborative documentation efforts by multiple
parties, including the Museum Bahari, news media, community groups, and local
residents. |
|
5. |
Ruang Pamer: Sebelum
Kejadian Terbakar
(Exhibition Hall: Before the
Fire Incident) |
Sebelum terjadinya musibah
kebakaran di Museum Bahari, ruang memorial ini difungsikan sebagai pameran
Perang Laut Jawa. Pameran ini menceritakan tentang perang di sekitar wilayah
Laut Jawa dan Selat Sunda pada masa Perang Dunia II. Beberapa negara yang terlibat
dalam pertempuran Perang Laut Jawa ini juga turut terlibat dalam penyusunan
dan isi materi pameran, diantaranya adalah Australia, Belanda Amerika, dan
Inggris. Beberapa koleksi yang
ditampilkan adalah alat-alat navigasi piring milik ABK, selongsong peluru,
miniatur-miniatur kapal dan lainnya. Pameran Perang Laut Jawa ini
tidak hanya menceritakan terkait peristiwanya saja, namun ada pula beberapa
informasi pengetahuan lain yang ditampilkan seperti tentang arkeologi bawah
air dan penyelematan benda cagar budaya di bawah air. Informasi tersebut ditampilkan
dengan mengambil contoh bangkai kapal HAMS Perth yang tenggelam di Selat
Sunda.
|
Before the fire tragedy at Museum Bahari,
this memorial hall functioned as an exhibition space dedicated to the Battle
of the Java Sea. The exhibition told the story of naval battles that took
place around the Java Sea and Sunda Strait during World War II. Several countries involved in the Battle of
the Java Sea also participated in the development and content of the
exhibition materials, including Australia, the Netherlands, the United
States, and the United Kingdom. Some of the collections displayed included
navigation instruments, crew members' personal dishes, bullet casings, ship
miniatures, and other artifacts. The Battle of the Java Sea exhibition did not
only chronicle the historical events, but also presented additional
educational information such as underwater archaeology and the salvage of
underwater cultural heritage objects. This information was illustrated using
the example of the HMAS Perth wreck that sank in the Sunda Strait.
|
|
6. |
Berita Berita Kebakaran
(Fire Incident)
|
Surat kabar Warta Kota terbitan Kamis, 18
Januari 2018. Memberitakan tentang proses pemadaman api di Museum Bahari yang
memakan waktu hingga tiga hari sebab di beberapa bagian masih terlihat asap
dari sisa-sisa kebakaran.
|
On January 18, 2018, Warta Kota newspaper
reported that the fire at Museum Bahari took three days to be completely put
out. Smoke from the remains of the blaze was still visible in several parts
of the building.
|
|
7. |
Berita Berita Kebakaran
(Fire Incident)
|
Surat kabar Warta Kota terbitan Rabu 17
Januari 2028. Mewartakan bila kebakaran di Museum Bahari terjadi karena
percikan neon. Pada halaman depan surat kabar ini juga ada sedikit kisah
tentang peresmian Museum Bahari oleh Ali Sadikin di tanggal cantik 7 Juli
1977. |
On Wednesday, January 17, 2018, Warta Kota
newspaper reported that the fire at Museum Bahari was caused by sparks from a
neon light. On its front page, the newspaper also featured a short story
about the inauguration of Museum Bahari by Ali Sadikin on the memorable date
of July 7, 1977. |
|
8. |
Berkobar
(Blaze) |
Nyala api berkobar memenuhi ruang gedung
Museum Bahari
|
Flames raged and filled the rooms of Museum
Bahari. |
|
9. |
Asap
(Smoke) |
Kepulan asap masih membumbung
tinggi dari gedung yang sudah tidak punya atap
|
Thick smoke rose high from
the roofless museum building.
|
|
10. |
Restorasi Museum Bahari
(Restoration of Museum
Bahari)
|
1. Pasang papan lantai 2. Pasang papan lantai kayu 3. Pasang tangga baru 4. Pasang rangka atas 5. Pasang beton struktur 6. Pasang tangga kayu
|
1. Installation of wooden floor panels 2. Installation of wooden flooring 3. Construction of a new staircase 4. Installation of the roof frame 5. Reinforcement with structural concrete 6. Construction of a wooden staircase
|
|
11. |
Langkah-langkah Restorasi
(Restoration Steps)
|
1. Pasang aluminium foil 2. Pasang nok karpusan 3.Pasang genteng
keramik 4. Pasang listplank 5. Pasang dinding papan kayu
sisi kandang burung 6. Pasang papan plafon
|
1. Adding insulation with
aluminum foil 2. Placing a roof ridge
cover 3. Installing ceramic roof
tiles 4. Adding wooden edge boards
under the roof 5. Building wooden walls on
the side of the birdcage area 6. Installing ceiling panels
|
|
12. |
Pameran Memorial Museum
Bahari Kuda-Kuda Pilar
(Museum Bahari Memorial
Exhibition Roof Pillars)
|
Meski telah terlahap kobaran
api, kuda-kuda pilar yang menopang atap Museum Bahari masih tetap kokoh dan
indah.
|
Even after the fire, the
roof pillars of the Maritime Museum remained standing strong and beautiful.
|
|
13. |
Kompas Magnetik
(Magnetic Compass)
|
Saat navigator di dunia
menemukan sifat-sifat kompas magnetik, kompas menjadi salah satu alat
navigasi terpenting di kapal. Saat awal perkembangannya, kompas menjadi
referensi cadangan dalam membantu dalam memberikan informasi mengenai
orientasi kapal. Para navigator sangat terbantu dengan adanya kompas,
terutama pada kondisi malam hari ketika tidak terlihat landmark
(tanda/patokan) yang sudah dikenal sebelumnya. Kompas yang berada di kapal
biasanya sering dipasang pada binnacle merupakan tempat dudukan atau rumahan
sebagai tempat untuk menaruh kompas. Nama binnacle berasal dari bahasa latin
habitaculum yang berarti ‘tempat tinggal kecil’, masyarakat di Indonesia
kemudian menyebut kompas kapal bersama tempat/ruangan untuk menaruh kompasnya
dengan sebutan rumah ‘rumah kompas’ |
When navigators discovered
the properties of the magnetic compass, it became one of the most important
tools on ships. In its early use, the compass served as a backup reference to
help determine the ship’s orientation, especially at night when landmarks
were not visible. Onboard, the compass was
usually placed in a binnacle, a stand or housing for the instrument. The word
“binnacle” comes from the Latin ‘habitaculum’, meaning “small dwelling.” In
Indonesia, sailors often called it ‘rumah kompas’, or “compass house.” |
4.3.4 Implementasi Ilmu Program Studi dalam
Program Magang
Dalam praktik penerjemahan selama masa magang, penulis
mengimplementasikan berbagai metode dan teknik penerjemahan yang telah
dipelajari selama perkuliahan, sebagaimana dijelaskan pada Bab II. Metode yang
paling dominan digunakan adalah metode penerjemahan komunikatif (Newmark), yang
berfokus pada kejelasan pesan bagi pembaca target. Metode ini sangat relevan
dengan fungsi teks informatif yang harus mudah dipahami oleh pengunjung
internasional. Selain itu, penulis menerapkan berbagai teknik penerjemahan menurut
Molina dan Albir, antara lain:
1.
Penerjemahan Harfiah (Literal Translation)
Penerjemahan harfiah digunakan ketika struktur dan makna bahasa sumber
dan bahasa sasaran sejajar sehingga pesan dapat dialihkan secara langsung tanpa
perubahan signifikan. Contohnya, kalimat “Kapal ini digunakan untuk perdagangan
antarpulau” diterjemahkan menjadi “This ship was used for inter-island
trade.” Penerjemahan ini mempertahankan struktur kalimat serta makna asli
teks sumber.
2.
Peminjaman (Borrowing)
Teknik peminjaman diterapkan terutama pada istilah budaya dan nama
kapal tradisional untuk menjaga keaslian dan nilai historisnya. Sebagai contoh,
istilah pinisi tetap digunakan dalam bahasa sasaran pada kalimat “The pinisi
boat is an icon of Indonesian maritime culture.” Penggunaan teknik ini
memungkinkan pengunjung asing mengenal istilah lokal tanpa menghilangkan
identitas budaya.
3.
Deskripsi (Description)
Teknik deskripsi digunakan pada istilah teknis kemaritiman yang tidak
memiliki padanan langsung dalam bahasa Inggris. Contohnya, istilah layar tanja
diterjemahkan menjadi “tanja sail, a traditional rectangular sail used in
Indonesian waters.” Melalui teknik ini, makna istilah dapat dipahami dengan
jelas oleh pembaca bahasa sasaran.
4.
Amplifikasi (Amplification)
Amplifikasi digunakan untuk menambahkan informasi kontekstual yang
membantu pemahaman pengunjung asing terhadap latar sejarah atau budaya
tertentu. Sebagai contoh, kalimat “Mercusuar ini dibangun pada abad ke-19”
diterjemahkan menjadi “This lighthouse was built in the 19th century during
the Dutch colonial period.” Informasi tambahan tersebut memperjelas konteks
sejarah objek yang dipamerkan.
5. Reduksi
(Reduction)
Teknik reduksi diterapkan untuk menyederhanakan teks sumber yang
terlalu panjang agar sesuai dengan keterbatasan ruang label pameran tanpa
menghilangkan informasi inti. Misalnya, deskripsi “Kapal ini digunakan oleh
nelayan lokal untuk menangkap ikan di perairan pesisir dengan peralatan
tradisional” diringkas menjadi “This ship was used by local fishermen for
coastal fishing.” Teknik ini membantu menyajikan informasi secara ringkas
dan efektif.
2. Implementasi Ilmu Linguistik
Penerapan ilmu bahasa,
terutama tata bahasa dan sintaksis, merupakan bagian penting dalam membuat
terjemahan yang tepat dan sesuai dengan konteks. Seperti yang dibahas dalam Bab
II, aspek linguistik membantu menjaga kejelasan, keselarasan, dan relevansi pesan.
Dalam praktik menerjemahkan, penulis terus-menerus menggunakan tenses yang
tepat, yaitu Simple Past Tense untuk menjelaskan peristiwa dan kondisi yang
sudah terjadi di masa lalu, serta Simple Present Tense untuk
menyampaikan makna, dampak, dan fakta yang masih relevan hingga saat ini.
Contoh penggunaan Simple Past Tense terdapat pada kalimat "On
September 2, 2018, … Brazil's National Museum began burning around 7:30 PM
local time" dan "this memorial hall functioned as an
exhibition space dedicated to the Battle of the Java Sea", yang
menggambarkan peristiwa dan fungsi di masa lalu. Selain itu, kombinasi Simple
Past Tense juga digunakan untuk menjelaskan perkembangan sejarah, seperti
pada kalimat "When navigators discovered the properties of the magnetic
compass, it became one of the most important tools on ships".
Sementara itu, Simple
Present Tense digunakan untuk menekankan kondisi dan makna yang tetap
berlaku hingga saat ini, terlihat pada kalimat "The burning of Brazil's
National Museum represents an enormous loss for the Brazilian government and
the international museum community", yang menekankan dampak peristiwa
tersebut hingga kini. Penulis juga menggunakan Simple Present Tense
dalam mendefinisikan istilah yang bersifat faktual, seperti pada kalimat
"The word ‘binnacle’ comes from the Latin ‘habitaculum’". Dalam
pemilihan kata dan struktur kalimat, penulis menggunakan pendekatan semantik
yang formal, netral, dan edukatif, serta lebih mengutamakan kalimat aktif dan
struktur sintaksis yang sederhana agar lebih mudah dibaca oleh audiens
internasional, terutama pengunjung museum yang bukan penutur asli Bahasa
Inggris.
3. Implementasi Komunikasi Efektif
Meskipun fokus utama
adalah komunikasi tertulis, prinsip komunikasi efektif tetap krusial. Penulis
mengimplementasikan komunikasi efektif melalui:
·
Komunikasi Tertulis dalam Penerjemahan Label Efektivitas komunikasi dalam penerjemahan
label koleksi museum diukur dari sejauh mana pesan asli (Bahasa Indonesia)
tersampaikan secara akurat ke dalam Bahasa Inggris tanpa menghilangkan konteks
sejarahnya. Penulis memastikan bahwa pemilihan kata (diction) yang
digunakan bersifat informatif dan menarik, sehingga pengunjung internasional
mendapatkan nilai edukasi yang sama dengan pengunjung lokal.
·
Koordinasi Tim dan Mentor Penulis juga mengasah kemampuan komunikasi
interpersonal saat berkoordinasi dengan mentor (Bapak Iman) dan staf museum
lainnya. Komunikasi yang dilakukan melalui grup diskusi maupun tatap muka
menuntut penulis untuk mampu menyampaikan progres pekerjaan secara jelas,
mendengarkan umpan balik dengan terbuka, dan memberikan solusi jika terdapat
kendala dalam penerjemahan.
4.3.5 Pengembangan Soft Skill dan Refleksi Diri
Pengalaman magang di
Museum Bahari secara signifikan telah meningkatkan kemampuan non-teknis (soft
skills) penulis yang sangat relevan dengan persiapan karier di masa depan.
Pengembangan diri yang penulis rasakan selama program ini antara lain:
1.
Ketelitian
(Attention to Detail): Dalam proses penerjemahan label koleksi, penulis
dituntut untuk memiliki ketelitian tinggi, terutama saat menangani
istilah-istilah sejarah yang sangat spesifik. Kesalahan kecil dalam pemilihan
kata dapat mengubah makna sejarah, sehingga penulis belajar untuk melakukan
pengecekan ulang (double-checking) pada setiap draf yang dihasilkan.
2.
Adaptabilitas:
Penulis berhasil beradaptasi dengan lingkungan kerja profesional secara
langsung (Work from Office). Penulis belajar menyesuaikan diri dengan
budaya kerja museum, ritme penugasan, serta berinteraksi secara profesional
dengan staf dan mentor di lapangan.
3.
Kemampuan
Pemecahan Masalah (Problem Solving): Penulis sering kali menghadapi
tantangan dalam mencari padanan kata yang tepat untuk istilah budaya maritim
yang tidak memiliki terjemahan langsung dalam bahasa Inggris (non-equivalence).
Dalam hal ini, penulis belajar untuk berpikir kreatif dan strategis dengan
menggunakan teknik deskripsi atau generalisasi agar pesan tetap tersampaikan
tanpa menghilangkan nilai budayanya.
Melalui seluruh rangkaian tugas ini,
penulis tidak hanya memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan aksesibilitas
informasi di Museum Bahari, tetapi juga mengalami pertumbuhan personal yang
signifikan. Pengalaman ini memberikan gambaran nyata mengenai dunia kerja dan
membekali penulis dengan kesiapan mental serta profesionalisme yang dibutuhkan
setelah lulus dari Program Studi Sastra Inggris Universitas Kristen Indonesia.
V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Program magang yang dilaksanakan di
Museum Bahari Jakarta memberikan pengalaman profesional yang sangat berharga,
khususnya dalam mengaplikasikan ilmu linguistik dan teknik penerjemahan untuk
mendukung aksesibilitas informasi. Melalui kegiatan penerjemahan label koleksi
dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, penulis berkontribusi langsung dalam
memudahkan wisatawan mancanegara memahami nilai sejarah dan kekayaan budaya
maritim Indonesia. Hasil penerjemahan yang akurat dan komunikatif terbukti
menjadi instrumen penting dalam menjembatani kendala bahasa (language
barrier) yang sering dialami oleh pengunjung internasional saat
mengeksplorasi artefak di museum.
Selama proses magang, penulis
menghadapi beberapa tantangan seperti kompleksitas istilah teknis kemaritiman
kuno dan keterbatasan referensi langsung untuk istilah budaya lokal tertentu.
Namun, kendala tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran yang
mendorong penulis untuk melakukan riset mendalam melalui berbagai media
referensi dan berdiskusi intensif dengan mentor. Secara keseluruhan, program
ini tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis penerjemahan penulis, tetapi
juga memberikan pemahaman mendalam mengenai peran krusial bahasa Inggris dalam
meningkatkan kualitas pelayanan informasi di institusi budaya bertaraf
internasional.
5.1.1 Saran Kepada Museum Bahari Jakarta
Sebagai upaya
pengembangan ke depan, penulis menyarankan agar Museum Bahari Jakarta terus
memperbarui dan menyempurnakan kualitas label informasi multibahasa pada
seluruh koleksi secara konsisten. Penggunaan sistem kode QR yang terhubung ke
panduan digital berbahasa Inggris dapat menjadi alternatif untuk mengatasi
keterbatasan ruang pada label fisik. Selain itu, museum disarankan untuk
melakukan audit bahasa secara berkala terhadap teks-teks informasi yang sudah
ada guna memastikan penggunaan istilah tetap relevan dengan standar bahasa
internasional. Penambahan staf atau relawan khusus di bidang translator/interpreter
juga akan sangat membantu dalam memberikan layanan informasi yang lebih
interaktif bagi kunjungan rombongan wisatawan asing.
5.1.2 Saran Kepada Mahasiswa Magang
Bagi rekan mahasiswa
yang akan melaksanakan magang, khususnya dari program studi Sastra Inggris,
sangat penting untuk memiliki inisiatif tinggi dalam melakukan riset sebelum
memulai proses penerjemahan. Jangan ragu untuk mengeksplorasi berbagai
literatur sejarah atau kamus spesialis demi mendapatkan padanan kata yang
paling akurat. Peserta magang juga diharapkan mampu menjalin komunikasi yang
baik dengan kurator atau staf museum agar konteks sejarah di balik sebuah objek
dapat dipahami secara utuh sebelum dituangkan ke dalam bahasa sasaran.
Terakhir, dokumentasikan setiap hasil terjemahan sebagai portofolio profesional
dan selalu terbuka terhadap kritik serta saran dari pembimbing lapangan, karena
umpan balik tersebut sangat efektif dalam mengasah ketajaman linguistik di
dunia kerja nyata.
DAFTAR PUSTAKA
Baker,
M. (2018). In Other Words: A Coursebook on Translation. London:
Routledge.
Buhalis,
D. (2000). Marketing the Competitive Destination of the Future.
Tourism Management.
DeVito,
J. A. (2013). The Interpersonal Communication Book. Boston: Pearson.
Effendy,
O. U. (2003). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Kotler,
N. G., Kotler, P., & Kotler, W. I. (2008). Museum Marketing and
Strategy: Designing Missions, Building Audiences, Generating Revenue and
Resources. San Francisco: Jossey-Bass.
Molina, L., & Albir, A. H. (2002). Translation
techniques revisited: A dynamic and functionalist approach. Meta: Journal
des Traducteurs, 47(4), 498–512.
Newmark,
P. (1988). A Textbook of Translation. New York: Prentice Hall.
Nida,
E. A., & Taber, C. R. (1982). The Theory and Practice of Translation.
Leiden: E.J. Brill.
Reiss,
K. (1989). Text Types, Translation Process, and Translation Assessment.
Chicago: University of Chicago Press
Tambunsaribu,
G. (2016). Ketepatan terjemahan kolokasi bahasa Inggris ke dalam bahasa
Indonesia menggunakan Google Translate. Jurnal Dialektika, 7(1).
Tambunsaribu,
G. (2019). Analisis Pelafalan Mahasiswa Dalam Melafalkan Irregular Verbs Bahasa
Inggris. Journal of Language a nd Literature, 7(2), 99-112.
Tambunsaribu,
G., & Galingging, Y. (2021). Masalah yang dihadapi pelajar bahasa Inggris
dalam memahami pelajaran bahasa Inggris. Jurnal Dialetika, 8(1), 30-41.
Tambunsaribu,
G. (2022). Ketidakkonsistenan Beberapa Huruf Konsonan Dalam Bahasa Inggris.
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra Dan Budaya, 9(2), 156-171.
Tambunsaribu,
G. (2023). A Brief View of Barriers Faced by College Students in Speaking
Subject: English Vowel Pronunciation.
Tambunsaribu,
G. (2023). Permasalahan Dan Solusi Yang Dilakukan Mahasiswa Peserta Program
Kampus Mengajar. Jurnal Abdi Insani, 10(2), 1124-1136.
Tambunsaribu,
G. (2023). Proses penerjemahan buku psikologi dari bahasa Inggris ke bahasa
Indonesia. Dalam Seminar Nasional Linguistik dan Sastra (SEMNALISA III)
2023: Dinamika dan Tantangan Kajian Linguistik dan Sastra (Vol. 1, hlm.
45–53). Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa Asing, Universitas
Mahasaraswati Denpasar.
Tambunsaribu,
G. (2025). English Grammar Keindahan Struktur Kalimat Bahasa Inggris.
UKI Press.
Komentar