PENERJEMAHAN LABEL KOLEKSI MUSEUM BAHARI DARI BAHASA INDONESIA KE BAHASA INGGRIS SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN AKSESIBILITAS INFORMASI BAGI PENGUNJUNG

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh

Natalie Anting Sabungan

2221150041

 

 

PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS

FAKULTAS SASTRA DAN BAHASA

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

JAKARTA

2026




HALAMAN PERSETUJUAN

 

Naskah laporan magang oleh mahasiswa:

 

Nama   : Natalie Anting Sabungan

NIM    : 2221150041

Judul    : Penerjemahan Label Koleksi Museum Bahari dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris sebagai Upaya Peningkatan Aksesibilitas Informasi bagi Pengunjung

 

Laporan magang telah diperiksa dan dikoreksi dengan baik. Oleh karena itu, pembimbing menyetujui mahasiswa tersebut untuk diuji.

 

 

 

 

Jakarta, 5 Desember 2025

Pembimbing Materi

 

 

 

 

Gunawan Tambunsaribu, SS., M.Sas

NIP.141167

 

 

 

 

 


HALAMAN PENGESAHAN

 

PENERJEMAHAN LABEL KOLEKSI MUSEUM BAHARI DARI BAHASA INDONESIA KE BAHASA INGGRIS SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN AKSESIBILITAS INFORMASI BAGI PENGUNJUNG

 

Disusun oleh:

Natalie Anting Sabungan

2221150041

 

 

Disetujui dan Disahkan sebagai Laporan Magang oleh:

 

Mengetahui,

Pembimbing Materi                                                               Pembimbing Teknis

 

 

           

Gunawan Tambunsaribu, SS., M.Sas                          Mike Wijaya Saragih, S.S., M.Hum.

NIP.141167                                                                      NIP. 121861

 

Mengetahui,

Ketua Program Studi Sastra Inggris

 

 

 

Mike Wijaya Saragih, S.S., M.Hum.

NIP. 121861


KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yesus Kristus serta atas berkat dan kasih karunia-Nya, sehingga penulis dapat melaksanakan magang di Museum Bahari Jakarta dan menyelesaikan Laporan Magang dengan baik. Laporan ini disusun sebagai tugas akhir untuk memenuhi tanggung jawab setelah menyelesaikan kegiatan magang selama tiga bulan. Dalam penyusunan Laporan Akhir Kegiatan Magang ini, tidak terlepas dari bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada:

  1. Susanne A.H. Sitohang, S.S., M.A., selaku Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia.
  2. Jannes Freddy Pardede, S.S., M.Hum., selaku Wakil Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia.
  3. Mike Wijaya Saragih, S.S., M.Hum., selaku dosen Kepala Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia, juga sekaligus dosen yang mengarahkan dari sebelum proses magang berlangsung.
  4. Gunawan Tambunsaribu, S.S., M.Sas., selaku pembimbing yang telah membimbing dan memberikan arahan dengan baik selama penulisan laporan magang ini.
  5. Bapak Iman yang telah menjadi mentor yang sangat membimbing selama melakukan magang kerja di Museum Bahari Jakarta.
  6. Orang tua, Adel, Vol, Intox, dan Racha yang telah bersedia membantu dan memberi semangat selama pengerjaan laporan magang ini.
  7. Rekan-rekan magang yang sama-sama berjuang dari awal penugasan hingga selesai.

                      

 

Jakarta, 5 Desember 2025

 

 

 

Natalie Anting Sabungan

 

 



 

 

 





I PENDAHULUAN

 

1.1 Pendahuluan

Latihan kerja praktik atau magang itu merupakan bagian dari skema pelatihan di mana pembelajaran di lembaga pendidikan digabungkan serasi dengan pengalaman langsung di tempat kerja. Proses magang ini dipantau dan dibimbing oleh para pekerja atau pelatih yang sudah berpengalaman. Tujuannya adalah supaya para peserta magang betul-betul merasakan suasana kerja nyata, sehingga mereka bisa memakai ilmu serta keahlian yang sudah mereka pelajari selama kuliah.

Penyelenggaraan kegiatan magang di Indonesia ini diatur oleh beberapa peraturan, contohnya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan yang mencakup hak dan juga tanggung jawab bagi yang ikut magang serta memberikan perlindungan hukum. Kemudian, ada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri yang mengatur tata cara pelaksanaan magang, acuan kompetensi, dan juga hak para peserta magang. Selain itu, Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2006 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional juga memasukkan magang ke dalam kerangka pelatihan kerja nasional dan menentukan standar kompetensi beserta tata cara sertifikasi kerja.

Mahasiswa Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Kristen Indonesia diwajibkan mengikuti kegiatan magang sebagai bagian dari proses pembelajaran akademik. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa agar tidak hanya memahami teori yang diperoleh di bangku perkuliahan, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung dalam lingkungan kerja. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menunjang kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan pada jenjang sarjana.


Kegiatan magang yang dilaksanakan di Museum Bahari Jakarta merupakan bagian dari pemenuhan mata kuliah Internship yang wajib ditempuh oleh mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia. Mata kuliah Internship memiliki bobot 6 SKS dan merupakan salah satu persyaratan akademik yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan studi pada jenjang sarjana.

Seiring dengan perkembangan pariwisata budaya di Indonesia, museum tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang dapat menarik pengunjung lokal maupun mancanegara. Museum Bahari Jakarta, yang menyajikan koleksi dan informasi mengenai sejarah serta kekayaan maritim Indonesia, memiliki potensi besar untuk menjangkau pengunjung dari berbagai latar belakang bahasa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan aksesibilitas informasi tersebut adalah melalui penerjemahan label koleksi museum ke dalam bahasa Inggris.

Permasalahan yang diangkat dalam laporan magang ini adalah penerjemahan label koleksi Museum Bahari Jakarta dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris sebagai upaya peningkatan aksesibilitas informasi bagi pengunjung. Label koleksi museum berfungsi sebagai media utama dalam menyampaikan informasi mengenai latar belakang, fungsi, dan nilai historis suatu koleksi. Oleh karena itu, terjemahan label dituntut untuk menyampaikan makna secara akurat, jelas, dan mudah dipahami oleh pengunjung asing.

Menurut Newmark (1988), penerjemahan merupakan proses pengalihan makna dari teks bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan mempertahankan pesan yang dimaksud oleh penulis asli. Dalam konteks museum, penerjemahan label tidak hanya menekankan pada ketepatan bahasa, tetapi juga kejelasan informasi serta kesesuaian konteks agar pesan dapat diterima dengan baik oleh pengunjung dari latar belakang budaya yang berbeda. Penerjemahan label koleksi yang baik diharapkan dapat membantu pengunjung memahami informasi secara lebih efektif serta meningkatkan kualitas pengalaman berkunjung di museum.

Penerjemahan label koleksi museum memiliki tantangan tersendiri, seperti keterbatasan ruang teks, penggunaan istilah khusus di bidang kemaritiman, serta kebutuhan untuk menyampaikan informasi secara ringkas namun informatif. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan bahasa yang memadai serta pemahaman terhadap konteks budaya dan historis dari koleksi yang diterjemahkan.

Pelaksanaan magang di Museum Bahari Jakarta diharapkan dapat memberikan pengalaman praktis dalam bidang penerjemahan, khususnya penerjemahan teks informatif dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Melalui kegiatan magang ini, mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan keterampilan penerjemahan serta memahami peran penerjemahan dalam meningkatkan aksesibilitas informasi bagi pengunjung museum, khususnya pengunjung mancanegara.

 

1.2 Tujuan Magang

Kegiatan magang kerja di Museum Bahari Jakarta dilaksanakan dengan beberapa tujuan sebagai berikut:

-          Mengaplikasikan kemampuan penerjemahan teks sejarah dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris pada label koleksi museum untuk memastikan penyampaian informasi yang akurat bagi wisatawan mancanegara.

-          Mempelajari penggunaan terminologi khusus di bidang sejarah kemaritiman guna menghasilkan terjemahan yang kontekstual, komunikatif, dan sesuai dengan standar informasi publik.

-          Berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pelayanan informasi multibahasa di Museum Bahari Jakarta sebagai upaya mendukung promosi destinasi wisata sejarah di tingkat internasional.

 

 1.3 Sistematika Laporan

Laporan magang kerja ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:

I: Pendahuluan

Di dalam bab ini, penulis menguraikan latar belakang pelaksanaan magang, tujuan magang kerja, dan sistematika laporan. Bagian ini memberikan gambaran umum mengenai pentingnya kegiatan magang dalam konteks penerjemahan teks informasi pariwisata dan peningkatan aksesibilitas bagi pengunjung mancanegara di Museum Bahari Jakarta.

II: Tinjauan Pustaka

Isinya teori tentang cara menerjemahkan yang benar dan pentingnya bahasa Inggris sebagai alat bantu informasi di tempat wisata.

III: Metode Pelaksanaan

Menjelaskan kapan dan di mana magang dilakukan, serta langkah-langkah kerja dari mulai pilih label sampai selesai diterjemahkan.

IV: Hasil dan Pembahasan

Dalam bab ini penulis memberikan profil lokasi magang, sejarah singkat lokasi magang, dan struktur organisasi dan tata kelola, deskripsi kegiatan magang, dan pembahasan dari hasil permasalahan yang diamati dalam kegiatan magang kerja.

V: Penutup

Berisi kesimpulan dan saran.


II TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Pengertian dan Teori Dasar Penerjemahan

Penerjemahan bukan sekadar aktivitas mekanis mengganti kata-kata dari satu bahasa ke bahasa lain, melainkan sebuah kegiatan intelektual kompleks yang mengalihkan pesan, amanat, dan nuansa dari Bahasa Sumber (BSu) ke Bahasa Sasaran (BSa) tanpa mendistorsi makna orisinal yang ingin disampaikan oleh penulis. Dalam disiplin ilmu linguistik terapan, penerjemahan dipandang sebagai jembatan komunikasi antarbudaya yang memindahkan tidak hanya aspek leksikal, tetapi juga beban emosional, gaya bahasa, dan konteks situasional agar pembaca pada bahasa sasaran dapat memperoleh pengalaman kognitif yang setara dengan pembaca asli.

Banyak siswa yang memiliki kemampuan linguistik bahasa Inggris merasa kesulitan melafalkan kosa kata bahasa Inggris dengan fasih (Tambunsaribu, 2023). Salah satu penyebab kesulitan tersebut adalah pelafalan bahasa Inggris yang sangat berbeda dari bahasa Indonesia (Tambunsaribu, 2022; Tambunsaribu, 2019). Selain itu, penelitian Galingging dan Tambunsaribu menemukan bahwa materi pelajaran bahasa Inggris yang paling sulit dipelajari oleh siswa adalah struktur (grammar) bahasa Inggris (Galingging & Tambunsaribu, 2021; Tambunsaribu, 2025). Materi yang paling sulit adalah grammar (66%), bicara (22%), mendengarkan (7%), menulis (4%), dan membaca (1%).

Menurut Newmark (dalam Tambunsaribu, 2023), penerjemahan pada dasarnya adalah proses menyampaikan pesan dari satu bahasa (bahasa sumber) ke bahasa lain (bahasa target). Penekanan pada elemen "pesan" menunjukkan bahwa keberhasilan seorang penerjemah dapat diukur dengan menilai seberapa baik informasi sampai kepada pembaca tanpa menghilangkan maknanya. Dengan demikian, Catford (dalam Tambunsaribu, 2016) mendefinisikan penerjemahan sebagai pengganti bahan teks dari satu bahasa, yaitu bahasa sumber, oleh bahan teks setara dalam bahasa sasaran. Untuk memastikan teks yang diterjemahkan tetap asli, konsep kesetaraan, yang ditekankan oleh Catford, sangat penting.

Lebih lanjut, Newmark (1988) memberikan penegasan bahwa penerjemahan merupakan suatu usaha sistematis untuk mengganti pesan tertulis dari satu bahasa ke bahasa lain dengan tetap memegang teguh prinsip kesetiaan (fidelity) terhadap maksud penulis asli. Prinsip ini beriringan dengan pemikiran Nida dan Taber (1982) yang menekankan aspek fungsional dalam penerjemahan; terjemahan yang ideal adalah terjemahan yang mampu menghasilkan "padanan dinamis", di mana reaksi dan pemahaman pembaca bahasa sasaran kurang lebih identik dengan apa yang dirasakan oleh pembaca bahasa sumber.

Dalam konteks kegiatan magang di Museum Bahari, teori-teori ini menjadi landasan krusial. Penerjemahan label koleksi bukan hanya tentang menerjemahkan teks sejarah kemaritiman Indonesia ke dalam Bahasa Inggris secara harafiah, melainkan proses mengontekstualisasikan nilai sejarah, teknologi perkapalan kuno, dan kekayaan bahari Nusantara. Dengan merujuk pada definisi di atas, penulis berupaya menyajikan teks sasaran yang setara secara tekstual namun tetap mampu menyampaikan pesan sejarah secara efektif agar informasi tersebut menjadi aksesibel, akurat, dan berterima bagi audiens internasional yang memiliki latar belakang budaya berbeda.

 

2.1.1 Proses Penerjemahan

Proses penerjemahan merupakan serangkaian tahapan kognitif yang logis dan berkesinambungan. Untuk memastikan kualitas hasil terjemahan pada label museum, penulis mengikuti skema proses penerjemahan menurut Nida dan Taber (1982) yang terdiri dari tiga fase utama:

1.      Tahap Analisis (Analysis):

Pada fase ini, penerjemah melakukan pembedahan mendalam terhadap teks bahasa sumber secara menyeluruh. Proses ini melibatkan analisis pada level gramatikal (struktur kalimat), semantik (makna kata), serta aspek sosiolinguistik (konteks sejarah). Di Museum Bahari, penulis harus memahami istilah-istilah arkais atau teknis kemaritiman, seperti nama-nama bagian kapal tradisional atau jabatan dalam pelayaran kuno, guna memastikan bahwa pemahaman penulis terhadap teks sumber sudah mencapai taraf paripurna sebelum melangkah ke tahap berikutnya.

2.      Tahap Transfer (Transfer):

Setelah teks dipahami secara utuh, makna tersebut kemudian dipindahkan atau "ditransfer" dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran di dalam benak penerjemah. Tantangan terbesar pada tahap ini adalah menemukan konsep yang setara dalam Bahasa Inggris untuk istilah yang bersifat unik (culture-specific items). Penulis dituntut untuk memilih padanan yang paling mendekati agar esensi informasi sejarah tidak hilang meski terjadi perubahan bentuk bahasa.

3.      Tahap Restrukturisasi (Restructuring):

Fase ini merupakan tahap penyusunan kembali gagasan yang telah ditransfer ke dalam struktur bahasa sasaran yang baku dan alami. Dalam menerjemahkan label museum, restrukturisasi harus memperhatikan aspek ekonomi bahasa menggunakan kalimat yang padat, ringkas (concise), namun tetap elegan. Tujuannya adalah agar teks dalam Bahasa Inggris memiliki kelancaran (fluency) yang tinggi sehingga pengunjung mancanegara dapat menyerap informasi dengan cepat saat berkeliling museum.

 

2.1.2 Teknik Penerjemahan

Untuk menjamin keakuratan dan keterbacaan label koleksi, penulis mengaplikasikan berbagai teknik penerjemahan berdasarkan klasifikasi dari Molina dan Albir (2002). Teknik-teknik ini berfungsi sebagai instrumen untuk memecahkan hambatan linguistik yang ditemukan selama proses magang:

·         Penerjemahan Harfiah (Literal Translation): Digunakan ketika struktur bahasa sumber dan bahasa sasaran memiliki kesamaan fungsi dan bentuk tanpa mengubah makna. Contohnya adalah penerjemahan istilah institusional seperti “Maritime Museum” untuk “Museum Bahari”.

·         Peminjaman (Borrowing): Teknik ini dilakukan dengan mengambil kata atau istilah dari bahasa sumber secara langsung. Penulis menerapkan teknik ini untuk nama-nama kapal tradisional (seperti Pinisi atau Padewakang) atau istilah budaya yang tidak memiliki padanan di dunia Barat, guna mempertahankan nilai otentisitas sejarah.

·         Deskripsi (Description): Mengganti istilah atau istilah dengan deskripsi mengenai fungsi atau penampilannya. Teknik ini sangat efektif untuk label museum; ketika sebuah alat navigasi kuno tidak memiliki istilah teknis dalam Bahasa Inggris, penulis memberikan penjelasan deskriptif singkat agar pengunjung memahami kegunaan benda tersebut.

·         Amplifikasi (Amplification): Teknik ini memberikan informasi tambahan yang tidak terdapat pada teks sumber untuk memperjelas konteks. Dalam label koleksi, penulis terkadang menambahkan keterangan tahun atau lokasi geografis di Indonesia untuk membantu turis asing yang mungkin tidak familiar dengan peta sejarah Nusantara.

·         Reduksi (Reduction): Bertujuan untuk menyederhanakan teks tanpa membuang informasi inti. Mengingat ruang pada label koleksi sangat terbatas, teknik ini diaplikasikan untuk menghindari pengulangan kata yang tidak perlu atau penghilangan kata tugas yang tidak relevan dalam struktur Bahasa Inggris, sehingga informasi tetap to-the-point.

 

2.2 Pentingnya Informasi Bahasa Inggris untuk Turis Asing dalam Aksesibilitas Informasi

Dalam industri pariwisata global, informasi adalah komoditas utama yang menentukan kualitas pengalaman wisatawan. Buhalis (2000) menyatakan bahwa kemudahan akses terhadap informasi merupakan salah satu pilar utama yang menentukan daya saing suatu destinasi wisata di kancah internasional. Museum Bahari Jakarta, sebagai penjaga narasi sejarah maritim Indonesia, memikul tanggung jawab untuk menyediakan informasi yang inklusif bagi audiens global.

Tanpa adanya terjemahan label yang memadai, koleksi museum yang bernilai sejarah tinggi hanya akan berakhir sebagai artefak bisu bagi pengunjung mancanegara. Keberadaan teks dalam Bahasa Inggris sebagai lingua franca internasional berfungsi untuk meruntuhkan hambatan bahasa (language barrier). Hal ini selaras dengan pandangan Kotler dkk. (2008), yang menekankan bahwa pelayanan informasi yang berkualitas merupakan bentuk penghargaan terhadap pengunjung (visitor-centric) yang secara langsung akan meningkatkan kepuasan dan loyalitas wisatawan. Dengan menyediakan aksesibilitas informasi yang baik, Museum Bahari tidak hanya mengedukasi, tetapi juga memperkuat citra profesionalisme pariwisata Indonesia di mata dunia.

 

2.3 Komunikasi yang Efektif

2.3.1 Pengertian Komunikasi yang Efektif

Komunikasi yang efektif adalah sebuah proses pertukaran pesan yang menghasilkan pemahaman yang sama antara pengirim dan penerima, sehingga tujuan dari pesan tersebut tercapai tanpa adanya distorsi atau ambiguitas. DeVito (2013) menggarisbawahi bahwa efektivitas komunikasi diukur dari sejauh mana makna yang ditangkap oleh penerima selaras dengan intensi yang dimiliki oleh pengirim.

Dalam lingkungan museum, komunikasi efektif tercapai apabila narasi sejarah yang disusun oleh kurator dapat "berbicara" kepada pengunjung melalui media label. Effendy (2003) menambahkan bahwa indikator efektivitas komunikasi mencakup timbulnya pengertian, perubahan sikap (dalam hal ini meningkatnya apresiasi terhadap sejarah), serta terciptanya hubungan yang harmonis. Penerjemahan label koleksi yang dilakukan penulis adalah upaya untuk menciptakan komunikasi efektif tersebut bagi audiens internasional agar mereka tidak sekadar melihat, tetapi juga memahami signifikansi setiap artefak.

 

2.3.2 Fungsi Komunikasi yang Efektif di Lingkungan Museum

Secara lebih spesifik, komunikasi yang efektif dalam bentuk label dwibahasa di Museum Bahari menjalankan empat fungsi fundamental:

1.      Fungsi Informatif: Menyediakan data faktual mengenai objek koleksi, mulai dari asal-usul, material, hingga periode waktu secara akurat.

2.      Fungsi Edukatif: Transformasi museum sebagai ruang belajar luar sekolah. Informasi yang diterjemahkan dengan baik membantu wisatawan asing menyerap pengetahuan baru mengenai peran strategis Indonesia dalam jalur perdagangan maritim dunia.

3.      Fungsi Persuasif: Membangun kesadaran dan kecintaan pengunjung terhadap pentingnya pelestarian budaya maritim. Teks yang menggugah dapat mengubah cara pandang pengunjung terhadap sejarah bahari Nusantara.

4.      Fungsi Membangun Hubungan (Relationship Building): Ketersediaan informasi dalam Bahasa Inggris yang ramah dan jelas menunjukkan bahwa Museum Bahari adalah institusi yang inklusif, menghargai keberagaman budaya pengunjung, dan siap bersaing dalam standar pelayanan museum internasional.


III METODE PELAKSANAAN

 

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang Kerja

Kegiatan magang kerja ini dilaksanakan selama kurang lebih tiga bulan, terhitung sejak tanggal 4 Agustus 2025 hingga 31 Oktober 2025. Selama periode tersebut, penulis menjalankan aktivitas magang mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Museum Bahari Jakarta menerapkan kebijakan bekerja dari kantor atau Work from Office (WFO), sehingga penulis hadir secara langsung di lokasi setiap hari Selasa hingga Sabtu. Museum Bahari Jakarta sendiri berlokasi di Jl. Ps. Ikan No.1, RT.11/RW.4, Penjaringan, Kec. Penjaringan, Jakarta Utara, DKI Jakarta 14440.

Gambar 3 1 maps letak Museum Bahari Jakarta

 

 


3.2 Prosedur Pelaksanaan

 Terdapat beberapa tahapan sistematis yang dilakukan penulis dalam melaksanakan kegiatan magang kerja

3.2.1 Persiapan

Sebelum memulai kegiatan magang, penulis melakukan beberapa langkah persiapan sebagai berikut:

1.      Penulis mengirimkan dokumen berupa Curriculum Vitae (CV) dan surat pernyataan magang secara resmi kepada Bapak Iman selaku Ketua Satuan Pelaksana Koleksi, Edukasi, dan Informasi, yang juga bertindak sebagai mentor lapangan di Museum Bahari Jakarta.

2.      Melakukan konfirmasi ulang mengenai kesepakatan kontrak magang dan durasi pelaksanaan yang telah disetujui oleh pihak museum dan penulis.

3.      Mengikuti sesi pengarahan awal bersama Bapak Iman untuk mendapatkan informasi mendalam mengenai profil museum, serta memahami pembagian tugas (job description) yang berfokus pada bidang penerjemahan.

 

3.2.2 Pelaksanaan

     Selama masa magang dengan metode WFO, penulis melaksanakan serangkaian       kegiatan sebagai berikut:

1.      Menjalankan tugas rutin sesuai jadwal operasional museum dari hari Selasa hingga Sabtu selama tiga bulan penuh.

2.      Menerima materi katalog koleksi dan teks label dalam Bahasa Indonesia dari Bapak Iman melalui grup komunikasi khusus untuk peserta magang.

3.      Melaksanakan tugas utama yaitu menerjemahkan label koleksi dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Proses ini memberikan pengalaman nyata bagi penulis dalam mengolah istilah-istilah teknis sejarah dan maritim agar lebih mudah dipahami pengunjung mancanegara. Dalam pelaksanaannya, penulis secara konsisten menyelesaikan target penerjemahan label yang telah ditentukan setiap minggunya.

4.      Mendiskusikan hasil terjemahan dengan mentor untuk mendapatkan masukan atau saran perbaikan. Penulis kemudian mempelajari setiap evaluasi tersebut guna meningkatkan kualitas akurasi bahasa dan kesesuaian konteks pada label koleksi.

 

3.2.3 Pelaporan

  Pelaporan dilakukan untuk mendokumentasikan setiap kemajuan dan aktivitas yang telah dikerjakan penulis:

1.      Absensi Harian: Penulis secara rutin mengisi daftar kehadiran datang dan pulang sebagai bukti kedisiplinan dan pemenuhan jam kerja.

2.      Logbook Kegiatan: Setiap harinya penulis merangkum daftar label koleksi yang telah diterjemahkan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada program studi mengenai aktivitas magang yang dilakukan.

3.      Evaluasi Mandiri: Di penghujung periode magang, penulis melakukan evaluasi diri untuk menilai kemajuan dan pencapaian yang telah diraih selama bertugas di Museum Bahari. Penulis merenungkan berbagai keterampilan yang telah dikembangkan, terutama dalam kemampuan menerjemahkan teks sejarah, ketelitian dalam pemilihan istilah teknis (maritim), serta manajemen waktu dalam menyelesaikan target label.

4.      Penyusunan Laporan Akhir: Sebagai tahap penutup, penulis menyusun laporan akhir secara komprehensif yang berisi seluruh pengalaman dan hasil kerja mengenai penerjemahan label sebagai upaya peningkatan aksesibilitas informasi di Museum Bahari Jakarta


IV HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1. Profil Lokasi Magang

4.1.1 Sejarah Singkat Lokasi Magang

Museum Bahari Jakarta merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki nilai penting dalam perkembangan sejarah maritim dan perkotaan Jakarta. Bangunan Museum Bahari beserta Menara Syahbandar ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi oleh Monumenten Ordonnantie Tahun 1931 (Staatsblad Nomor 238 Tahun 1931) serta diperkuat melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor CB. 11/1/12/72 tanggal 10 Januari 1972. Penetapan ini menunjukkan adanya perhatian serius dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap upaya pelestarian bangunan bersejarah yang memiliki nilai budaya dan sejarah tinggi.

Pada masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, perhatian terhadap pelestarian bangunan tua dan bersejarah semakin ditingkatkan. Hal ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap kondisi bangunan-bangunan bersejarah di Jakarta yang banyak mengalami kerusakan dan terancam hilang akibat perkembangan kota. Oleh karena itu, penetapan Museum Bahari sebagai bangunan bersejarah tidak hanya bertujuan untuk melindungi fisik bangunan, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sejarah nasional, khususnya sejarah maritim dan perkembangan Kota Jakarta.

Pada tahun 1976, bangunan Museum Bahari mengalami proses pemugaran sebagai langkah awal penyesuaian fungsi bangunan dari gudang penyimpanan menjadi museum. Pemugaran tersebut dilakukan dengan tetap mempertahankan bentuk arsitektur asli bangunan agar nilai historisnya tetap terjaga. Selanjutnya, pada tanggal 30 Juni 1977, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjalin kerja sama dengan Departemen Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut untuk menjadikan bangunan tersebut sebagai Museum Bahari Jakarta.

 

Kerja sama ini bertujuan untuk memelihara, meneliti, mengembangkan, serta memperkaya koleksi benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan dunia kemaritiman Indonesia. Koleksi yang dihimpun mencakup berbagai objek, peralatan, serta naskah yang berhubungan dengan pelayaran, perkapalan, dan angkutan laut, baik ditinjau dari aspek historis maupun teknis. Museum Bahari Jakarta kemudian diresmikan pada tanggal 7 Juli 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sebagai museum yang berfokus pada sejarah dan budaya maritim Indonesia.

Pada tahun 1993, melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Nomor 475 Tahun 1993, Museum Bahari Jakarta secara resmi ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Penetapan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian bangunan-bangunan bersejarah di wilayah DKI Jakarta agar tetap terjaga keberadaannya dan dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat.

Secara geografis, Museum Bahari Jakarta terletak di kawasan Pasar Ikan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Kawasan ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan aktivitas perdagangan dan pelayaran sejak masa kolonial Belanda. Sejak era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kawasan ini telah berkembang sebagai pusat distribusi hasil laut. Dalam catatan sejarah, kawasan Pasar Ikan dikenal dengan sebutan Vishmarkt, yang berfungsi sebagai tempat utama penjualan ikan di Batavia.

Pasar Ikan pertama kali dibangun pada tahun 1631 oleh pemerintah kolonial Belanda dengan bangunan awal berbentuk heksagon yang terletak di sebelah timur Sungai Ciliwung. Seiring dengan perkembangan kota dan kebutuhan pelabuhan, lokasi pasar kemudian dipindahkan ke area dermaga yang hingga kini masih digunakan. Meskipun pusat perkembangan Kota Jakarta mengalami pergeseran dari kawasan Sunda Kelapa menuju pusat kota modern, kawasan Pasar Ikan tetap bertahan sebagai bagian penting dari sejarah maritim Jakarta. Keberadaan Museum Bahari di kawasan ini semakin memperkuat identitas Jakarta sebagai kota pelabuhan yang memiliki sejarah panjang dalam bidang kemaritiman.

 

4.1.2 Struktur Organisasi dan Tata Kelola

Berikut adalah struktur organisasi Museum Bahari Jakarta.

Gambar 4 1 Struktur Organisasi

 

Museum Bahari Jakarta dikelola di bawah Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta yang memiliki struktur organisasi tersusun secara hierarkis guna mendukung kelancaran operasional dan tata kelola museum. Struktur organisasi ini dirancang untuk memastikan setiap unit memiliki tugas dan tanggung jawab yang jelas sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Pada tingkat tertinggi, Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta berada di bawah koordinasi Kepala Dinas yang bertanggung jawab dalam perumusan kebijakan strategis serta pengawasan pengelolaan unit secara menyeluruh. Di bawah Kepala Dinas, Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta memegang peran penting dalam mengoordinasikan seluruh kegiatan operasional museum serta menjembatani komunikasi antara pimpinan dan unit pelaksana. Jabatan Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta saat ini diemban oleh Mis’ari, S.Pd., M.Hum.

Dalam mendukung kelancaran administrasi, terdapat Subbagian Tata Usaha yang bertugas menangani urusan administratif dan manajerial. Subbagian ini dipimpin oleh M. Ismail Fahreza, S.T., M.T., Tr.IP., dengan tanggung jawab meliputi pengelolaan keuangan, inventaris aset, verifikasi administrasi keuangan, pengelolaan data, serta pengarsipan dokumen.

Pelaksanaan operasional museum dibagi ke dalam beberapa satuan pelaksana sesuai dengan bidang tugasnya. Satuan Pelaksana Koleksi, Edukasi, dan Informasi dipimpin oleh Nurul Iman, S.Hum., yang bertanggung jawab atas pengelolaan koleksi museum, pengembangan kegiatan edukasi, serta penyediaan informasi kepada pengunjung. Satuan ini didukung oleh tenaga Pamong Budaya Ahli Pertama serta Pengolah Cagar Budaya yang berperan dalam pelestarian dan pengelolaan koleksi.

Satuan Pelaksana Prasarana dan Sarana berada di bawah kepemimpinan Dody Siswanto, S.E., dan bertugas mengelola fasilitas serta infrastruktur museum agar tetap berfungsi dengan baik. Dalam menjalankan tugasnya, satuan ini didukung oleh staf Pengolah Penataan Sarana dan Prasarana yang memastikan kesiapan fasilitas pendukung operasional museum.

Selanjutnya, Satuan Pelaksana Pelayanan Museum Bahari dipimpin oleh Devi Sihotang, S.Ant., yang bertanggung jawab terhadap pelayanan pengunjung serta pengelolaan koleksi di Museum Bahari. Selain itu, terdapat Satuan Pelaksana Pelayanan Museum Arkeologi Onrust yang dikepalai oleh Teuku Muhammad Rizki Ramadhan, S.Ant., dengan tugas utama mengelola pelayanan dan koleksi museum, didukung oleh tenaga Pamong Budaya Terampil.

Unit lainnya adalah Satuan Pelaksana Pelayanan Situs Marunda yang dipimpin oleh Sumardi, S.Sos. Satuan ini bertanggung jawab atas pengelolaan dan pelayanan koleksi di Situs Marunda serta didukung oleh Pamong Budaya Terampil dalam pelaksanaan tugasnya.

Struktur organisasi Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta juga dilengkapi dengan indikator pengelolaan sumber daya manusia, seperti kompetensi lainnya, beban kerja, kompetensi jabatan, dan selisih kebutuhan. Indikator-indikator tersebut digunakan untuk menilai efektivitas serta kesesuaian jumlah dan kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan organisasi. Dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, struktur organisasi ini mendukung koordinasi yang efektif dalam menjalankan operasional Museum Bahari Jakarta secara keseluruhan.

 

4.2 Deskripsi Kegiatan Magang

Selama melaksanakan kegiatan magang di Museum Bahari, penulis terlibat aktif dalam berbagai unit kerja yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan aksesibilitas informasi bagi pengunjung, terutama wisatawan mancanegara. Berdasarkan pelaksanaan tugas di lapangan, kegiatan magang penulis dikategorikan ke dalam lima bidang pekerjaan utama sebagai berikut:

1. Penerjemahan dan Aksesibilitas Informasi (Core Task)

Kegiatan utama penulis berfokus pada penerjemahan label koleksi dan materi katalog museum dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Tugas ini sangat krusial dalam upaya peningkatan aksesibilitas informasi di Museum Bahari. Dalam prosesnya, penulis melakukan analisis teks sumber, riset istilah sejarah maritim, hingga restrukturisasi kalimat agar informasi dapat tersampaikan secara akurat dan mudah dipahami oleh pembaca internasional.

2. Pemanduan Pengunjung Berbasis Bahasa Inggris (Guiding)

Penulis berkontribusi langsung sebagai pemandu (tour guide) bagi pengunjung mancanegara. Dalam kegiatan ini, penulis menggunakan kemampuan bahasa Inggris lisan untuk menjelaskan nilai-nilai sejarah gedung, koleksi rempah, hingga kejayaan maritim Nusantara. Aktivitas ini menjadi sarana penulis untuk mempraktikkan komunikasi lintas budaya dan menjawab pertanyaan pengunjung secara spontan.

3. Manajemen Konten dan Promosi Digital Penulis membantu dalam pembuatan konten media sosial (Instagram) Museum Bahari dengan menyusun takarir (caption) dan deskripsi informatif dalam bahasa Inggris. Melalui kategori pekerjaan ini, penulis mendukung strategi promosi digital museum agar mampu menjangkau audiens global dan meningkatkan minat wisatawan asing untuk berkunjung.

4. Pengelolaan Fasilitas dan Pelayanan Publik

Penulis memiliki tanggung jawab dalam menjaga dan mengelola pelayanan publik di area khusus, yaitu Perpustakaan, Bioseum, dan Menara Syahbandar. Tugas ini mencakup pemberian informasi operasional kepada pengunjung, memastikan kenyamanan fasilitas, dan memahami alur pelayanan administrasi museum secara langsung.

5. Manajemen Acara dan Workshop Edukatif

Penulis terlibat secara aktif dalam tim pendukung acara besar seperti JITEX 2025 serta pelaksanaan berbagai workshop edukatif bagi anak-anak. Keterlibatan ini meliputi bantuan teknis lapangan, koordinasi peserta, hingga mendampingi instruktur dalam memberikan arahan kreatif kepada pengunjung.

 

Selain kegiatan harian di museum, penulis juga berpartisipasi aktif dalam kegiatan eksternal berskala besar, salah satunya adalah ajang Jakarta International Expo (JITEX) 2025. Dalam kegiatan ini, penulis bertugas memberikan informasi mengenai profil Museum Bahari kepada calon pengunjung dan membantu koordinasi teknis di lapangan. Dokumentasi keterlibatan penulis dalam acara tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 4 2 Dokumentasi Booth Pameran Museum Bahari

 

Sebagaimana terlihat pada Gambar 4.2, partisipasi penulis dalam JITEX 2025 merupakan implementasi nyata dari kemampuan komunikasi publik dan kerja sama tim. Melalui acara ini, penulis belajar bagaimana merepresentasikan institusi secara profesional dan menjalin interaksi dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) di industri pariwisata. Hal ini sejalan dengan tujuan magang untuk mengasah kesiapan mental dan adaptabilitas di luar lingkungan kantor biasanya.

 

4.3 Pembahasan Hasil Kegiatan Magang

Pada bagian ini, penulis akan menguraikan hasil kerja utama selama masa magang di Museum Bahari, yaitu penerjemahan label koleksi, serta bagaimana ilmu yang didapat selama perkuliahan di program studi Sastra Inggris diimplementasikan dalam praktik kerja nyata.

 

4.3.1 Alur Kerja Penugasan

Dalam menyelesaikan tugas penerjemahan 13 label koleksi, penulis mengikuti alur kerja sistematis sebagai berikut:

1.      Penerimaan Materi (Penugasan): Materi teks label koleksi museum dalam Bahasa Indonesia diterima oleh penulis melalui grup koordinasi digital dari mentor lapangan, Bapak Iman. Pada tahap ini, penulis melakukan identifikasi awal terhadap jenis teks dan tingkat kesulitan istilah maritim yang ada.

2.      Proses Kerja (Analisis, Transfer, dan Restrukturisasi): Sejalan dengan teori Nida dan Taber (1982), penulis memulai dengan tahap analisis untuk memahami konteks historis artefak. Kemudian, dilakukan transfer makna ke dalam bahasa Inggris di mana penulis sering kali menghadapi tantangan istilah culture-specific. Proses ini diakhiri dengan restrukturisasi, yaitu menyusun kembali kalimat agar sesuai dengan karakteristik label museum yang harus ringkas, padat (concise), dan komunikatif.

3.      Evaluasi dan Finalisasi: Setelah draf terjemahan selesai, penulis melakukan diskusi dan konsultasi kembali dengan mentor untuk mengevaluasi akurasi istilah sejarah. Setelah mendapatkan persetujuan, hasil final diserahkan secara resmi kepada pihak Museum Bahari untuk kemudian diimplementasikan pada label koleksi atau katalog museum.

 

4.3.2 Cara Menerjemahkan Label Koleksi Museum

Dalam pelaksanaan magang di Museum Bahari Jakarta, penulis menemukan bahwa penerjemahan label koleksi memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan penerjemahan teks tertulis lainnya. Label museum merupakan teks informatif yang menuntut kepadatan informasi, namun tetap harus mudah dipahami dalam waktu singkat karena dibaca oleh pengunjung sambil mengamati objek pameran. Oleh karena itu, penerjemahan label koleksi memerlukan strategi yang tidak hanya berorientasi pada keakuratan makna, tetapi juga pada efektivitas penyampaian informasi.

Sejalan dengan teori Reiss (1989) yang telah dibahas pada Bab II, label museum diklasifikasikan sebagai teks informatif yang berfungsi menyampaikan fakta, data, dan pengetahuan secara objektif. Dalam praktiknya, tantangan utama yang dihadapi penulis adalah bagaimana menyampaikan latar belakak artefak yang luas dan kompleks ke dalam Bahasa Inggris yang singkat, padat, tetap sarat makna. Untuk menjawab tantangan tersebut, penulis menerapkan proses penyaringan informasi (information filtering), yaitu merangkum teks sejarah yang panjang dengan memilih informasi yang paling relevan bagi pengunjung, seperti fungsi artefak, periode sejarah, serta nilai signifikansinya.

Selain menghadapi masalah ruang, penulis juga mengalami tantangan dalam menerjemahkan istilah teknis di bidang perkapalan serta budaya lokal yang sulit ditemukan artinya dalam Bahasa Inggris. Mengacu pada prinsip ketidakekuivalenan dalam penerjemahan menurut Mona Baker (2018), penulis menggunakan beberapa strategi seperti generalisasi, deskripsi, dan amplifikasi agar makna tetap tersampaikan dengan jelas. Contohnya, istilah “ABK (Anak Buah Kapal)” diterjemahkan menjadi “crew members”, kemudian diikuti dengan penjelasan deskriptif untuk kata “binnacle”, serta penambahan ungkapan budaya “rumah kompas”. Selain itu, istilah “kuda-kuda pilar” diterjemahkan secara lebih umum menjadi “roof pillars” untuk menghindari kesalahpahaman antar budaya. Penggunaan strategi ini menunjukkan usaha penulis dalam menjaga akurasi istilah sekaligus memenuhi kebutuhan pembaca asing yang mengakses tulisan ini.

Ketepatan dalam pemilihan kata menjadi faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan penerjemahan label koleksi.

Kesalahan dalam menerjemahkan istilah teknis atau budaya dapat menyebabkan pengunjung salah memahami fungsi atau nilai sejarah artefak yang dipamerkan. Oleh karena itu, penulis melakukan riset mendalam dengan memanfaatkan kamus khusus maritim, literatur sejarah, serta jurnal dan sumber akademik yang relevan guna memastikan bahwa istilah yang digunakan akurat secara linguistik dan ilmiah.

Melalui penerapan strategi penerjemahan yang selektif, kontekstual, dan berbasis teori, penulis berupaya menghasilkan terjemahan label koleksi yang tidak hanya setia pada teks sumber, tetapi juga komunikatif dan mudah dipahami oleh pengunjung mancanegara. Dengan demikian, cara penerjemahan label koleksi yang dilakukan selama magang ini merupakan wujud implementasi langsung dari teori penerjemahan informatif dan prinsip komunikasi efektif yang telah dipelajari di perkuliahan.

 

Gambar 4 3 Contoh Label Koleksi dalam Bahasa Indonesia

 

Gambar 4.3 menunjukkan kondisi salah satu label koleksi di Museum Bahari sebelum dilakukannya proses penerjemahan. Terlihat bahwa informasi sejarah pada label tersebut hanya tersedia dalam Bahasa Indonesia, yang membatasi aksesibilitas informasi bagi pengunjung mancanegara. Foto ini menjadi dasar atau "teks sumber" yang penulis gunakan dalam melakukan analisis kontekstual sebelum memulai tahapan penerjemahan. Melalui dokumentasi ini, penulis ingin menunjukkan urgensi dari penugasan magang ini, yaitu untuk mentransformasi label yang sebelumnya monolingual menjadi bilingual. Penulis memastikan bahwa hasil final (sebagaimana tercantum dalam Tabel 4.1) tetap menjaga akurasi informasi sejarah namun disajikan dengan terminologi Inggris yang tepat, guna memberikan pengalaman edukatif yang inklusif bagi wisatawan internasional.


4.3.3 Hasil Penerjemahan Label Koleksi

Berikut adalah hasil kerja penerjemahan label koleksi yang telah diselesaikan oleh penulis selama masa magang:

 

Tabel 4 1 Daftar Penerjemahan Label Koleksi

No.

Judul Koleksi

Teks Asli (Bahasa Indonesia)

Hasil Terjemahan (Bahasa Inggris)

1.

Duka Bersama

 

 

(Shared Grief)

Seekor burung merasakan duka yang sama akibat kebakaran Museum Bahari. Bahan yang ia bawa jadi percuma karena sarangnya telah habis terbakar api.

 

A bird shares in the collective sorrow following the Maritime Museum fire. The nesting materials it had gathered were rendered useless when its home was    consumed by flames.

 

2.

Pencegahan Kebakaran Museum dan Cagar Budaya

 

 

(Fire Prevention in Museums and Cultural Heritage Sites)

 

Sejatinya, Museum memiliki kewajiban untuk melindungi koleksi dari kehilangan, kerusakan, dan juga berkewajiban melindungi pengunjung dari bahaya yang terjadi di ruang pamer. Salah satunya resiko kebakaran, kebakaran merupakan api yang tidak terarah artinya diluar kemampuan manusia.

Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No.Kep.186/men/1999 tentang unit penanggulangan kebakaran ditempat kerja, museum masuk kedalam klasifikasi bahaya kebakaran ringan tetapi, karena kepadatan koleksinya klasifikasi tingkat risiko kebakaran pada museum pun bisa naik satu tingkat ke atas.

Maka, pencegahan resiko kebakaran perlu ditingkatkan. Hal ini dilakukan oleh Museum Bahari dengan cara :

1. Memperhitungkan jumlah satpam dengan luas areal Museum Bahari dan memperkuat sistem disiplin penjagaan.

2. Pelatihan pengamanan dilakukan secara rutin.

3. Program penanggulangan bencana meliputi bangunan, koleksi museum, staf,

pengunjung dari bencana alam, gangguan manusia atau lainnya.

4. Pemeriksaan barang-barang yang keluarmasuk museum, prosedur masuk dan keluar museum, patroli yang tetap pada waktu jam buka dan tutup di dalam areal museum.

5. Pengontrolan dan pemeriksaan peralatan pengamanan (elektronik) dan peralatan pemadam kebakaran (tabung pemadam, hidran, dan lain-lain).

6. Penyediaan alat pengamanan gedung seperti smoke detector dan fire alarm pada sebagian gedung yang telah direstorasi paska kebakaran.

7. Penyediaan CCTV sebagai bagian dari pengontrolan Museum Bahari dan penyediaan hidran disetiap ruangan Museum Bahari.

Museums have the fundamental obligation to protect collections from loss and damage, as well as to safeguard visitors from potential hazards in exhibition spaces. One such risk is fire an uncontrolled flame that exceeds human capability to manage.

According to the Decree of the Minister of Manpower of the Republic of Indonesia No. Kep.186/men/1999 regarding workplace fire response units, museums are classified as having a light fire hazard risk. However, due to the density of collections, the fire risk classification level in museums can increase by one level.

Therefore, fire prevention measures must be enhanced. The Maritime Museum implements these measures through:

1. Calculating the appropriate number of security guards relative to the Maritime Museum’s area and strengthening disciplinary security systems.

2. Conducting regular security training programs.

3. Implementing disaster management programs covering buildings, museum collections, staff, and visitors from natural disasters, human interference, or other threats.

4. Inspecting items entering and leaving the museum, establishing entry and exit procedures, and maintaining regular patrols during opening and closing hours throughout the museum premises.

5. Controlling and inspecting security equipment (electronic) and firefighting equipment (fire extinguishers, hydrants, and others).

6. Installing building security systems such as smoke detectors and fire alarms in sections of buildings that have been restored following the fire.

7. Providing CCTV systems as part of Maritime Museum monitoring and installing hydrants in every Maritime Museum room.

 

3.

Kisah Bangunan Cagar Budaya yang terbakar: Museum Brazil

 

(The Story of a Heritage Building Fire: Brazil's National Museum)

 

 

Pada tanggal 2 September 2018,di tahun yang sama dengan musibah kebakaran di salah satu museum tertua di Brazil yaitu National Brazil yang berada di Rio de Janeiro. Museum Nasional Brazil juga merupakan bangunan cagar budaya bekas kediaman keluarga kerajaan Portugis yang diubah menjadi museum pada akhir abad ke-19.

Museum Nasional Brazil merupakan museum sejarah alam terbesar di Amerika Latin mulai terbakar sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Api menghanguskan rusng pameran, arsip, perpustakaan, koleksi-koleksi dari berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti antropologi, arkeologi, geologi, biologi, linguistik, dan lainnya. Bahkan fosil manusia tertua yang pernah ditemukan di Amerika (“Luzia” yang berumur 12.000 tahun) ikut terbakar.

Terbakarnya Museum Nasional Brazil merupakan kehilangan yang sangat besar bagi pemerintah Brazildan juga komunitas Museum Internasional. Perlu perhatian serius dan perawatan khusus bagi museum-museum yang menempati bangunan cagar budaya. Sebab bagi pengelola museum, mereka memiliki dua tanggung jawab selain mengembangkan museumnya mereka harus dapat menjaga dan melestarikan bangunan cagar budaya. Hilangnya museum sama dengan hilangnya pengetahuan dan memori kolektif.

 

On September 2, 2018, the same year as the fire incident at one of Brazil's oldest museums, the National Museum of Brazil located in Rio de Janeiro was destroyed by fire. Brazil's National Museum was also a cultural heritage building, formerly the residence of the Portuguese royal family, which was converted into a museum in the late 19th century.

Brazil's National Museum, the largest natural history museum in Latin America, began burning around 7:30 PM local time. The fire consumed exhibition halls, archives, the library, and collections from various fields of science including anthropology, archaeology, geology, biology, linguistics, and others. Even the oldest human fossil ever discovered in the Americas ("Luzia," dating back 12,000 years) was destroyed in the blaze.

The burning of Brazil's National Museum represents an enormous loss for the Brazilian government and the international museum community. Serious attention and special care are required for museums housed in cultural heritage buildings. Museum managers bear dual responsibilities: beyond developing their museums, they must preserve and maintain cultural heritage buildings. The loss of a museum equals the loss of knowledge and collective memory.

 

4.

Potret Museum Bahari Terbakar

 

(Photographic Documentation of the Maritime Museum Fire)

 

Potret kejadian kebakaran Museum Bahari direkam untuk menjadi pengingat dan menjadi memori kolektif bersama terkait perah terjadinya musibah yang menimpa museum dan juga bangunan cagar budaya. Sebagai pembelajaran utnuk kedepannya agar hal serupa tidak terjadi lagi di museum maupun bangunan budaya manapun di dunia. Kumpulan potret terbakarnya Museum Bahari ini merupakan hasil dari kumpulan dokumentasi berbagai pihak ada dari pihak Museum Bahari, media-media yang meliput, komunitas, dan warga sekitar museum.

 

This photographic capture the fire incident at Museum Bahari, has been preserved to serve as both a memorial and collective memory of the devastating incident that struck this museum and cultural heritage site. These images provide valuable lessons for future prevention efforts, helping to ensure that similar tragedies do not befall museums or cultural buildings anywhere in the world. This photographic collection represents collaborative documentation efforts by multiple parties, including the Museum Bahari, news media, community groups, and local residents.

5.

Ruang Pamer: Sebelum Kejadian Terbakar

 

(Exhibition Hall: Before the Fire Incident)

Sebelum terjadinya musibah kebakaran di Museum Bahari, ruang memorial ini difungsikan sebagai pameran Perang Laut Jawa. Pameran ini menceritakan tentang perang di sekitar wilayah Laut Jawa dan Selat Sunda pada masa Perang Dunia II.

Beberapa negara yang terlibat dalam pertempuran Perang Laut Jawa ini juga turut terlibat dalam penyusunan dan isi materi pameran, diantaranya adalah Australia, Belanda Amerika, dan Inggris.

Beberapa koleksi yang ditampilkan adalah alat-alat navigasi piring milik ABK, selongsong peluru, miniatur-miniatur kapal dan lainnya.

Pameran Perang Laut Jawa ini tidak hanya menceritakan terkait peristiwanya saja, namun ada pula beberapa informasi pengetahuan lain yang ditampilkan seperti tentang arkeologi bawah air dan penyelematan benda cagar budaya di bawah air. Informasi tersebut ditampilkan dengan mengambil contoh bangkai kapal HAMS Perth yang tenggelam di Selat Sunda.

 

Before the fire tragedy at Museum Bahari, this memorial hall functioned as an exhibition space dedicated to the Battle of the Java Sea. The exhibition told the story of naval battles that took place around the Java Sea and Sunda Strait during World War II.

Several countries involved in the Battle of the Java Sea also participated in the development and content of the exhibition materials, including Australia, the Netherlands, the United States, and the United Kingdom.

Some of the collections displayed included navigation instruments, crew members' personal dishes, bullet casings, ship miniatures, and other artifacts.

The Battle of the Java Sea exhibition did not only chronicle the historical events, but also presented additional educational information such as underwater archaeology and the salvage of underwater cultural heritage objects. This information was illustrated using the example of the HMAS Perth wreck that sank in the Sunda Strait.

 

6.

Berita Berita Kebakaran

 

(Fire Incident)

 

Surat kabar Warta Kota terbitan Kamis, 18 Januari 2018. Memberitakan tentang proses pemadaman api di Museum Bahari yang memakan waktu hingga tiga hari sebab di beberapa bagian masih terlihat asap dari sisa-sisa kebakaran.

 

On January 18, 2018, Warta Kota newspaper reported that the fire at Museum Bahari took three days to be completely put out. Smoke from the remains of the blaze was still visible in several parts of the building.

 

7.

Berita Berita Kebakaran

 

(Fire Incident)

 

Surat kabar Warta Kota terbitan Rabu 17 Januari 2028. Mewartakan bila kebakaran di Museum Bahari terjadi karena percikan neon. Pada halaman depan surat kabar ini juga ada sedikit kisah tentang peresmian Museum Bahari oleh Ali Sadikin di tanggal cantik 7 Juli 1977.

On Wednesday, January 17, 2018, Warta Kota newspaper reported that the fire at Museum Bahari was caused by sparks from a neon light. On its front page, the newspaper also featured a short story about the inauguration of Museum Bahari by Ali Sadikin on the memorable date of July 7, 1977.

8.

Berkobar

 

(Blaze)

Nyala api berkobar memenuhi ruang gedung Museum Bahari

 

Flames raged and filled the rooms of Museum Bahari.

9.

Asap

 

(Smoke)

Kepulan asap masih membumbung tinggi dari gedung yang sudah tidak punya atap

 

Thick smoke rose high from the roofless museum building.

 

10.

Restorasi Museum Bahari

 

(Restoration of Museum Bahari)

 

 

 

1. Pasang papan lantai

2. Pasang papan lantai kayu

3. Pasang tangga baru

4. Pasang rangka atas

5. Pasang beton struktur

6. Pasang tangga kayu

 

1. Installation of wooden floor panels

2. Installation of wooden flooring

3. Construction of a new staircase

4. Installation of the roof frame

5. Reinforcement with structural concrete

6. Construction of a wooden staircase

 

11.

Langkah-langkah Restorasi

 

(Restoration Steps)

 

1. Pasang aluminium foil

2. Pasang nok karpusan

3.Pasang genteng keramik

4. Pasang listplank

5. Pasang dinding papan kayu sisi kandang burung

6. Pasang papan plafon

 

1. Adding insulation with aluminum foil

2. Placing a roof ridge cover

3. Installing ceramic roof tiles

4. Adding wooden edge boards under the roof

5. Building wooden walls on the side of the birdcage area

6. Installing ceiling panels

 

12.

Pameran Memorial Museum Bahari

Kuda-Kuda Pilar

 

(Museum Bahari Memorial Exhibition

Roof Pillars)

 

 

Meski telah terlahap kobaran api, kuda-kuda pilar yang menopang atap Museum Bahari masih tetap kokoh dan indah.

 

Even after the fire, the roof pillars of the Maritime Museum remained standing strong and beautiful.

 

 

13.

Kompas Magnetik

 

(Magnetic Compass)

 

Saat navigator di dunia menemukan sifat-sifat kompas magnetik, kompas menjadi salah satu alat navigasi terpenting di kapal. Saat awal perkembangannya, kompas menjadi referensi cadangan dalam membantu dalam memberikan informasi mengenai orientasi kapal. Para navigator sangat terbantu dengan adanya kompas, terutama pada kondisi malam hari ketika tidak terlihat landmark (tanda/patokan) yang sudah dikenal sebelumnya. Kompas yang berada di kapal biasanya sering dipasang pada binnacle merupakan tempat dudukan atau rumahan sebagai tempat untuk menaruh kompas. Nama binnacle berasal dari bahasa latin habitaculum yang berarti ‘tempat tinggal kecil’, masyarakat di Indonesia kemudian menyebut kompas kapal bersama tempat/ruangan untuk menaruh kompasnya dengan sebutan rumah ‘rumah kompas’

When navigators discovered the properties of the magnetic compass, it became one of the most important tools on ships. In its early use, the compass served as a backup reference to help determine the ship’s orientation, especially at night when landmarks were not visible.

Onboard, the compass was usually placed in a binnacle, a stand or housing for the instrument. The word “binnacle” comes from the Latin ‘habitaculum’, meaning “small dwelling.” In Indonesia, sailors often called it ‘rumah kompas’, or “compass house.”

 

4.3.4 Implementasi Ilmu Program Studi dalam Program Magang

Dalam praktik penerjemahan selama masa magang, penulis mengimplementasikan berbagai metode dan teknik penerjemahan yang telah dipelajari selama perkuliahan, sebagaimana dijelaskan pada Bab II. Metode yang paling dominan digunakan adalah metode penerjemahan komunikatif (Newmark), yang berfokus pada kejelasan pesan bagi pembaca target. Metode ini sangat relevan dengan fungsi teks informatif yang harus mudah dipahami oleh pengunjung internasional. Selain itu, penulis menerapkan berbagai teknik penerjemahan menurut Molina dan Albir, antara lain:

 

 

1. Penerjemahan Harfiah (Literal Translation)

Penerjemahan harfiah digunakan ketika struktur dan makna bahasa sumber dan bahasa sasaran sejajar sehingga pesan dapat dialihkan secara langsung tanpa perubahan signifikan. Contohnya, kalimat “Kapal ini digunakan untuk perdagangan antarpulau” diterjemahkan menjadi “This ship was used for inter-island trade.” Penerjemahan ini mempertahankan struktur kalimat serta makna asli teks sumber.

2. Peminjaman (Borrowing)

Teknik peminjaman diterapkan terutama pada istilah budaya dan nama kapal tradisional untuk menjaga keaslian dan nilai historisnya. Sebagai contoh, istilah pinisi tetap digunakan dalam bahasa sasaran pada kalimat “The pinisi boat is an icon of Indonesian maritime culture.” Penggunaan teknik ini memungkinkan pengunjung asing mengenal istilah lokal tanpa menghilangkan identitas budaya.

3. Deskripsi (Description)

Teknik deskripsi digunakan pada istilah teknis kemaritiman yang tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa Inggris. Contohnya, istilah layar tanja diterjemahkan menjadi “tanja sail, a traditional rectangular sail used in Indonesian waters.” Melalui teknik ini, makna istilah dapat dipahami dengan jelas oleh pembaca bahasa sasaran.

4. Amplifikasi (Amplification)

Amplifikasi digunakan untuk menambahkan informasi kontekstual yang membantu pemahaman pengunjung asing terhadap latar sejarah atau budaya tertentu. Sebagai contoh, kalimat “Mercusuar ini dibangun pada abad ke-19” diterjemahkan menjadi “This lighthouse was built in the 19th century during the Dutch colonial period.” Informasi tambahan tersebut memperjelas konteks sejarah objek yang dipamerkan.

5. Reduksi (Reduction)

Teknik reduksi diterapkan untuk menyederhanakan teks sumber yang terlalu panjang agar sesuai dengan keterbatasan ruang label pameran tanpa menghilangkan informasi inti. Misalnya, deskripsi “Kapal ini digunakan oleh nelayan lokal untuk menangkap ikan di perairan pesisir dengan peralatan tradisional” diringkas menjadi “This ship was used by local fishermen for coastal fishing.” Teknik ini membantu menyajikan informasi secara ringkas dan efektif.

 

2. Implementasi Ilmu Linguistik

Penerapan ilmu bahasa, terutama tata bahasa dan sintaksis, merupakan bagian penting dalam membuat terjemahan yang tepat dan sesuai dengan konteks. Seperti yang dibahas dalam Bab II, aspek linguistik membantu menjaga kejelasan, keselarasan, dan relevansi pesan. Dalam praktik menerjemahkan, penulis terus-menerus menggunakan tenses yang tepat, yaitu Simple Past Tense untuk menjelaskan peristiwa dan kondisi yang sudah terjadi di masa lalu, serta Simple Present Tense untuk menyampaikan makna, dampak, dan fakta yang masih relevan hingga saat ini. Contoh penggunaan Simple Past Tense terdapat pada kalimat "On September 2, 2018, … Brazil's National Museum began burning around 7:30 PM local time" dan "this memorial hall functioned as an exhibition space dedicated to the Battle of the Java Sea", yang menggambarkan peristiwa dan fungsi di masa lalu. Selain itu, kombinasi Simple Past Tense juga digunakan untuk menjelaskan perkembangan sejarah, seperti pada kalimat "When navigators discovered the properties of the magnetic compass, it became one of the most important tools on ships".

Sementara itu, Simple Present Tense digunakan untuk menekankan kondisi dan makna yang tetap berlaku hingga saat ini, terlihat pada kalimat "The burning of Brazil's National Museum represents an enormous loss for the Brazilian government and the international museum community", yang menekankan dampak peristiwa tersebut hingga kini. Penulis juga menggunakan Simple Present Tense dalam mendefinisikan istilah yang bersifat faktual, seperti pada kalimat "The word ‘binnacle’ comes from the Latin ‘habitaculum’". Dalam pemilihan kata dan struktur kalimat, penulis menggunakan pendekatan semantik yang formal, netral, dan edukatif, serta lebih mengutamakan kalimat aktif dan struktur sintaksis yang sederhana agar lebih mudah dibaca oleh audiens internasional, terutama pengunjung museum yang bukan penutur asli Bahasa Inggris.

 

3. Implementasi Komunikasi Efektif

Meskipun fokus utama adalah komunikasi tertulis, prinsip komunikasi efektif tetap krusial. Penulis mengimplementasikan komunikasi efektif melalui:

·         Komunikasi Tertulis dalam Penerjemahan Label Efektivitas komunikasi dalam penerjemahan label koleksi museum diukur dari sejauh mana pesan asli (Bahasa Indonesia) tersampaikan secara akurat ke dalam Bahasa Inggris tanpa menghilangkan konteks sejarahnya. Penulis memastikan bahwa pemilihan kata (diction) yang digunakan bersifat informatif dan menarik, sehingga pengunjung internasional mendapatkan nilai edukasi yang sama dengan pengunjung lokal.

·         Koordinasi Tim dan Mentor Penulis juga mengasah kemampuan komunikasi interpersonal saat berkoordinasi dengan mentor (Bapak Iman) dan staf museum lainnya. Komunikasi yang dilakukan melalui grup diskusi maupun tatap muka menuntut penulis untuk mampu menyampaikan progres pekerjaan secara jelas, mendengarkan umpan balik dengan terbuka, dan memberikan solusi jika terdapat kendala dalam penerjemahan.

 

4.3.5 Pengembangan Soft Skill dan Refleksi Diri

Pengalaman magang di Museum Bahari secara signifikan telah meningkatkan kemampuan non-teknis (soft skills) penulis yang sangat relevan dengan persiapan karier di masa depan. Pengembangan diri yang penulis rasakan selama program ini antara lain:

1.      Ketelitian (Attention to Detail): Dalam proses penerjemahan label koleksi, penulis dituntut untuk memiliki ketelitian tinggi, terutama saat menangani istilah-istilah sejarah yang sangat spesifik. Kesalahan kecil dalam pemilihan kata dapat mengubah makna sejarah, sehingga penulis belajar untuk melakukan pengecekan ulang (double-checking) pada setiap draf yang dihasilkan.

2.      Adaptabilitas: Penulis berhasil beradaptasi dengan lingkungan kerja profesional secara langsung (Work from Office). Penulis belajar menyesuaikan diri dengan budaya kerja museum, ritme penugasan, serta berinteraksi secara profesional dengan staf dan mentor di lapangan.

3.      Kemampuan Pemecahan Masalah (Problem Solving): Penulis sering kali menghadapi tantangan dalam mencari padanan kata yang tepat untuk istilah budaya maritim yang tidak memiliki terjemahan langsung dalam bahasa Inggris (non-equivalence). Dalam hal ini, penulis belajar untuk berpikir kreatif dan strategis dengan menggunakan teknik deskripsi atau generalisasi agar pesan tetap tersampaikan tanpa menghilangkan nilai budayanya.

Melalui seluruh rangkaian tugas ini, penulis tidak hanya memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan aksesibilitas informasi di Museum Bahari, tetapi juga mengalami pertumbuhan personal yang signifikan. Pengalaman ini memberikan gambaran nyata mengenai dunia kerja dan membekali penulis dengan kesiapan mental serta profesionalisme yang dibutuhkan setelah lulus dari Program Studi Sastra Inggris Universitas Kristen Indonesia.


V PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

Program magang yang dilaksanakan di Museum Bahari Jakarta memberikan pengalaman profesional yang sangat berharga, khususnya dalam mengaplikasikan ilmu linguistik dan teknik penerjemahan untuk mendukung aksesibilitas informasi. Melalui kegiatan penerjemahan label koleksi dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, penulis berkontribusi langsung dalam memudahkan wisatawan mancanegara memahami nilai sejarah dan kekayaan budaya maritim Indonesia. Hasil penerjemahan yang akurat dan komunikatif terbukti menjadi instrumen penting dalam menjembatani kendala bahasa (language barrier) yang sering dialami oleh pengunjung internasional saat mengeksplorasi artefak di museum.

Selama proses magang, penulis menghadapi beberapa tantangan seperti kompleksitas istilah teknis kemaritiman kuno dan keterbatasan referensi langsung untuk istilah budaya lokal tertentu. Namun, kendala tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran yang mendorong penulis untuk melakukan riset mendalam melalui berbagai media referensi dan berdiskusi intensif dengan mentor. Secara keseluruhan, program ini tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis penerjemahan penulis, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam mengenai peran krusial bahasa Inggris dalam meningkatkan kualitas pelayanan informasi di institusi budaya bertaraf internasional.

5.1.1 Saran Kepada Museum Bahari Jakarta

Sebagai upaya pengembangan ke depan, penulis menyarankan agar Museum Bahari Jakarta terus memperbarui dan menyempurnakan kualitas label informasi multibahasa pada seluruh koleksi secara konsisten. Penggunaan sistem kode QR yang terhubung ke panduan digital berbahasa Inggris dapat menjadi alternatif untuk mengatasi keterbatasan ruang pada label fisik. Selain itu, museum disarankan untuk melakukan audit bahasa secara berkala terhadap teks-teks informasi yang sudah ada guna memastikan penggunaan istilah tetap relevan dengan standar bahasa internasional. Penambahan staf atau relawan khusus di bidang translator/interpreter juga akan sangat membantu dalam memberikan layanan informasi yang lebih interaktif bagi kunjungan rombongan wisatawan asing.

 

5.1.2 Saran Kepada Mahasiswa Magang

Bagi rekan mahasiswa yang akan melaksanakan magang, khususnya dari program studi Sastra Inggris, sangat penting untuk memiliki inisiatif tinggi dalam melakukan riset sebelum memulai proses penerjemahan. Jangan ragu untuk mengeksplorasi berbagai literatur sejarah atau kamus spesialis demi mendapatkan padanan kata yang paling akurat. Peserta magang juga diharapkan mampu menjalin komunikasi yang baik dengan kurator atau staf museum agar konteks sejarah di balik sebuah objek dapat dipahami secara utuh sebelum dituangkan ke dalam bahasa sasaran. Terakhir, dokumentasikan setiap hasil terjemahan sebagai portofolio profesional dan selalu terbuka terhadap kritik serta saran dari pembimbing lapangan, karena umpan balik tersebut sangat efektif dalam mengasah ketajaman linguistik di dunia kerja nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Baker, M. (2018). In Other Words: A Coursebook on Translation. London: Routledge.

Buhalis, D. (2000). Marketing the Competitive Destination of the Future. Tourism   Management.

DeVito, J. A. (2013). The Interpersonal Communication Book. Boston: Pearson.

Effendy, O. U. (2003). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Kotler, N. G., Kotler, P., & Kotler, W. I. (2008). Museum Marketing and Strategy: Designing Missions, Building Audiences, Generating Revenue and Resources. San Francisco: Jossey-Bass.

Molina, L., & Albir, A. H. (2002). Translation techniques revisited: A dynamic and functionalist approach. Meta: Journal des Traducteurs, 47(4), 498–512.

Newmark, P. (1988). A Textbook of Translation. New York: Prentice Hall.

Nida, E. A., & Taber, C. R. (1982). The Theory and Practice of Translation. Leiden: E.J. Brill.

Reiss, K. (1989). Text Types, Translation Process, and Translation Assessment. Chicago: University of Chicago Press

Tambunsaribu, G. (2016). Ketepatan terjemahan kolokasi bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia menggunakan Google Translate. Jurnal Dialektika, 7(1).

Tambunsaribu, G. (2019). Analisis Pelafalan Mahasiswa Dalam Melafalkan Irregular Verbs Bahasa Inggris. Journal of Language a nd Literature, 7(2), 99-112.

Tambunsaribu, G., & Galingging, Y. (2021). Masalah yang dihadapi pelajar bahasa Inggris dalam memahami pelajaran bahasa Inggris. Jurnal Dialetika, 8(1), 30-41.

Tambunsaribu, G. (2022). Ketidakkonsistenan Beberapa Huruf Konsonan Dalam Bahasa Inggris. Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra Dan Budaya, 9(2), 156-171.

Tambunsaribu, G. (2023). A Brief View of Barriers Faced by College Students in Speaking Subject: English Vowel Pronunciation.

Tambunsaribu, G. (2023). Permasalahan Dan Solusi Yang Dilakukan Mahasiswa Peserta Program Kampus Mengajar. Jurnal Abdi Insani, 10(2), 1124-1136.

Tambunsaribu, G. (2023). Proses penerjemahan buku psikologi dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Dalam Seminar Nasional Linguistik dan Sastra (SEMNALISA III) 2023: Dinamika dan Tantangan Kajian Linguistik dan Sastra (Vol. 1, hlm. 45–53). Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa Asing, Universitas Mahasaraswati Denpasar.

Tambunsaribu, G. (2025). English Grammar Keindahan Struktur Kalimat Bahasa Inggris. UKI Press.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Humanism...

"HEARTBREAKING, MAKES ME CRY "

Tugas Penelitian (Etnografi)