PELATIHAN GURU DAN SISWA DALAM UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DASAR DI DESA KADEMANGAN CIANJUR MELALUI PROGRAM PKM SMART VILLAGE

 

The Training for Teachers and Students in Efforts to Improve the Quality of Basic Education in Kademangan Village at Cianjur Regency through the Social Service Program “Smart Village”

 

 

Gunawan Tambunsaribu1*, Erni Murniati2, Ronny Gunawan3, Elferida Sormin4,

 

 

Program Studi Sastra Inggris Universitas Kristen Indonesia1*, Program Studi Magister Administrasi Pendidikan Universitas Kristen Indonesia2, Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Kristen Indonesia3, Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Kristen Indonesia3

 

Jalan Mayjen Sutoyo No. 2, RT.5/RW.11, Cawang, Kramatjati, RT.5/RW.11, Cawang, Kramatjati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta

 

*Alamat korespondensi: gunawan.tambunsaribu@uki.ac.id

 

ABSTRAK

Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini adalah sebuah implementasi hasil riset di lingkungan masyarakat serta membangun eksosistem kolaborasi antar institusi dengan LLDikti Wilayah III dengan tema “Smart Village” yang di dalamnya termasuk program “smar people” yaitu sebuah pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered development) yang mendasarkan pada pengupayaan peningkatan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat desa dengan kebudayaan yang menyertainya. Kegiatan PkM ini adalah bentuk kolaborasi nyata antara LLDikti Wilayah III dan perguruan tinggi termasuk di dalamnya adalah Universitas Kristen Indonesia. PkM ini berlatar belakang studi kasus yang berpusat pada pendekatan baru untuk mengelola program pendidikan lingkungan berbasis masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran ekologis di antara penduduk desa Kademangan, kabuparen Cianjur, provinsi Jawa Barat. PkM ini tentunya melibatkan pemangku kepentingan lokal (perintah daerah) dalam pengembangan dan implementasi inisiatif pendidikan dengan cara menciptakan perubahan yang berkelanjutan dan memperkecil kesenjangan akses terhadap Pendidikan berkualitas. Hasil observasi pelaksana PkM mendapati berbagai permasalah yang dihadapi oleh pendidikan sekolah dasar id desa kademangan, diantaranya 1) Kompetensi para guru dalam hal penyediaan materi pembelajaran yang aktif dan juga metode pengajaran yang masih konvensional; 2) Kurangnya minat siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar; dan 3) Sarana pendukung yang masih belum memadai untuk pembelajaran yang efektif. Temuan dalam pelaksanaan PkM ini menunjukkan adanya peningkatan kerjasama yang aktif antar seluruh pemangku kepentingan dengan pelaksana PkM di desa Kademangan sehingga peningkatan kualitas pendidikan di desa tersebut memperlihatkan hasil yang positif dan mengurangi permasalahan dalam bidang pendidikan di daerah tersebut.

 

Kata kunci: Smart People, Smart Village, Pengadian kepada Masyarakat, Universitas Krsiten Indonesia

 

PENDAHULUAN

Dalam rangka mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, mendorong implementasi hasil riset di lingkungan masyarakat serta membangun eksosistem kolaborasi antar institusi, LLDikti Wilayah III akan mengadakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat – Kampus Merdeka dengan tema “Smart Village”. Kegiatan PKM KM – Smart Village merupakan program pengabdian kepada masyarakat yang akan melibatkan dosen dan mahasiswa untuk bergerak dan berkolaborasi dalam memberdayakan masyarakat desa melalui pemanfaatan teknologi secara berkelanjutan (LLDIKTIII, 2024).

 

Latar Belakang Pelaksanaan PkM

Kegiatan PkM ini adalah bentuk kolaborasi nyata antara LLDikti Wilayah III dan perguruan tinggi dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat, yang tidak hanya sekadar teori namun diterapkan dalam tindakan yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dengan semangat gotong royong, kita bersama-sama berupaya menciptakan perubahan yang berkelanjutan dan memperkecil kesenjangan akses terhadap Pendidikan berkualitas. Menurut kepala desa Kademangan, permasalahan utama yang dialami lima sekolah SD di Desa Kademangan ini adalah permasalahan dalam pengelolaan pendidikan khususnya dalam pembiayaan sarana pembelajaran. Sarana pendidikan di desa Kademangan masih kurang memadai untuk pelaksanaan pembelajaran berbasis digital serta kurangnya kompetensi para guru dalam pembelajaran yang aktif dan efektif bagi para siswa.

Permasalahan yang saat ini sedang dihadapi oleh sekolah dasar di Desa Kademangan khususnya SD Kademangan adalah:

1) Kompetensi para guru dalam hal penyediaan materi pembelajaran yang aktif dan juga metode pengajaran yang masih konvensional;

2) Kurangnya minat siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar;

3) Sarana pendukung yang masih belum memadai untuk pembelajaran yang efektif.

 

 

Survey ke Lokasi Pelaksanaan PkM

Kademangan adalah desa yang brada di kecamatan Mande Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Kademangan merupakan salah satu dari 12 desa yang ada di kecamatan Mande. Survey ke lokasi SD Kademangan dilakukan pada tanggal 24 September 2024 pukul 13.00 s/d jam 16.00 WIB setelah acara Pembukaan resmi kegiatan Smart village dibuka resmi oleh Kepal Desa Kademangan yang dihadiri seluruh perangkat desa, para dosen beberapa Universitas yang menjadi pelaksana PkM Smart village di bawah naungan LLDIKTI III, perwakilan dari LLDIKTI III, para mahasiswa, para guru beserta pihak-pihak terkait lainnya yang akan ikut bergotong royong membantu kelancaran pelaksanakan PkM Smart village ini.

Terdapar 43 Sekolah Dasar di kecamatan Mande. Diantaranya adalah 5 SD di Desa Kademangan. Lokasi pelaksanaan PkM Smart people ini adalah Desa Kademangan, Kampung Sawah Gede, kabupaten Cianjur. Sekolah yang menjadi tujuan PkM Smart people ini adalah 5 SD yang berada di Desa Kademangan, kampung Sawah Gede, Kabupaten Cianjur. Guru pengajar di SD Kademangan sebanyak 90% sudah lulus Sarjana namun tidak semuanya dari Sarjana khusus Pendidikan SD namun ada juga dari sarajana dari bidang ilmu murni. Dari hal pengalaman mengajar para guru, kepala sekolah mengatakan bahwa para guru yang mengajar di SD Kademangan sudah mengajar hampir 5 di sekolah tersebut rata-rata 5-10 tahun. Namun, jarang sekali guru mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kualitas pengajaran melalui workshop/seminar pengembangan kualitas guru. Semua itu berhubungan dengan keterbatasan dana.

 

Kurikulum Pendidikan

Kurikulum Pendidikan yang digunakan oleh sekolah adalah kurikulum Merdeka. Namun dalama pelaksanaannya, buku-buku ajar yang digunakan sekolah hampir 75% masih menggunakan buku-buku materi tahun 2013-2015. Pihak sekolah sangat mengharapakan dukungan finansial dari suku dinas pendidikan dalam pengembangan mutu sekolah.

 

Peserta didik

Peserta didik (para siswa) bermasalah dari orangtua yang berlatar belakang ekonomi sedang-rendah. Menurut para guru, mayoritas para orangtua jarang mengulang Pelajaran anak-anak mereka di rumah setelah para siswa pulang sekolah karena para orangtua adalah para petani yang sibuk bekerja seharian di ladang dan sawah. Masih ada sekitar 10% para siswa yang tidak bisa membaca atau yang sering kita kenal dengan istilah learning lost. Para siswa yang mengalami learning lost ini disebabkan oleh beberapa hal termasuk kurangnya kesadaran orangtua untuk mengajari kembali anak-anak mereka melatih anak-anak mereka di rumah dalah hal praktik membaca dan menghitung.

 

Sarana dan Prasarana di Sekolah

Buku penunjang pembelajaran di sekolah tidak ada. Semua buku sudah terlihat usang dan ada beberapa sudah sobek halaman-halaman bukunya. Metode pembelajaran masih bersifat tradisional dimana para guru menjelaskan dan menuliskan materi di papan tulis menggunakan kapur tulis dan spidol sedangkan para siswa mendengarkan penjelasana guru dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. Guru belum mengajar menggunakan perangkat teknologi karena tidak adanya peralatan pendukung seperti laptop dan infokus serta tidak adanya layanan sambungan internet gratis.

 

Pengertian dan Jenis Layanan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM)

PkM merupakan implementasi dari Tridharma Perguruan Tinggi yang ditetapkan pada tahun 2021 oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Salah satu upaya untuk mengembangkan, menyerap dan mengimplementasikan ide-ide kreatif dan inovatif bagi siswa (Triyawan dkk, 2022).  PkM dapat dilaksanakan oleh akademisi di perguruan tinggi kepada Masyarakat umum atau bahkan kepada sesama akademi dalam berbagai bidang. Oleh karena itu, adalah lebih baik pelaksana PkM untuk melakukan observasi kebutuhan Masyarakat yang akan menerima kegiatan pelatihan dengan tujuan dapat memetakan kebutuhan khusus Masyarakat (peserta yang akan menerima pelatihan) sehingga pelaksana PkM dapat merancang kegiatan dan mengaplikasikan pelatihan dengan efektif dan tepat sasaran. PkM juga merupakan bagian dari tridharma perguruan tinggi di Indonesia, yang melibatkan penelitian dan pengajaran, di mana pengabdian kepada masyarakat adalah salah satu aspek penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan Masyarakat (UU RI No.12, 2012). Di bawah ini adalah contoh-contoh pelaksanakan PkM yang dilakukan para akademisi kepada Masyarakat dengan pemberian pelatihan di berbagai bidang sesuai dengan kebutuhan khusus penerima kegiatan (peserta) PkM.

 

PkM bidang Wirausaha

PkM adalah sebuah kegiatan pengabdian yang dilakukan kepada masyarakat sebagai manifestasi dan atas ilmu pengetahuan kewajiban moral dari seorang akademisi dalam hal ini dosen dan mahasiswa yang membagikan kemampuan (baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun bidang keuangan) untuk membantu peningkatan kualitas hidup Masyarakat (Junaid & Baharuddin, 2020). PkM yang mirip, yang dilakukan Mukrodi dkk (2021), adalah PkM yang memfasilitasi para remaja untuk belajar tentang kewirausahaan agar para remaja memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang kewirausahaan yang akan menumbuhkan semangat (jiwa) para remaja untuk berwirausaha di kemudian hari (Mukrodi dkk., 2021, Rizal, 2020). Dengan mengikuti kegiatan pelatihan kewirausahaan ini, para remaja akan mendapatkan gambaran sederhana tentang jenis-jenis usaha dan cara membuka sebuah usaha. Para remaja yang ikut dalam kegiatan PkM ini juga mendapatkan pengalaman langsung dalam berwirausaha dari para pelatih (Rante & Ratang, 2020).

 

PkM bidang Kesehatan

Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat dengan tema stunting (masalah kekurangan gizi kronis Pada bayi oleh kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu yang lama) kepada Masyarakat di dusun Aek Galoga Desa Pidoli Lombang, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara (Harahap dkk, 2023). Anak pendek merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang dapat menurunkan kemampuan produktif suatu bangsa di masa yang akan datang (Gaffar dkk., 2021). Kegiatan serupa juka dilakukan oleh akademisi dari Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Universitas Negeri Makassar. Kegiatan pengabdian ini diberikan kepada para siswa, par aguru, serta para orangtua di SMPIT Al-Fityan School Gowa pada tahun 2023. Kegiatan pengabdian ini meliputi sosialisasi dan penyuluhan pola hidup sehat dan aktivitas fisik yang teratur untuk penurunan angka dan pencegahan stunting (Haeril dkk., 2023).

 

PkM bidang Pendidikan

Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2023 di SMA Negeri 9 Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan pelatihan tentang penanaman sikap dan kesadaran peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan pengelolaan lingkungan yang benar, peningkatkan motivasi guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter peduli lingkungan dalam proses pembelajaran, peningkatkan motivasi peserta didik dalam mengimplementasikan nilai pendidikan karakter peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari (Syarif dkk., 2023). Pendidikan karakter kepada Masyarakat diharapkan menjadi sumber ilmu bagi Masyarakat agar demi lahirnya generasi penerus bangsa Indonesia yang berkarakter serta berkepribadian kuat dan cermat (Oprasmani et al., 2020). Kegiatan pelatihan dengan tema pendidikan dilakukan oleh akademisi dari Program Studi Sastra Inggris, Fakultas sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia kepada mahasiswa program Kampus Mengajar angkatan kedua dalam pelaksanakan program pemerintah yang dikenal dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (Tambunsaribu, 2023). Kegiatan PkM bidang Pendidikan juga dapat diberikan kepada para siswa Taman kanak-kanak (TK) dalam bentuk pelatihan pengucapan kosakata bahasa Inggris dengan tujuan mengatasi keterbatasan para siswa dalam membaca kosakata bahasa Inggris (Tambunsaribu, 2022).

 

PkM Bidang Teknologi dan Informasi

Kegiatan PkM yang dilakukan Gunawan dan LN diberikan kepada dosen dan tenaga pendidik di Universitas Bunda Mulia dalam bentuk pelatihan membuat media pembelajaran cerdas berbasis Android untuk meningkatkan kompetensi pengajar dalam menguasai Teknologi Informasi dan Komputer (TIK). Ilmu yang para dosen dan tenaga pendidik dapatkan dari pelatihan ini diharapakan dapat mereka gunakan sebagai sarana pembelajaran terhadap mahasiswa jurusan Informatika dan Sistem Informasi. Pelatihan ini bertujuan agar dosen dan tenaga pendidik mampu membuat media pembelajaran mobile learning berbasis android sehingga kemampuan pedagogic mereka meningkat (Gunawan & Yusuf LN, 2021). PkM dengan tema peningkatan penggunaan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) oleh para guru di TK Bina Aprasa dilakukan oleh Putra dkk (2021). Tujuan PkM ini adalah untuk peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia tenaga pendidik (guru) di TK Bina Aprasa dalam bidang Teknologi Informasi agar para guru dapat meningkatkan kinerja mereka dalam hal administrasi dan juga dalam kegiatan belajar mengajar.

 

PkM Bidang Pertanian

PkM ini dilaksanakan oleh para mahasiswa dan dosen-dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Unika De La Salle Manado kepada para siswa SMK yang sedang melakukan kegiatan praktek kerja lapangan (PKL) di lembaga A’Makalendong di Rurukan I Kecamatan Tomohon Timur, Kota Tomohon. Tujuan PkM ini adalah untuk semakin meningkatkan minat dan memperkuat motivasi para siswapara siswa untuk terjun ke sektor pertanian. Materi-materi penyuluhan yang diberikan dianggap sesuai karena inovasi teknologi sangat terkait dengan kaum muda.  Tujuan PkM ini juga untuk untuk membuka cakrawala berpikir para siswa tentang perkembangan terkini bidang pertanian, peluang usaha pertanian melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi digital (Polan dkk., 2021). Tema PkM di bidang pertanian juga dilakukan oleh para akademisi dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Rahmiyati & Andayani, 2021). Tujuan dari kegiatan PKM ini adalah untuk pengembangan usaha “Tanaman Hias Pak Huda” di Desa Banyuurip, Kec. Kedamean, Kabupaten Gresik. Bentuk PkM ini adalah pelatihan manajemen usaha dan pendampingan manajemen usaha serta teknologi tepat guna kepada para petani dan pedagang tanaman hias yang ada di Desa Banyuurip yang tergabung dalam Paguyuban Petani dan Pedagang Bunga yang anggotanya berjumlah 915 orang.

 

 

PkM Smart Village

PkM Smart village adalah konsep yang mencakup penerapan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di desa. Ini termasuk pengembangan infrastruktur digital, peningkatan akses layanan publik, dan penguatan ekonomi lokal melalui inovasi. Tujuannya adalah menciptakan desa yang lebih cerdas, berkelanjutan, dan berdaya saing (LLDIKTI3, 2024). Menurut sumber informasi dari website Pemerintah Kabupaten Buleleng. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (2020) yang berjudul “Smart village: Gagasan Membangun Desa yang Berkelanjutan dan Berkesejahteraan”, mengatakan bahwa pemerintah Indonesia mencanangkan smart village yang secara umum dapat di gambarkan sebagai desa yang cerdas dengan melakukan inovasi sosial yang inovatif berbasis platform digital atau teknologi informasi guna meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat yang ada di desa. Capaian smart village juga di harapkan untuk efisiensi dan mengupayakan daya saing desa kedalam aspek kehidupan pada bidang sosial, ekonomi dan lingkungan.

Kata smart village memiliki arti “desa yang cerdas” atau “desa yang pintar”. Desa cerdas dapat diartikan sebagai sebuah desa yang dihuni oleh masyarakat yang mandiri. Sebuah desa disebut desa cerdas karena masyarakatnya memiliki kekayaan sendiri serta pemerintahannya memiliki kemampuan untuk meningkatkan serta mengembangkan pelayanan kepada masyarakatnya serta mengembangkan perekonomian masyarakat melalui teknologi digital dan telekomunikasi (European Network for Rural Development, 2018; Ramachandra et.al, 2015). Desa yang cerdas tentunya dapat menekan terjadinya urbanisasi dan mengatasi permasalahan ekonomi masyarakat (Santoso et.al, 2019). Smart village adalah desa yang memiliki layanan dalam bidang konstruksi, pertanian, dan kesehatan yang dikelola oleh masyarakat pedesaan dengan cara memanfaatkan teknologi informasi untuk melakukan berbagai aktifitas desa secara efisien dan efektif (Viswanadham & Vedula, 2010).

Menurut Herdiana (2019), pengembangan smart village didasarkan kepada pendekatan dari bawah atau “buttom-up” atas prakarsa dan keinginan masyarakat, sehingga adanya penguatan kelembagaan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah desa melalui pembinaan dan pemberdayaan masyarakat dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sepenuhnya dilakukan dalam kapasitas pemerintah sebagai fasilitator (Chatterje & Kar, 2017). Konsep dasar dari desa pintar adalah untuk menghimpun upaya masyarakat dari berbagai aspek dan mengintegrasikannya dengan teknologi informasi untuk memberikan manfaat bagi masyarakat pedesaan (Dirgatama et.al, 2024). Konsep dari smart village tidak mengusulkan sebuah one-size-fits-all solution, semuanya berdasarkan dari kepekaan masing-masing wilayah dan kebutuhannya serta potensi masing-masing dengan menggunakan strategi baru maupun strategi yang sudah pernah ada (Fajrillah, Mohamad, dan Novarika, 2018).

 

Indikator Smart Village

Ada beberapa bidang layanan yang terdapat pada PkM smart village. Menurut Herdiana, ada  3 (tiga) elemen pokok smart village yakni smart government, smart community dan smart environment  (Herdiana, 2019). Dimensi smart village yaitu sumber daya manusia, institusi, layanan digital yang sifatnya berkelanjutan (Chatterjee & Kar (2017). Menurut Santoso dkk (2019), berkembangnya ekonomi perdesaan menjadi hal penting dalam menopang terbentuknya desa cerdas. Menurut  Setiawan et.al (2017), melalui smart kampung (smart village) dan berbagai fitur yang terdapat di program smart kampung mampu meningkatkan pelayanan pemerintah desa menjadi lebih baik, proses pelayanan menjadi lebih cepat, mudah, dan murah.

 

Beberapa unsur yang dapat dijadikan indicator utama dalam mewujudkan smart village adalah pertama, smart government, yaitu menjadikan pemerintah desa sebagai agen pengubah melalui proses reformasi diri dalam pelayanan yang transparasi dan akuntabilitas, pemerintah desa menjadi agen pemberdaya bagi masyarakatnya dan sebagai partisipan yang mampu mengadvokasi masyarakat menjadi lebih berdaya. Kedua, smart people, yaitu pembangunan yang berpijak pada manusia (people centered development) yang mendasarkan pada pengupayaan peningkatan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat desa dengan kebudayaan yang menyertainya. Ketiga, smart economy yang menempatkan poros ekonomi menjadikan roda utama kehidupan masyarakat desa yang siap bersaing dalam bidang ekonomi. Selain itu perlunya nilai inovasi dari derivasi ekonomi yang di sebutkan bahwa inovasi menjadikan paham baru untuk tetap eksis yang menempatkan inovasi pada sektor perekonomian di desa guna membangun eksistensi agar selalu dapat berkompetisi secara fair. Keempat, smart living yaitu sebagai dinamika yang di bangun masyarakat melalui penciptaan ruang kreatifitas guna mendasarkan desa sebagai ruang public yang di kreasikan oleh masyarakat untuk menyalurkan olah rasa, jiwa dan cipta. Nilai kreatifitas masyarakat merupakan saluran aspirasi utama dalam memaksimalkan modal sosial yang telah tumbuh sejak lama sehingga menjadi sebuah nilai penciptaan kearifan local masyarakat setempat yang tentu saja didasarkan pada norma yang berlaku didalamnya. Kelima, smart environment yaitu upaya masyarakat untuk tetap mempertahankan nilai ekosistem sosial, ekonomi dana lam yang di integrasikan secara komprehensif atas keluhuran budi dalam menghargai keyaan alam yang dimiliki oleh desa. Konsep sustainability agaknya berkembang dalam konteks lingkungan ini sehingga menempatkan lingkungan sebagai media " investasi" bagi generasi selanjutnya. Yang terakhir keenam, smart mobility yaitu adanya penyediaan terhadap alat transportasi dan infrastruktur yang memadai sehingga memberikan pelayanan yang mendukung dalam masyarakat yang memiliki mobilitas tingga dalam beraktifitas keseharian.

 

 

METODE KEGIATAN

1. Penyuluhan

Penyuluhan dilakukan dengan cara pelaksana PkM memberikan materi mengenai Pendidikan yang aktif dan efektif untuk para siswa sekolah dasar.  Penyuluhan pendidikan di daerah pedesaan memiliki peran yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Beberapa fungsi dari kegiatan penyuluhan untuk para siswa dan guru di daerah terpencil adalah sebagai berikut:

a) meningkatkan kualitas pembelajaran seperti contoh memperkenalkan metode dan strategi pembelajaran yang efektif kepada guru dan siswa);

b) meningkatkan kompetensi guru yang berfungsi untuk untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesionalisme guru;

c) mendorong pembelajaran yang berpusat pada siswa yang dapat membantu guru dapat memahami pentingnya pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, yaitu dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran;

d) memberikan akses ke sumber daya pendidikan yang dalam hal ini penyuluhan berfungsi memberikan informasi tentang akses ke berbagai sumber daya pendidikan, baik secara fisik (misalnya buku, alat peraga, dan alat tulis) maupun teknologi (misalnya penggunaan internet dan aplikasi pembelajaran);

e) meningkatkan kesadaran para masyarakat desa tentang pentingnya pendidikan;

f) mendorong penerapan pembelajaran inovatif yang dalam hal ini kegiatan penyuluhan berfokus untuk mendorong guru untuk menerapkan berbagai model pembelajaran inovatif yang dapat dilakukan dengan sumber daya terbatas, seperti pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran aktif, atau pembelajaran melalui permainan edukatif;

g) mengatasi hambatan fisik dan geografis yang dalam hal ini kegiatan penyuluhan untuk memberikan dukungan kepada siswa dan guru untuk mengatasi hambatan geografis dan fisik, misalnya dengan mengajarkan teknik pembelajaran jarak jauh (jika memungkinkan), atau cara-cara efektif untuk belajar tanpa bergantung pada fasilitas yang terbatas; dan 8) meningkatkan kesejahteraan psikologis guru dan siswa yang dalam hal ini penyuluhan dilakukan untuk memberikan dukungan psikologis kepada guru dan siswa dengan memberikan pemahaman tentang pentingnya kesejahteraan mental dalam proses belajar mengajar (Arends, 2014; Brigham, 2016; Iskandar, 2017; Pratiwi, 2020; Wening, 2019).

 

2. Praktik Baik Metode Pengajaran Aktif dan Efektif

Para siswa diajarkan belajar sambil mengasah keterampilan social mereka dengan belajar berdiskusi dalam kelompok (antar sekolah). Melalui diskusi ini, siswa dapat mengungkapkan pendapat mereka, mendengarkan sudut pandang teman-teman mereka, serta mengembangkan keterampilan komunikasi dan pemecahan masalah. Metode ini mendorong keterlibatan aktif siswa, meningkatkan rasa percaya diri mereka, dan mengajarkan mereka pentingnya bekerja sama dalam kelompok. Para siswa juga diajarkan cara pemecahan sebuah masalah dan cara berpikir kritis dalam menghadapi permasalahan dalam kehidupan mereka sebagai siswa di lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga mereka. Para siswa diajarkan juga belajar kolaborasi mengerjakan proyek sederhana (menyusun potongan gambar, menyusun kerangka kubik membentuk segitiga, dll). Dalam tugas projek,para siswa diberikan kebebasan untuk memilih jenis projek sesuai dengan minat mereka. Para siswa dan dosen berkeliling mengamati dan berperan sebagai fasilitator yang mendampingi dan memberikan umpan balik yang konstruktif kepada hasil pekerjaan para siswa. Di akhir pembelajaran, para siswa diberikan kesempatan untuk merefleksikan proses pembelajaran mereka. Mereka diberikan penugasan secara individu yakni meminta para siswa untuk menulis jurnal atau membuat presentasi tentang apa yang telah mereka pelajari, apa tantangan yang dihadapi, dan bagaimana mereka mengatasinya. Melalui metode ini, para siswa diajarkan juga cara untuk mempresentasikan karya mereka kepada teman-teman mereka. Metode ini mendukung pengembangan diri siswa dan membantu mereka untuk lebih memahami materi dengan cara yang lebih mendalam (Kemendikbudristekdikti, 2022; Mulyana, 2022).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam rangka mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, mendorong implementasi hasil riset di lingkungan Masyarakat, serta membangun eksosistem kolaborasi antar institusi, LLDikti Wilayah III akan mengadakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat – Kampus Merdeka (PkM KM) dengan tema “Smart Village”.  Kegiatan PKM KM dengan tema Smart Village ini merupakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang akan melibatkan dosen dan mahasiswa untuk bergerak dan berkolaborasi dalam memberdayakan masyarakat desa melalui pemanfaatan teknologi secara berkelanjutan. Implementasi sistem Smart Village dimulai dengan memetakan jenis pelayanan yang diberikan, sistem yang sudah ada dan diterapkan di desa, dan apa yang menjadi potensi desa yang dapat mendukung penerapan pengembangan sistem Smart Village dan sistem informasi desa lainnya yang ada di desa. Adapun tujuan PkM Smart People ini adalah: a) untuk memperkuat akses masyarakat desa terhadap sumber daya pendidikan, terutama dalam bentuk buku dan teknologi; b) untuk mendorong literasi digital yang inklusif dan memberdayakan masyarakat melalui akses ke perangkat teknologi; dan c) untuk menjalin kerja sama dan partisipasi perguruan tinggi di lingkungan LLDikti Wilayah III dalam pengembangan masyarakat berbasis pendidikan. Sasaran PkM Smart People ini adalah kepada kelompok masyarakat dengan kebutuhan pendidikan dan literasi digital, seperti pelajar, pemuda, operator sekolah, guru, dan kelompok masyarakat lainnya yang dinilai layak.

Pembukaan Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat di SD Kademangan kabupaten Cianjur

Pada awal pembukaan acara, kata sambutan diberikan oleh kepala Disdikpora Cianjanjur, Bapak Deden. Disdikpora adalah singkatan dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga. Tugas Disdikpora adalah membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan, kepemudaan, dan olahraga. Karena kegiatan PkM (Pengabdian kepada Masyarakat) ini adalah termasuk dalam bidang pendidkan, maka acara pembukaan pelaksanaan Smart village ini dihadiri oleh ketua Disdikpora kabupaten Cianjur serta para pemangku guru dan kepala sekolah SD Kademangan (Ibu Yeni). Ada delapan (8) universitas di bawah naungan LLDIKTI3 yang menjadi pelaksana PkM Smart people saat itu, yaitu: 1) Univesitas Kristen Indonesia, 2) Universitas M.H. Thamrin, 3) ITL.Trisakti, 4) Universitas T.B. Swadarma, 5) Universitas Tama Jagakarsa, 6) Universitas Trilogi, 7) ISTN, dan 8) Universitas Ipwija.

Dalam kata sambutan, kepala Disdikpora menyatakan harapan bahwa semua guru-guru harus tetap terbuka pada pengembangan kompetensi mereka sebagai tenaga pendidik. Para guru tetap mendidik dengan tetap berdasar pada pendidikan yang berwawasan kebangsaan yang menjunjung nilai-nilai patriotisme. Guru mendidik para siswa dengan berdasarkan nilai-nilai moral (yang bersumber dari agama) dan nilai-nilai kedisiplinan. Melalui kepala Disdikpora, pemerintah kabupaten Cianjur sangat mengapresiasi dan mendukung adanya kegiatan Smart village yang prakarsai oleh pemerintah LLDIKTI wilayah III DKI Jakarta dengan menggandeng beberapa perguruan tinggi di bawah naungannya. Mengingat bahwa Kabupaten Cianjur berada pada posisi terendah ke tujuh dalam bidang UPM (Unit Pengembangan Manusia), maka pemerintah kabupaten Cianjur berharap bahwa kegiatan PkM seperti ini sangat membantu mereka dalam peningkatan kualitas pendidikan di kabupaten Cianjur.

Kegiatan penyuluhan dan pelatihan metode pengajaran efektif dan aktif dilakukan oleh 3 universitas yaitu Universitas Kristen Indonesia, Universitas Trilogi, dan Universitas Uhamka.

1) Bantuan Sarana Pendidikan

Universitas Kristen Indonesia memberikan sumbangan 6 Laptop layak pakai kepada Kelurahan Kademangan untuk didistirbusikan kepada sekolah yang membutuhkan di yang berada di desa kademangan. Universitas Trilogi dan Uhamka memberikan sumbangan buku-buku ajar terbaru.

 

2) Kegiatan Penyuluhan

Pelaksana PkM memberikan materi melalui presentasi mengenai berbagai macam jenis kemampuan yang dimiliki oleh manusia dan dasar dari Pendidikan kepada para siswa, diantaranya adalah a) literasi karakter dan sikap (rasa sayang dan hormat pada Tuhan) serta berbuat baik pada diri dan sesame, b) literasi bahasa dan numerasi (membaca dan berhitung), c) literasi teknologi, (paham cara penggunaan alat-alat teknologi seperti kamputer, laptop, infokus, LCD, dll), d) literasi finansial (paham cara menghitung pemasukan dan pengeluaran (pembiayaaan yang berhubungan dengan keuangan); e) literasi budaya (perbedaan budaya dan cara menanggapi keanekaragaman budaya), f ) literasi berfikir kritis (memahami cara diskusi, berbagi informasi kepada orang lain dengan cara presentasi, dll), dan literasi lainnya.

 

3) Kegiatan Pelatihan untuk Guru dan Siswa

A) Pelatihan untuk Guru

Pelaksana PkM memberikan contoh praktik cara mengajar siswa dengan cara yang efektif. Guru dilatih dengan cara mengajar menggunakan alat-alat menarik seperti boneka, gambar, kertas berwarna, dan pulpel/spidol berwarna.

  • Menggunakan panggung boneka

Pelaksana PkM memperlihatkan cara mengajar materi menggunakan alat peraga boneka (panggung boneka. Dengan cara ini, para siswa dilatih untuk bisa menggunakan bahasa (berkomunikasi) dengan menggunakan berbagai macam ekspresi atau mimic wajah. Dengan panggung boneka ini, para siswa belajar berkomunikasi yang aktif menggunakan bahasa verbal (suara) dan non-verbal (bentuk eskpresi). Boneka juga bisa didesain menggunakan pakaian tradisional sehingga siswa juga bisa belajar langsung mengenai keanekaragaman budaya di Indonesia. Hal ini secara tidak langsung menanamkan rasa cinta tanah air kepada para siswa. Pada akhir materi pelajara ini para guru juga disarankan untuk menekankan kepada siswa tentang Indonesia yang sangat kaya akan suku, rasa, agama, dan hal lainnya. Siswa diajarkan untuk selalu menghargai orang lain tanpa memandang perbedaan-perbedaan itu.

 

  • Menggunakan kertas berwarna dan tinta/spidol berwarna

Pelaksana PkM memberikan praktik baik cara mengajar materi menggunakan kertas dan spidol/pena berwarna. Materi ini berhubungan dengan pilihan suka dan tidak suka dalam kehidupan siswa sehari-hari. Inti dari materi ini adalah bahwa dalam hidup ini, siswa selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dan pada akhirnya, para siswa diajarkan untuk tetap menghargai setiap pilihan orang lain yang mungkin berbeda dengan pilihannya. Sama seperti warna, setiap warna memiliki keindahan tersendiri. Dari materi ini, para guru disarankan untuk menekankan kepada siswa nilai-nilai tenggang rasa dan saling menghormati dengan sesamanya di kehidupan mereka sehari-hari.

 

  • Menggunakan gambar-gambar

Pelaksana PkM melatih para guru untuk mengajarkan materi pelajaran dengan menggunakan gambar. Menggunakan gambar yang berwarna-warni akan menarik perhatian siswa pada bentuk dan jenis-jenis objek yang mereka lihat. Belajar dengan menggunakan gambar melatih siswa untuk mempelajari sebuah objek/benda dengan bentuk dan warna yang sesungguhnya. Jika dalam kelas yang menggunakan projector, para guru bisa menggunakan media ajar berbentuk video pembelajaran yang diputar di layar monitor sehingga siswa bisa belajar sambil menonton. Pada akhir materi pembelajaran ini, para guru disarankan untuk bisa menekankan kepada siswa bahwa belajar itu bukan hanya di sekolah saja. Mereka dapat belajar apa saja dari lingkungan mereka sehari-hari. Pembelajaran itu terjadi setiap waktu. Melalui materi pembelejaran ini, para guru bisa menekankan kepada siswa bahwa ada beberapa jenis jenis Pendidikan yakni Pendidikan formal, informal, dan non-formal.

 

B) Pelatihan untuk Siswa

Pelaksana PkM yang terdiri dari para dosen dari bidang Pendidikan yang dibantu dengan para mahasiswa memberikan pelatihan praktik baik kepada tentang cara belajar aktif (menyenangkan) dan efektif (materi mudah dipahami). Para siswa yang berasal dari 5 sekolah dasar saling berkolaborasi mengadakan praktik belajar bersama. Dengan berdasar kurikulum merdeka, para siswa dilatih langsung belajar materi dengan menggunakan adegan peran melalui aktifitas bernyanyi, menari, dan bermain. Setiap topik pembelajaran diselingi dengan permainan dan kuis yang berhadiah makanan ringan sehingga 1,5 jam proses belajar berjalan dengan lancar dan menyenangkan.

Dengan belajar besama dalam grup, para siswa diajarkan untuk dapat bertenggang rasa, saling menghargai pendapat, meningkatkan keterampilan mereka berkomunikasi dengan orang lain, serta banyak nilai-nilai kemanusiaan yang mereka bisa bangun dengan belajar bersama kelompok.

Ada pun beberapa kegiatan yang diberikan kepada para siswa secara langsung di lapangan adalah sebagai berikut:

  • Pengenalan Metode Pembelajaran Aktif

Kegiatan ini dimulai dengan mengenalkan konsep pendidikan aktif, yaitu pendekatan yang melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Penyuluh akan menjelaskan berbagai metode pembelajaran yang melibatkan partisipasi aktif siswa seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan eksplorasi ide secara bebas.

  • Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)

Kegiatan ini melibatkan pengenalan kepada siswa mengenai pembelajaran berbasis proyek, di mana mereka akan bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan proyek yang relevan dengan topik yang sedang dipelajari. Metode ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan kolaborasi, pemecahan masalah, dan kreativitas.

  • Demonstrasi Pembelajaran Berpusat pada Siswa

Kegiatan ini lebih khusus menunjukkan praktik pengajaran kepada siswa di mana siswa menjadi pusat dari aktivitas pembelajaran. Dalam hal ini, guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan panduan dan dukungan. Kegiatan yang dilakukan bersama siswa adalah berdiskusi dalam kelompok, belajar dengan berbasis masalah, dan kegiatan belajar dengan langsung melihat benda/alat peraga asli yang memungkinkan siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung menggunakan alat/benda tersebut.

  • Penggunaan Media Pembelajaran yang Menarik

Kegiatan ini mencakup penggunaan berbagai media pembelajaran, seperti gambar, video, dan alat peraga, untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan mudah dipahami. Dengan media ini, siswa dapat belajar lebih efektif dan dengan cara yang menyenangkan, meningkatkan keterlibatan mereka dalam kelas.

  • Evaluasi Pembelajaran yang Membangun

Kegiatan ini mencakup aktifitas mengajarkan cara-cara memberi umpan balik yang positif kepada siswa setelah aktifitas pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk membantu para siswa memahami kekuatan mereka dalam memahami materi dan keterampilan yang perlu mereka asah dan perbaiki untuk peningkatan kuliatas belajar mereka di hari-hari berikutnya.

  • Penerapan Pembelajaran Kooperatif

Aktivitas ini berfokus pada pembelajaran kooperatif di mana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas bersama. Metode ini mengembangkan keterampilan sosial siswa dan meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap tugas kelompok.

  • Pengembangan Keterampilan Sosial melalui Pembelajaran Kolaboratif

Melalui simulasi kegiatan kolaboratif, siswa akan belajar bagaimana bekerja dalam tim, mendengarkan ide teman, dan berkontribusi secara aktif. Aktifitas ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi dan kerjasama di antara siswa.

  • Permainan Edukatif untuk Meningkatkan Minat Belajar

Dalam aktifitas ini, para pelatih mengajak siswa bermain permainan edukatif yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan keterlibatan mereka dalam pembelajaran. Permainan ini berupa teka-teki, kuis, atau permainan berbasis teknologi (permainan menggunakan Telepon genggam dan laptop) yang mengajarkan berbagai konsep pelajaran dengan cara yang menyenangkan kepada para siswa.

 

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil pembahasan di atas, kita dapat melihat berbagai manfaat dari PkM Smart Village khususnya Smart People ini. Inisiatif PKM Orang Pintar bertujuan untuk meningkatkan akses pendidikan dan literasi digital di masyarakat desa melalui upaya kolaboratif antara universitas dan pemangku kepentingan local (pemerintahan desa), yang pada akhirnya mendorong ekosistem “Desa Pintar” yang berkelanjutan. Dengan menerapkan metode pengajaran yang efektif dan menyediakan sumber daya pendidikan yang penting, program ini berupaya untuk memberdayakan anggota masyarakat dan meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan di daerah pedesaan. Dari sini kita dapat memahami bahwa semua pihak (khususnya pemerintah dan akademisi perguruan tinggi) bisa bermitra dalam hal peningkatan pembangungan khususnya bisang Pendidikan di Indonesia. Pemerintah (pemerintah daerah dan pemerintah pusat) harus lebih giat lagi membuat program-program kerjasama yang bertujuan bersama-sama melakukan cara aktif dan efektif meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia sesuai dengan perkembangan jaman.

 

Saran

Sesuai dengan pembahasan di atas, maka penulis memberikan beberapa saran, diantaranya:

1.    Para pemerintah daerah lebih memberikan perhatian kepada peningkatan sarana dan prasarana Pendidikan karena Pendidikan salah satu modal terbesar untuk peningkatan kualitas generasi bangsa kita ke depannya.

2.    Para perangkat desa saling bahu membahu dengan semakin giat lagi dalam memberantas kedohan di tenga-tengah Masyarakat dengan cara tetap mengedepankan pendidikan dalam segala bidang;

3.    Pemerintah indonesia khususnya pemerintah setiap daerah tetap melakukan monitor kualitas Pendidikan di daerah masing-masing sehingga dapat terus mencari cara peningkatan kuliatas Pendidikan sesuai dengan perkembangan teknologi dan informasi;

4.    Para mahasiswa khususnya mahasiswa yang mengambil bidang Pendidikan semakin mempersiapkan diri dalama hal ilmu dan keterampilan untuk mendidik para siswa di masa mendatang sesuai dengan kebutuhan jaman;

5.    Para pimpinan sekolah terus berkoordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan untuk program-program peningkuatan kulialitas Pendidikan;

6.    Melalui kegiatan PkM Smart People ini, para siswa dan guru peserta PkM dapat meningkatkan keterampilan dalam melakukan proses belajar-mengjar yang efektif dan aktif.

Penulis berharap dengan adanya pelaksanakan PkM Smart People ini, semua pihak yang berhubungan khusus dengan Pendidikan dapat semakin menambah wawasan, pengetahuan, serta keterampilan dalam hal peningkatan kualitas Pendidikan di Indonesia.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Para penulis artikel PkM ini mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu para penulis dalam menyelesaikan program PkM Smart People ini. Terima kasih kepada pemerintahan kabupaten Cianjur khususnya desa Kademangan yang bersedia membantu menjadi mitra PkM dan telah menyambut dan menerima para pelaksana PkM dengan sangat ramah dan Ikhlas. Terima kasih kepada seluruh perangkat desa Kademangan yang telah bersedia membantu dari awal persiapan hingga selesainya pelaksanakan PkM ini. Terima kasih kepada pemerintah khususnya LLDIKTI Wilayah 3 DKI Jakarta yang telah menginisiasi dan memberikan kesempatan yang berharga kepada para pelaksana PkM (beberapa perguruan tinggi di bawah naungan LLDIKTI Wilayah III) yang menjadi partner dan kontributor dalam pelaksanakan PkM ini. Terima kasih juga kepada pimpinan Universitas Kristen Indonesia khususnya LPPM (Lembaga Penelitian dan PkM) yang telah membantu dari segi finansial dan moral sehingga PkM ini terlaksana dengan baik. Terima kasih kepada seluruh dosen dan mahasiswa Universitas Kristen Indonesia yang menjadi tim pelaksana PkM ini. Terima kasih juga kami ucapkan kepada selutuh pimpinan Program Studi dan pimpinan Fakultas di lingkungan Universitas Kristen Indonesia yang telah mendukung kegiatan PkM ini. Terima kasih kepada para kepala sekolah, staff Kependidikan, dan para siswa di SD yang berada di desa Kademangan yang telah menjadi mitra PkM ini. Terima kasih juga kepada para rekan dosen dan para mahasiswa yang telah mendukung kegiatan PkM ini. Terima kasih juga kepada seluruh pihak yang mungkin lupa penulis tuliskan namanya secara khusus atas bantuan dan dukungan moral dan finansial sehingga kegiatan PkM Smart People ini berjalan dengan lancar sehingga PkM ini dapat memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan kualitas Pendidikan di Indonesia khususnya di desa Kademangan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dirgatama, C. H. A., Permansah, S., & Rusmana, D. (2024). Understanding smart village concepts: digital literacy and mobile technology. Journal of Education and Learning (EduLearn)18(3), 1015-1028.

 

Herdiana, D. (2019). Pengembangan konsep smart village bagi desa-desa di Indonesia (Developing the smart village concept for Indonesian villages). JURNAL IPTEKKOM Jurnal Ilmu Pengetahuan & Teknologi Informasi21(1), 1-16.

 

Chatterjee, S., & Kar, A. K. (2017). Concept of Smart Village in India: A Proposed Ecosystem and Framework. In Advances in Smart Cities (pp. 83-92). Chapman and Hall/CRC.

Adamowicz, M., & Zwolińska-Ligaj, M. (2018). New concepts for rural development in the strategies and policies of the European Union. Economic and Regional Studies/Studia Ekonomiczne i Regionalne11(3), 7-31.

 

Ramachandra, T. V., Aithal, B. H., & Sreejith, K. (2015). GHG footprint of major cities in India. Renewable and Sustainable energy reviews44, 473-495.

 

Santoso, D. B. (2019). Microcredit accessibility in rural households: Evidence from Indonesia. Economics and Finance in Indonesia65(1), 5.

 

Viswanadham, N., & Vedula, S. (2010). Design of smart villages.

 

Fajrillah, F., Mohamad, Z., & Novarika, W. (2018). Smart City Vs Smart Village. Jurnal Mantik Penusa, 2(1), 1–6.

 

Santoso, A. D., Fathin, C. A., Effendi, K. C., Novianto, A., Sumiar, H. R., Angendari, D. A. D., & Putri, B. P. (2019). Desa Cerdas: Transformasi Kebijakan dan Pembangunan Desa Merespon Era Revolusi Industri 4.0. Monograf.(EA Purwanto & D. Permadi, Eds.). Yogyakarta: cfds Fisipol UGM.

 

Setiawan, T., Oktawira, P., & Perdana, I. (2017). Kajian Model Akselerasi Pelayanan Desa Terintegrasi Melalui Program Smart Kampung di Kabupaten Banyuwangi.

 

Polan, T. S., Pontoan, K. A., & Merung, Y. A. (2021). Pemberdayaan Kaum Muda Untuk Mendorong Regenerasi di Sektor Pertanian. Comserva: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat1(1), 26-34.

 

Rahmiyati, N., & Andayani, S. (2021). PKM Pengembangan Usaha “Tanaman Hias Pak Huda” Di Desa Banyuurip, Kec. Kedamean, Kabupaten Gresik. ABDI MASSA: Jurnal Pengabdian Nasional (e-ISSN: 2797-0493)1(04), 30-42.

 

Syarif, E., Maddatuang, M., Zhiddiq, S., Syamsunardi, S., & Badwi, N. (2023). PKM Pembinaan Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan Peserta Didik. ARRUS Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat2(1), 22-29.

 

Oprasmani, E., Amelia, T., & Muhartati, E. (2020). Membangun Masyarakat Peduli Lingkungan Pesisir Melalui Edukasi Kepada Masyarakat Kota Tanjungpinang Terkait Pelestarian Daerah Pesisir. To Maega: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(2), 66–73.

 

Tambunsaribu, G. (2022). Pelatihan Pelafalan Dan Kosakata Bahasa Inggris Untuk Siswa Sekolah Dasar Islam Nurul Huda Cipayung Jakarta Timur. Jurnal Abdi Insani9(1), 78-91.

 

Tambunsaribu, G. (2023). KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT DOSEN PEMBIMBING LAPANGAN DALAM PROGRAM KAMPUS MENGAJAR ANGKATAN IV. Jurnal Abdi Insani10(4), 2134-2146.

 

Junaid, R., & Baharuddin, M. R. (2020). Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru melalui PKM Lesson Study. To Maega: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(2), 122-129.

 

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022). Kurikulum Merdeka: Panduan Implementasi untuk Sekolah Dasar. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

 

Mukrodi, M., Wahyudi, W., Sugiarti, E., Wartono, T., & Martono, M. (2021). Membangun jiwa usaha melalui pelatihan kewirausahaan. Jurnal PKM Manajemen Bisnis1(1), 11-18.

Mulyasa, E. (2022). Kurikulum Merdeka untuk Sekolah Dasar: Implementasi dan Praktik Terbaik. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Rizal, S. (2020). PKM: Pemberdayaan Generasi Muda Melalui Enterpreneurship di Gampong Leuge Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur: Pemberdayaan Generasi Muda Melalui Enterpreneurship di Gampong Leuge Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur. TRIDARMA: Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM), 3(1, Mei), 35-39.

 

Rante, Y., & Ratang, W. (2020). Analisis Faktor-Faktor Jiwa Kewirausahaan Pada Pemuda Remaja di Wilayah Kotaraja dan Abepura. Jumabis: Jurnal Manajemen dan Bisnis, 4(1).

 

 

Harahap, E., Mawaddah, F., & Agustina, E. (2023). Penyuluhan untuk Meningkatkan Pengetahuan dan Sikap Ibu dalam Mencegah Stunting Melalui Layanan Informasi di Dusun Aek Galoga Desa Pidoli. Amare2(1), 12-15.

 

Haeril, H., Rahman, A., Ichsani, I., Zulfikar, M., & Husnul, D. (2023). Pkm Pola Hidup Sehat Dan Aktivitas Fisik Sebagai Upaya Penurunan Angka Dan Pencegahan Stunting Pada Anak. Jurnal Dharma Pendidikan Dan Keolahragaan3(1), 14-21.

 

Gaffar, S. B., Muhaemin, M., Natsir, N., & Asri, M. (2021). PKM Pencegahan Stunting melalui Pendidikan Keluarga.

 

Putra, I. G. N. A. W., Musayyanah, M., & Triwidyastuti, Y. (2021). PKM PADA TK BINA ANAPRASA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN TENAGA PENDIDIK DALAM BIDANG TEKNOLOGI INFORMASI. Jurnal Kreativitas dan Inovasi (Jurnal Kreanova), 1(2), 59-66.

 

Gunawan, A., & LN, S. Y. (2021). Pelatihan Android Studio untuk Meningkatkan Kemampuan Dosen dan Tenaga Pendidik Dalam Bidang Teknologi Informasi di Universitas Bunda Mulia Jakarta. Jurnal PkM (Pengabdian kepada Masyarakat)4(5), 451-459.

 

Triyawan, A., Nurul, D., Hijiriani, R., Annisa, B., Maisya, H., & Maula, I. (2022). Pendampingan Penyusunan Proposal Program Kreatifitas Mahasiswa Fakultas Ekonomi Manajemen Universitas Darussalam Gontor. Bubungan Tinggi: Jurnal Pengabdian Masyarakat4(2), 666-671.

 

Arends, R. I. (2014). Learning to teach (10th ed.). McGraw-Hill.

 

Brigham, F. L. (2016). The impact of teaching strategies on student learning in rural communities. Journal of Rural Education, 31(2), 87-101. https://doi.org/10.1080/08828749.2016.1180837

 

Iskandar, D. (2017). Penyuluhan pendidikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di daerah terpencil. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 8(4), 210-221.

 

Pratiwi, D. (2020). Strategi pemberdayaan guru dan siswa di daerah terpencil melalui kegiatan penyuluhan [Unpublished master's thesis]. Universitas Pendidikan Indonesia.

 

Wening, P. D. (2019). Peran penyuluhan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan di daerah terpencil. Jurnal Pendidikan Masyarakat, 6(2), 45-58. *

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Humanism...

"HEARTBREAKING, MAKES ME CRY "

Tugas Penelitian (Etnografi)