PENERAPAN TEORI PENERJEMAHAN AUDIOVISUAL DALAM PEMBUATAN OPEN CAPTIONS UNTUK VIDEO KEGIATAN PRODI SASTRA INGGRIS UKI

 

 

Disusun oleh:

Caecillia Tiara

2221150001

 

 

 

PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS

FAKULTAS SASTRA DAN BAHASA

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

2026


HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSETUJUAN

 

Naskah laporan magang oleh mahasiswa:

 

Nama   : Caecillia Tiara

NIM    : 2221150001

Judul   : Penerapan Teori Penerjemahan Audiovisual dalam Pembuatan Open Captions untuk Video Kegiatan Prodi Sastra Inggris UKI

 

Telah diperiksa dan dikoreksi dengan baik dan cermat. Oleh karena itu, pembimbing menyetujui mahasiswa tersebut untuk diuji.

 

Jakarta, Januari 2026

Pembimbing Materi

Lisbeth Juliana Sirait, S.S., M.Li.

NIP. 101778


KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan kegiatan magang di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia dengan lancar, serta menyelesaikan laporan magang ini dengan baik dan tepat waktu. Laporan magang ini disusun sebagai salah satu tugas akhir dan syarat kelulusan mata kuliah Internship. Dalam proses penyusunan laporan magang ini, penulis menyadari bahwa keberhasilan pelaksanaan magang dan penyelesaian laporan tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

 

1.      Susanne A. H. Sitohang, S.S., M.A., selaku Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa.

2.      Jannes Freddy Pardede, S.S., M.Hum., selaku Wakil Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa.

3.      Mike Wijaya Saragih, S.S., M.Hum., selaku Kepala Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia, dan juga sekaligus sebagai Supervisor pada saat penulis melakukan kegiatan magang di Program Studi Sastra Inggris UKI.

4.      Lisbeth Juliana Sirait, S.S., M.Li., selaku dosen pembimbing yang telah membimbing penulis dalam menulis laporan magang.

5.      Orang tua, Fransiscus William, Chatline, dan Vanessa yang selalu memberikan semangat dan dukungan selama pengerjaan laporan magang ini.

 


Jakarta, 12 Januari 2025

Caecillia Tiara


DAFTAR ISI

                                                                                                                       

HALAMAN SAMPUL.. i

HALAMAN JUDUL.. ii

HALAMAN PERSETUJUAN.. iii

KATA PENGANTAR.. iv

DAFTAR ISI. v

BAB I PENDAHULUAN.. 1

1.1       Latar Belakang. 1

1.2       Tujuan Magang Kerja. 3

1.3       Sistematika Laporan. 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.. 6

2.1       Penerjemahan Audiovisual dan Subtitling. 6

2.2       Strategi Penerjemahan dalam Subtitling dan Open Captions. 8

2.3       Penyuntingan Video dalam Produksi Audiovisual 9

2.4       Aplikasi CapCut dalam Konteks Penerjemahan Audiovisual 10

BAB III METODE PELAKSANAAN.. 12

3.1       Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang Kerja. 12

3.2       Prosedur Pelaksanaan Magang. 13

3.2.1     Tahap Persiapan. 13

3.2.2     Tahap Pelaksanaan. 13

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.. 15

4.1       Profil Lokasi Magang. 15

4.1.1     Sejarah Singkat Lokasi Magang. 15

4.1.2     Struktur Organisasi dan Tata Kelola. 15

4.2       Deskripsi Kegiatan Magang. 17

4.3       Pembahasan Hasil Kegiatan Magang. 18

4.3.1     Penyusunan Narasi Awal sebagai Dasar Open Captions. 18

4.3.2     Proses Pemadatan Teks dalam Pembuatan Open Captions. 20

4.3.3     Penerapan Narasi Final menjadi Open Captions. 22

BAB V PENUTUP. 24

5.1       Kesimpulan. 24

5.2       Saran. 24

DAFTAR PUSTAKA.. 26

LAMPIRAN   28

1.      Sertifikat Magang. 28

2.      Daftar Hadir Magang. 29

3.      Form Evaluasi Magang. 36

4.      Pengerjaan Tugas Magang. 38

5.      Dokumentasi Kegiatan Magang. 40

 

 


BAB I
PENDAHULUAN

 

1.1         Latar Belakang

Media digital saat ini memiliki peran penting dalam kegiatan promosi dan penyebaran informasi di berbagai institusi, termasuk lembaga perguruan tinggi. Melalui konten visual seperti video, pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan lebih efektif karena menggabungkan unsur audio, visual, dan teks. Salah satu elemen penting dalam video promosi adalah teks yang ditampilkan di layar, baik dalam bentuk subtitles ataupun captions, yang berfungsi untuk memperjelas informasi dan membantu memahami isi video.

Penerjemahan audiovisual (Audiovisual Translation atau AVT) merupakan cabang dari studi penerjemahan yang berfokus pada penyampaian pesan lintas bahasa melalui media yang menggabungkan unsur gambar dan suara, seperti film, acara televisi, video, dan konten digital (Diaz-Cintas & Orero, 2010). Bentuk penerjemahan audiovisual dapat berupa subtitling (penyulihan teks), dubbing (sulih suara), voice-over (alih suara), captioning (penyajian teks di layar), dan audio description (deskripsi audio), tergantung pada kebutuhan media dan audiensnya. Selain berfungsi sebagai bentuk alih bahasa, penerjemahan audiovisual juga mencakup proses penyesuaian makna antara teks, gambar, dan suara agar pesan yang ingin disampaikan tetap sesuai dengan konteks (Gambier & Gottlieb, 2001)

Dalam konteks penerjemahan audiovisual, captioning dan subtitling merupakan dua praktik yang berkaitan erat dengan penyampaian pesan lintas bahasa maupun penyesuaian teks terhadap konteks visual. Keduanya bertujuan untuk membantu penonton memahami isi audiovisual melalui representasi teks yang disesuaikan dengan dialog, narasi, maupun elemen suara lainnya yang ada di dalam video (Gottlieb, 1992). Dalam praktiknya, penerapan captioning memiliki beberapa jenis tergantung pada kebutuhan dan tujuan penyampaian pesan di dalam video. Salah satu bentuk captioning yang sering digunakan dengan tujuan untuk konten video promosi adalah open captions. Open captions sendiri merupakan jenis teks yang ditampilkan secara permanen pada video dan tidak bisa dihapus oleh penonton (Kuo, 2004). Sejalan dengan hal tersebut, (Neves, 2005) menyatakan bahwa open captions menjadi bagian penting dalam video karena berfungsi untuk menyampaikan informasi secara langsung di layar dan dengan begitu, open captions berperan dalam membantu memperjelas isi konteks terhadap video yang ditampilkan dengan mudah.

Pembuatan open captions pada video promosi di lingkungan akademik memiliki tantangan tersendiri di dalam penerapannya. Setiap teks yang ditampilkan perlu disesuaikan tidak hanya dengan makna bahasa sumber, tetapi juga dengan konteks visual, durasi tayangan, dan keterbacaan teks oleh penonton. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Diaz Cintas dan Remael (2014), penerjemahan audiovisual menuntut penerjemah untuk mampu menyeimbangkan aspek linguistik dan visual agar pesan tersampaikan secara efektif. Namun di lapangan, penerapan prinsip tersebut seringkali menghadapi kendala, seperti keterbatasan durasi penampilan teks, kebutuhan untuk menyingkat kalimat tanpa mengubah makna, dan penyesuaian gaya bahasa agar sesuai dengan tujuan promosi video.

Selama pelaksanaan kegiatan magang di prodi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Kristen Indonesia, kegiatan produksi video promosi prodi Sastra Inggris menjadi salah satu pekerjaan yang dilakukan. Dalam prosesnya, ditemukan bahwa penyusunan open captions masih memerlukan perhatian khusus, terutama dalam hal penerapan teori subtitling agar hasil penyajian teks tetap sesuai dengan konteks audiovisual. Proses penyajian teks agar mudah dipahami penonton tanpa mengubah makna asli menjadi bagian penting dari pekerjaan ini.

Melalui pengalaman tersebut, laporan magang ini disusun dengan fokus pada penerapan teori subtitling dalam pembuatan open captions untuk video promosi prodi Sastra Inggris UKI menggunakan aplikasi CapCut. Adapun pemilihan aplikasi CapCut didasarkan pada pengalaman pribadi penulis selama magang dan juga pendapat dari berbagai pengguna serta peninjau aplikasi. Menurut tinjauan di Minivoo, CapCut merupakan aplikasi pengeditan video yang menyediakan fitur lengkap mulai dari pengaturan teks, transisi, efek visual, hingga sinkronisasi audio secara intuitif, sehingga memudahkan pengguna yang belum memiliki pengalaman yang mendalam untuk membuat konten video dengan kualitas yang cukup baik (Larsson, 2025). Selain itu, tinjauan lain menyebutkan bahwa CapCut memiliki tampilan menu yang mudah dipahami untuk pemula, serta kemampuan untuk menambahkan teks, stiker, dan elemen lain yang menarik untuk video promosi. Tinjauan lainnya juga mencatat bahwa meskipun sebagian fitur lanjutan tersedia paket berbayar, versi gratis CapCut tetap memberikan alat dasar yang memadai untuk kebutuhan penyuntingan caption dan audio tanpa biaya apapun (Ahmed, 2026).

Lebih Lanjut, dibandingkan dengan aplikasi sejenis seperti Adobe Premiere Pro atau DaVinci Resolve, CapCut dinilai lebih efisien untuk proyek berskala kecil hingga menengah karena ringan, gratis, dan dapat diakses melalui berbagai perangkat, baik komputer maupun ponsel. Dengan demikian, kombinasi tampilan yang user-friendly, ragam fitur teks dan media, kemampuan sinkronisasi antara caption dan audio, serta mudahnya akses penggunaan CapCut dalam berbagai perangkat menjadikan CapCut pilihan yang praktis dan efisien dalam mendukung produksi video promosi prodi yang tetap berkualitas.

Selanjutnya, laporan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang bagaimana teori penerjemahan audiovisual, khususnya yang dikemukakan oleh Diaz-Cintas dan Remael (2014), dapat diterapkan secara praktis dalam proses pembuatan konten digital sekaligus mengidentifikasi kendala yang muncul di lapangan agar dapat menjadi bahan evaluasi dan pengembangan kedepannya.

 

1.2         Tujuan Magang Kerja

Kegiatan magang kerja memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh selama perkuliahan ke dalam kegiatan profesional di lingkungan kerja yang relevan. Melalui kegiatan magang di prodi Sastra Inggris, mahasiswa tidak hanya berkontribusi dalam kegiatan administratif dan pengelolaan data, tetapi juga terlibat dalam produksi konten promosi yang mendukung citra akademik program studi. Tujuan utama pelaksanaan magang ini antara lain sebagai berikut.

       Mengimplementasikan teori audiovisual translation dan subtitling yang telah dipelajari selama perkuliahan dalam proses pembuatan open captions untuk prodi Sastra Inggris.

       Mengembangkan kemampuan praktis dalam proses penyuntingan teks dan pengaturan waktu tayang teks sesuai dengan konteks audiovisual menggunakan aplikasi CapCut.

       Mengidentifikasi kesesuaian antara teori subtitling yang dipelajari di perkuliahan dengan praktik pembuatan open captions di lapangan.

       Menemukan tantangan serta solusi yang muncul selama proses penerapan teori penerjemahan dalam kegiatan pembuatan video promosi.

       Memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas media publikasi prodi Sastra Inggris melalui pengelolaan captioning yang efektif dan informatif.

 

1.3         Sistematika Laporan

Laporan magang ini disusun secara sistematis agar dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai pelaksanaan kegiatan magang serta penerapan teori yang relevan dalam konteks pekerjaan. Adapun sistematika laporan ini terdiri atas beberapa bab berikut.

Bab I - Pendahuluan: berisi uraian mengenai latar belakang kegiatan magang, tujuan magang kerja, dan sistematika penulisan laporan. Bagian ini memberikan penjelasan awal mengenai alasan pemilihan topik yang berkaitan dengan penerapan teori subtitling dalam pembuatan open captions untuk video promosi prodi.

Bab II - Tinjauan Pustaka: berisi pembahasan dasar-dasar teori yang digunakan sebagai landasan analisis laporan magang. Uraian meliputi penjelasan mengenai penerjemahan audiovisual, konsep subtitling menurut Diaz-Cintas dan Remael (2014), serta teori pendukung lain yang relevan dengan praktik pembuatan open captions pada media video.

Bab III - Metode Pelaksanaan: menjelaskan waktu dan tempat pelaksanaan magang, prosedur kegiatan selama magang berlangsung, serta deskripsi teknis mengenai tahapan pekerjaan yang dilakukan.

Bab IV - Hasil dan Pembahasan: menguraikan secara rinci hasil kegiatan magang yang telah dilaksanakan di prodi Sastra Inggris UKI. Bab ini juga membahas analisis penerapan teori subtitling dalam pembuatan open captions menggunakan aplikasi CapCut, termasuk kendala yang ditemui dan upaya penyelesaiannya di lapangan.

Bab V - Penutup: berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil pelaksanaan magang dan pembahasan. Bab ini juga berisi daftar referensi yang digunakan dalam laporan magang ini dan juga lampiran berisi dokumen pendukung kegiatan magang.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1         Penerjemahan Audiovisual dan Subtitling

Secara umum, penerjemahan merupakan kegiatan pengalihan pesan dari satu bahasa ke bahasa lain dengan tujuan agar makna yang disampaikan dalam bahasa sumber dapat dipahami oleh pembaca atau penonton bahasa sasaran. Menurut Newmark dalam (Tambunsaribu, 2023), penerjemahan adalah sebuah kegiatan menyampaikan pesan dari bahasa sumber (BSu) ke bahasa target BSa). Inti penerjemahan tidak hanya terletak pada penggantian kata, namun pada penyampaian pesan dan makna secara utuh ke bahasa sasaran. Catford (dalam Tambunsaribu, 2016) mengatakan bahwa penerjemahan adalah suatu pengganti bahan tekstual dari satu bahasa (bahasa sumber) oleh bahan tekstual yang setara dalam bahasa sasaran. Dalam menerjemahkan teks dari bahasa asing ke bahasa Indonesia, kadang seorang penerjemah menemukan beberapa kesulitan khususnya dalam menemukan padanan kata yang tepat di bahasa Indonesia (Tambunsaribu, 2023). Newmark (dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021) menyatakan bahwa masalah utama yang sering dialami seorang penerjemah dalam proses penerjemahan adalah dalam hal pemilihan antara penerjemahan dengan teknik harafiah (literal translation) atau teknik penerjemahan bebas (free translation). Seorang penerjemah menggunakan teknik-teknik penerjemahan khusus sesuai dengan jenis permasalahan yang dialami pada proses menerjemahkan teks bahasa sumber ke bahasa sasaran. Molina & Albir (dalam Tambunsaribu, 2022) menyatakan ada beberapa teknik yang digunakan penerjemah dalam menghasilkan karya penerjemahan yang akurat dan terdengar alami. Menurut Larson (dalam Galingging & Tambunsaribu, 2021), teknik penerjemahan idiomatis adalah teknik penerjemahan yang menggunakan bentuk gramatikal dan leksikal yang natural dari bahasa sasaran.

Seiring dengan perkembangan media dan teknologi, praktik penerjemahan tidak lagi terbatas pada teks tertulis, tetapi juga merambah ke media audiovisual. Menurut Diaz-Cintas dan Orero (2010), penerjemahan audiovisual (Audiovisual Translation/AVT) merupakan cabang ilmu penerjemahan yang berfokus pada pengalihan pesan lintas bahasa melalui media yang menggabungkan unsur gambar dan suara, seperti film, acara televisi, video promosi, dan konten digital. Penerjemahan audiovisual mencakup berbagai jenis praktik penerjemahan seperti subtitling (penyulihan teks), dubbing (sulih suara), voice-over (alih suara), captioning (penyajian teks di layar), dan audio description (deskripsi audio). Semua jenis tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu menyampaikan pesan antar bahasa dengan tetap mempertahankan keselarasan antara unsur visual, audio, dan teks.

Lebih lanjut, Gambier dan Gottlieb (2001) menjelaskan bahwa penerjemahan audiovisual tidak hanya berfokus pada perpindahan bahasa, tetapi juga melibatkan pemahaman konteks budaya, waktu tayang, serta kebutuhan audiens yang beragam. Oleh karena itu, penerjemah audiovisual perlu mempertimbangkan aspek linguistik dan nonlinguistik agar teks yang ditampilkan dapat dipahami dengan jelas tanpa mengganggu fokus penonton terhadap elemen visual utama.

Dalam ranah penerjemahan audiovisual, subtitling merupakan salah satu jenis penyajian penerjemahan yang paling umum digunakan. Hal ini disebabkan oleh sifat subtitling yang mempertahankan suara asli dari video, sehingga tidak mengubah unsur audio dan dapat diproduksi dengan biaya serta waktu yang relatif lebih efisien dibandingkan dubbing (sulih suara) atau voice-over (alih suara) (Diaz-Cintas & Remael, 2014). Subtitling juga berperan penting dalam meningkatkan aksesibilitas, khususnya bagi penonton yang menonton video tanpa suara atau yang memiliki keterbatasan pendengaran, sehingga menjadikannya bentuk penerjemahan audiovisual yang paling banyak diterapkan dalam praktik saat ini (Romero-Fresco, 2019).

Gottlieb (1992) mendefinisikan subtitling sebagai jenis penerjemahan yang menampilkan teks terjemahan di bagian bawah layar untuk membantu penonton memahami isi video tanpa menghilangkan suara asli. Sementara itu, Diaz-Cintas dan Remael (2014) mengelompokkan subtitling ke dalam beberapa jenis, yaitu intralingual subtitling (subtitle dalam bahasa yang sama), interlingual subtitling (subtitle lintas bahasa), dan bilingual subtitling (dua bahasa ditampilkan secara bersamaan). Intralingual subtitling merupakan jenis penerjemahan yang menggunakan bahasa yang sama antara audio dan teks yang ditampilkan. Neves (2005) menjelaskan bahwa jenis ini umumnya digunakan untuk membantu penonton yang memiliki keterbatasan pendengaran dan pembelajar bahasa. Menurut Diaz-Cintas dan Remael (2014), intralingual subtitling berfungsi untuk meningkatkan aksesibilitas dan pemahaman isi audiovisual tanpa melibatkan proses alih bahasa. Untuk interlingual subtitling, Diaz-Cintas dan Remael (2014) menjelaskan bahwa ini adalah jenis penerjemahan yang melibatkan penerjemahan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran yang berbeda. Jenis ini paling umum digunakan dalam film, video edukasi, dan konten promosi internasional. Interlingual subtitling memungkinkan pesan audiovisual menjangkau audiens lintas bahasa dan budaya tanpa menghilangkan audio asli (Gottlieb, 1992).

Jenis penerjemahan yang terakhir adalah bilingual subtitling, yang mana jenis ini menampilkan dua bahasa sekaligus dalam satu layar, biasanya dengan susunan baris atas bawah (Diaz-Cintas & Remael, 2014). Jenis ini sering digunakan dalam konteks pendidikan bahasa dan acara akademik internasional yang menargetkan audiens multibahasa. Menurut Szarkowska dan Gerber-Morón (2019), bilingual subtitling membantu penonton membandingkan bahasa sumber dan bahasa sasaran secara langsung, sehingga mendukung proses pembelajaran dan pemahaman lintas bahasa. Semua jenis-jenis penerjemahan ini banyak diterapkan dalam media edukatif dan promosi, termasuk video kegiatan akademik dan institusional karena mampu menyampaikan informasi secara ringkas dan efektif.

 

2.2         Strategi Penerjemahan dalam Subtitling dan Open Captions

Salah satu tantangan utama dalam subtitling adalah keterbatasan ruang dan waktu tampilan teks. Diaz-Cintas dan Remael (2014) menyatakan bahwa kondisi ini mengharuskan penerjemah menerapkan strategi tertentu, yang di mana salah satunya adalah text condensation atau pemadatan teks. Strategi ini dilakukan dengan tujuan untuk menyederhanakan kalimat agar dapat dibaca dalam waktu singkat tanpa mengubah makna utama. Gottlieb (1992) menjelaskan bahwa dalam subtitling, penerjemah sering kali harus melakukan text condensation, yaitu proses pemadatan teks dengan cara menghilangkan unsur yang berulang, menyederhanakan struktur kalimat, dan memilih kosakata yang lebih ringkas tanpa menghilangkan makna utama. Strategi ini diperlukan karena subtitle dibatasi oleh ruang layar dan durasi tampilan yang singkat.

Sejalan dengan hal tersebut, Diaz-Cintas dan Remael (2014) menegaskan bahwa pemadatan teks merupakan strategi utama dalam penerjemahan, terutama ketika dialog lisan terlalu panjang untuk ditampilkan secara utuh dalam bentuk tulisan. Sebagai contoh, kalimat sumber seperti “I was wondering if you could possibly help me with this issue” dapat dipadatkan menjadi “Can you help me?” agar tetap terbaca dalam waktu yang terbatas. Strategi pemadatan teks ini sangat relevan dalam konteks video promosi, di mana teks harus disampaikan secara singkat, jelas, dan tidak mengganggu fokus audiens terhadap elemen visual utama.

Prinsip pemadatan teks ini juga diterapkan dalam pembuatan open captions. Open captions merupakan teks yang ditampilkan secara permanen di layar dan tidak dapat diaktifkan atau dinonaktifkan oleh penonton (Kuo, 2004). Sedangkan jenis caption lainnya, yaitu closed captions, merupakan teks yang dapat diaktifkan atau dinonaktifkan oleh penonton sesuai kebutuhan dan umumnya memuat tidak hanya dialog, tetapi juga informasi tambahan seperti efek suara, intonasi, atau musik latar (Neves, 2005). Berbeda dengan closed captions, open captions menjadi bagian dari elemen visual video itu sendiri.

Selain itu, Neves (2005) juga menambahkan bahwa open captions tidak hanya berfungsi sebagai terjemahan, tetapi juga sebagai elemen informasi yang membantu memperjelas konteks visual dan nonverbal dalam video, seperti ekspresi wajah, situasi, atau informasi penting lainnya. Dalam konteks promosi dan publikasi institusional, open captions dinilai lebih efektif karena memastikan pesan dapat diterima oleh seluruh audiens, termasuk penonton yang mengakses video tanpa suara. Dengan demikian, penerapan teori subtitling dalam pembuatan open captions menuntut keseimbangan antara kekonsistenan terhadap makna sumber, kejelasan pesan, dan keefektifan penyajian teks secara visual (Romero-Fresco, 2019).

2.3         Penyuntingan Video dalam Produksi Audiovisual

Penyuntingan video merupakan salah satu tahapan penting dalam proses produksi audiovisual yang berperan dalam menyusun, menata, dan menyelaraskan elemen visual, audio, dan teks agar membentuk pesan yang utuh dan mudah dipahami oleh audiens. Menurut Bordwell dan Thompson (2019), penyuntingan video tidak hanya berfungsi sebagai proses teknis pemotongan dan penggabungan gambar, tetapi juga sebagai sarana membangun alur, makna, dan ritme dalam sebuah video.

Dalam konteks audiovisual, penyuntingan video berperan dalam menentukan bagaimana informasi disajikan secara visual dan temporal. Manovich (2020) menjelaskan bahwa dalam media digital, proses editing menjadi bagian dari konstruksi narasi, di mana visual, teks, dan suara saling mendukung untuk menyampaikan pesan secara efektif. Hal ini menunjukkan bahwa penyuntingan video tidak dapat dipisahkan dari tujuan komunikasi yang ingin dicapai. Lebih lanjut, Chandler (2022) menyatakan bahwa penyuntingan video bertujuan untuk menciptakan kesinambungan (continuity), kejelasan pesan, dan kenyamanan audiens dalam menerima informasi. Oleh karena itu, editor video perlu memperhatikan durasi tampilan, urutan visual, serta keseimbangan antara elemen visual dan teks agar video tidak membingungkan atau membebani penonton.

Dalam pembuatan video promosi institusional, penyuntingan video memiliki fungsi strategis karena berhubungan langsung dengan citra dan pesan yang ingin disampaikan. Video promosi harus disusun secara ringkas, informatif, dan menarik secara visual. Pada tahap ini, integrasi teks dalam bentuk open captions menjadi bagian dari proses penyuntingan yang tidak terpisahkan dari penyusunan visual dan audio. Dengan demikian, proses ini menjadi landasan penting sebelum penerapan aplikasi penyuntingan video, seperti CapCut, yang digunakan untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip penyuntingan serta penerapan open captions dalam video promosi Program Studi Sastra Inggris UKI.

 

2.4         Aplikasi CapCut dalam Konteks Penerjemahan Audiovisual

Kemajuan teknologi saat ini turut memengaruhi cara penerjemah dan editor media dalam mengelola teks terjemahan pada konten audiovisual. Salah satu perangkat lunak yang banyak digunakan untuk kebutuhan tersebut adalah CapCut. CapCut merupakan sebuah aplikasi penyuntingan video yang menawarkan berbagai fitur gratis sesuai dengan kebutuhan pengguna, bisa dalam bentuk menambahkan teks, efek visual, serta pengaturan sinkronisasi antara teks dan audio (Fellayati, 2022).

Menurut Alaskar (2025), penggunaan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti CapCut, Captions, dan Veed menunjukkan dampak signifikan terhadap efektivitas proses penerjemahan audiovisual, khususnya dalam konteks pembelajaran subtitling. Dalam penelitiannya terhadap mahasiswa yang menggunakan aplikasi tersebut untuk menerjemahkan video TikTok dari bahasa Inggris ke Arab dan sebaliknya, hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 70% peserta merasa aplikasi tersebut membantu meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan ketepatan dalam proses penerjemahan. Meskipun begitu, Alaskar juga mencatat bahwa keakuratan terjemahan berbasis AI perlu ditingkatkan agar hasilnya lebih sesuai dengan konteks linguistik dan budaya.

Dengan mempertimbangkan hasil penelitian tersebut, CapCut dapat dikatakan relevan digunakan dalam kegiatan magang ini karena memiliki tampilan pengguna yang intuitif dan mudah dioperasikan, serta fitur penyuntingan teks yang efisien. Aplikasi ini juga memungkinkan mahasiswa untuk menerapkan prinsip-prinsip subtitling secara langsung, seperti pengaturan durasi teks, pemilihan gaya huruf, dan penyesuaian posisi teks di layar. Selain praktis dan ringan, CapCut juga gratis dan kompatibel di berbagai perangkat, sehingga ideal digunakan dalam proyek skala kecil hingga menengah, seperti pembuatan konten video promosi program studi.

Kegiatan magang yang dilaksanakan di Program Studi Sastra Inggris, Universitas Kristen Indonesia memberikan kesempatan bagi penulis untuk mengimplementasikan teori penerjemahan audiovisual dalam praktik nyata. Dalam proses pembuatan konten video promosi, teori subtitling yang dikemukakan oleh Diaz-Cintas dan Remael (2014) diterapkan dalam pembuatan open captions yang informatif, ringkas, dan mudah dibaca. Melalui kegiatan ini, strategi text condensation (pemadatan teks) menjadi aspek utama dalam memastikan keselarasan antara teks dan elemen visual.

Lebih lanjut, hasil penelitian Alaskar (2025) tentang pemanfaatan aplikasi seperti CapCut dalam konteks pembelajaran penerjemahan mendukung relevansi kegiatan magang ini. Aplikasi tersebut tidak hanya berperan sebagai alat bantu teknis, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap teori subtitling dan penerjemahan audiovisual secara umum. Dengan demikian, pengalaman magang ini memperlihatkan hubungan langsung antara teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan penerapannya di dunia kerja, khususnya dalam bidang  produksi media digital berbasis bahasa.


BAB III
METODE PELAKSANAAN

 

3.1         Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang Kerja

Kegiatan magang kerja ini dilaksanakan di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia. Program Studi Sastra Inggris UKI berfokus pada kajian sastra dan budaya berbahasa Inggris, penerjemahan, dan literasi, serta komunikasi profesional. Pelaksanaan magang berlangsung selama kurang lebih 3 (tiga) bulan, dengan sistem Work From Office (WFO), mulai dari 20 Agustus 2025 s./d. 21 November 2025. Kegiatan magang dilaksanakan di setiap hari Senin sampai Jumat, pukul 08.00-17.00 WIB, sesuai dengan jam operasional program studi. Selama periode magang, penulis terlibat secara langsung dalam kegiatan administratif dan produksi konten digital yang mendukung kebutuhan akademik dan promosi Program Studi Sastra Inggris UKI.

Gambar 3.1.1 Fakultas Sastra dan Bahasa UKI

3.2         Prosedur Pelaksanaan Magang

Prosedur pelaksanaan kegiatan magang terdiri atas 3 (tiga) tahapan utama, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pelaporan.

3.2.1   Tahap Persiapan

Tahap persiapan merupakan tahap awal yang dilakukan sebelum kegiatan magang dimulai, dengan tujuan memastikan kesiapan administrasi dan pemahaman awal penulis mengenai tugas yang akan dijalankan. Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan meliputi:

  1. penyelenggaraan pertemuan awal penulis dengan Ketua Program Studi Sastra Inggris UKI, Ibu Mike Wijaya Saragih, untuk membahas rencana pelaksanaan magang serta pembukaan kesempatan magang di lingkungan Program Studi Sastra Inggris;
  2. pengumpulan dokumen pendukung berupa curriculum vitae (CV) dan surat permohonan magang kepada Ketua Program Studi sebagai bagian dari proses administrasi penulis; dan
  3. pemberian arahan awal terkait gambaran umum pekerjaan yang akan dilakukan selama magang, serta pengenalan kepada salah satu staf prodi, yaitu Pak David, yang akan menjadi rekan kerja utama dalam pelaksanaan tugas-tugas magang.

3.2.2 Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan merupakan inti dari kegiatan magang, di mana penulis menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh Program Studi Sastra Inggris UKI. Kegiatan pada tahap ini meliputi sebagai berikut.

  1. Pelaksanaan magang dilaksanakan secara luring di setiap hari kerja, yaitu Senin hingga Jumat, pukul 08.00-17.00 WIB, selama periode magang berlangsung.
  2. pengenalan terhadap staf prodi, staf fakultas, serta dosen-dosen di lingkungan Fakultas Sastra dan Bahasa UKI guna mendukung kelancaran koordinasi dan komunikasi kerja.
  3. Penggabungan penulis ke dalam grup komunikasi Whatsapp yang melibatkan Ketua Program Studi dan staf terkait, sebagai sarana koordinasi dan penyampaian instruksi kerja yang efektif.
  4. Pelaksanaan berbagai tugas yang berkaitan dengan produksi dan pengelolaan konten digital Program Studi Sastra Inggris, khususnya pembuatan dan pengeditan video promosi. Konten tersebut mencakup kegiatan internasional prodi, program pertukaran mahasiswa, kegiatan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) seperti Kampus Mengajar dan magang mahasiswa, kegiatan tahunan prodi, perlombaan, serta dokumentasi dan rekap seminar.
  5. Pelaksanaan tugas pengarsipan dan pendataan dokumen penting yang berkaitan dengan kebutuhan administrasi dan audit prodi, seperti data mahasiswa MBKM, mahasiswa berprestasi, data kegiatan magang mahasiswa dalam empat tahun terakhir, serta publikasi mahasiswa Program Studi Sastra Inggris.

3.2.3 Tahap Pelaporan

Tahap pelaporan merupakan tahap akhir penulis dari kegiatan magang yang berfokus pada pendokumentasian dan evaluasi pelaksanaan magang. Kegiatan pada tahap ini meliputi:

  1. pengisian absensi harian secara rutin yang mencatat waktu kehadiran dan kepulangan, serta deskripsi singkat mengenai kegiatan yang dilakukan setiap hari;
  2. penulisan laporan magang setelah kegiatan magang selesai. Laporan ini memuat analisis penerapan teori yang telah diperoleh selama perkuliahan ke dalam praktik kerja magang serta deskripsi kegiatan magang, dan menjadi salah satu syarat kelulusan mata kuliah Internship; dan
  3. Pelaksanaan bimbingan penulisan laporan magang bersama dosen pembimbing yang telah ditetapkan oleh Program Studi Sastra Inggris UKI, dengan tujuan memastikan laporan disusun sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1         Profil Lokasi Magang

4.1.1 Sejarah Singkat Lokasi Magang

Program Studi Sastra Inggris merupakan salah satu program studi yang berada di bawah naungan Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia. Fakultas Sastra dan Bahasa terletak di Jl. Mayor Jendral Sutoyo, No. 2, RT. 5/RW. 11, Cawang, Jakarta Timur. Fakultas Sastra dan Bahasa memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya Universitas Kristen Indonesia. Fakultas ini termasuk ke dalam salah satu fakultas awal yang didirikan bersamaan dengan peresmian Universitas Kristen Indonesia pada tahun 1953. Program Studi Sastra Inggris terus berkembang seiring dengan tuntutan akademik dan kebutuhan dunia kerja. Pada tahun 2022, Program Studi Sastra Inggris UKI memperoleh pengakuan sebagai salah satu program studi di UKI yang terakreditasi secara Internasional oleh Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA). Pencapaian ini menegaskan kualitas akademik program studi serta kesesuaiannya dengan standar pendidikan internasional.

Program studi Sastra Inggris UKI memiliki dua konsentrasi peminatan, yaitu literature (kesusastraan) dan translation (penerjemahan). Kedua peminatan ini dirancang untuk memberikan pilihan jalur keilmuan sesuai dengan minat dan rencana karir mahasiswa, serta mendukung pengembangan kompetensi akademik dan profesional di bidang masing-masing. Lulusan program studi ini diharapkan mampu berkomunikasi secara aktif dalam bahasa Inggris di berbagai situasi kerja, melakukan kajian linguistik, sastra, dan budaya, serta mengaplikasikan hasil kajian tersebut dalam dunia kerja.

 

4.1.2 Struktur Organisasi dan Tata Kelola

Berikut adalah struktur organisasi dan tata kelola Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia.

Gambar 4.1.2.1 Struktur Organisasi FSB UKI

 

Pada posisi tertinggi dalam struktur organisasi ini terdapat Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa, yaitu Susanne A.H. Sitohang, S.S., M.A., yang bertanggung jawab atas keseluruhan kebijakan, pengelolaan, serta pengembangan fakultas. Di bawah dekan, terdapat Wakil Dekan, yaitu Jannes Freddy Pardede, M.Hum., yang berperan membantu dekan dalam pelaksanaan tugas-tugas akademik fakultas. Lalu di samping wakil dekan, terdapat Sekretariat Dekanat yang dijabat oleh Kresensia Pebrianti, S.S., yang bertanggung jawab atas pengelolaan administrasi, surat-menyurat, serta koordinasi kegiatan dekanat.

Masih berada di bawah koordinasi dekan, Fakultas Sastra dan Bahasa memiliki tiga Ketua Program Studi (Kaprodi) yang masing-masing memimpin dan mengelola program studi di lingkungan fakultas. Salah satunya adalah Kaprodi Sastra Inggris, Mike Wijaya Saragih, S.S., M.Hum., yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan akademik, kurikulum, serta pengelolaan administrasi Program Studi Sastra Inggris. Dalam menjalankan tugasnya, Kaprodi Sastra Inggris dibantu oleh Staf Program Studi Sastra Inggris, yaitu David Giri Pradipta, A.Md.K.A., yang berperan dalam pengelolaan administrasi prodi, pengarsipan data, serta koordinasi kegiatan akademik dan nonakademik.

Lalu, untuk Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin dipimpin oleh Elyana, S.S., M.Pd., dengan dukungan staf prodi yaitu Nancy Lambok Morrito, S.Hum.. Selanjutnya, Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris dipimpin oleh Hendrikus Male, S.Pd., M.Hum., yang dalam pelaksanaan tugasnya dibantu oleh staf prodi, yaitu Reynhard Mahda, S.A.P.. Di sisi administrasi fakultas, terdapat Kepala Tata Usaha Fakultas, yaitu Ivalentina Situmorang, A.Md.Akun., S.E., yang bertanggung jawab atas pengelolaan administrasi umum, keuangan, dan pelayanan akademik fakultas. Kepala Tata Usaha dibantu oleh Pengelola Data, yaitu Aloisius Gonsaga Beda, S.E., yang berperan dalam pengelolaan data akademik serta administratif fakultas.

Dalam struktur organisasi tersebut, penulis melakukan kegiatan magang di bawah koordinasi Kaprodi Sastra Inggris dan Staf Program Studi Sastra Inggris. Selama kegiatan magang, penulis terlibat secara langsung dalam berbagai kegiatan administratif dan promosi prodi, serta berkoordinasi intensif dengan Kaprodi dan staf prodi dalam pelaksanaan tugas-tugas yang diberikan.

 

4.2         Deskripsi Kegiatan Magang

Kegiatan utama yang dilakukan penulis selama magang adalah pembuatan dan penyuntingan konten video promosi Program Studi Sastra Inggris. Konten video tersebut mencakup berbagai kegiatan akademik dan nonakademik, seperti kegiatan internasional yang diselenggarakan oleh prodi, program pertukaran mahasiswa, kegiatan Kampus Mengajar sebagai bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), kegiatan tahunan prodi, perlombaan, serta video rekapitulasi seminar yang diselenggarakan oleh prodi. Dalam proses ini, penulis bertanggung jawab mulai dari pemilihan dokumentasi seperti foto atau video kegiatan, penyuntingan video, hingga penambahan teks, caption, dan musik latar sesuai dengan tujuan promosi prodi.

Selain kegiatan promosi, penulis juga terlibat dalam pengarsipan dan pengelolaan data administratif prodi. Data yang dikelola antara lain data mahasiswa yang mengikuti berbagai kegiatan MBKM, data mahasiswa berprestasi, data kegiatan magang mahasiswa dalam kurun waktu empat tahun terakhir, serta dokumentasi publikasi kegiatan mahasiswa Program Studi Sastra Inggris. Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung kebutuhan administrasi dan persiapan audit prodi.

Kegiatan lain yang menjadi pekerjaan bagi penulis adalah pembuatan sertifikat kehadiran untuk berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh prodi. Sertifikat tersebut ditujukan kepada panitia, narasumber (pembicara), dosen dan partisipan yang hadir di acara akademik, seperti Academic Talks on Language, Literature, and Culture, Literary Appreciation 2025, dan Career Coaching Day 2025. Dalam pembuatan sertifikat ini, penulis menggunakan platform Canva sebagai media desain. Penulis bertugas menyesuaikan dan merapikan desain sertifikat, serta memastikan seluruh informasi tercantum dengan benar, seperti nama kegiatan, tanggal pelaksanaan, nama penerima sertifikat, serta mencantumkan tanda tangan Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa dan Kaprodi Sastra Inggris sesuai dengan ketentuan prodi.

Gambar 4.2.1 Pembuatan Sertifikat di Canva

 

4.3         Pembahasan Hasil Kegiatan Magang

Laporan ini membahas hasil kegiatan magang yang telah dilaksanakan oleh penulis di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia, dengan fokus pada proses penerjemahan audiovisual dan penerapan strategi subtitling, khususnya text condensation, dalam pembuatan open captions. Melalui pembahasan ini, penulis menguraikan bagaimana teori penerjemahan audiovisual dapat diterapkan secara praktis dalam produksi konten video promosi prodi.

4.3.1 Penyusunan Narasi Awal sebagai Dasar Open Captions

Langkah awal yang dilakukan penulis dalam praktik pembuatan open captions pada video promosi Program Studi Sastra Inggris adalah menyusun naskah narasi berbahasa Inggris sebagai dasar penyampaian informasi dalam video. Narasi ini dirancang untuk merepresentasikan kegiatan yang ditampilkan secara visual, contoh proyek yang dilakukan penulis adalah pembuatan video bertemakan “International Activities” yang dilakukan oleh prodi sebagai bahan konten video promosi. Naskah awal ini berfungsi sebagai kerangka utama yang menjelaskan kegiatan internasional yang diikuti oleh mahasiswa Program Studi Sastra Inggris UKI, seperti SEA Teacher Project dan International Credit Transfer Program. Penyusunan narasi dilakukan sebelum proses penyuntingan video dimulai, sehingga teks dapat disesuaikan secara bertahap dengan alur visual yang ditampilkan.

Gambar 4.3.1. Naskah Awal untuk Video International Activities

Berdasarkan dokumentasi pada gambar 4.3.1, naskah narasi awal terdiri atas dua paragraf yang bersifat deskriptif dan informatif. Pada tahap ini, narasi masih disusun secara relatif panjang karena bertujuan untuk mencakup seluruh informasi penting yang ingin disampaikan kepada audiens. Namun, jika ditinjau dari perspektif penerjemahan audiovisual, khususnya subtitling, naskah awal tersebut belum sepenuhnya sesuai untuk ditampilkan secara langsung sebagai open captions. Panjang kalimat dan kepadatan informasi berpotensi menyulitkan keterbacaan apabila teks ditampilkan secara bersamaan dengan visual video. Hal ini sejalan dengan pendapat Diaz-Cintas dan Remael (2014) yang menyatakan bahwa teks audiovisual harus disesuaikan dengan keterbatasan ruang dan layar dan durasi tampilan agar tidak membebani penonton.

Oleh karena itu, naskah narasi awal ini menjadi bahan utama dalam proses selanjutnya, yaitu penyesuaian dan pemadatan teks (text condensation) sebelum digunakan sebagai open captions. Proses ini dilakukan dengan memilih informasi yang paling relevan, menyederhanakan struktur kalimat, serta menghilangkan bagian yang dianggap repetitif, tanpa menghilangkan pesan utama yang ingin disampaikan dalam video promosi.

4.3.2 Proses Pemadatan Teks dalam Pembuatan Open Captions

Setelah narasi awal disusun, tahap selanjutnya dalam pembuatan video promosi International Activities adalah proses text condensation (pemadatan teks). Tahap ini dilakukan untuk menyesuaikan naskah dengan karakteristik media audiovisual, khususnya karena teks akan ditampilkan secara permanen sebagai open captions pada layar. Berdasarkan dokumentasi pada gambar 4.3.2 terlihat bahwa naskah narasi mengalami perubahan yang signifikan dari segi panjang dan struktur kalimat.

Gambar 4.3.2. Naskah Final untuk Video International Activities

Berdasarkan data yang digunakan dalam pembuatan video promosi International Activities, penerapan strategi text condensation terlihat jelas melalui proses penyederhanaan kalimat dan penghilangan informasi yang bersifat repetitif dari naskah awal menuju naskah akhir yang digunakan sebagai open captions. Pada tahap awal, penulis menyusun naskah narasi yang relatif panjang dan bersifat deskriptif, seperti pada kalimat:

“For students of English Literature UKI, learning goes beyond the classroom — it reaches across borders. Our students are encouraged to explore world, gain international exposure, and grow through meaningful global experiences.”

Kalimat tersebut kemudian dipadatkan menjadi:

“At English Literature UKI, international opportunities await our students.”

Penyederhanaan ini dilakukan dengan menggabungkan beberapa ide serupa ke dalam satu pernyataan yang lebih ringkas namun tetap merepresentasikan makna utama.

Selain itu, penghilangan informasi repetitif juga terlihat pada bagian penutup narasi awal, seperti:

“These experiences are more than academic; they open doors to new cultures, new friendships, and new perspectives.”

“At English Literature UKI, we believe the world is our classroom, and the future has no borders.”

Pada versi akhir, bagian ini diubah menjadi:

“At English Literature UKI, your journey is not limited by boundaries. It is expanded by global opportunities.”

Dalam hal ini, frasa new cultures, new friendships, new perspectives, dan the world is our classroom dianggap memiliki makna yang saling tumpang tindih, sehingga tidak seluruhnya ditampilkan dalam open captions. Penghilangan informasi repetitif tersebut bertujuan untuk menjaga keterbatasan teks tanpa mengurangi pesan promosi yang ingin disampaikan.

Informasi penting lainnya seperti jenis program internasional, penyelenggara kegiatan, lokasi negara tujuan, serta manfaat yang diperoleh mahasiswa tetap dipertahankan. Langkah ini sejalan dengan pendapat Diaz-Cintas dan Remael (2014) yang menyatakan bahwa dalam subtitling, teks harus diseleksi secara teliti agar tetap terbaca dalam waktu singkat tanpa menghilangkan pesan utama. Strategi ini juga bertujuan agar penonton masih dapat memahami isi pesan tanpa kehilangan fokus terhadap elemen visual yang ditampilkan.

4.3.3 Penerapan Narasi Final menjadi Open Captions

Gambar 4.3.3. 1 Pembuatan Open Captions pada bagian Video ICT

Gambar 4.3.3.1 menampilkan penerapan open captions pada bagian yang membahas tentang International Credit Transfer Program. Teks yang ditampilkan menjelaskan cakupan wilayah studi, mulai dari Asia hingga Eropa, serta pengalaman akademik dan budaya yang diperoleh mahasiswa. Pada bagian ini, teks disusun dalam potongan singkat, seperti “From Asia (The Philippines and Taiwan) to Europe (Austria),” “our students experience international classrooms, diverse cultures, and a broader perspective on education” agar audiens dapat membaca dengan nyaman tetapi tetap memperhatikan alur visual yang sesuai dengan dokumentasi kegiatan.

 

Gambar 4.3.3. 2 Penyuntingan Open Captions yang Disesuaikan dengan Alur Visual Video

Gambar 4.3.3.2 memperlihatkan bagaimana open captions digunakan dan disesuaikan dengan alur visual dalam video promosi. Teks ditampilkan mengikuti urutan kegiatan internasional yang ditayangkan, sehingga membantu membentuk alur cerita yang jelas dan mudah dipahami oleh penonton. Dalam penerapannya, open captions tidak hanya berfungsi sebagai teks tambahan, tetapi juga mendukung visual yang ada dan membantu menegaskan pesan promosi yang ingin disampaikan oleh Program Studi Sastra Inggris UKI, khususnya terkait dengan kegiatan internasional yang diikuti oleh mahasiswa.


BAB V
PENUTUP

 

5.1         Kesimpulan

Kegiatan magang yang dilaksanakan di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Bahasa, Universitas Kristen Indonesia memberikan pengalaman dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai penerapan teori penerjemahan audiovisual dalam konteks nyata. Selama magang, penulis terlibat langsung dalam proses perancangan dan penyuntingan video promosi prodi, khususnya dalam pembuatan open captions sebagai bagian dari penyampaian informasi kegiatan akademik dan internasional. Penerapan open captions dalam video promosi tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap visual, tetapi juga sebagai sarana utama untuk menyampaikan pesan secara ringkas, jelas, dan mudah dipahami oleh penonton.

Dalam prosesnya, penulis menerapkan prinsip-prinsip subtitling yang telah dipelajari, terutama strategi text condensation, dengan menyesuaikan naskah narasi agar sesuai dengan keterbatasan ruang dan durasi tampilan teks pada media audiovisual. Penyusunan naskah dilakukan sejak tahap awal produksi, kemudian dipadatkan dan disesuaikan dengan alur visual kegiatan internasional yang ditampilkan dalam video. Melalui kegiatan ini, penulis memperoleh pemahaman bahwa penerjemahan audiovisual dalam konteks institusional bisa berupa penyusunan narasi informatif yang dirancang khusus untuk kebutuhan promosi. Pengalaman magang ini juga membantu penulis mengembangkan keterampilan praktis dalam pengolahan teks, pemilihan diksi, serta pemanfaatan perangkat lunak penyuntingan video sebagai bagian dari praktik penerjemahan audiovisual.

 

5.2         Saran

Berdasarkan pengalaman dan hasil kegiatan magang yang telah dilaksanakan, penulis menyampaikan beberapa saran yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pelaksana magang dan pengembangan Program Studi Sastra Inggris kedepannya.

  1. Saran terkait pelaksanaan magang

Pelaksanaan magang di lingkungan Program Studi Sastra Inggris sudah berjalan dengan baik dan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan akademik dan promosi institusional. Namun, akan lebih optimal apabila pada periode selanjutnya terdapat pembagian tugas yang lebih terstruktur sejak awal, sehingga proses pengerjaan tugas dapat berjalan lebih efektif.

  1. Saran kepada Program Studi Sastra Inggris

Program Studi Sastra Inggris UKI diharapkan dapat terus mengembangkan pemanfaatan media audiovisual sebagai sarana promosi dan publikasi kegiatan akademik. Integrasi antara keilmuan penerjemahan dan teknologi digital dapat menjadi keunggulan tersendiri bagi prodi. Selain itu, penguatan pembelajaran yang bersifat aplikatif, khususnya dalam bidang penerjemahan audiovisual dan media digital, dapat membantu mahasiswa lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja yang semakin menuntut keterampilan lintas bidang


DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmed, T. (2026, January 6). An Honest CapCut Review in 2026 [Pros & Cons]. AgencyHandy.com. Diambil kembali dari https://www.agencyhandy.com/capcut-review/

Alaskar, H. (2025). Impact of Employing Mobile Apps’ AI Translation During Audiovisual Translation Classes. Dragoman Journal of Translation Studies. doi:https://doi.org/10.63132/ati.2025.impact.63517900

Bordwell, D., & Thompson, K. (2019). Film Art: An Introduction (12th ed.). New York: McGraw-Hill Education.

Chandler, D. (2022). Semiotics: The Basics (3rd ed.). London: Routledge.

Diaz-Cintas, J., & Orero, P. (2010). Audiovisual Translation: Research and Use. (Vol. 1). Amsterdam: John Benjamins.

Diaz-Cintas, J., & Remael, A. (2014). Audiovisual Translation: Subtitling (2 ed.). Routledge. Diambil kembali dari https://books.google.co.id/books?id=MlW4AwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id

Fellayati, H. (2022, January 4). Aplikasi CapCut : Pengertian, Fitur dan Cara Downloadnya. blog.rumahweb.com. Diambil kembali dari https://blog.rumahweb.com/download-aplikasi-capcut/

Galingging, Y., & Tambunsaribu, G. (2021). Penerjemahan Idiomatis Peter Newmark dan Mildred Larson. Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra dan Budaya, 8(1), 56-70.

Gambier, Y., & Gottlieb, H. (2001). (Multi) Media Translation: Concepts, Practices, and Research (Vol. 34). John Benjamins Publishing.

Gottlieb, H. (1992). Subtitling-A New University Discipline (A New University Discipline. In C. Dollerup & A. Loddegaard (Eds.) ed.). John Benjamins Publishing.

Kuo, F. (2004). Open and Closed: Captioning Technology as a Means to Equality, 23 J. Marshall J. Computer & Info. L. 159 (2004). UIC John Marshall Journal of Information Technology & Privacy Law, 23(1), 159-208.

Larsson, A. (2025, August 1). CapCut Review 2025: Why It’s Still the Best Free Video Editor. minivoo. Diambil kembali dari https://www.minivoo.com/article/capcut-review-2025-the-best-kcpdo44i1ejd2/

Manovich, L. (2020). Cultural Analytics. Cambridge: MIT Press.

Neves, J. (2005). Audiovisual Translation: Subtitling for the Deaf and Hard-of-Hearing. University of Roehampton.

Romero-Fresco, P. (2019). Accessible Filmmaking: Integrating Translation and Accessibility into the Filmmaking Process (1 ed.). Routledge.

Szarkowska, A., & Gerber-Morón, O. (2019, January 2). Two or Three Lines: A Mixed-Methods Study on Subtitle Processing and Preferences. Perspectives, 21, 144-164.

Tambunsaribu, G. (2016). Ketepatan Terjemahan Kolokasi bahasa Inggris ke Dalam bahasa Indonesia Menggunakan Google Translate. Jurnal Dialektika, 7.

Tambunsaribu, G. (2022). Teknik Penerjemahan Kalimat Bahasa Inggris Berbasis 16 Tenses. Penerbit Deepublish.

Tambunsaribu, G. (2023, June 23x). Proses Penerjemahan Buku Psikologi dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Seminar Nasional Linguistik dan Sastra (SEMNALISA III) 2023: Dinamika dan Tantangan Kajian Linguistik dan Sastra, I, 45-53.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Humanism...

"HEARTBREAKING, MAKES ME CRY "

Tugas Penelitian (Etnografi)